Bukan Wonder Woman

Dokumentasi pribadi

Dokumentasi pribadi

Hal pertama yang kulihat saat terbangun di ruangan serba putih itu adalah lampu super terang.  Lalu selang infus yang terpasang di tanganku.  Dan wajah Mama’ yang tidur di samping ranjangku.  Barulah aku ingat, ah…rupanya aku di rumah sakit!

“Kenapa nggak ngasih kabar?”, kalimat senada ini telah kudengar puluhan kali.  Terlontar dari kerabat, teman maupun kenalan sejak masih menginap di rumah sakit hingga masa istirahat di rumah.  Dan aku hanya menanggapinya dengan senyuman disertai alasan standar.

Ya, kejadian ini sudah beberapa minggu berlalu namun masih terasa segar di ingatanku.  Gejala tak enak badan itu sebenarnya sudah mulai terasa beberapa waktu.  Namun aku mengabaikannya!  Ah, paling-paling hanya demam biasa!   Pusingnya juga sementara!  Terus saja begitu.

Dan puncaknya hari senin sore itu.  Sepertinya tubuhku sudah berada di ambang batas toleransinya.  Padahal pagi hari itu aku masih berangkat ke kantor seperti biasa.  Bahkan ikut ngerumpi tentang Baca lanjutannya…^_*

Menulis Itu Gampang

Menulis-Sumbangan-Pemikiran-Untuk-Perusahaan-dan-Penghasilan-Sampingan-Tanpa-Mengganggu-Jam-Kerja

Gambar diambil dari Google

Menulis itu gampang.  Demikian salah satu judul materi yang kami dapat dalam training jurnalistik dan kehumasan kemarin.  Setelah dua hari mengikuti materi, sesi ini yang paling menarik.  Ini jelas pendapat pribadi, hehe….

Semua orang tentu punya selera yang berbeda.  Bagiku semua narasumber punya keunikan masing-masing.  Tapi narasumber terakhir ini sungguh mampu menyihir.  Membuat audience mengabaikan berbagai hal yang mengganggu dan fokus pada apa yang beliau sampaikan.  Wartawan kawakan ini mengkomunikasikan materinya dengan baik.  Sejak awal sampai akhir kami dilibatkan secara aktif.  Suasana nyaman itulah yang membuat kami melebur dalam materi penulisan berita.

Saat jam istirahat pun aku memilih Baca lanjutannya…^_*

Harap Yang Salah Alamat

allahSiang jumat itu, aku mengunjungi salah seorang sahabat lama. Bagiku, beliau seperti kakak sekaligus teman senasib seperjuangan dalam merintis sebuah mimpi besar dari tempat terpencil. Meskipun pada akhirnya, entah dengan alasan apa beliau memilih tak melanjutkan berjuang mewujudkan mimpi itu namun kami masih saling bersilaturahim. Kepiawaiannya di dapur selalu mampu membuatku kangen masakan-masakannya. Bahkan saat bertemu orangtuaku beberapa minggu lalu, beliau spesial mengirim kue tradisional favoritku.

Begitu datang, tanpa basa-basi beliau langsung curhat tentang kekecewaan beliau pada kepala sekolah tempat beliau mempercayakan pendidikan anak keduanya. Mungkin karena aku adalah orang yang merekomendasikan sekolah itu, beliau ingin protes padaku.

“Kamu tahu, Brina…dalam hati ini sebenarnya Baca lanjutannya…^_*

Prepare Siaran Radio

IMG_20151203_150804“Mbak, ini pengalaman pertama saya mengudara…”, ujar salah satu penyiar di stasiun radio lokal di kotaku. Aku menanggapinya dengan senyum dan mengatakan, ”Saya juga kok, Mbak. Ini pengalaman pertama saya menjadi narasumber talkshow di radio”, ujarku. Dan kami pun tertawa lalu larut dalam obrolan-obrolan ringan sebelum masuk ke ruang siaran.

Ya, hari itu aku ketiban tugas dadakan. “Kamu siaran di radio ya…”, senior di kantor memberi titah. Aku bengong sesaat sambil menganggukkan kepala pasrah. Lalu mencatat poin-poin materi yang harus dibuat dalam dua hari sejak keluarnya perintah dan tentu akan disiarkan keesokan harinya. Bahan-bahan yang dijadikan acuan materi pun bertumpuk di meja. Mataku sampai keriting melihatnya! Dalam hati aku membatin, Baca lanjutannya…^_*

Antara Gamis dan 21 (= Teroris)

refurl.php“Maaf mbak, tasnya saya periksa dulu…”, ujar petugas keamanan di pintu masuk 21 padaku.

Aku menarik nafas panjang dan mencoba tersenyum lalu membuka risleting ranselku. Membukanya selebar mungkin agar dia bisa melihat isinya sejelas mungkin : notebook, kabel data, kotak pensil dan 2 butir apel.

Entah karena teror bom di Paris yang baru-baru ini menjadi headline berita ataukah memang standar pengamanannya seperti itu, aku kurang tahu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke 21 yang terkenal itu. Murni bukan dalam rangka menonton film. Tapi karena tersesat mencari toko buku. Baca lanjutannya…^_*

That Awkward Moment

shabrinashabrina1924_2015-06-23_02-12-43“Mbak, obatnya…”, seorang bapak-bapak menunjuk almari kaca yang berisi obat-obat herbal di depanku.

Itulah asal mula kejadian aneh kemarin. Akhir-akhir ini karena buka lapak di salah satu shopping center jadilah acara weekendku berlangsung disana. Dengan kata lain, aku jaga lapak jualan, hehe…. Bersama tiga orang teman, kami mengambil 2 space dan membaginya berempat. Termasuk membayar karyawan yang mengurusnya. Hanya saja, karyawan kami hanya bekerja pada hari senin sampai jumat. Sementara sabtu-minggu harus kami tangani sendiri. Dan kami semua sepakat.

Kebetulan aku terhitung anggota baru dalam komunitas itu. Selain wajah, nama dan usaha yang dirintis, aku belum tahu banyak tentang mereka. Padahal sudah beberapa bulan bersama ya? Tapi mau gimana lagi? Pas ketemuan juga sibuk ngerumpiin aktivitas komunitas sehingga hal-hal lainnya ya belakangan.

Proyek pribadi terakhir kami ya buka lapak bersama itu. Dari pernak-pernik, pakaian hingga obat herbal tersedia semua di sana, hehe…. Kami sudah mengatur jadwal jaga. Aku mengambil jatah sore hingga malam. Dan seperti biasa, malam minggu adalah malam teramai. Ada para ibu yang menunggu anaknya selesai bermain games di lantai dua dan sengaja mengitari lapak demi membunuh waktu. Atau juga kunjungan gadis-gadis remaja yang memang sedang hang out bersama teman sebaya dan memutuskan mencoba berbagai aksesoris yang dipajang di sana. Fiuh….

Malam minggu ini, kebetulan aku jaga lapak sendiri. Baca lanjutannya…^_*

Sister

IMG_20150212_204110Adel. Pertama kali bertemu dengannya saat dia masuk sebagai penghuni kost-kostan kami. Seharusnya dia masuk menggantikanku di kamar depan, tapi kemudian dia memilih berbagi kamar dengan seorang kakak tingkat yang sekampus dengannya. Setelah si kakak lulus, aku, Adel dan Saudah menempati kamar paling besar di rumah itu. Lalu kami pindah menyewa rumah sendiri mengingat akan segera wisuda dan adik-adik kami segera menyusul kuliah.
Begitulah kami berteman selama bertahun-tahun. Sedih, bahagia, bangga, kecewa, dan berbagai perasaan lainnya telah menghinggapi hubungan pertemanan kami. Sifat dan kebiasaan kami yang bertolak belakang membuat adu mulut jadi makanan sehari-hari. Meski begitu, kami tetap saja jadi roommate hingga lulus. Baca lanjutannya…^_*