Call 911 (Gara-Gara Layangan)

gambar-mewarnai-layang-layangPernah bermain layang-layang?

Hmmm…aku ingin mengajak kalian sedikit mengenang masa kecil dulu. Meski termasuk permainan tradisional namun permainan ini sangat mengasyikkan. Aku termasuk penggemarnya! Maklumlah, dua saudaraku laki-laki. Sepupuku juga kebanyakan laki-laki. Jadi karena keseringan bermain dengan mereka, aku pun akhirnya ikut menyukainya. Awalnya hanya membantu membuat layang-layang semisal mencari bambu, membeli kertas minyak warna-warni hingga membuat benang gelasan sendiri. Lama kelamaan, aku pun penasaran dan mulai terlibat di lapangan permainan.  Hehe…*Tepok jidat sendiri mengingatnya! Ckck….

Nah, masalahnya…keadaan saat aku kecil dulu dan sekarang di lingkungan tempat tinggalku tak lagi sama. Jika dulu, saat kami bermain, belakang rumahku masihlah tanah lapang yang tak berpenghuni dan bebas dari kabel-kabel listrik sehingga ada keleluasaan untuk menaikkan layangan ke udara. Sementara sekarang? Kampungku telah menjelma menjadi pasar besar dan kompleks perkantoran. Dan tentu saja, udaranya dipenuhi lintasan kabel-kabel listrik bertegangan tinggi.

Metamorfosa ini di satu sisi menyenangkan karena memperlihatkan pembangunan yang berjalan di kotaku. Namun di sisi lain juga menimbulkan permasalahan. Anak-anak tak punya lagi tempat bermain. Para tetanggaku harus bermain bulu tangkis di jalan yang notabene tak aman karena jalanannya lumayan padat dilalui kendaraan. Anak-anak bermain kelereng di sisa aspal jalan yang lebarnya tak sampai 2 meter. Otomatis jika sore rumahku yang sedikit berhalaman itu pun kebanjiran pengunjung. Aku sampai kebingungan mengenali, anak siapa-siapa saja yang bermain di sana. Ckck….

Saat musim bermain layangan tiba, anak-anak di sana pun tak mau ketinggalan. Hari-hari cerah mendekati panas dengan laju angin optimal, sayang jika dilewatkan tanpa menerbangkan layangan. Sensasi menaikkan layangan ke udara hingga beradu dengan teman sangat menantang. Bahkan saat malam tiba, tak jarang masih ada yang mencoba tetap bermain. Didesign-lah layang-layang dengan tenaga baterai super imut sehingga bisa menyalakan lampu dan terlihat indah dari bawah. Pernah mengamatinya?

Jika iya, kamu pasti mengerti apa yang kumaksud. Kembali pada permasalahannya, layangan ini tak lagi indah saat dimainkan pada dua kondisi. Pertama di lingkungan padat penduduk dan kedua dengan layangan modifikasi. Saat ini, manusia-manusia kreatif pecinta layangan telah men-design mainannya dengan berbagai bentuk dan ukuran. Termasuk benang gelasannya. Tahu kan? Benang yang dikasih pecahan kaca? Ketajamannya jangan ditanya. Aku dulu seringkali pulang dengan tangan berdarah akibat memainkannya. Aku pasti diomeli panjang lebar saat ketahuan!

Nah, ternyata sekarang bahkan ada yang menggunakan benang semi kawat dan kertas alumunium foil untuk bermain layangan. Wow! Bukankah kedua bahan itu bisa menjadi konduktor?

Sejujurnya aku baru tahu info yang terakhir ini.  Itu pun setelah kejadian sore kemaren yang menghebohkan kompleks perumahanku. Aku baru selesai menutup tirai jendela dan menghidupkan lampu-lampu di rumah saat tiba-tiba terdengar suara letusan sangat keras. Dan jleb! Listrik langsung mati. Kupikir terjadi korsleting di rumahku saja karena beberapa hari sebelumnya kami juga mengalaminya. Ama memberi peringatan dengan suara kerasnya. Adikku langsung berlari mematikan jaringan.

Anehnya, suara-suara panik itu tak hanya muncul di rumahku. Adel yang kebetulan sedang tryout bahasa arab online di loteng rumahku langsung turun.

“Ayo dimatikan listriknya. Kabel di depan sana sudah terbakar”, ujarnya.

Wah, bisa kamu bayangkan bagaimana paniknya? Dengan tangan gemetar, aku memakai jilbab jualan yang dipajang di cafe bukuku. Kerudung yang kusampirkan dikursi langsung kukenakan lalu berlari keluar. Di sepanjang jalan, para tetangga sudah berjejer di pinggir jalan. Teriakan terdengar dimana-mana.

Di depan sana kulihat kabel listrik menyalakan percikan api dan terus merambat ke sekitar. Penyebabnya apa lagi jika bukan tali layangan gelasan yang dimainkan anak-anak sekitar rumah? Dan Ya Rabb, jaraknya tak sampai lima puluh meter dari rumahku. Para tetangga bahkan sudah bersiap ingin melarikan diri dengan barang-barang berharga mereka.

Ah, layang-layang. Gara-gara mainan ini, banyak korban yang sudah berjatuhan. Pemadaman listrik di kotaku akhir-akhir ini terjadi salah satunya disebabkan kabel yang tersangkut benang layang-layang (www.borneonews.co.id). Jika saja penduduk kurang cepat memadamkan api, bisa jadi kerugian akan bertambah. Beberapa waktu lalu bahkan sempat diberitakan telah jatuh korban nyawa di Pontianak saat benang kawat layangannya beradu dengan kabel listrik tegangan tinggi.

Nah, sudah banyak daftar korban akibat bermain layang-layang di sembarang tempat. Sebagai penggemarnya, aku khawatir permainan ini nasibnya seperti kembang api dan petasan gitu deh nantinya. Masuk daftar salah satu permainan berbahaya yang tidak disarankan lagi terutama di daerah perkotaan yang padat penduduk dan langitnya dipenuhi kabel listrik tegangan tinggi. Kasihan deh anak-anak kota!

Oh iya, dari kejadian ini aku akhirnya belajar satu hal lagi. Jangan pernah melupakan nomor-nomor penting dalam handphone-mu. Kantor polisi, pemadam kebakaran, rumah sakit dan sebagainya. Bayangkan saja kondisi kritis yang memerlukan penanganan cepat seperti ini terkadang membuat kepala kita berjalan dengan cara yang tak semestinya.

Bayangkan aja…dalam kondisi gugup begitu, aku langsung menyuruh Adel menghubungi 911! Haha…ternyata selalu ada kejadian lucu dari ketegangan yang tercipta. Bahkan dalam kondisi terdesak begitu kami masih bisa menertawakannya.

“Del, telpon 911”, ujarku dengan suara tegas.

“Hah? Telpon apa?”, tanya Adel bingung sambil memandangiku tak kalah panik.

“Hah?”, aku pun akhirnya sadar. Ini kota yang letaknya di Indonesia kali! Ah, kupikir ini efek negatif gara-gara kebanyakan nonton film hollywood! Harusnya yang dihubungi itu nomor pemadam kebakaran lokal kan?

“Telpon pemadam kebakaran”, ralatku tegas. Adel membuka kunci hanphonenya.

“Berapa nomornya?”, tanyanya sambil menatapku penuh harap.

Ya, berapa nomornya? Aku juga tak tahu! Ya Allah!!! Aku tambah panik. Apa yang harus dilakukan? Bertanya pada bagian informasi? Wah, aku sudah lama tak menggunakan cara-cara begitu.

Beruntunglah, orang-orang yang rumahnya tepat di bawah kabel terbakar itu langsung bekerjasama memadamkan apinya tanpa komando. Dua puluh menit kemudian, keadaan kembali tenang. Api padam. Tapi kota juga diliputi gelap gulita. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa menit menjelang adzan maghrib.

Adel yang masih dalam jam try out-nya seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan tugasnya. Padahal masih ada satu kata lagi yang harus ditasrif hingga selesai. Aku juga jadi kehilangan semangat untuk mengerjakan makalahku. Masih gugup akibat melihat api. Jika tak bisa dikatakan aku agak trauma dengan kebakaran. Saat kecil, bayangan melihat rumah keluarga dekatku dilalap api terasa mengerikan. Lagi pula, akhir-akhir ini di kotaku terjadi kebakaran beruntun dalam rentang waktu berdekatan. Jadi bagaimana aku tidak tambah panik?

Makanya setelah keadaan aman terkendali, aku tak menunda lagi mencari nomor-nomor penting untuk ditambahkan dalam daftar telponku. Polres, Satlantas, Satpol PP, Pemadam Kebakaran, RSUD, PLN, Kantor Bupati, Kantor Pos, Kodim, Bandara dan PDAM.

Dan kami pun menertawakan kekonyolan “call 911” yang kubuat bersama Adel gara-gara layangan itu. Hah, ada-ada saja! Ini kisahku. Bagaimana denganmu, kawan?

*Ditulis sambil memandangi kabel listrik yang lagi-lagi mengalami korsleting akibat tali layangan

6 thoughts on “Call 911 (Gara-Gara Layangan)

  1. peta berkata:

    hmm dikota2 besar kyak sby ini jarang sekali ngeliat layangan..gk tw apa anak2nya yg gk suka main layangan atau emang udah ada aturan gk boleh main layangan.😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s