Yang Tak Berubah

KAWANIMUT-WINDOWS-OF-HEART-2Tanpa terasa tahun masehi 2015 telah berlalu tepat satu bulan. Ini waktu yang panjang jika bicara pertemanan berumur puluhan tahun. Masa dimana bertemu dalam keadaan imut-imut dan mungkin berubah amit-amit, hehe….

Satu gadis super santai dan suka tidur berubah jadi super mom. Lalu gadis tomboy menjadi keibuan dan pandai memasak. Sementara dua lainnya masih jomblowers. Makin mendewasakan sikap meskipun satu masih suka ngambek dan yang satunya lagi masih selalu jadi provokator kelas berat di kalangan mereka. Jelas, banyak hal telah berubah sejak pertama kami bertemu.

Sampai beberapa saat lalu, dimana obrolan kami lebih intens karena proyek bersama. Awalnya si Nayli. Dia mengingatkanku tentang liburan kami di rumah Jihan. Saat ajakan berlibur di daerah pantai itu mampir, aku dan Adel langsung bersorak girang. Nayli?

“Aku tanya Abah dulu, ya?”, ujarnya dengan wajah memelas.

Jadi kami menunggu harap-harap cemas izin Abah si Nay. Maklumlah, waktu itu…

jika ada satu saja diantara kami yang tak ada dalam perjalanan pasti terasa kurang. Dan hasilnya? Kami berhasil mengantongi izin beliau. Bersyarat tentunya! Kecepatan sepeda motor tak boleh lebih dari 45 km/jam! Bayangkan, untuk para pembalap seperti Jihan dan Adel, itu merupakan ujian kesabaran, hehe….

Lucunya, kejadian ini masih terulang saat liburan akhir tahun lalu. Aku dan Nayli yang sudah lama merencanakan jalan-jalan ke Bandung harus rela menunda agenda kami. Pasalnya? Abah lagi-lagi memberi izin bersyarat yang menuntut untuk dipenuhi sebelum berangkat, hehe….

Lain si Nayli, lain pula Adel. Saat aku membuat topi rajut Elsa untuk batita, salah satu tokoh film animasi Frozen itu, reaksi orang-orang dekatku biasanya langsung cerah ceria. Kecuali…tentunya Adel. Dia hanya mendengarkan rencanaku dengan kening berkerut. Beberapa saat kemudian, adiknya yang heboh dengan topi itu membuatnya terheran-heran.

“Ternyata Elsa itu terkenal ya?”, tanyanya polos.

Oalah…aku baru sadar. Rupanya dia tak merespon kisahku tentang topi si tokoh kartun itu karena dia bingung. Elsa? Elsa siapa? Ah, sesaat aku lupa! Benar-benar lupa punya teman yang sering tidak kenal pada tokoh terkenal di dunia hiburan ini, hehe….

Nah, puncaknya ya si Jihan. Bisnis craft yang akhir-akhir ini kutekuni, dialah yang memasok bahan bakunya. Hanya saja, aku harus ekstra rinci memberi penjelasan bahan yang dibutuhkan. Jika tidak, bisa dijamin dia akan membuatku mendapatkan bahan-bahan yang tak kuperlukan atau belum bisa kugunakan sama sekali!

Terakhir kali, aku mendapat daun dan bunga akrilik. Well, aku masih fokus dengan flanel dan benang-benang rajut. Jumlah yang diberinya padaku seperti akan membuat berpot-pot bunga akrilik untuk dijual. Dan aku pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala memandangi bahan yang entah kapan akan terpakai itu, hehe….

Terakhir, karena ingin melebarkan sayap usaha ke dekorasi dan tata rias pengantin muslim, aku memintanya mulai memasok pakaian dan pernak-perniknya. Sebenarnya, usaha yang terakhir ini rencananya baru akan dimulai tengah tahun nanti mencicil pengadaan barangnya. Tapi qadha Allah, orderan mulai datang awal tahun. Jadilah pesanan dadakan itu dilakukan.

Gaun pengantin dan pernak-perniknya kupilih sendiri dengan memintanya mengirim gambar barang berikut deskripsi rincinya. Selang satu hari, paket berisi barang pesananku pun datang. Dengan wajah sumringah, aku membukanya. Dan…eng ing eng!

Pertama, kerudung pengantin pesananku, super duper lebar! Nah, rupanya salahku tak menyebut ukuran menggunakan satuan centimeter. Aku hanya memintanya membuat kerudung yang sewarna dengan gaun pengantin. Walhasil, aku harus mempermak ulang ukurannya. Fiuh….

Itu belum apa-apa dibanding yang kedua. Aku terperangah menatap selendang hasil perburuannya. Dan benar-benar tak bisa menahan tawa. Terhampar di depanku, kerudung putih klasik. Sangat klasik sehingga mengingatkanku akan kerudung yang selalu dipakai Neya’ di atas bolang hajinya, hehe….

Padahal saat memesan barang, aku sudah mengingatkan…”jangan belikan kerudung gaya nenek-nenek ya?”, sambil bercanda. Tapi rupanya…tetep! Hehe….

Jadi aku hanya bisa bergumam, meski banyak hal telah berubah namun ada beberapa hal yang masih sama. Selera dan mungkin beberapa kebiasaan kami.

“Eh, aku jadi ingat aksi ajaib kita berempat di kos dulu”, ujarnya sambil tertawa mengingat satu kisah.

Aku ikut tertawa geli. Ya, ada satu momen dimana aku menjadi provokator momen yang satu itu. Oke…oke, sejujurnya aku memang selalu jadi provokator. Bukan dalam makna negatif lho ya? Aku hanya terlalu kreatif dan perlu sarana melepas kreativitas aja kok! (Bela diri.com)^^V

Sekali-sekali memprovokatori teman-temanku yang awalnya hanya ziarah ke kota A menambah rute ke kota B. Atau merayu ustadzahku jalan-jalan ke pantai melihat sunrise. Lain waktu membawa terlalu banyak anggota tim hanya untuk survei lokasi outbond, hehe…. Kadang-kadang mendesign alat bantu ajaib yang hampir bisa dipastikan dilihat massa saking noraknya, wkwk….

Lalu kira-kira apa yang terjadi kali itu? Well, aku “hanya” menjadikan ketiga temanku itu boneka barbie. Yup! Aku menyeret dan mendandani mereka dengan pakaianku, hehe….

Aku dan ketiga temanku itu, punya gaya dan warna yang saling bertolak belakang. Dalam keadaan normal, Nayli dan Adel bahkan akan “mengamuk”. Tapi kali itu mereka pasrah saja setelah aku “bermanuver” beberapa jam, hehe….

Bagaimana sekarang? Nayli dan Jihan yang tinggal jauh dariku mungkin beruntung. Tapi tidak dengan Adel. Dia masih seringkali jadi “model” jilbab jahitan mutakhirku. Atau bahkan masih menjadi korban “pinjam wajah” demi belajar merias pengantin, wkwk….

Hal lain yang tak berubah, aku merindukan mereka! Rindu omelan Nayli, masakan Pare Jihan atau ngebolang keluar kota bersama Adel. Rindu melihat mereka dengan segala sisi positifnya. Kedisiplinan Nayli masih jadi favoritku, sudut pandang Adel yang out of the box membuatku salut. Juga kesabaran Jihan. Sekian tahun beraktivitas bersama, kami tumbuh saling mendewasakan.

Terima kasih untuk Nayli yang selalu mengomeliku namun selalu percaya bahwa aku bisa memenuhi amanah-amanahnya dengan baik. Terima kasih untuk Adel yang selalu mendukung ide-ide ajaib yang muncul dari kepalaku dan membantu merealisasikannya. Terima kasih juga untuk Jihan yang selalu sabar, sejak awal bertemu sampai sekarang.

Ah, ternyata benar apa kata Bang Tere Liye. Sahabat baik itu seperti belajar naik sepeda. Walaupun lama tak bersua, jarak dan waktu memisahkan, saat bertemu kembali…tetap terasa sama. Mungkin sedikit kaku pada awalnya, tapi sama menyenangkan.

Sahabat baik laksana lukisan bersejarah. Walaupun muncul teman baru, tempat baru, sekolah baru, pekerjaan baru…selalu ada tempat meletakkan lukisan tersebut. Di ruangan terbaik dan semakin bernilai diantara benda-benda istimewa lainnya.

Sahabat baik seperti hujan yang menyiram lembut tanah gersang nan tandus. Agar tumbuh benih-benih manfaat. Besok lusa tinggi menjulang karena kepedulian. Selalu begitu dan tak pernah berhenti.

Sahabat baik bagai weker, dia mengingatkan. Sahabat baik bagai helm, dia melindungi. Dan tentu saja, lebih istimewa dibanding HP, laptop, gagdet kita yang pasti dibuang saat rusak atau ketinggalan zaman. Sahabat baik selalu sebaliknya : semakin lama, semakin istimewa. Selalu spesial!

Inilah salah satu episode kisah tentang sahabat-sahabatku. Bagaimana denganmu?^_^

4 thoughts on “Yang Tak Berubah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s