Sister

IMG_20150212_204110Adel. Pertama kali bertemu dengannya saat dia masuk sebagai penghuni kost-kostan kami. Seharusnya dia masuk menggantikanku di kamar depan, tapi kemudian dia memilih berbagi kamar dengan seorang kakak tingkat yang sekampus dengannya. Setelah si kakak lulus, aku, Adel dan Saudah menempati kamar paling besar di rumah itu. Lalu kami pindah menyewa rumah sendiri mengingat akan segera wisuda dan adik-adik kami segera menyusul kuliah.
Begitulah kami berteman selama bertahun-tahun. Sedih, bahagia, bangga, kecewa, dan berbagai perasaan lainnya telah menghinggapi hubungan pertemanan kami. Sifat dan kebiasaan kami yang bertolak belakang membuat adu mulut jadi makanan sehari-hari. Meski begitu, kami tetap saja jadi roommate hingga lulus. Baca lanjutannya…^_*

Iklan

Yang Tak Berubah

KAWANIMUT-WINDOWS-OF-HEART-2Tanpa terasa tahun masehi 2015 telah berlalu tepat satu bulan. Ini waktu yang panjang jika bicara pertemanan berumur puluhan tahun. Masa dimana bertemu dalam keadaan imut-imut dan mungkin berubah amit-amit, hehe….

Satu gadis super santai dan suka tidur berubah jadi super mom. Lalu gadis tomboy menjadi keibuan dan pandai memasak. Sementara dua lainnya masih jomblowers. Makin mendewasakan sikap meskipun satu masih suka ngambek dan yang satunya lagi masih selalu jadi provokator kelas berat di kalangan mereka. Jelas, banyak hal telah berubah sejak pertama kami bertemu.

Sampai beberapa saat lalu, dimana obrolan kami lebih intens karena proyek bersama. Awalnya si Nayli. Dia mengingatkanku tentang liburan kami di rumah Jihan. Saat ajakan berlibur di daerah pantai itu mampir, aku dan Adel langsung bersorak girang. Nayli?

“Aku tanya Abah dulu, ya?”, ujarnya dengan wajah memelas.

Jadi kami menunggu harap-harap cemas izin Abah si Nay. Maklumlah, waktu itu… Baca lanjutannya…^_^

Duo Ummi

Butterfly-Brazil-National-Park“Rasanya aku tak pernah mendapatkan diriku sebegitu bahagia, seperti saat jiwaku mengingat sahabat-sahabat baikku” (William Shakespeare).

Sudah beberapa hari sejak Ummi Hafidz menghubungiku buat kopdar dan aku menyetujuinya. Aku akan menjemput di pelabuhan saat kedatangannya. Ini sudah lama sejak terakhir kami bertemu. Bukan di dunia maya sono tentunya, tapi di dunia sawit yang sepi, becek jika hujan dan berdebu saat panas. Percayalah! ^_^
“Aciiil…”, dan dia memanggilku dengan suara khasnya. Setelah memelukku, ia menoleh pada putranya yang sedari tadi sudah menunggu giliran untuk diperhatikan. “Aciiil…”, ujar ikhwan kecil itu. Ah lihatlah, betapa mirip caranya memanggilku dengan Umminya, hehe…. Dia mengambil tanganku dan menaruhnya di kening. Aku mensejajarkan tubuh dengannya lalu memeluknya sayang. “Ah, acil kangen sama Hafidz…”, ujarku.
Ya, dua anak-beranak ini adalah sahabat baikku saat terdampar di pedalaman beberapa waktu lalu. Setelah ikut beberapa kali kajian umum yang ku isi, dia akhirnya bergabung dalam barisan pejuang syariah. Jika ada sekian alasan yang mampu membuatku menyenangi tempat bertugas, maka dua orang ini salah satunya.
Seorang ibu muda tangguh, demikian aku selalu berfikir tentangnya. Sejak muda ia sudah merantau keluar pulau kelahiran, bekerja dari satu tempat ke tempat lainnya hingga dipertemukan dengan suaminya di sini. Membangun hidup dari nol telah membuatnya menjadi perempuan yang mampu menjalani kompleksitas kehidupan.
Putranya yang berumur tiga tahun sangat menggemaskan. Meskipun tergolong berwajah “cantik” tapi dia punya cita-cita menjadi tentara. Sebuah topi bercorak militer selalu dikenakannya kemana saja. Dia juga punya pakaian favorit yang tiap kali dicuci Ummi akan menimbulkan kegemparan. Tak rela dia melepas saking sukanya, hehe….
Aku menghabiskan banyak waktu bersama keduanya. Saat suaminya berangkat kerja dari pagi hingga sore, dia akan menemaniku menunaikan amanah dakwah, setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya tentu! Terkadang saat suaminya piket malam hari, dia akan menginap di rumahku. Kami akan memasak. Bukan, sebenarnya Baca lanjutannya…^_^

Sedasawarsa Bersamamu

SMDC0011.JPG“Jika kau kehilangan…kau bisa mencariku dan akan menemukan aku dari waktu ke waktu” (Cindy Lauper, Time After Time).

Suatu hari aku dipertemukan dengan mereka.

Jihan

Seorang gadis dengan perawakan tinggi kurus mengenakan rok payung berwarna krem, hem panjang motif kotak-kotak berwarna cokelat dan kerudung putih datang ke hadapan kami.  Kedua tangannya dipenuhi piring berisi mi goreng.  “Yuk, kita makan dulu…”, ujarnya sambil membantu menyingkirkan buku dan kertas yang berserakan di atas meja.

Hari itu sudah pertengahan semester pertama perkuliahan.  Kami berkumpul dalam satu kelompok belajar yang kebetulan iseng-iseng kuikuti hanya untuk bersosialisasi dengan teman-temanku.  Sepuluh orang berkumpul dengan pembagian tugas :  dua orang diskusi dan memecahkan tugas kuliah, dua orang memasak mi goreng dan sisanya ngerumpi di sekeliling ruang tamu.  Hmmm…bukankah alasan kelompok belajar ini hanya formalitas buat nyontek tugas rame-rame?  Aku mengeluh diam-diam memperhatikan para perumpi yang tinggal menyalin hasil kerja kami sementara berterima kasih atas mi goreng buatan petugas konsumsi.  Sejujurnya…aku lapar, hehe….^_^

Sejak saat itu, aku mengingatnya dengan jelas.  Gadis dengan pembawaan sederhana, penyabar juga ringan tangan membantu teman.  Dan hari-hari berikutnya, ia masuk dalam hidupku sebagai salah satu sahabat terbaik.  Baca lanjutannya…^_^

Bertemu Dalam Kebaikan

Bagaimana perasaanmu saat bertemu dengan orang yang kamu cintai?  Bahagia?  Berbunga-bunga?  Tentu saja!

Di dunia ini tak ada yang lebih indah selain pertemuan antara dua orang yang saling mencintai.  Pertemuan antara dua orang yang saling merindukan.  Pertemuan antara dua orang yang saling berkasih sayang.

Deuh…tapi jangan pikir yang macam-macam dulu ya?  Ini kisah tentang pertemuan dua orang sahabat yang lama tak bersua.  Pagi-pagi…saat dingin masih begitu tajam menggigit kulit dan lelah karena perjalanan dua belas jam ke Palangka Raya, pemandangan di hadapanku menghangatkan hati.

Seorang adik yang baru datang langsung berseru nyaring, “Assalamu’alaikum….  Kakaaa…”.

Kami yang ada di sana serempak menoleh.  Seorang akhwat dengan jilbab kuning gading, kerudung putih dan jaket khas berbordir bendera ar-roya dan al-liwa lengkap dengan ransel hitam berlari ke arah seorang teman yang duduk tak jauh dariku.  Si kakak yang dipanggil tersenyum lebar, yang menyaksikan pun tak kalah lebar menyunggingkan senyum. Baca Lanjutannya…^_^

AL MAR’AH, Sedjarah Moe Doeloe…

                Ini kisah tentang sebuah rumah tua.  Letaknya tepat di ujung jalan unlam tiga.  Rumah yang sangat strategis bagi para mahasiswa karena jaraknya yang hanya seujung kuku dengan kampus.  Rumah yang menyejukkan karena di kiri dan kanannya penuh dengan pepohonan.

Ada jambu bol di sisi belakang yang selalu menggoda warna bunga dan buahnya.  Juga rambutan di sisi kiri dan kanan rumah, yang jika sudah masak jadi sasaran untuk “dijuluki”1 buahnya.  Tak lupa pohon mangga di sisi kiri yang masih kecil dan baru belajar berbuah tapi sudah dipanen muda oleh penghuninya yang hobi ngerujak.  Ahhh…disekitar sini juga ada pohon petai, hehe….

Sementara di sisi kanan, ada kelapa yang pelepahnya sering mengotori halaman.  Juga cempedak yang selalu busuk sebelum masak.  Ada juga pohon bunga yang tak kutahu namanya.  Namun sangat cantik.  Daunnya yang panjang jika dipetik akan mengeluarkan getah.  Bunganya yang berwarna kuning sangat kontras dengan warna hijau tua daunnya.

Bunga-bunga lainnya juga banyak tumbuh disini.  Dari tanaman berduri sampai bunga November, juga ada beberapa caladium bicolor.  Itu hanya sebagian…masihhh banyak lagi yang lainnya, termasuk rumput yang bergoyang, wkwkwk….

Sebagian besar bunga-bunga ini adalah hasil karya para penghuninya yang super kreatif, kadang rajin dan kadang kumat penyakit “koler”2nya, hehe….^_^V

Penasaran kan…ini sebenarnya rumah siapa???
Baca Lanjutannya…^_^