Prepare Siaran Radio

IMG_20151203_150804“Mbak, ini pengalaman pertama saya mengudara…”, ujar salah satu penyiar di stasiun radio lokal di kotaku. Aku menanggapinya dengan senyum dan mengatakan, ”Saya juga kok, Mbak. Ini pengalaman pertama saya menjadi narasumber talkshow di radio”, ujarku. Dan kami pun tertawa lalu larut dalam obrolan-obrolan ringan sebelum masuk ke ruang siaran.

Ya, hari itu aku ketiban tugas dadakan. “Kamu siaran di radio ya…”, senior di kantor memberi titah. Aku bengong sesaat sambil menganggukkan kepala pasrah. Lalu mencatat poin-poin materi yang harus dibuat dalam dua hari sejak keluarnya perintah dan tentu akan disiarkan keesokan harinya. Bahan-bahan yang dijadikan acuan materi pun bertumpuk di meja. Mataku sampai keriting melihatnya! Dalam hati aku membatin, Baca lanjutannya…^_*

Iklan

That Awkward Moment

shabrinashabrina1924_2015-06-23_02-12-43“Mbak, obatnya…”, seorang bapak-bapak menunjuk almari kaca yang berisi obat-obat herbal di depanku.

Itulah asal mula kejadian aneh kemarin. Akhir-akhir ini karena buka lapak di salah satu shopping center jadilah acara weekendku berlangsung disana. Dengan kata lain, aku jaga lapak jualan, hehe…. Bersama tiga orang teman, kami mengambil 2 space dan membaginya berempat. Termasuk membayar karyawan yang mengurusnya. Hanya saja, karyawan kami hanya bekerja pada hari senin sampai jumat. Sementara sabtu-minggu harus kami tangani sendiri. Dan kami semua sepakat.

Kebetulan aku terhitung anggota baru dalam komunitas itu. Selain wajah, nama dan usaha yang dirintis, aku belum tahu banyak tentang mereka. Padahal sudah beberapa bulan bersama ya? Tapi mau gimana lagi? Pas ketemuan juga sibuk ngerumpiin aktivitas komunitas sehingga hal-hal lainnya ya belakangan.

Proyek pribadi terakhir kami ya buka lapak bersama itu. Dari pernak-pernik, pakaian hingga obat herbal tersedia semua di sana, hehe…. Kami sudah mengatur jadwal jaga. Aku mengambil jatah sore hingga malam. Dan seperti biasa, malam minggu adalah malam teramai. Ada para ibu yang menunggu anaknya selesai bermain games di lantai dua dan sengaja mengitari lapak demi membunuh waktu. Atau juga kunjungan gadis-gadis remaja yang memang sedang hang out bersama teman sebaya dan memutuskan mencoba berbagai aksesoris yang dipajang di sana. Fiuh….

Malam minggu ini, kebetulan aku jaga lapak sendiri. Baca lanjutannya…^_*

Call 911 (Gara-Gara Layangan)

gambar-mewarnai-layang-layangPernah bermain layang-layang?

Hmmm…aku ingin mengajak kalian sedikit mengenang masa kecil dulu. Meski termasuk permainan tradisional namun permainan ini sangat mengasyikkan. Aku termasuk penggemarnya! Maklumlah, dua saudaraku laki-laki. Sepupuku juga kebanyakan laki-laki. Jadi karena keseringan bermain dengan mereka, aku pun akhirnya ikut menyukainya. Awalnya hanya membantu membuat layang-layang semisal mencari bambu, membeli kertas minyak warna-warni hingga membuat benang gelasan sendiri. Lama kelamaan, aku pun penasaran dan mulai terlibat di lapangan permainan.  Hehe…*Tepok jidat sendiri mengingatnya! Ckck….

Nah, masalahnya…keadaan saat aku kecil dulu dan sekarang di lingkungan tempat tinggalku tak lagi sama. Jika dulu, saat kami bermain, belakang rumahku masihlah tanah lapang yang tak berpenghuni dan bebas dari kabel-kabel listrik sehingga ada keleluasaan untuk menaikkan layangan ke udara. Sementara sekarang? Kampungku telah menjelma menjadi pasar besar dan kompleks perkantoran. Dan tentu saja, udaranya dipenuhi lintasan kabel-kabel listrik bertegangan tinggi. Baca lanjutannya…^_^

Beda Selera

imaan___doodle_i_by_spinning_stars-d4ydy9xBuku.  Satu kata ini bermakna luar biasa bagiku.  Jendela pengetahuan, hiburan hingga sarana dakwah.  Karenanya, diantara semua benda yang kumiliki…dialah favoritku.  Dan kebayang dong, akhirnya aku akan kemana jika ada waktu kosong?  Yep, toko buku!  Book City, Gramedia, dan yang lainnya…tak pernah dilewatkan.

Nah, masalahnya…aku pindah ke tempat dimana jarak antara tempat tinggal dan tempat favoritku itu sangat-sangat jauh dan tak memungkinkanku untuk ke sana setiap saat kuinginkan.  Fiuhhh…  Akhirnya daripada tak ada tambahan koleksi (Pssttt…aku kan punya cafe buku yang perlu tambahan koleksi setiap bulan), aku pun beralih pada belanja buku online.  Lihat-lihat sampulnya, baca sekilas sinopsisnya trus masukin deh ke keranjang belanja.  Sayangnya, lewat pengiriman apapun tetap aja nyampenya lebih dari seminggu sejak uang ditransfer.  Lama banget kan?

Alternatif lain yang lebih cepat?  Ada!  Nitip teman trus dikirim, hari ini beli…besok pagi udah nyampe rumah.  Tapi masalahnya nggak semua buku pesananku ada.  Jadi, sisanya aku akan membebaskannya memilihkan buku yang memenuhi kriteriaku.

Kriteria apaan sih?  Mungkin kamu bingung sekaligus penasaran.  Tapi aku benar-benar menetapkan kriteria koleksi bukuku.  Beberapa waktu lalu, dimana salah satu penerbit melelang buku-bukunya, aku pun nekad meminta seorang teman memilih beberapa buku.  Datanglah barang yang ditunggu kemaren via pengiriman ekspres.  Hasilnya?  Dari tujuh belas buku, hanya sembilan yang lolos sensorku.  Delapan sisanya nggak akan dipajang.  Tanpa membuka sampul plastiknya aku sudah tahu isinya.  “Kok buku barunya diterlantarkan gini?”, tanya Adel bingung saat main ke rumah.  “Oh, itu roman picisan!”, jawabku.  Untung aja itu buku diskonan, coba kalo nggak bisa gawat, hehe…^^V

Aneh?  Terserah lah!   Bahkan dalam membaca dan mengoleksi buku…aku punya aturan main sendiri.  Baca lanjutannya…^_^

Kupinang dengan Hamdalah

Kupinang Engkau Dengan HamdallahSekretariat Akhwat LDK.

“Ukh, ane mau bayar buku yang kemaren diambil…”, ujar seorang ikhwan.

Nah, hari itu aku dan Saudah giliran ngendon di sini.  Ini jadwal kami piket jaga sekre, sebut saja begitu biar mudah.  Masa kepengurusan kami memang sedikit berbeda.  Biasanya sekre akhwat tepat bersebelahan dengan sekre ikhwan.  Ah, kata lainnya sih…satu ruangan yang disekat jadi dua ruangan gitu.  Satunya dipakai ikhwan, sementara yang satunya…merangkap perpustakaan masjid kampus, menjadi sarang kami.  Ups…sekre, maksudnya!

Kepengurusan akhwat sepakat untuk pindah sekre demi beberapa alasan.  Pertama, alasan kenyamanan.  Akhwat merasa tak bebas saja jika bicara harus berbisik-bisik karena sekat triplek yang demikian tipis itu.  Kedua dengan alasan program kerja biro dana dan usaha yang ingin mengekfektifkan fungsi sekre sebagai tempat usaha.  Maka kami sepakat pindah ke samping rental dan warnet di tengah kampus.  Posisi strategis memang, wajar jika pelanggannya lumayan.

Apa yang kami jual?  Macam-macam…dari pernak pernik seperti bros, kerudung, jilbab, snack dan minuman, hingga Baca lanjutannya…^_^

Skenario Terbaik

Terkadang teori lebih mudah dihafal daripada prakteknya.  Seperti semua orang yang pasti pernah mendengar bahwa skenario buatan Allah lah yang terbaik dibanding skenario buatan manusia.  Namun berapa orangkah yang sungguh-sungguh meyakini tanpa keraguan?  Bahwa episode tak enak hari ini mungkin akan berbuah manis esok hari?  Entahlah!

Pada kasusku…aku tersesat saat mengantar proposal ke rumah guruku.  Berangkat dengan berbekal peta buta dan rajukan karena Ama yang awalnya berjanji menemaniku malah membatalkannya.  Bukan sengaja memang, ban motor beliau bocor saat akan pulang dari kebun.  Maka…aku yang tak mau ambil resiko menunda waktu pun segera tancap gas!

Hal pertama yang kulakukan Baca lanjutannya…^_^

Nasehat Kematian, Sebuah Refleksi diri

“Dokter…”

“Suster…tolooong…”

Teriakan keluarga pasien yang terdengar panik membuatku dan orang-orang di sekitarku otomatis mendongakkan kepala, mencari arah datangnya suara.  Rupanya keributan itu berasal dari ruangan  depan, hanya berjarak beberapa meter dari ruangan yang tengah kusambangi.  Ya, hari itu…aku menjenguk dua orang teman yang masuk rumah sakit.  Keduanya teman sepengajian, yang pertama putrinya yang tengah sakit.  Yang kedua, si empunya diri dan ibunda beliau yang sakit di saat bersamaan.

Di tempat kedua inilah, aku mendengarkan kegaduhan yang terjadi di kamar depan.  Saat aku tengah terkagum-kagum pada bangunan baru rumah sakit Sulthan Imanuddin.  Bertanya ini itu tentang pasien yang kukunjungi dan perihal perawatannya, saat kami tengah berbincang panjang…teriakan yang lebih menyerupai lolongan histeris itu datang.  Para perawat berhamburan, dokter dengan tergesa masuk ruangan.  Sementara keluarga pasien sudah mulai banyak yang tambah histeris.  Ada yang berteriak-teriak meminta agar dokter menyelamatkan keluarganya.  Ada yang terisak dan sudah ada yang meraung-raung.

Keadaan saat itu benar-benar membuat kami masygul.  Keluarga dan tamu pasien lain di sekitar kamar itu hanya memandangi dari luar.  Ikut menanti dengan perasaan tak pasti sambil bertanya seputar kondisi pasien sebelum kritis.  Seorang laki-laki, belum ada empat puluh tahun dengan kanker darah.  Keluarga mulai berdatangan sore tadi karena kondisinya kritis.  Kami mulai penasaran apa yang terjadi di dalam sana?  Baca Lanjutannya…^_^