Prepare Siaran Radio

IMG_20151203_150804“Mbak, ini pengalaman pertama saya mengudara…”, ujar salah satu penyiar di stasiun radio lokal di kotaku. Aku menanggapinya dengan senyum dan mengatakan, ”Saya juga kok, Mbak. Ini pengalaman pertama saya menjadi narasumber talkshow di radio”, ujarku. Dan kami pun tertawa lalu larut dalam obrolan-obrolan ringan sebelum masuk ke ruang siaran.

Ya, hari itu aku ketiban tugas dadakan. “Kamu siaran di radio ya…”, senior di kantor memberi titah. Aku bengong sesaat sambil menganggukkan kepala pasrah. Lalu mencatat poin-poin materi yang harus dibuat dalam dua hari sejak keluarnya perintah dan tentu akan disiarkan keesokan harinya. Bahan-bahan yang dijadikan acuan materi pun bertumpuk di meja. Mataku sampai keriting melihatnya! Dalam hati aku membatin,

tugas entry dataku aja masih menumpuk, eh…nambah tugas ini apa nggak bakal tambah lambat entrynya? Ups…malah curcol deh…^_^V

Singkat cerita, aku mencoba menyelesaikan tulisan itu dalam waktu satu hari. Apalah daya jika ternyata harus melewati rencana menjadi dua hari. Begitu selesai, langsung setor pada bapak senior untuk dikoreksi. Seperti dugaanku, banyak sekali coretan dan tambahan yang harus dimasukkan. Mungkin karena selama ini aku lebih banyak menulis dengan bahasa populer sehingga tulisan ilmiah, membuatku sedikit kalang-kabut. Beruntung setelah diedit beberapa jam, tulisan itu siap sebelum dzuhur. Tapi ternyata jadwal siaran bukan besok pemirsa, tapi hari ini!!! Siang ini tepat pukul 14.00 WIB. Hahhh???

Tak masalah bagiku! Toh aku senang-senang saja dengan tugas ini meskipun tegang. Radio bukan dunia yang benar-benar baru untukku. Saat remaja, aku tumbuh mendengarkan radio dan bahkan pernah mupeng jadi penyiar radio. Meskipun tak semua mimpi terwujud, tapi saat kuliah ternyata Allah SWT memberiku kesempatan juga unjuk suara di radio. Yeyyy….

Kembali ke talkshow hari itu, kami sepakat perbincangan hari itu dimulai dengan sebuah paparan singkat materi. Dunia penyuluhan pertanian yang mengikuti perkembangan teknologi informatika dengan tema yang tentunya lebih spesifik dan memang sedang trend di kalangan penggiatnya. Setelah itu akan ada break iklan komersial, dilanjutkan tanya jawab sesi pertama dan dilanjutkan tanya jawab sesi kedua dengan break iklan komersial diantaranya.

Masalah pertama muncul karena mikrofon yang kami gunakan bermasalah. Suara sang host kurang terdengar jelas. Masalah kedua menyusul saat ternyata host ini tipe orang yang tak bisa menahan tawa. Hal-hal remeh sekalipun bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak dan tentunya agak “mengganggu” terutama jika ia tiba-tiba tertawa bersama para operator sementara narasumber sedang serius bicara. “Aduh, maaf ya Mbak. Aku tuh nggak bisa digituin, jadi ketawa deh..”, ujarnya dengan rasa bersalah saat break iklan komersial diputar. “Untung narasumbernya Mbak, coba kalau yang lain bisa-bisa saya dimarahin”, lanjutnya. Karena aku sudah terbiasa membagi perhatian, gangguan seperti ini masih bisa ditolerir sehingga aku tak mempermasalahkannya.

Masalah ketiga adalah pertanyaan-pertanyaan host yang memperlihatkan bahwa dia tak paham sama sekali materi yang sedang dibicarakan hari itu. Memang salah kami adalah materi siaran yang baru masuk ke meja penyiar beberapa jam sebelum talkshow hari itu mengudara akibat misinformasi jadwal. Namun dengan kemajuan teknologi saat ini, setidaknya si Mbak Host masih bisa berusaha mengorek informasi dari Mbah Google. Meski tak mendapatkan pemahaman mendalam terkait materi tersebut, paling tidak akan ada gambaran umum yang memudahkan pembicaraan kami mengalir.

Aku bahkan sengaja datang jauh lebih awal dari jadwal siaran dengan target berkenalan dengan Host, menjelaskan tentang materi dan poin-poin penting yang harus disampaikan dalam materi hari itu dan tentunya sedikit brainstorming. Siapa tahu ada masukan-masukan sehingga talkshow hari itu bisa berjalan lebih efektif dan efisien. Tapi mungkin saking gugupnya, dia pun lupa urutan dan mengajukan pertanyaan dengan redaksi yang terlalu kontekstual dengan materi yang kuberikan, hehe….

Itu mengingatkan pada pengalamanku sendiri saat pertama kali siaran radio beberapa tahun lalu. Saat itu aku masih berstatus mahasiswa imut (ehm…^_^) dan peranku saat itu juga menjadi host sebuah talkshow keislaman salah satu stasiun radio di Banjarbaru. Seperti juga tugas kantorku kemarin, siaran radio pertamaku pun datangnya mendadak. Ustadzahku yang terkenal super disiplin itu hanya mengatakan, “Kita siaran ya nanti sore. Ini bahannya dan silahkan siapkan pertanyaannya”.

Mengikuti kuliah pun rasanya tak tenang karena memikirkan siaran hari itu. Setelah membaca materi berupa buku kecil yang diberikan padaku, aku pun membuat list pertanyaan seadanya. Tanpa brifieng pula dan itu membuat hati makin ketar-ketir rasanya. Hasilnya tak berbeda jauh dengan si Mbak Hostku hari itu. Lupa urutan, muncul kalimat aneh meski sudah punya list pertanyaan dan kata-kata tak penting pun berloncatan, wkwk…^_*

Jika pun ada yang berbeda, mungkin adalah kualifikasi narasumbernya. Saat aku menjadi host, narasumbernya adalah ustadzahku yang notabene seorang guru dengan dedikasi dan keluasan ilmu yang mampu beliau tebarkan dengan kemudahan lisannya. Sehingga saat beliau mengatakan “warna itu hitam” maka orang akan bisa membayangkan hitamnya dengan jelas. Bahkan jika keberadaanku sebagai host sangat kurang namun materinya tetap tersaji dengan baik karena kemampuan beliau dalam komunikasi. Sementara si Mbak Host itu bertemu denganku yang memang masih punya banyak hambatan komunikasi dan hasil akhirnya jauh berbeda. Ah, Mbak Host…maafkan daku yaa? Hehe….^_^V

Tapi deg-degan saat siaran pertama itu tak membuat jera. Besok-besoknya aku muncul lagi bersama ustadzahku di radio, tentunya masih menjadi host. Hingga akhirnya saat kampus kami memiliki radio sendiri, aku dan Jihan punya kesempatan duet di radio. Apa yang kami lakukan? Tak jelas! Hehe…yang penting siaran materi keislaman. Dari konsep yang berubah-ubah sampai menambah skrip siaran sendiri hingga berujung “korupsi” waktu dan ditegur operator, wkwk…^_*

Sejak itu, sebelum memandu talkshow radio biasanya aku akan melakukan riset materi sehingga pertanyaan benar-benar mengarah pada struktur wawancara yang efektif dan efisien, juga menetapkan skala prioritas pertanyaan. Aku juga biasanya merancang ‘rute pertanyaan” untuk menghindari gugup yang berujung pada lupa dan menyiapkan peralatan yang diperlukan. Bagiku itu adalah perbekalan materi dan buku catatanku.

Ini pertama kalinya aku menjadi narasumber yang mewakili lembaga tempatku bekerja dan bicara sesuatu yang searah dengan bidang keilmuan dan karirku. Tentunya selalu ada yang kurang di langkah pertama sehingga ada beberapa hal yang ingin kucatat. Rata-rata talkshow radio hanya berdurasi sekitar enam puluh menit. Itu pun dipotong lagi dengan break iklan komersial dan mungkin lagu. Sehingga waktu efektif untuk menyampaikan materi dan tanya jawab hanya sekitar empat puluh menitan. Untuk tampil hanya selama empat puluh menit itu, kita membutuhkan persiapan prima. Dari pemilihan materi, membuat materi hingga menyampaikan materi yang seabrek tadi dalam waktu singkat dengan komunikasi efektif. Harapannya, pesan audio tersebut sampai ke pendengar dan tentunya dipahami.

Kepada para Senior, jangan jera ya? Meskipun langkah pertamaku kemarin belum memuaskan, mohon terus dibimbing dan dikasih kesempatan berikutnya…^_* #Ehhh…^^V

 

*Ditulis sambil mengingat siaran-siaranku di masa lalu. Terima kasih untuk dorongan dan motivasi dari ustadzah-ustadzahku juga kesempatan yang diberikan untuk berlatih. Terima kasih untuk para dosenku yang susah payah mengajarkan dasar-dasar komunikasi massa yang efektif dalam kuliah-kuliah dimasa lalu.  Dan terima kasih juga atas apresiasi temen-temen seruangan yang sudah mendengarkan dengan ekspresi #bingung mendengar keceriwisanku di radio, hehe…^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s