Kapan Waktunya?

nissan-nismo-watch_2Suatu saat aku pernah berdoa, “Ya Rabb, jadikan setiap detik waktu yang kulalui dalam hidup ini selalu produktif dan berkah”. Sebuah doa yang kupanjatkan di tengah rasa galau sebagai mahasiswa yang baru lulus kuliah dan memasuki dunia kerja di daerah terpencil dimana semua akses sarana prasarana terbatas. Mau menulis, listrik cuma menyala malam hari. Itu pun ada jatah pemadaman bergilir. Mau akses internet? Alamak, sinyal saja kadang tak ada! Mau mengunjungi teman atau saudara, jaraknya jauh luar biasa. Tambah medan yang dilalui berat. Fiuh….

Saat itu, aku akhirnya melakukan saja apa yang bisa kulakukan. Bermain dengan anak-anak tetangga sambil

menanamkan pemahaman Islam pada mereka. Ada kajian anak sholeha. Bergaul dengan para ABG yang sedang mencari jati diri. Ada kajian remaja sholeha. Eh, emak-emaknya ternyata juga tertarik. Jadilah juga kajian ibu sholeha. Semakin banyak kegiatan, semakin menyenangkan rasanya. Sehingga kedua tangan terangkat dan memohon pada Sang Pemilik Jagat Raya agar memberiku kesempatan memanfaatkan waktuku tanpa sia-sia.

Dan itulah keajaiban doa. Bahkan saat doa itu hanya dilafazkan sekali waktu, dulu, namun efeknya masih terasa hingga sekarang. Bahkan makin bertambah-tambah! Saking banyaknya kegiatan, aku bahkan sampai merasa kewalahan. Dapat tambahan amanah mengurusi keuangan. Wuih, sebagai mantan orang lapangan yang terbiasa fleksibel waktu dan gaya bekerja, dipenuhi deadline menjadi tekanan tersendiri. Tambah lagi aturan-aturan baku yang harus dipenuhi, jika tidak maka berkas tak bisa diproses. Itu menjadi tantangan besar buatku.

Tambah lagi amanah-amanah lain yang tak kalah berat. Menjadi ketua ini itu, mengkoordinir sana sini! Mana akhir tahun berbarengan pula! Belum lagi mengurusi bisnis yang sejak lama kurintis. Pembangunan dapur cafe yang masih berjalan, design display tempat dan pelayanan, sampai rembetannya yang justru makin berkembang. Craft yang awalnya hanya kegiatan iseng-iseng untuk melengkapi keberadaan cafe saat ini malah berkembang pesat. Bisa kamu bayangkan dong, akhirnya aku cuma punya waktu rata-rata 4 jam untuk tidur! Terlebih menjelang pameran seperti kemarin. Wuih, aku sampai kehilangan orientasi terhadap waktu! Rasanya energiku benar-benar terkuras. Sampai pada titik ini, aku bertanya-tanya, apakah aku salah doa? Ups…hehe…^^V

Ternyata setelah kupikir-pikir, aku sendiri yang belum profesional memanajemen diri. Mengutip kata-kata kalangan bijak bestari, memanajemen waktu jelas tak mungkin karena dua puluh empat jam berlaku sama bagi setiap manusia. Yang mungkin adalah manajemen diri sehingga waktu termanfaatkan dengan baik.

Dengan kata lain, fiqih prioritas sangat bermain di sini. Aku harus jeli melihat mana aktivitas yang penting dan mendesak, penting tapi tak mendesak dan seterusnya. Memilih diantara kewajiban-kewajiban itu, mana yang bisa ditunda dan mana yang harus segera ditunaikan? Memilih diantara yang sunnah itu, mana yang paling komplemen dengan aktivitas dan waktu? Meminimalisir hal-hal mubah yang sebenarnya menyenangkan dilakukan.

Alhamdulillah, semuanya berjalan cukup baik. Sebagai tenaga teknis lapangan minus pengalaman administrasi keuangan, pekerjaanku berjalan cukup baik. Bukan tanpa kesalahan tentunya. Kesalahan yang kubuat bahkan terkategori keluguan tak tertolong jika tak mau dikatakan konyol, hehe…. Namun aku selalu percaya dengan petuah Amaku, “bisa karena biasa”. Jadi aku menahan rasa malu bertanya, enggan mengerjakan atau marah karena hasil kerjaku selalu dianggap kurang. Aku mencoba mengambil sisi positifnya, inilah proses belajar. Kedepannya, saat aku sudah seprofesional para seniorku tentu akan lebih mudah dijalani. Dan hari ini, aku bisa bernafas lega. Pekerjaan terbesarku berakhir dengan manis.

Cafe masih menjadi PR terbesarku. Pembangunan belum selesai. Fasilitas belum memadai. Tapi lagi-lagi aku hanya berpositif thinking. Seperti para pengusaha yang tak selalu berhasil di langkah awal, mungkin seperti itu juga aku. Ini adalah “harga belajar bisnis” yang kulakoni. Bagaimana memilih partner usaha, memilih pekerja, memilih strategi dan seterusnya. Kedewasaan dalam bisnis tak muncul tiba-tiba, inilah jalannya.

Craft yang awalnya hanya selingan tiba-tiba naik daun. Aku jelas kalang-kabut. Dan aku lagi-lagi harus belajar dari awal. Mencari produsen bahan, mengolah produk-produk kreatif hingga memamerkan sekaligus memasarkannya pada konsumen. Bagaimana mengawinkan idealisme dan selera pasar masih jadi pertanyaan besar, yang ingin kucari jawabannya dari para senior bisnis ini. Rencana-rencana pun berseliweran di kepala. Memasok barang di satu butik dan dua toko mainan terbesar di kotaku, semoga berjalan lancar.

Dan saat gencar-gencarnya promosi, senior di kantor bertanya, “Brina, kapan waktunya kamu mengerjakan semua?”.

Aku hanya tersenyum-senyum saja. Pekerjaan rutin, aktivitas dakwah, merintis bisnis. Aku mencoba menjalaninya dengan senyum lepas. Berharap agar semuanya tak saling bertabrakan. Mencoba yang terbaik agar semuanya tak saling bertentangan. Hingga aku menjadi pribadi yang bermanfaat buat sesama. Semoga!

*Ditulis di sela-sela edit terakhir skrip KIN 2 dengan laptop pinjaman Adel. Jazakillah khair, Sista! Thanks for support and motivation…^_*

One thought on “Kapan Waktunya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s