Duo Ummi

Butterfly-Brazil-National-Park“Rasanya aku tak pernah mendapatkan diriku sebegitu bahagia, seperti saat jiwaku mengingat sahabat-sahabat baikku” (William Shakespeare).

Sudah beberapa hari sejak Ummi Hafidz menghubungiku buat kopdar dan aku menyetujuinya. Aku akan menjemput di pelabuhan saat kedatangannya. Ini sudah lama sejak terakhir kami bertemu. Bukan di dunia maya sono tentunya, tapi di dunia sawit yang sepi, becek jika hujan dan berdebu saat panas. Percayalah! ^_^
“Aciiil…”, dan dia memanggilku dengan suara khasnya. Setelah memelukku, ia menoleh pada putranya yang sedari tadi sudah menunggu giliran untuk diperhatikan. “Aciiil…”, ujar ikhwan kecil itu. Ah lihatlah, betapa mirip caranya memanggilku dengan Umminya, hehe…. Dia mengambil tanganku dan menaruhnya di kening. Aku mensejajarkan tubuh dengannya lalu memeluknya sayang. “Ah, acil kangen sama Hafidz…”, ujarku.
Ya, dua anak-beranak ini adalah sahabat baikku saat terdampar di pedalaman beberapa waktu lalu. Setelah ikut beberapa kali kajian umum yang ku isi, dia akhirnya bergabung dalam barisan pejuang syariah. Jika ada sekian alasan yang mampu membuatku menyenangi tempat bertugas, maka dua orang ini salah satunya.
Seorang ibu muda tangguh, demikian aku selalu berfikir tentangnya. Sejak muda ia sudah merantau keluar pulau kelahiran, bekerja dari satu tempat ke tempat lainnya hingga dipertemukan dengan suaminya di sini. Membangun hidup dari nol telah membuatnya menjadi perempuan yang mampu menjalani kompleksitas kehidupan.
Putranya yang berumur tiga tahun sangat menggemaskan. Meskipun tergolong berwajah “cantik” tapi dia punya cita-cita menjadi tentara. Sebuah topi bercorak militer selalu dikenakannya kemana saja. Dia juga punya pakaian favorit yang tiap kali dicuci Ummi akan menimbulkan kegemparan. Tak rela dia melepas saking sukanya, hehe….
Aku menghabiskan banyak waktu bersama keduanya. Saat suaminya berangkat kerja dari pagi hingga sore, dia akan menemaniku menunaikan amanah dakwah, setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya tentu! Terkadang saat suaminya piket malam hari, dia akan menginap di rumahku. Kami akan memasak. Bukan, sebenarnya

dia yang memasak sementara aku bermain dengan Hafidz, dan menunggu dia menyiapkan makanan, hehe….
Setelah Hafidz terlelap, kami akan bercerita banyak hal. Tentang pengalamannya saat bekerja di berbagai daerah dulu, tentang mimpi masa depan yang ia rajut juga tentang rencana dakwah yang akan ia lakukan. Kami tertawa, juga menangis saat bertukar cerita.
Ketakutannya pada cacing tak menyurutkan langkahnya menemaniku memancing. Ya, aku suka memancing. Ini mengingatkanku pada aktivitas bermainku saat kecil besama teman-temanku. Mumpung diberi kesempatan berada di tempat eksotis yang pas buat mancing, ya…jadilah aku menyeret Ummi Hafidz sebagai korban. Awalnya aku mencoba menawar ketakutannya dengan memasangkan umpan di pancingnya, namun melihatnya masih bergidik ngeri, aku pun menyerah dan mengganti umpan cacing menjadi kue-kue. Pada akhirnya, aktivitas memancing itu pun berubah jadi piknik kecil yang menyenangkan disela-sela kesibukan kami.
Mempunyai anak juga tak membuatnya beralasan untuk berhenti menerima tantangan. Melihatku menempuh perjalanan keluar kota sendirian, ia tak tega. Setelah meminta izin dengan suami, ia dan Hafidz menemani tiap kali aku bepergian jauh. Meskipun setelah sampai di tempat merasa badan seolah hancur, tapi dia dan putranya tetap setia tersenyum bersamaku sepanjang perjalanan. Mereka sahabatku. Ummi Hafidz dan Hafidz.

Hafidz
***
“Amaaah…”, Ummi Harits bersuara memelas. “Apa?”, aku menyahut curiga. “Nitip Harits ya?”, ujarnya manis. “Hagiii…”, itu suara Harits, bayinya yang berusia satu setengah tahun. Entah apa maksudnya. “Tuh, Harits bilang mau ikut Amah…”, Umminya sok menginterpretasi sesuai keinginannya, hehe….
Yang satu ini, Ummi Harits. Dua anak-beranak ini pun sahabatku. Ummi Harits sudah dianggap anak sendiri oleh kedua orangtuaku. Maka mereka pun sudah jadi perusuh aktif yang selalu berkunjung ke rumah setiap kali mereka ada waktu. Saat bayi, si kecil..bukan, si gendut Harits seringkali dititip denganku. Sebagai petugas lapangan, fleksibelitas jam kerja adalah keunggulanku. Jadilah job side sebagai pengasuh bayi yang disogok makanan sempat kugeluti, hehe….
Tak berbeda dengan Ummi Hafidz, Ummi Harits pun menghabiskan banyak waktu denganku. Setelah menyelesaikan amanah kantor dan rumah, ia selalu menyempatkan diri bicara denganku. Seringkali bukanlah pembicaraan penting. Hanya pertanyaan seputar apa yang sedang dikerjakan Ama, masakan Mama atau keluarga besarnya di luar kota. Meskipun begitu, pembicaraan inilah yang membuat kami dapat saling memahami satu sama lain.
Ibu pintar yang baik hati. Aku selalu menganggapnya satu diantara seribu. Satu model manusia yang kadang mengambil jalan yang sangat berbeda dari orang kebanyakan. Jika kebanyakan perempuan begitu antusias berbelanja, dia sebaliknya. Jika mayoritas manusia menjadikan penampilan dan kemapanan sebagai ukuran, ia menampiknya. Bahkan jika kebanyakan ummahat begitu suka berganti-ganti jilbab berpernak-pernik cantik, ia hanya akan memakai jilbab buatanku yang ajaib. Modelnya adalah hasil keeroranku merealisasikan gaya dalam pikiran dan kesalahan menjahitku. Setelah puas membuat karyaku jadi bulan-bulanan, ia toh tetap nekad memakainya, hehe….
Bukan karena jilbabnya cantik, hanya semata karena nyaman dipakai. Begitu pula aku dengannya bergaul. Bukan karena kami banyak kesamaan sepertiku dan Ummi Hafidz. Kami begitu berbeda dalam banyak hal. Ibarat langit dan bumi. Namun justru karena perbedaan itulah yang membuat persahabatan kami menjadi indah.
Bersama putranya yang gendut, ia kerapkali mengajakku wisata kuliner. Berkeliling mencoba makanan-makanan daerah yang eksotis. Membandingkan rasanya. Bahkan kadang bereksplorasi dengan karya sendiri di rumah, menciptakan varian baru yang aneh ala kami sambil bertukar kisah sehari-hari. Pekerjaan yang kadang membosankan, amanah yang bertambah dan sejuta hal lain yang seolah tak habis untuk dibincangkan. Diiringi kelucuan ghazy kecilnya yang didandani juga seperti tentara, kami seringkali tergelak. Mereka sahabatku. Ummi Harits dan Harits.

DSC_0008
***
Duo Ummi inilah yang menjadi sahabat dekatku ba’da khatam kuliah. Meskipun berbeda, namun keduanya punya banyak kemiripan yang baru saja kusadari pasca perebutan mereka atas jilbab jahitanku.
“Ummiii…”, demikian aku biasa memanggil mereka. Tanpa embel-embel nama anak karena hanya mereka yang kupanggil begitu. Seperti mereka yang punya panggilan khas untukku. Ummi Hafidz menggunakan Acil sementara Ummi Harits menggunakan Amah. Dua panggilan itu pada dasarnya punya arti yang sama.
Mereka berdua selalu menemaniku dalam perjalanan jauh meski membawa buntut bahkan tanpa diminta.  Perjalanan bersepeda motor keluar kabupaten dengan tantangan jalan super berat. Makanya aku seringkali menyebut Ummi Hafidz saingan Rossi, juga Ummi Harits sebagai pembalap kelas berat, ckck….
Mereka berdua bertukar cerita padaku tentang keseharian sehingga kami mengerti satu sama lain tanpa perlu banyak bicara. Ummi Hafidz, paling tahu keinginanku dan bagaimana menyelaraskannya dengan orang sekitarku. Ummi Harits, paling mengerti maksud perkataanku meski aku hanya mengatakan secara tersirat atau sambil lalu.
Mereka berdua juga punya putra yang dididik sebagai pembela islam. Ummi Hafidz memberikan gambaran tentara Islam dan pemimpinnya. Tak henti dia mengisahkan sejarah Sholahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, Thariq bin Ziyad atau Saifuddin Qutuz pada putranya. Ummi Harits tak jauh berbeda. Dia memberi nama belakang putranya Al Ghazy sebagai wujud harapannya. Bahkan saat tidur pun, Harits didendangkan lagu perjuangan Khalid bin Walid selain murottal Al Qur’an.
Dan jangan lupa, pelafalan kedua nama itu begitu mirip. Ummi Hafidz, Ummi Harits. Hafidz, Harits. Seringkali aku keseleo lidah jika berada diantara keduanya. Atau bicara dengan salah satu dari mereka. Ingin memanggil Hafidz malah tersebut Harits. Ingin menyebut Ummi Harits malah terpanggil Ummi Hafidz. Ckck….
Dan yang paling lucu, kesamaan mereka berdua adalah penggemar jilbab buatanku yang ajaib.
“Wah, pas nih ukurannya, Amah! Berarti ini buat Ummi kan?”, tembak Ummi Harits.
“Pokoknya jilbab pink ini buat Ummi, ya Cil?”, ujar Ummi Hafidz.
Aku pun kebingungan dengan rengekan mereka. Dan begitulah, masing-masing tak ada yang mau mengalah. Jadi aku menyiasati dengan menjahitkan jilbab lain lagi yang tak kalah norak dengan model yang sedang jadi rebutan. Jika tidak, bisa-bisa aku jadi sasaran amukan mereka. Aish…emak-emak ini, cerewet kali! Tapi tetep…aku sayang kalian karena Allah!^_^

*Ditulis setelah mengingat berbagai kisah tentang kalian, Mi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s