Bukan Wonder Woman

Dokumentasi pribadi

Dokumentasi pribadi

Hal pertama yang kulihat saat terbangun di ruangan serba putih itu adalah lampu super terang.  Lalu selang infus yang terpasang di tanganku.  Dan wajah Mama’ yang tidur di samping ranjangku.  Barulah aku ingat, ah…rupanya aku di rumah sakit!

“Kenapa nggak ngasih kabar?”, kalimat senada ini telah kudengar puluhan kali.  Terlontar dari kerabat, teman maupun kenalan sejak masih menginap di rumah sakit hingga masa istirahat di rumah.  Dan aku hanya menanggapinya dengan senyuman disertai alasan standar.

Ya, kejadian ini sudah beberapa minggu berlalu namun masih terasa segar di ingatanku.  Gejala tak enak badan itu sebenarnya sudah mulai terasa beberapa waktu.  Namun aku mengabaikannya!  Ah, paling-paling hanya demam biasa!   Pusingnya juga sementara!  Terus saja begitu.

Dan puncaknya hari senin sore itu.  Sepertinya tubuhku sudah berada di ambang batas toleransinya.  Padahal pagi hari itu aku masih berangkat ke kantor seperti biasa.  Bahkan ikut ngerumpi tentang

gerhana matahari total yang akan melewati kota kami.  Mendiskusikan berbagai alat bantu mengintip gerhana, shalat gerhana dan seterusnya.  Apalah daya, sore itu juga aku masuk IGD dan diwajibkan menginap!

Saat kejadian itu, aku memang hanya mengabari satu orang teman.  Posisinya bahkan di luar kota.  Aku juga tak tahu kenapa hanya menghubunginya.  Yang jelas sore itu aku mengajaknya bermain tebak-tebakan.  Saat sedang diobservasi di IGD aku melihat balasan pesan WA-nya.  Tak bisa melanjutkan permainan sekaligus menjelaskan keadaan.  Mungkin itulah yang mendorongku membidikkan kamera ke tangan yang diinfus lalu mengirimkan foto padanya.  Setelah itu, aku bahkan tak ingat HP-ku dimana karena disibukkan serangkaian pemeriksaan.

Hari pertama berlalu, aku masih belum tahu jelas penyakitku.  Dokter masih menduga-duga mengingat semua hasil pemeriksaanku tak sejalan dengan diagnosa awal mereka.  Jadi hari itu aku hanya menghubungi bosku dan beberapa orang saja tanpa pemberitahuan menginap di rumah sakit.  Maksud hati ingin segera keluar dalam keadaan sehat.  Juga tak ingin benar-benar merasakan suasana sakit dengan perasaan dijenguk segala!  Lagipula sepanjang hari, aktivitasku kebanyakan adalah tidur.  Begitu juga hari kedua.  Serangkaian pemeriksaan lain dilakukan lagi.  Jadi aku harus menunggu hasilnya.  Dan aktivitasku masih sama.  Bedanya aku sudah mulai bisa membuka mata dan berjalan di sekitar ruangan.  Jadi aku meminta Mama’ membawakan buku agar bisa melanjutkan bacaanku sebelum masuk rumah sakit.

Hari ketiga barulah semua jelas.  Tapi aku masih belum diperbolehkan pulang.  Jadi aku menghabiskan waktu selain tidur, membaca juga berbincang dengan pasien lain yang kutemui disana.  Kami bertukar kisah tentang banyak hal, dari mulai penyakit yang mempertemukan kami disana hingga kisah sehari-hari di rumah.

Alhamdulillah, hari keempat akhirnya aku diperbolehkan pulang.  Rasanya lega!  Dan aku menyukai dokterku.  Beliau selalu ramah dan penuh permakluman saat memeriksa pasien.  Termasuk aku dengan pakaian berlapis-lapis yang memang agak merepotkan saat pemeriksaan.  Beliau sabar menunggu kelambananku bergerak bahkan ikut mencari cara mempermudahku.  Penyakitku pun dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Sakit bukan sesuatu yang ingin kukisahkan pada semua orang.  Terutama saat kejadian itu sedang berlangsung.  Tak ada alasan khusus.  Mungkin hanya kebiasaan.  Meskipun aku anak perempuan satu-satunya, namun Ama membiasakanku mandiri.  Jika masih bisa dilakukan sendiri, mengapa tidak?

Kecuali kemarin tentunya!  Baru kali ini merasakan beredar kemana-mana didorong kursi roda.  Antara rasa sakit dan risih, aku lupa mana yang lebih mendominasi.  Lucunya lagi saat menyadari bahwa senin pagi kemaren aku order benang ke Surabaya maka otomatis harusnya transfer selasa pagi.  Eh, apesnya layanan e-banking hari itu tak bersahabat.  Pagi dicoba gagal.  Siang tetap gagal.  Malam pun sama!  Padahal supplier benang langgananku sudah mengirim barangnya pagi tadi.  Meminta Mama’ dan Ama percuma saja.  Mereka sampai sekarang masih rela menggunakan metode konvensional ngantri.  Fiuh, aku pun panik.

Sempat terpikir di benak untuk jalan-jalan sampai ke depan rumah sakit dan mentransfer sendiri.  Kutimbang-timbang sepertinya itu cara yang paling praktis.  Tapi dengan infus di tangan membuatku merasa tak bebas.  Lagipula, bagaimana jika aku dikira pasien yang sedang mencoba melarikan diri?  Ah, aku ogah bikin drama!  Hehe….

Dengan enggan aku akhirnya meminta Adel mentransfer sementara.  Resiko yang kutanggung ya seperti dugaanku tentunya!  Dia membuat heboh kemana-mana.  Ckck….*geleng-geleng kepala!

Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw: ‘Barangsiapa bangun di pagi hari dengan badan sehat dan jiwa sehat pula, dan rezekinya dijamin, maka dia seperti orang yang memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi).

Semoga sakit ini menjadi sarana pengurang dosa sekaligus momen kontemplasi tentang beberapa episode yang terjadi dalam hidup.  Saat tiba dipersimpangan, jalan seperti apa yang kupilih?  Dan mungkin pula ini saatnya menelfon Ummi Hafidz di sawitan sana dan mengatakan, “Mi, sudah terbukti kalau acil bukanlah wonder woman seperti dugaan Ummi…”, hehe….^_*

 

*Ditulis dengan mengingat berbagai hal yang terjadi di rumah sakit.  Ama yang mengatakan, “Jangan panik, kamu baik-baik saja…”, suntikan sugesti yang menenangkan!  Bantuan dari perawat yang rupanya tetangga rumahku.  Dokter yang mencoba menebak-nebak alur cerita buku bacaanku.  Pasien yang kutemui kebanyakan kenalan dari kenalanku.  Dan seorang perawat yang mengingatkanku tentang hakekat “ujian”…^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s