Sister

IMG_20150212_204110Adel. Pertama kali bertemu dengannya saat dia masuk sebagai penghuni kost-kostan kami. Seharusnya dia masuk menggantikanku di kamar depan, tapi kemudian dia memilih berbagi kamar dengan seorang kakak tingkat yang sekampus dengannya. Setelah si kakak lulus, aku, Adel dan Saudah menempati kamar paling besar di rumah itu. Lalu kami pindah menyewa rumah sendiri mengingat akan segera wisuda dan adik-adik kami segera menyusul kuliah.
Begitulah kami berteman selama bertahun-tahun. Sedih, bahagia, bangga, kecewa, dan berbagai perasaan lainnya telah menghinggapi hubungan pertemanan kami. Sifat dan kebiasaan kami yang bertolak belakang membuat adu mulut jadi makanan sehari-hari. Meski begitu, kami tetap saja jadi roommate hingga lulus.

Setahun setelahnya, kami malahan tinggal berempat bersama adik laki-laki kami. Hingga akhirnya masing-masing mencari rumah baru. Aku tinggal dengan adikku dan Adel bersama adiknya. Bahkan setelah aku pulang ke kampung halaman, Adel akhirnya menyusul bekerja di kotaku atas rekomendasi Mamahnya. Dia tinggal di rumah menemani orangtuaku, menggantikan aku yang bekerja di luar kota.
Saat orang bertanya tentang Adel, Mama’ku akan menjawab, “Keponakan!”.
Ya, dia sudah jadi bagian keluargaku. Bagiku, dia seperti saudara perempuan yang memang tak pernah kumiliki. Abang dan adikku, laki-laki. Para sepupu yang seusia denganku, kebanyakan juga laki-laki. Saat masih duduk di sekolah dasar, seringkali aku merasa iri saat melihat teman-temanku bermain boneka dengan adik atau kakak perempuannya. Saat mulai beranjak remaja, aku juga iri pada teman sebangkuku yang punya adik perempuan dan diajak bermain “salon-salonan”. Tahu kan maksudnya? Memakai pakaian cantik sambil mencoba kosmetik Ibumu? Hehe….
Duduk di SMA, aku makin iri melihat dua sahabatku. Vina memiliki dua saudara perempuan. Mereka biasa berbagi pakaian, tas dan pernak-pernik. Bahkan terkadang berbagi idola. Ada juga Dayah yang punya sembilan saudara perempuan. Salah satunya sering membuat makanan lezat, kadang menggantikan tugasnya mengurus rumah dan menjadi teman curhat. Berbagi kisah tentang perjuangan sebagai kandidat ketua osis, pelajaran yang dibenci hingga cowok yang digandrungi. Hmmm…sepertinya sangat mengasyikkan ya?
Meski aku tahu, mereka juga sesekali bertengkar namun tetap saja menyenangkan dalam pandanganku. Bukankah sesuatu yang tak dimiliki memang terasa lebih menggoda? Pepatah mengatakan, rumput tetangga lebih hijau! ^_^
Nah, Adel datang ke hadapanku seperti saudara perempuan yang tak pernah kumiliki itu. Dia memberiku kesempatan memarahinya, sesekali membuatnya menangis. Lain waktu aku mendandaninya dengan jilbab yang sengaja ku desain untuknya. Terkadang dia membuatku kesal, tapi kemudian dia merayuku dengan pisang. Padahal aku kan bukan monyet? Wkwk….
Banyak hal yang aku tak menceritakan namun dia sudah bisa merasakan. Hal-hal yang membuat orang mempertanyakan pilihan-pilihanku, namun Adel tetap mencoba mengerti meski tak sepenuhnya setuju. Banyak mimpi yang ingin kuraih dan dia membantu sebisanya dengan caranya yang sederhana.
Dia menampung semua uneg-uneg di kepalaku dengan lapang dada. Kadang memarahiku yang mulai “nakal” mencari-cari alasan atas berbagai cita-cita yang tak berjalan sesuai rencana. Jika aku sakit, dia akan mengantarkan susu kesukaanku. Dia juga rela meluangkan waktu untuk membaca draft tulisan anehku lalu mengeluarkan komentar yang terlalu jujur, hehe….
Dan kemarin, aku harus mengantarkannya berangkat untuk tugas belajar dua tahun di Yogya. Ah, aku pasti akan sangat merindukannya. Juga si krucils.
Aku memeluk Harits erat-erat. “Amah ikut aja yaa?”, ujarnya dengan nada imut. Aku tertawa dan menciumnya. Beralih pada si kecil Maryam lalu Adel. “Hati-hati di jalan. Selalu sehat dan segera selesaikan tugas. Kamu juga harus kuat. Jangan lupa, sampaikan salam buat Mamah dan yang lain di rumah…”, ujarku sambil memeluknya.
Ada banyak pesan yang ingin kusampaikan. Tapi aku kehilangan semua kata-kata. Aku sedih dia pergi, namun juga bahagia karena satu cita-citanya terlaksana. Dan aku bangga memiliki dia sebagai teman sekaligus saudaraku.
***
“Pokoknya…kita harus kuliah lagi dan menambah sematan Master hingga Doktor di belakang nama kita”, ujar Adel bertahun-tahun lalu menjelang kami wisuda. Aku mengangguk antusias.
***
Hari ini, mimpi kita…kamu yang lebih duluan mencapainya, Del. Besok pastilah giliranku!

*Ditulis sambil mengingat semua janjiku padanya, termasuk menulis 1001 kekonyolan pertemanan kami. Ini salah satunya…^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s