Antara Gamis dan 21 (= Teroris)

refurl.php“Maaf mbak, tasnya saya periksa dulu…”, ujar petugas keamanan di pintu masuk 21 padaku.

Aku menarik nafas panjang dan mencoba tersenyum lalu membuka risleting ranselku. Membukanya selebar mungkin agar dia bisa melihat isinya sejelas mungkin : notebook, kabel data, kotak pensil dan 2 butir apel.

Entah karena teror bom di Paris yang baru-baru ini menjadi headline berita ataukah memang standar pengamanannya seperti itu, aku kurang tahu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke 21 yang terkenal itu. Murni bukan dalam rangka menonton film. Tapi karena tersesat mencari toko buku.

Bagi para pegawai yang dinas keluar daerah, yang paling menarik selain menjalankan tugas tentunya adalah agenda jalan-jalan di sela waktu dinas itu. Berhubung daerah yang kukunjungi bukanlah daerah yang sama sekali asing, aku pede saja berangkat sendiri kemana-mana. Termasuk ke toko buku yang biasa kukunjungi. Apalah daya, ternyata aku kurang update info kekinian. Mall itu telah mereformasi diri menjadi hotel. Well, sebenarnya aku sudah pernah mendengar sebelumnya. Tapi tak paham jika ternyata pertokoannya digusur seperti itu. Demi memuaskan rasa penasaran, aku mengecek ke setiap lantai. Alhasil tersesat di 21 itu!

Sungguh hal yang sangat menyesakkan dada, setiap kali terjadi serangan terhadap target-target Barat, umat Islam dan Islam kembali menjadi tertuduh. Barat seolah memposisikan diri sebagai korban kejahatan. Penyesatan politik seperti ini terus berulang dilakukan Barat dengan dukungan media massanya.

Lihatlah apa yang terjadi saat Paris diserang. Dunia maya dipenuhi dengan hastag #prayforparis. Kecaman terhadap Islam dan umatnya bermunculan. Ide untuk menutup masjid, sekolah Islam dan lain-lain yang didiagnosa menjadi cikal bakal terorisme pun mengalir deras.

Drama terorisme seperti ini telah dialami kaum muslim empat belas tahun silam saat tragedi 911 yang meruntuhkan menara kembar milik negara adikuasa AS. Pemerintahnya memanfaatkan kesempatan ini untuk melegalisasi kepentingan dalam negeri sekaligus memuluskan kepentingan-kepentingan luar negerinya. Simpati yang berdatangan pun dimanipulasi untuk mengikuti skenario politik stick and carrot yang dibuat AS.

Fakta-fakta yang tak jauh berbeda kita lihat terjadi dalam serangan Paris ini yang tak lebih hanya Operasi Bendera Palsu (false flag) ada benarnya. Operasi False Flag adalah operasi rahasia yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan atau organisasi, yang dirancang untuk muncul seolah-olah ini dilakukan oleh entitas lain, untuk membenarkan menuju ke arah peperangan melawan orang-orang yang telah dituduh salah tersebut.

Pertama, terjadinya serangan di 6 titik, serentak dan waktu yang sama, dilakukan di negara sekaliber Perancis, dan intelijen negara itu tidak bisa mengendusnya, tentu aneh, bahkan aib. Kedua, pelaku bom bunuh diri, yang potongan jarinya ditemukan, diketahui bernama Omar Ismail Mostefai (29 tahun), telah diinformasikan oleh Kepolisian Turki kepada Kepolisian Perancis dua kali, pada Desember 2014 dan Juni 2015, tapi tak ditanggapi. Mostefai yang dilahirkan di kawasan miskin Paris, Courcouronnes, 21 November 1985, pernah didakwa atas delapan kejahatan ringan antara tahun 2004 dan 2010, namun tidak dipenjara  (AFP, 16/11). Ketiga, terjadi dua hari menjelang KTT G-20 di Antalya, Turki, juga bukan moment kebetulan. Keempat, Senin (16/11) sebanyak 12 pesawat tempur, termasuk 10 pengebom, menjatuhkan 20 bom ke target di Raqqa, Suriah. Kelima, Perancis pun langsung mengirim Kapal induk Charles de Gaulle dikerahkan ke Mediterania Timur untuk meningkatkan operasi di Suriah. “Kapal induk Charles de Gaulle akan berangkat ke Mediterania Timur pada hari Kamis. Dengan kapasitas lebih banyak, tiga kali lipat,” kata Francois Hollande di depan anggota parlemen di Versailles, Prancis seperti dilansir AFP, Selasa (17/11/2015).

Semuanya ini sudah cukup untuk membuktikan, apa, siapa dan motif Serangan Paris yang sesungguhnya. Siapapun pelakunya, Serangan Paris ini jelas telah menjadi justifikasi kebijakan Perancis untuk meningkatkan serangannya ke Suriah. Ini seperti cara AS ketika menginvasi Irak dan Afganistan, setelah Serangan WTC 9/11/2001.

Serangan Paris ini juga digunakan untuk menggalang dukungan Eropa, dan negara-negara G-20, terhadap rencana AS dan sekutunya di Suriah. Bagi Perancis, ini merupakan momentum untuk meraih lebih banyak keuntungan di Suriah dan seluruh dunia, sebagaimana yang diraih AS di Irak dan Afganistan, pasca 9/11 (http://www.hizbut-tahrir.or.id/2015/11/18/paris-attack-operasi-false-flag-ke-mana-arahnya/).

Terkait agenda dalam negeri, Prancis tidak akan mencari pelaku kejahatan yang sesungguhnya. Prancis justru akan mengambil keuntungan dari insiden itu sebanyak mungkin untuk meloloskan paket prosedur dan undang-undang, dimana selama ini ia tidak mampu meloloskannya atau menawarkannya kepada publik. Hollande mengatakan dalam sambutannya kepada parlemen Prancis setelah serangan: “RUU akan diajukan pada hari Rabu ke parlemen untuk memperpanjang keadaan darurat.” Ia menyerukan anggota parlemen untuk “memutuskannya pada akhir pekan”. Ia juga menyerukan agar melakukan pengkajian ulang terhadap konstitusi Prancis, sehingga memungkinkan dibuatnya keputusan undang-undang yang memungkinkan untuk memperluas kekuasaan aparat keamanan dan kekuasaan kehakiman untuk menyelidiki, termasuk memungkinkan mereka untuk melaksanakan berbagai razia, dan penangkapan dengan perintah administratif.

Presiden Prancis juga menyampaikan kepada Parlemen proposal untuk pembuatan undang-undang yang memungkinkan untuk “pencabutan kewarganegaraan” bagi mereka yang terlibat dalam kejahatan terorisme, dalam kasus jika mereka memiliki kewarganegaraan lain, bahkan sekalipun mereka lahir di Prancis, juga tidak mengizinkan kembalinya warga dengan kewarganegaraan ganda, dan “mengusir” orang asing jika menimbulkan ancaman keamanan.

Hollande mengatakan bahwa ia telah memutuskan untuk membatalkan rencana yang telah dijadwalkan untuk mengurangi jumlah personel militer Prancis, selain “mengaktifkan” tentara cadangan, serta mengumumkan penguatan aparat keamanan sekitar 2.000 tugas baru setahun, selama lima tahun. Sebelum mengakhiri sambutannya, Hollande menegaskan bahwa “Republik Prancis akan menghancurkan terorisme” (http://www.hizbut-tahrir.or.id/2015/11/19/prancis-sukses-dengan-darah-rakyatnya-sendiri/).

Lagi pula, jika kita menilai pelaku pemboman dan tindak kekerasan lainnya sebagai teroris dari sisi jumlah korban jiwa maka ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab. Jika pelaku penyerangan Paris yang menewaskan sekitar 130 orang disebut teroris, bagaimana dengan Koalisi pimpinan AS yang telah membunuh lebih dari 1 juta orang di Irak dan Afghanistan? Bagaimana dengan Bashar Assad yang telah membunuh lebih dari 300 ribu rakyatnya sendiri? Bagaimana dengan penjajah Yahudi yang telah membunuh lebih dari 1.500 rakyat Palestina dalam beberapa minggu saja saat mereka menyerang Gaza pada tahun 2014? Bukankah mereka itulah teroris sesungguhnya?

 

*Hanya merangkai berita-berita serangan Paris sambil menunggu bis pulang dari Palangka Raya setelah menyadari bahwa aku adalah satu-satunya pembawa ransel yang diperiksa petugas di 21 hari itu. Mungkinkah karena memakai gamis dan kerudung lebar (baca : penampilan mirip teroris?).^_*

2 thoughts on “Antara Gamis dan 21 (= Teroris)

  1. Jejak Parmantos berkata:

    Hah? jadi yang diperiksa tasnya hanya Mba sendiri? wah parah kl gitu… kirain td sekedar prosedur baru, yang berlaku ke semua orang. Dan padahal ini terjadi di Indonesia ya, Palangka Raya lagi…

    • shabrina berkata:

      Iya nih, mau nggak mau ikut merasakan juga efek islamophobia yang makin menjadi2 akhir-akhir ini akibat fitnah terorisme terhadap umat Islam. Coba kalau Israel, udah bunuh ribuan nyawa kaum muslim, nggak ada yang bilang teroris tuh. Sedih…T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s