Terminal Cinta Alya

1235120_669291843131651_1797942436_nNamaku Alya. Aku dua puluh tiga tahun lewat dua bulan. Usiaku sudah bukan mainan dalam memutuskan perkara penting dalam hidupku. Apa yang ingin kulakukan, apa yang benar-benar kuinginkan dalam hidup, aku jelas mengetahuinya dan sedang menuju ke sana. Termasuk cinta.

Dalam kepalaku, profil laki-laki impian dan gambaran cinta seperti apa yang ingin kujalani sudah tergambar dengan jelas. Pernikahan dengan seorang laki-laki sholeh yang akan menjadi pemimpin bagiku, juga anak-anakku kelak dengan landasan cinta karena Allah. Pernikahan barokah yang diawali dengan proses yang halal, tanpa melanggar syariah-Nya dari awal hingga akhir. Ya, aku sedang menuju kesana saat tiba-tiba tujuanku terhenti. Aku merasa seperti penumpang bus, sedang berdiri di terminal untuk beberapa lama. Menunggu bus yang akan mengantar ke tujuan dengan selamat. Bus yang searah dengan tujuanku. Tapi tiba-tiba saja aku tergoda untuk menaiki bus lainnya. Bukan hanya satu tapi dua. Oh, kupikir aku gila!!!

Hari itu…di bandara Syamsudinnoor semuanya dimulai.

Jadwal penerbangan pukul 13.50 Wita telah membuatku berada di sana satu setengah jam lebih awal. Masuk ruang tunggu sendiri sangat membosankan sementara orang lain bergerombol dengan teman atau keluarga. Jadi aku memutuskan untuk berkeliling menikmati barang-barang yang dipajang pada toko souvenir. Saat itulah…aku bertemu dengan bus pertama.

“Alya…?”, seseorang menyebut namaku. Aku menoleh dan menjadi patung beberapa detik sebelum sempat menyadari berapa lama mataku tak berkedip di depannya. Orang ini…benarkah dia? Memoriku masih menyimpan rapi data tentangnya. Laki-laki tinggi, berkulit terang dan berwajah tampan di kepalaku dulu menjelma dengan rupa lebih menawan. Melihatnya dengan pakaian begini orang akan mengira dia model atau aktor.

“Ups, astaghfirullah…”, aku mengingatkan diri dalam hati dan mau tak mau memalingkan wajah, saat merasa batas-batas ghadul bashar mulai ku langgar sendiri.

“Kak Rian…”, aku menyahut kikuk. “Kok bisa ada disini, Kak?”, uh…pertanyaan apa itu?

“Wow…benar-benar Alya rupanya! Lama nggak ketemu, aku tadi hampir nggak ngenalin kamu lho kalo nggak denger suara ketawamu yang khas itu”, sahutnya tanpa menjawab pertanyaanku. Dia bicara sambil tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya. Tak menyangka ia masih mengingat caraku tertawa.

Laki-laki ini memberi kejutan listrik di hatiku. Beberapa saat aku mengapung bersama ingatan tentangnya. Febrian Mahadika Pratama, kami biasa memanggilnya Rian. Indah bukan? Aku menyukai namanya. Dia kakak kelasku di SMA. Sahabat karib kakakku. Pengunjung tetap rumahku. Dan….

“Gimana kabarmu?”, pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

“Alhamdulillah…baik, Kak!”. Aku bohong. Aku tak pasti saat itu sedang baik-baik saja. Sedikit gugup, juga takut.

“Aku…sering bertanya pada Yoga”, ujarnya. Yoga yang dimaksud adalah kakakku. Aku hanya menanggapinya dengan senyum. Arah pembicaraan ini membuatku khawatir. Jadi aku menunduk, berusaha menghindari tatapannya, memandangi kaos kaki yang tertutup ujung gamis hijau favoritku. Jika bisa bersembunyi, sungguh ingin menyimpan penampakanku saat itu. Aku hanya bergerak-gerak gelisah sambil sesekali memandangi jam di layar handphone-ku. Mengapa waktu terasa lama berlalu saat ini?

Kesibukan orang berlalu lalang, peringatan jadwal penerbangan dan suara lainnya di sekitarku seolah memudar. Telingku fokus pada nada berat yang mengalun sepatah demi sepatah dari bibirnya. Hingga panggilan penerbangannya berkumandang, tak banyak yang kami bicarakan. Dia terus mengamati, sementara aku tak kalah sibuk menjaga hati.

Ia menoleh terakhir kali, melambaikan tangan dan tersenyum. Aku menggigit bibir lalu menunduk dalam-dalam. Setelah sekian lama, aku masih terintimidasi pesonanya. Dan aku kecewa pada diri sendiri! Hari itu, aku menangis selama satu jam perjalananku.

Saat pesawat mengudara dan pemandangan di bawahku mengecil, ingatanku tentang laki-laki yang baru kutemui membesar. Rian, sekarang ia tentu sudah dua puluh enam tahun. Pertama kali bertemu dengannya delapan tahun yang lalu, saat aku lima belas tahun dan dia delapan belas tahun. Sebutan lain untuk cinta pertamaku, jika tak mau dibilang cinta monyet!

***

Aku datang ke rumah pamanku dengan tampang mengenaskan. Lelah setelah baku hantam dengan pekerjaan sepanjang hari di kantor namun Bunda memaksaku mengantarnya ke sana. Agendanya apa lagi kalau bukan arisan keluarga. Jadi aku berencana menyelinap diam-diam ke kamar kakak sepupuku, tidur!

“Alya…”, seseorang memanggilku. Aku memasang tampang tak bersalah sebelum membalik badan. Dan dia di sana, bus keduaku!

“Mau kabur lagi?”, tanyanya sambil tersenyum melihat kenakalanku.

“Aku ngantuk, Ka. Beberapa malam begadang, tambah seharian tadi wara-wiri mengurus proyek hutan kota yang kontroversi itu di kantor”, kelitku padanya. Ia memandangku dengan tatapan sayang. Dulu, sebelum aku mengenakan kerudung dan jilbab…ia akan mengacak-acak rambutku gemas. Sekarang, ia hanya tertawa geli sambil mengatakan…”Ah, dasar kamu pintar cari alasan aja…”. Tuh kan apa kataku?

“Tak baik begitu, pertemuan ini bukan ajang kumpul-kumpul biasa. Kamu kan tahu, nenek selalu ingin anak dan cucunya terus berada dalam hubungan baik. Hormati keinginan tetua dengan ikhlas. Toh tak ada pelanggaran prinsip dalam pemahamanmu kan?”, nasehatnya panjang lebar.

Aku tak menyahut, hanya mengikuti langkah lebarnya dari belakang. Ia jangkung, handsome dan baik. Usianya lima tahun di atasku. Putra pamanku, Reza. Sejak kecil, aku selalu membuntuti saudara misanku yang satu ini dengan antusias. Pembawaannya yang cool tapi penyayang dan melindungi adik-adiknya yang lebih kecil selalu menjadi magnet bagiku. Kata-katanya yang bijaksana seolah masuk akal semua bagiku. Aku selalu menerima semua yang ia sarankan padaku tanpa ragu. Aku begitu menyukainya. Sejak kanak-kanak hingga sekarang, perasaanku tak pernah berubah. Ia tetap saudara misan favoritku.

Semasa kecil, aku dan saudara misanku yang sebaya bermain peran menjadi pengantin. Memakai pakaian pengantin kecil yang semarak dan menghiasi rambut kami dengan bunga mawar yang tumbuh di samping jendela kamar nenek. Sementara saudari misanku lainnya sudah mendapatkan mempelai, hanya aku yang tak kebagian karena jumlah kami ganjil. Maka aku pun menangis. Saat itulah, Reza datang menghampiriku dan berkata…“Udah, jangan nangis. Pengantin yang paling cantik…tentu harus jadi pengantinnya Kak Reza”, sambil menghapus air mataku.

Aku mendadak diam. Senang bukan main. Aku, alya kecil berusia delapan tahun tanpa malu-malu memegang tangan anak laki-laki tiga belas tahun yang bersedia jadi pengantinku. Aku selalu tersenyum jika mengingatnya. Protes saudari misanku karena Kak Reza yang tak pernah mau bermain jadi pengantin, hari itu mengajukan diri secara sukarela jadi pengantinku. Tambah lagi mengatakan aku yang paling cantik, tentu membuat sewot saudari misanku yang lain. Faktanya, aku yang paling kecil di antara mereka dan tak bisa berhias hingga dibilang cantik. Rambutku sebahu lurus, berponi dan yang paling parah, gigiku ompong. Tidakkah itu lucu?

“Alya…Alya…”, semua mata tertuju padaku. Aku bengong. “Kenapa?”, tanyaku polos. “Sungkem!!!”, ujar saudari misanku berbarengan. Aku beringsut dengan senyum malu-malu. Nenekku menunggu dengan sabar, mencium kening dan pipiku. “Melamun apa tadi?”, tanya beliau di telingaku.

“Hehe…”, aku memeluk nenekku sayang. Bunda mendelik sebal, pamanku menggeleng-geleng sambil tersenyum.

***

“Dek, Rian mau datang ke rumah kita, melamarmu. Gimana?”, tanya kakak laki-lakiku tanpa basa-basi. Ia menghampiriku yang tengah membuat laporan kegiatan hutan kota yang sedang dikembangkan divisiku atas permintaan khusus kepala daerah beberapa waktu lalu.

Aku diam. Kakakku ikut diam, menunggu. “Kak, aku kan udah bilang kemaren…”, sahutku dengan enggan.

“Bisakah kamu pertimbangkan lagi lamaran ini?”, ujarnya. “Rian laki-laki yang baik, Dek. Dia cinta banget sama kamu. Dari dulu sampai sekarang dia belum melupakanmu. Permintaan putusmu lima tahun lalu yang begitu tiba-tiba tanpa alasan…juga perubahan sikapmu yang semakin menjauhinya udah bikin dia patah hati. Kamu tahu kan, dia bisa aja berpaling pada orang lain tapi toh dia memutuskan tetap mencintaimu. Dan yang paling penting…kamu juga masih punya perasaan yang sama!”. Aku mengerang mendengar penuturan Kakakku dan menutupkan telapak tanganku ke wajah.

“Kakak cuma pengen kamu bahagia, jadi pikirkan baik-baik pilihan masa depanmu”, ia mengakhiri percakapan kami sambil mengusap kepalaku. Aku mengangguk lemah. Membiarkannya berlalu masih dengan pertanyaan yang tak terjawab.

***

“Cu…melihat kalian berdua sudah tumbuh dengan baik membuat Nenek bahagia. Akan lebih bahagia lagi jika diberi Allah kesempatan melihat kalian menikah”, ujar Nenekku lembut. “Kalian sudah cukup umur lho…. Sudah punya calon belum?”, tanya beliau padaku dan Reza.

Aku tertawa. “Ayo Kak, tuh…Nenek udah nungguin Kakak nikah. Sekarang mungkin udah nyiapin calon kalau Kakak nggak punya pilihan hati…”, sahutku gembira.

“Kamu kali Al, bukannya kemaren ada yang mau datang ke rumah kata Yoga?”, serangnya balik.

“Bener Al?”, tanya Nenek. Aku gelagapan.

“Ah, itu mah gosip antara Kak Yoga sama Kak Reza aja, Nek. Aku mana berani ngelangkahin tetua…”, sindirku pada Reza. Yang disindir hanya tertawa.

“Jadi kalau belum punya…gimana kalau kalian berdua nikah aja? Mau kan?”, todong Nenekku tanpa keraguan. Aku dan Reza, hening.

Reza yang pertama tersenyum. “Ah, nenek bercanda Al…”, ujarnya menjelaskan.

“Nenek serius…”, sahut beliau. “Kenapa? Kalian keberatan?”, tanya Nenek kalem. Ajaibnya, tak satu pun dari kami yang berani bersuara menyatakan keberatan dengan lantang. Aku menatap Nenek tak percaya, bingung. Melirik sekilas dengan perasaan malu yang tiba-tiba muncul pada saudara misanku itu. Di antara semua saudara misanku yang lelaki, Reza memang favoritku. Jika di masa kecil aku akan dengan senang hati menjadi pengantinnya, rasanya tidak sekarang. Iya kan? Aku…entah kenapa bertanya pada hatiku yang meragu.

***

Febrian Mahadika Pratama. Muhammad Syahreza. Febrian Mahadika Pratama. Muhammad Syahreza. Febrian Mahadika Pratama. Muhammad Syahreza. Febrian Mahadika Pratama. Muhammad Syahreza. Febrian Mahadika Pratama. Muhammad Syahreza. Febrian Mahadika…Rian. Reza.

Kepalaku dipenuhi dua sosok laki-laki ini. Yang satu cinta pertamaku, yang lainnya pelindung favoritku. Yang satu mencintaiku sejak delapan tahun lalu, yang lainnya menyayangiku sejak aku berumur delapan tahun. Mereka sama-sama memiliki tempat istimewa di hatiku.

Ini pertama kali dalam dua puluh tiga tahun perjalanan hidupku, pilihanku mengapa begitu sulit? Aku menangis.

***

Dan aku mulai berandai-andai. Jika saja, aku bertemu kembali dengan Rian beberapa bulan sebelumnya mungkin akan berbeda ceritanya. Seperti perkataan kakakku, hatiku sama seperti Rian. Cinta monyet itu begitu manis. Meskipun begitu, aku membuangnya demi pengamalan pada pemahaman tentang agama yang dibawa Nabiku. Tak ada pacaran dalam Islam, hanya ada khitbah dan nikah. Kami belum siap menikah, jadi tak ada alasan bagiku mempertahankan hubungan yang sama sekali dilarang oleh-Nya. Cinta itu pun perlahan terlupakan, berganti pemahaman yang semakin utuh tentang hubungan cinta hanya karena Allah. Kebaikan dan keburukan ditimbang karena-Nya, cinta dan benci hanya karena-Nya. Dan aku belum melupakannya. Tak sebaris pun lupa hingga bertemu Rian secara tak sengaja. Ah, takdir Allah kah itu?

Andaian yang lain. Coba Nenek menjodohkanku dengan Reza lebih awal, tentu aku takkan dilema seperti ini. Memiliki seseorang seperti Reza dalam hidupku tidaklah buruk. Ia memang bukan cinta pertamaku. Tapi tentunya bisa menjadi salah satu kandidat cinta terakhirku tanpa meruntuhkan idealisme cinta karena-Nya seperti yang terjadi padaku dan Rian. Membimbingku dengan sabar, mencintaiku dengan tulus, menjagaku sepenuh hati…aku tak punya keraguan Reza mampu melakukannya. Dan aku yakin bahagia menjalaninya jika pilihan itu memang dia. Saudara misan favoritku.

Bunda dan Kakak bersaing mempengaruhi persepsiku. Masing-masing menonjolkan pihak yang didukung. Aku merasa seperti menghadapi kampanye pemilihan kepala daerah yang hanya banyak mengeluarkan janji-janji palsu. Tanpa opini mereka pun aku sudah cukup pusing, jadi aku menutup telinga. Sementara Ayah mendiamkan saja pembicaraan ini hingga batas kesabarannya. Jadi, menurutmu siapa yang harus ku pilih?

***

Febrian Mahadika Pratama?

***

Muhammad Syahreza?

***

Dan pikiranku semakin berkecamuk. Benarkah ini pilihan terbaikku?

***

“Saya terima nikah dan kawinnya Alyani Deswita binti Pramudya Haryanto dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cincin emas seberat tiga gram dibayar tunai…”, demikian ijab qabul itu terlafadz dari seorang laki-laki yang sekarang telah resmi menjadi pendampingku.

Bis yang searah dengan tujuanku, aku tak boleh melupakannya. “Saat seorang perempuan sudah dipinang oleh seorang laki-laki dan disetujui oleh keluarganya, meskipun belum resmi datang bersama keluarga besarnya maka dia telah terikat. Tak baik menerima pinangan lain meskipun dirasa pinangan yang baru jauh lebih baik dibanding sebelumnya…”, perkataan Ayah ini jadi keputusan akhirku.

Ya, beberapa saat aku melupakan arahku. Dan melupakan sabda Rasulullah yang mulia…”Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya, maka tidak halal bagi seorang mukmin membeli di atas pembelian saudaranya dan tidak halal mengkhitbah di atas khitbahan saudaranya hingga saudaranya meninggalkannya” (HR. Muslim dan Ahmad).

Aku, telah menerima secara sempurna khitbah seorang laki-laki. Dan khitbah merupakan akad. Sebagaimana akad lainnya, setelah sempurna diakadkan maka tali khitbah akan mengikat dan memberikan beberapa konsekuensi pada kedua belah pihak yang berakad.

Khitbah adalah akad berupa janji untuk menikah. Kami terikat dengan janji sesuai syarat-syarat yang disepakati. Saat dua bus nan menggoda itu lewat di hadapanku, bus yang searah dengan tujuanku telah lebih dulu berjanji akan datang bersama keluarganya melamarku secara resmi bulan depan, dan menentukan tanggal pernikahan kami bulan depannya lagi. Dan aku telah menyetujuinya. Siapapun yang berjanji, ia wajib memenuhi janjinya. Haram mengingkari selama janji itu masih ada dan mengikat.

Pertemuan dengan orang dari masa lalu juga perjodohan yang diatur Nenek hanyalah ujian Allah buatku. Dan aku sungguh diuji agar menjadi pribadi lebih baik dalam kehidupan pernikahanku kelak. Syukurlah, Ayah membuatku menemukan kembali ingatan tentang ruteku!

Seperti perempuan lainnya yang berharap pernikahannya akan berlangsung seumur hidup, aku pun demikian. Kelanggengan pernikahan ini tentu dimulai sejak awal usaha menuju pernikahan. Dan aku menyadari, bahwa kelanggengan ini sangat dipengaruhi oleh penentuan pilihan, siapa yang akan kujadikan pasangan hidup. Maka aku berusaha menyandarkan kebahagiaan dan ketentraman pernikahanku pada ajaran agamaku yang sempurna, Islam.

Aku, telah memilih seorang laki-laki yang telah kuketahui tujuan dan orientasi hidupnya, pola pikir dan tabiatnya, juga status dan posisinya. Dan aku pun telah mengetahui orangtua dan keluarganya, kebiasaan keluarganya juga lingkungan dimana ia tumbuh dewasa.

Penampilannya tak bisa dibandingkan dengan Rian yang bersinar bagai bintang iklan. Tapi kata Kakakku dia cukup manis. Tinggi dan kurus dengan kulit sawo matang. Dan yang paling penting, ia laki-laki bervisi Islam kaffah seperti harapanku. Menjadikan aqidah sebagai dasar tata aturan yang mengatur setiap interaksinya dalam kehidupan. Meyakini hal yang sama denganku, bahwa setiap aturan Allah akan membawa kemaslahatan di dunia maupun di negeri akhirat.

Pembawaannya pun tak sehangat Reza yang penuh perhatian. Mungkin karena usianya setahun lebih muda dariku? Belum mapan secara finansial karena ia baru lulus dari fakultas kedokteran dan sangat sibuk menjalani pendidikan profesinya hingga sms ku baru akan dibalas setelah beberapa jam. Tipe yang tak banyak bicara mengobral kata cinta yang manis lagi puitis. Tapi ia selalu mengajakku berlomba dalam kebaikan.

Pengetahuanku tentangnya tak sebaik pengetahuanku tentang Rian dan Reza. Namun Ayah mengenalnya dengan baik, ia putra teman kuliah beliau. Ayah telah memilihkannya untukku karena beliau tahu dengan baik visi hidup putrinya. Dan aku ridha.

***

Prima Raditya, bus pilihanku!

 

*Ditulis setelah mendengar kisah godaan menjelang pernikahan. Semoga barokah dengan pilihannya, sista! ^_^

**Cerpen ini pertama kali diterbitkan di Rubrik Cerpen Pembaca I Love kawan Imut : https://www.facebook.com/IloveOriginalKawanimut/photos/a.168379236556250.41209.141421482585359/669291843131651/?type=1&relevant_count=1&__mref=message

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s