That Awkward Moment

shabrinashabrina1924_2015-06-23_02-12-43“Mbak, obatnya…”, seorang bapak-bapak menunjuk almari kaca yang berisi obat-obat herbal di depanku.

Itulah asal mula kejadian aneh kemarin. Akhir-akhir ini karena buka lapak di salah satu shopping center jadilah acara weekendku berlangsung disana. Dengan kata lain, aku jaga lapak jualan, hehe…. Bersama tiga orang teman, kami mengambil 2 space dan membaginya berempat. Termasuk membayar karyawan yang mengurusnya. Hanya saja, karyawan kami hanya bekerja pada hari senin sampai jumat. Sementara sabtu-minggu harus kami tangani sendiri. Dan kami semua sepakat.

Kebetulan aku terhitung anggota baru dalam komunitas itu. Selain wajah, nama dan usaha yang dirintis, aku belum tahu banyak tentang mereka. Padahal sudah beberapa bulan bersama ya? Tapi mau gimana lagi? Pas ketemuan juga sibuk ngerumpiin aktivitas komunitas sehingga hal-hal lainnya ya belakangan.

Proyek pribadi terakhir kami ya buka lapak bersama itu. Dari pernak-pernik, pakaian hingga obat herbal tersedia semua di sana, hehe…. Kami sudah mengatur jadwal jaga. Aku mengambil jatah sore hingga malam. Dan seperti biasa, malam minggu adalah malam teramai. Ada para ibu yang menunggu anaknya selesai bermain games di lantai dua dan sengaja mengitari lapak demi membunuh waktu. Atau juga kunjungan gadis-gadis remaja yang memang sedang hang out bersama teman sebaya dan memutuskan mencoba berbagai aksesoris yang dipajang di sana. Fiuh….

Malam minggu ini, kebetulan aku jaga lapak sendiri.

Bisa dibayangin dong gimana rempongnya? Masih melayani ibu-ibu yang mencocokan kerudung dengan putrinya, eh…ada juga yang minta dilayani dengan aksesoris. Begitu terus hingga saat seorang teman berkunjung pun aku tak sempat bicara banyak dengannya. Alih-alih bicara, beliau malah ikut membantu melayani pengunjung, hehe….

Nah, dimomen sesibuk itulah si bapak tadi menegurku. Dengan wajah ramah beliau menyapa dan meminta diambilkan obat. Tapi kemudian aku tak bisa menemukan kunci almarinya. Jadi beliau bilang akan kembali lagi nanti. Aku langsung buru-buru menghubungi pemilik barang, ingin menanyakan keberadaan sang kunci. Eh, baru di-ping via bbm, mataku sudah tertumbuk pada gantungan mungil dalam box di depanku. Hore, ketemu!

Beberapa pembeli lainnya selesai dilayani dan pelanggan yang tadi akhirnya kembali.

“Ada kuncinya?”, tanya beliau. Aku mengangguk dan buru-buru membuka almari.

“Madu”, kata beliau sambil menunjuk jenis madu yang dimaksud. “Habah dan zaitun”, ujar beliau lagi-lagi sambil menunjuk produk yang diinginkan. “Ditinggal di sini dulu ya?”, tambahnya.

Aku mengangguk saja dan langsung membungkus sekaligus mengkalkulasi harga. Tak lupa memasukkan brosur produk yang dibeli. Beberapa waktu kemudian beliau datang dan mengambil pesanannya. Saat melihat ada brosur dalam plastik, beliau langsung bilang, “Nggak usah ini! Di rumah juga banyak…”, ujar beliau sambil tersenyum dan bersiap pulang membawa produk-produk itu tanpa tanda-tanda akan membayar. Aku bingung!

“Gimana jualannya? Rame?”, tanya beliau ramah. Aku mulai curiga. Ah, jangan-jangan?

“Iya, alhamdulillah rame. Nih banyak dibongkar”, tunjukku pada kerudung yang habis dibolak-balik pelanggan. Setelah kuperhatikan, wajahnya tampak tak asing.

“Punya anti?”, tanya beliau lagi sambil menunjuk jualanku.

“Alhamdulillah…ada aja”, ujarku tak jelas maksudnya apa. Well, sebenarnya sejak tadi aku sedang berpikir keras. Siapa beliau ini? Wkwk….   Lagipula, sepertinya dia mengenalku dengan baik. Tapi siapa??? Dan saat semua clue di kepalaku tersambung lalu sebuah kesimpulan kuat didapat dan aku pun meyakini kebenarannya, beliau pamit pulang.

“Bu, aku tadi nyari kunci almari karena suami Ibu minta diambilkan obat. Ternyata ada di dalam box…”, aku melanjutkan pesan bbmku pada Ummu dengan tawa tertahan.

“Oh iya, aku lupa ngasih tahu tadi…”, balas beliau padaku.

Ya ampun, bagaimana tadi aku bisa lupa? Bukankah itu suaminya Ummu yang berbagi lapak denganku? Sebenarnya aku sudah cukup sering bertemu, hanya saja memang belum pernah berbincang langsung. Malunyaaa….^_^

Bayangkan saja, seandainya aku nekad menyebut kalkulasi harga barang pada detik-detik membingungkan itu, tentu suasananya akan jadi tambah aneh, wkwk…. Beruntung, beliau cukup pengertian. Begitu menyadari keanehan ekspresiku, beliau mungkin menyadari bahwa aku tak mengenali pemilik barang. Jadi beliau memberi kesempatan untukku memikirkan lebih lama dengan cara bertanya seperti itu. Sungguh, setelah beliau pergi, aku tak henti-hentinya tersenyum geli.

Bukankah dalam hidup ini kita akan bertemu dengan banyak orang? Mereka tinggal di sisi kita sebagai keluarga, teman, relasi dan sebagainya. Mengetahui beberapa informasi tentang mereka bukan berarti kita kepo. Informasi itu mungkin saja berguna bagi kita untuk saling mengerti dan memahami. Bahkan mungkin membuka pintu bagi kita untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Dan tentu saja meminimalisir kesalahpahaman seperti yang terjadi padaku kemarin, hehe….

 

*Ditulis setelah berbincang dengan salah satu rekan tentang penyakitnya yang tak terduga lalu mengalami kejadian ajaib ini….^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s