Sketsa Kasar

cropped-headerPeribahasa mengatakan, “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Tentu saja, bukan hanya nama secara harfiah. Namun juga amal-amal yang telah dilakukannya di dunia. Yang membuatnya dikenal oleh manusia lainnya sesuai dengan karakter maupun kontribusinya bagi sesama. Atau jika mengutip perkataan Ustadz Faqih Sarif, berdasarkan “tandanya” di alam semesta ini.

Itulah sebabnya kita meyakini bahwa kesuksesan tak melulu tentang diri pribadi namun juga menyangkut manusia di sekitar kita. Orang yang sukses adalah orang yang mencapai impian-impian yang bermanfaat bagi kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya. Mampu meraih kehidupan bahagia yang hakiki dengan capaian tersebut, bukan hanya di dunia namun juga di akhirat nanti. Karena setiap capaian berupa nilai tambah yang dikejarnya selalu dimaksudkan untuk meraih keridhoan Allah SWT.

Satu tahun menghabiskan waktu di depan meja membuatku melupakan beberapa hal. Rutinitas dan panjangnya jam kerja terkadang memang melalaikan. Tapi Allah selalu punya cara untuk mengingatkan lagi hal-hal yang kulupakan itu.

Dimulai dari sebuah sms.

“Mbak, kami boleh main ke rumah? Mau ngobrol-ngobrol tentang handycraft yang Mbak Brina tekuni…”, ujarnya.

Aku yang sedang dikejar begitu banyak pekerjaan tentu saja tak bisa lekas merespon. Namun antusiasme mereka yang bahkan rela berjam-jam menungguku pulang dari kantor membuatku terharu. Meski tak bisa segera memenuhi permintaan mereka, aku membuat janji di waktu lain yang lebih nyaman untuk bicara dan berbagi.

Awalnya hanya Erika, Vaiko dan Fajar yang memberondongku dengan banyak pertanyaan seputar handycraft yang kugeluti beberapa waktu ini. Sebenarnya ini bukan usaha yang besar. Karena filosofi awalnya, barang-barang itu hanya melengkapi cafe bukuku. Masih ada rak pajangan yang kosong, diisi apa ya? Dan karena aku menyukai kerajinan tangan maka kuputuskan mengisinya dengan itu. Apalagi pada akhirnya hasil kreasiku laku dijadikan souvenir pernikahan. Jadi kupikir, mengapa tidak? Toh aku bisa mengerjakannya di sela waktu luangku.

Aku membuat berbagai macam bros, gantungan kunci, gantungan hp, kotak pensil sampai tas rajutan. Atau pernak-pernik dari kain flanel. Atau juga dari batu-batuan. Atau dari apapun yang menarik dikerjakan. Koran bekas, pita, tali kur, kain bekas, kertas krep, dan sebagainya. Hasilnya benar-benar lumayan. Tak hanya keuntungan materi yang didapat namun juga sebuah kesenangan.

Jika pada akhirnya bukan hanya mereka bertiga namun bahkan puluhan orang yang datang dan menanyakan kisahku, sejujurnya aku agak terkejut juga. Semuanya tentu tak terjadi sim salabim. Aku membuat produkku sebagai bonus bagi anggota cafe bukuku juga hadiah-hadiah dalam beberapa acara. Mirip sponsor gitu meskipun barangnya imut-imut dan jika ditilik, tak seberapa harganya, hehe….

Aku juga memberikan diskon-diskon bagi pemesanan berjumlah besar. Hanya saja, seperti halnya kerajinan tangan lainnya, menjaga stok barang bukanlah perkara mudah. Aku belum memiliki tenaga yang mampu mengerjakan dengan rapi pekerjaan tangan itu. Jadi aku sengaja membatasi jumlahnya demi menjaga kualitas. Dan tepat sebulan sebelum lebaran kemarin, aku mencoba menawarkan barang-barangku pada seorang teman yang kebetulan mengelola toko mainan cukup besar di kotaku.

Di toko mainan itulah, adek-adek yang mewawancaraiku itu mengenal produkku. Mereka mengatakan, aku pegusaha kerajinan tangan pertama di kota ini. Karena biasanya barang-barang seperti itu didatangkan dari luar daerah. Mereka sudah berkeliling dan menanyakan sumber barang-barang yang di jual. Hanya milikku yang benar-benar dibuat di sini. Aku hanya manggut-manggut mendengarnya.

Dan jika akhirnya aku punya kelas belajar handycraft, maka semua itu karena langkah-langkah yang sudah kulakukan sebelumnya. Adel berkata setengah becanda, “Wah, tinggal nunggu liputan stasiun lokal nih?”. Aku hanya menertawakannya. Untuk sekarang tentu masih jauh lah! Namun ke depannya siapa yang tahu? Rencana untuk meluaskan sayap bisnis selalu ada di kepalaku. Dan aku sedang berjalan ke arah sana.

Lalu ada sebuah telpon.

“Mbak, sibuk nggak nih? Kalau nggak kita ngobrol ya?”, seorang teman yang mendampingi suami tugas belajar di luar kota menelpon. Ini bukan kebiasaannya. Pasti ada sesuatu yang penting. Jadi aku berhenti sejenak dari pekerjaanku dan meladeni obrolannya.

“Mbak, bikin TK yuk…”, ujarnya tiba-tiba.

Aku tentu agak bingung. Aku tak punya latar belakang pendidikan formal di bidang pendidikan anak. Aku juga bukan emak-emak yang terbiasa mendidik anak. Meskipun aku punya banyak keponakan yang kuasuh di sela waktuku, hehe…. Jadi kusebutkan saja nama-nama lain yang kuanggap lebih berkompeten. Tapi apa jawabannya?

“Aku ingat Mbak karena terobosan Mbak dulu di tempat kerja…”, ujarnya.

Aku terdiam. Wah, jika mau jujur, aku sendiri sudah lupa! Dulu…dulu sekali, aku memang pernah merintis semacam PAUD di tempat tugasku. Salah satu desa di kecamatan terpencil. Bukan karena keahlianku di bidang itu. Langkah itu kuambil, semata karena ingin bergaul akrab dengan lingkungan baruku. Sebagai mahasiswa yang baru lulus dari bangku kuliah dan terjun ke tengah masyarakat, aku agak kagok jika langsung bergaul dengan emak-emak. Jadi aku memilih yang mudah. Masuk ke dunia anak-anak juga remajanya.

Aku mengumpulkan mereka dalam sebuah forum. Menjadi fasilitator dadakan dan menerapkan sekelumit ilmu pendidikan anak yang dulu pernah kudengar dari seniorku. Beliau kepala sekolah salah satu sekolah Islam di kota tempatku kuliah. Demi bisa menghayati peran, aku bahkan sengaja mengunjungi guru-guruku kembali dan menengok kurikulum di sekolah mereka. Aku bahkan “menonton” mereka mengajar di kelas, hehe….

Ah, rasanya itu sudah lama sejak akhirnya aku menyerahkan pekerjaan itu pada orang lain juga pindah tugas ke kota. Mendengar masih ada seseorang yang mengingat hal itu juga membuatku terharu. Aku mengatakan bahwa saat ini aku masih fokus pada beberapa hal lain. Jadi jika dia mengharapkan aku hadir sebagai pengelola utama maka akan sulit. Tapi jika itu berkaitan dengan yang lain-lain, mungkin saja bisa! Terlebih, Amaku juga punya keinginan yang sama.  Aku berharap akan ada hasil positif dari perbincangan awal kami yang singkat.

Dan terakhir, sebuah notification dari wordpress singgah ke dashboard-ku minggu lalu. Happy anniversary, ujarnya. Nah, tiga tahun sudah aku bertualang bersama wordpress dan membagikan kisah-kisahku. Sebagai salah satu makhluk yang menggilai buku, menulis ternyata adalah efek turunannya. Setelah membaca berbagai hal, biasanya aku selalu tergoda berkomentar.

Hal-hal yang melintas di kepalakulah yang kemudian kutuliskan di sana-sini. Sebagai sebuah ajang latihan mengemukakan ide dan gagasan. Mengingat kembali pelajaran-pelajaran yang kudapat dulu. Atau sarana menyebarluaskan idealisme perjuangan.

Bukan karena aku bisa membuat tulisan yang bagus. Hanya saja, aku merasa senang melakukannya. Mempermudah penyampaian pesan dalam komunikasi sederhana selalu menarik dilakukan termasuk dalam bahasa tulisan. Pokok-pokok pikiran dalam kitab-kitab fikih atau kajian politik, jika diuraikan dengan bahasa ringan tentulah bisa membangun sebuah kesadaran. Atau lain kali dituangkan dalam bahasa populer yang lebih mudah dipahami. Dengan kemasan yang menarik, tentunya ada saja yang berminat membacanya. Misalnya kamu! Iya…kamu, yang tanpa sengaja nyasar ke blog ini, hehe….

Tentu saja, kualitas tulisanku jauhlah dari penulis profesional yang memang menguasai bidang kepenulisan dari tataran ilmu hingga praktek. Wah, jangan dibandingkan! Tapi menulis, hingga hari ini telah memberikan nilai tambah bagiku. Sebuah proses pembelajaran. Mencari ide, mengembangkan materi hingga merangkai kata demi kata membuktikan keseriusanku menuntut ilmu.

Aku meyakini, semakin banyak indera yang terlibat dalam proses belajar maka akan semakin melekatlah ilmu tersebut pada diri seseorang. Dengan menulis, mataku menyusuri satu demi satu referensi yang diperlukan. Telingaku mendengar berbagai komentar terkait hasil tulisan. Positif dan negatif. Tak semua orang setuju dengan idemu kan?

Dan mulutku pun akhirnya mau tak mau melakukan klarifikasi dan sejenisnya. Tanganku yang menari-nari di atas keyboard, meski kelelahan namun akhirnya begitu terlatih. Setidaknya aku bisa menggunakan nilai tambah ini untuk memberi masukan-masukan kilat pada tugas-tugas yang mengharuskan mahasiswa menulis. Meski terkadang menyesatkan, hehe….

Pada akhirnya, kesemuanya bermuara pada langkah strategis yang kita ambil dalam hidup. Nilai tambah yang berguna bagi diri kita bisa berupa apa saja. Sesuatu yang menimbulkan perasaan senang saat menjalaninya dan bermanfaat bagi diri sendiri juga sekitar. Sesuatu yang mungkin saja akan dicemooh saat melakukannya kali pertama. Karena penampilan perdana kita yang begitu buruk. Namun seiring bertambahnya waktu, keahlian itu pastilah semakin baik.

Masih ingatkah saat kanak-kanak dulu? Rumus keingintahuan yang tinggilah yang membuat kita belajar banyak hal. Mengapa orang dewasa bisa berjalan, kita tidak? Mengapa mereka bisa berlari, kita belum? Mengapa mereka mengendarai sepeda dengan mudah, kita jatuh bangun? Dan seterusnya!

Anehnya, semakin dewasa sepertinya rumus itu semakin banyak berkurang. Terkadang kita ragu untuk mengambil keputusan melangkah. Seperti juga aku dengan tantangan Adel pada proyek baru lagi.

“Jadi kapan proposalnya diajukan?”, dia memburuku.

Aku sedang menunggu sebuah kesempatan besar. Namun kesempatan terkadang tak bisa hanya ditunggu namun juga diciptakan. Maka berbekal sebuah tekad memperbaiki diri, aku datang ke hadapan atasanku dan menyodorkan harapan. Tak peduli bagaimana hasil akhirnya, hari ini aku telah melangkah. Dan besok akan terus melanjutkan.

Lagi pula, bukankah Buya Hamka pernah mengatakan : “Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua”.

Jadi, meski aku belum seperti para seniman besar yang hidupnya disarati pengalaman-pengalaman luar biasa tapi aku tetap ingin membuat sketsa-sketsa. Bukankah semua karya seni berasal dari sketsa kasar? Mungkin saja, ketidaksempurnaan itulah kelebihanku!^^V

*Ditulis setelah mengambil satu langkah baru…^^

2 thoughts on “Sketsa Kasar

  1. kutukamus berkata:

    Menulis menyehatkan. Plus bonus, kalau dinikmati. Yah, sepertinya sih begitu.

    Btw, Konon hidup seperti kumpulan sketsa, belum selesai satu, datang lagi satu—sedang mencari sesuatu, muncul temuan baru. Selamat ber-serendipity ria.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s