Harap Yang Salah Alamat

allahSiang jumat itu, aku mengunjungi salah seorang sahabat lama. Bagiku, beliau seperti kakak sekaligus teman senasib seperjuangan dalam merintis sebuah mimpi besar dari tempat terpencil. Meskipun pada akhirnya, entah dengan alasan apa beliau memilih tak melanjutkan berjuang mewujudkan mimpi itu namun kami masih saling bersilaturahim. Kepiawaiannya di dapur selalu mampu membuatku kangen masakan-masakannya. Bahkan saat bertemu orangtuaku beberapa minggu lalu, beliau spesial mengirim kue tradisional favoritku.

Begitu datang, tanpa basa-basi beliau langsung curhat tentang kekecewaan beliau pada kepala sekolah tempat beliau mempercayakan pendidikan anak keduanya. Mungkin karena aku adalah orang yang merekomendasikan sekolah itu, beliau ingin protes padaku.

“Kamu tahu, Brina…dalam hati ini sebenarnya

sudah ada yang mengganjal sejak kemarin. Hanya saja aku mencoba berbaik sangka. Tapi rupanya, aku kalah sama suara-suara negatif yang terus berngiang di telingaku…”, ujar beliau.

“Masalah itu makin terasa saat orangtua temannya Nazla yang ikut sekolah disana juga mengeluhkan Ustadzah itu. Dia datang kesini sambil menangis dan menceritakan pengalamannya dimarahi Ustadzah itu. Dia mengatakan sangat kecewa. Mengapa perlakuan yang dia terima tak seperti yang ia dengar dulu?”, ujar si Kakak padaku.

Ah, iya! Benarlah rupanya! Ini ibarat kisah bersambung. Teman si kakak kecewa karena “iklan” yang diterimanya tak sebaik dugaannya. Dan si Kakak tentu saja lebih kecewa karena beliau termakan iklan sekaligus menjadi corong iklan tersebut. Bersamanya ada 3 orang lainnya yang masuk sekolah itu. Sehingga jelas kekecewaannya pun bertumpuk.

Aku menarik nafas panjang. Ya, beberapa tahun lalu saat ditugaskan di sebuah tempat terpencil, teman-teman yang kebanyakan ingin menitipkan anaknya di pondok pesantren bertanya padaku kalau-kalau ada lembaga pendidikan bagus yang kuketahui. Saat itu, aku memang merekomendasikan sekolah itu dengan beberapa alasan. Pertama, kurikulum berbasis islam yang digagas sekolah itu. Yang kedua, aku mengenal semua guru-gurunya yang insya Allah kupercayai akhlak dan kemampuan akademis mereka. Yang ketiga, aku bahkan pernah survei beberapa hari disana. Awalnya sih hanya ingin bersilaturahim sekaligus mengamati kegiatan belajar-mengajar disana. Maklumlah, saat itu aku sedang tertarik dengan materi pendidikan dan bahkan menggiat pendidikan anak usia dini berbasis Islam. Sehingga aku yakin, sekolah itu salah satu diantara sekolah terbaik yang bisa kurekomendasikan pada teman-teman dan kenalan.

Yang pertama mengirim anaknya adalah salah seorang guru di tempat terpencil itu. Berbekal keinginan agar putra mereka mendapat pendidikan yang baik dan tentunya karena percaya atas rekomendasi yang kuberikan. Hingga hari ini, telah hampir lima tahun berjalan beliau menitipkan anaknya disana dan beliau cukup puas dengan outputnya. Sehingga sepertiku, beliau pun ikut “beriklan” dengan testimoni sukarela tentang sekolah itu. Termasuk juga pada kakak yang curhat di hadapanku siang itu karena mereka memang sudah lama sohiban.

Saat itu, aku hanya mendengarkan beliau yang sedang meluapkan emosi. Tentang urai air mata temannya. Tentang ganjalan-ganjalan di hatinya pada Ustadzah itu. Dan begitu semua tangis reda, sejujurnya rasa tertohok dihatiku cukup membuat lidah ini kelu. Tak yakin ingin menanggapi seperti apa baiknya. Jadi kuputuskan hanya mengajak beliau (lagi-lagi) untuk berbaik sangka. Jarak yang memisahkan kotaku dan sekolah itu cukup panjang untuk menciptakan miskomunikasi diantara pengajar dan orangtua.

Mungkin saja setelah iklan gratis dari mulut ke mulut dari para orangtua telah membuat orangtua lainnya berbondong mengantar anak-anaknya kesana. Angkatan pertama yang dulunya dalam hitungan puluhan saat ini telah berkali lipat jumlahnya. Otomatis tanggungjawab kepala sekolah dan para guru juga makin bertambah. Sehingga mereka harus membagi perhatian pada semua dengan bijaksana. Mungkin saja ada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang membuat Ustadzah tak mengabulkan keinginan orangtua siswa. Mungkin saja ada peraturan-peraturan yang tak dipahami dengan sempurna akibat interaksi yang hanya sekelumit waktunya.

Lagi pula, setelah seharian mengurusi anak-anak didik, para Ustadzah juga harus mengurus anak-anaknya sendiri. Mereka toh juga perlu arahan, bimbingan dan kasih sayang. Ada pula suami dan anggota keluarga lain yang harus dilayani keperluannya. Juga aktivitas-aktivitas lain yang mungkin menyita waktu, tenaga dan pikiran mereka.

“Dan yang terpenting Kakak, Ustadzah juga manusia! Salah Kakak-kakak adalah berharap terlalu tinggi pada manusia itu. Bagaimanapun baiknya manusia di mata kita, ia hanya makhluk yang lemah dan terbatas. Menjadi baik dalam pandangan sesama manusia hanya dengan sebab Allah SWT menyembunyikan segala aib-aibnya”, ujarku.

“Makanya Kak, jika kita berharap pada manusia pastilah akan cepat kecewa. Berharap saja hanya pada Allah SWT. Kita cukup berusaha yang terbaik dengan rasionalitas manusia kita lalu serahkan saja semua hasilnya pada Allah Sang Maha Kaya, Sang Maha Memiliki. Kita titipkan anak-anak itu sesungguhnya bukan pada guru atau ustadzahnya tapi pada Allah. Para guru hanyalah salah satu perantara Allah saat menitipkan satu karunia-Nya pada kita. Allah lah yang menggerakkan hati Ustadzah, teman atau bahkan orang asing yang tak sengaja menolong anak-anak kita yang sedang menuntut ilmu nun jauh disana”, ujarku lagi.

“Suatu hari saat akan berangkat ke desa Sukamakmur, rantai sepeda motorku terlepas. Cukup mengenaskan rasanya mengingat posisiku berada. Di tengah kebun sawit, jauh dari perkampungan, jalannya jarang dilalui. Saat itu, ada rasa takut mendominasi. Tapi kemudian, aku menguatkan hati dan mengatakan, ‘Ya Rabb, hamba yakin Engkau akan menolong keluar dari kesulitan ini. Sebentar lagi pasti ada orang yang lewat sini’. Begitu saja. Dan Allah yang Maha Pemurah mendatangkan sepasang suami-istri yang ingin berjualan di desa tempat tugasku, pas melewati jalan pintas itu. Hanya butuh lima belas menit bagiku menunggu dan berharap hanya pada-Nya”, tuturku untuk kesekian kali pada si Kakak karena beliau sebenarnya selalu tahu kisah-kisah petualanganku dulu.

Beliau terdiam dan memandangiku lama. “Iya. Mungkin begitu tinggi harapan kami pada beliau sehingga kami sebegini kecewa”, sahutnya dengan suara serak.

Ya, mungkin itulah sebabnya. Terkadang karena menyukai seseorang, kita pun memandangnya dengan mata berbintang. Lalu hatipun mulai melabuhkan harapan yang mengangkasa. Jika itu Ustadz atau Ustadzah maka haruslah sempurna. Tak boleh cacat apalagi bercela. Kita lupa, sebaik apapun…manusia tetaplah makhluk yang lemah. Ustadz atau Ustadzah tak seperti para Nabi yang ma’shum.

Nyatanya, bukan hanya si Kakak yang begitu. Aku sendiri pernah melakukan hal serupa, menaruh harapan-harapan pada manusia sehingga ketika harapanku tak mewujud, rasa kecewalah yang membumbungi hati. “Ah, amah kecewa…”, curcolku saat selesai menceritakan sebuah kejadian beberapa waktu lalu.

Benarlah apa yang dikatakan Imam Syafi’i, “Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang maka Allah timpakan keatas kamu pedihnya sebuah pengharapan supaya kamu mengetahui Allah amat mencemburui hati yang berharap kepada selain-Nya. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNya”.

“Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar” (TQS. Ali Imran : 173).

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”, (TQS. Al Insyirah : 8).

Yuk, kita berharap hanya pada Allah saja, Kakak!

 

*Ditulis setelah merenungi tentang makna sebuah pengharapan. Tingkyu Kakak, untuk semua pertanyaanmu yang justru mengingatkanku lagi, untuk semua curhatanmu yang menjadi introspeksi amalku dan untuk kue-kue nyummy bikinanmu yang selalu kurindukan…^_*

One thought on “Harap Yang Salah Alamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s