Ide dan Eksekusi

img_20161013_070116Ada yang menarik saat mengikuti Pameran Ekonomi Kreatif di Festival Keraton Nusantara X kemaren.  Sudah lama sejak mendengar kegiatan ini akan berlangsung di kotaku, kami yang sedang merintis industri kreatif pun mulai mempersiapkan diri.  Bahan, alat, media promosi dan berbagai tetek-bengek lainnya.  Aku sendiri hanya fokus pada satu produk unggulan amigurumi orang utan yang menjadi ikon daerah.  Amigurumi ini adalah boneka rajut yang memang bikin nggak nahan saat melihatnya!  Unyu-unyu gitu sih….^_*

Ajaibnya barang yang kupasarkan pun bertambah sejak hampir setahun ini.  Merambah produk hijab dengan label mapan dipasaran sekaligus kopi pasak bumi!  Sejak Adel pindah ke Yogya, aku ketiban tugas mengambil alih pemasaran produknya yaitu kopi pasak bumi! Baca lanjutannya…^_*

Iklan

One Day One Post

one-day-one-post

Gambar diambil dari google

“Mbak, tolong dilihat tulisan saya ya?  Siapa tahu ada tambahan!  Atau menurut Mbak gimana baiknya?”, permintaan salah satu seniorku pagi ini.  Beliau memang sedang menyiapkan materi untuk siaran radio bersama timnya.  Tema sudah dipilih, naskah pun telah ditulis.  Hasil akhirnya beliau ingin agar aku mengedit jika memang konsep dari mereka dirasa kurang.  Aku setuju!  Mengambil kertas yang beliau sorongkan dan mulai membaca.

Sampai disini kemudian aku teringat nasib tulisan-tulisanku.  Sampai saat ini tentu saja aku masih menulis!  Hanya saja beda format dan media.  Menulis untuk diri sendiri di blog pribadi tentu saja berbeda dengan menulis untuk lembaga.  Terutama jika tulisan itu pada akhirnya ditujukan agar mampu merepresentasikan citra positif lembaga yang diwakili.  Pilihan kata, kalimat dan susunan paragraf benar-benar harus dipilah berkali-kali.  Sampai tulisan kelima terlahir, aku pun mulai tertawa geli!  Kok semuanya Baca lanjutannya…^_*

Menulis Untukku

Gambar diambil dari google

Gambar diambil dari google

Umum kita ketahui bersama bahwa anak kecil biasanya punya banyak cita-cita.  Dan cita-cita itu selalu berubah dari waktu ke waktu bergantung pada informasi yang diterimanya. Hari ini ingin jadi pilot, eh…bulan depan malah berubah jadi arsitek atau dokter.  Sebagai manusia yang pernah menjalani fase sebagai anak kecil, aku pun mengalami masa-masa lucu itu.  Dan profesi yang menarik perhatianku adalah wartawan!

“Brina, mau jadi apa nanti?”, tanya Pamanku.

“Wartawan!!!”, ucapku dengan sok keren.  Dan orang dewasa yang mendengar celotehku hari itu pun tertawa geli.  Mereka jelas tahu latar belakangnya.  Ya, aku terpesona pada seorang wartawan.  Pembawaannya yang kalem namun tetap ramah dan menyenangkan membuatku menyukainya.  Bahkan saat berbicara, aku bisa merasakan aura kecerdasannya.  Dan dia bekerja dengan peralatan paling canggih yang pernah kulihat.  Komputer dan kamera berlensa besar yang masih sangat jarang di masa itu.  Makanya aku suka ngintil di ruang kerjanya.

Sebuah ruangan berlatar rak yang dipenuhi buku-buku membuatku mengambil kesimpulan Baca lanjutannya…^_^

Cantik Itu…

img1469429159984[1]Saluran televisi yang entah sejak kapan dinyalakan guna menyemarakkan semangat kerja di siang terik itu tiba-tiba menarik perhatian kami.  Bukan gosip selebriti apalagi berita pergantian menteri yang sedang hangat-hangatnya.  Melainkan liputan kecantikan, hehe….  Apa???  Udah, nggak usah protes, itu murni di luar kesengajaan!

“Wanita mana yang tak ingin terlihat cantik?”, kalimat ini menjadi pembuka tayangannya.  “Benarkah, Mbak?”, canda seorang senior di ruangan padaku.  Aku nyengir nggak jelas!  Kami lalu melanjutkan pekerjaan sambil tetap menyimak liputan tentang berbagai upaya perempuan untuk terlihat cantik itu.  Dari mulai menggunakan skincare dan kosmetik hingga operasi plastik.   Bapak-bapak juga tak protes karena mungkin informasi itu terbilang bermanfaat.  Maklumlah, saat ini kita memang hidup di era dimana rata-rata perempuan hanya percaya diri keluar rumah dengan makeup.  Bedak, lipstik, DD cream, mascara, eyeliner, dkk itu sudah mirip peralatan perang yang wajib dibawa kemana-mana demi bisa tampil sempurna.

Ngomong-ngomong tentang make up, kemaren aku kembali diminta jadi perias pengantin. Baca lanjutannya…^_*

Husnul Khatimah

ChvEshWUUAAZSk-Ramadhan berlalu dan Syawal pun tiba.  Silaturahmi dari rumah ke rumah mungkin membuat bobot tubuh bertambah.  Maklumlah, menunya pada kompakan berlemak dari opor hingga rendang.  Belum lagi ngemilnya cookies manis-manis semisal nastar, putri salju dan lidah kucing yang memanjakan selera.  Hmmm…saat itulah kita merasakan luar biasa nikmatnya Syawal.  Perpaduan suasana syahdu kepergian Ramadhan yang entah bisa ditemui atau tidak di tahun berikutnya berbaur dengan kebahagiaan bertemu Syawal yang penuh niatan mensucikan hati.  Tambah lagi bagi yang punya rencana habis Syawalan terbitlah lamaran, tentu makin berbahagia.  Eaaa….^_*

Silaturahmi pun pastinya menambah kisah yang meninggalkan kesan mendalam di hati kita.

“Eh, kakeknya Nisa meninggal kemaren…”, ujar salah satu teman.

“Oh ya???  Baca lanjutannya…^_*

Si Kiko dan Barongko

img_20160628_080719.jpgSibuk, sibuk, sibuk!!!  Terutama saat ramadhan dimana aktivitas tadarus, tarawih dan puasa menjadi prioritas.  Bagi ibu-ibu, pekerjaannya makin bertambah-tambah terutama memikirkan menu sahur dan berbuka puasa sekaligus mengeksekusi idenya, hehe….  Berhubung aku masih berstatus anak Mama’, jadi koki utama tetap dipegang beliau dong ya?  Aku mah apa atuh, cuma Kiko!  Aka pendamping koki yang tugasnya hanya membantu, hehe…

Tapi hari ini, aku punya ide membuat Barongko.  Apakah itu Barongko?  Ini pertanyaan Adel saat aku mengirim gambar hasil karyaku itu.  Dia bertanya-tanya, dalam rangka apakah sampai-sampai diriku turun tangan ke dapur dan membuat Barongko???  Hehe….

Nah, begini kisahnya.  Beberapa waktu lalu aku Baca lanjutannya…^_*

Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita

Gambar diambil dari Google

Gambar diambil dari Google

Suatu Hari di Sungai Batang Kawa Tahun 1975-an

Sebuah klotok yang mengangkut hasil hutan non kayu semisal karet dan rotan bertolak dari pelabuhan di sebuah desa.  Stok barang telah cukup memenuhi klotok1 dan air sungai sedang pasang.   Inilah waktu terbaik mengangkut barang dari pedalaman Kalimantan yang dikenal sebagai pulau seribu sungai.  Jalan darat?  Ah, masa itu belantara masih jaya dan alat transportasi darat yang dimiliki warga masihlah sepeda.  Itupun hanya dimiliki orang-orang kaya.  Sehingga sungailah, satu-satunya jalur transportasi murah dan populer!

Pemiliknya, seorang Baca lanjutannya…^_*