Budaya Membaca dan Menulis

2014-06-03 19.57.19Sudah hampir sebulan perpustakaan daerah kami mengadakan berbagai kegiatan. Mungkin dalam rangka merayakan prestasinya sebagai perpustakaan terbaik se-provinsi? Atau juga memperingati hari buku kemaren? Entahlah, yang jelas saat ini ada pertunjukan band lokal di sore hari hingga malam di halaman gedungnya, juga fasilitas wifi yang dibuka gratis untuk umum. Yang paling menarik tentulah bazar bukunya, meskipun komposisinya out of date semua, hehe….

Yah, kalau kamu biasa jadi pengunjung gramedia abad sekarang, pasti merasakan suasana ajaib yang kumaksud. Bayangkan, buku-buku lawas yang udah nggak laku itu diboyong ratusan kardus ke sini. Aku menemukan Agatha Cristie yang terbit tahun sembilan puluhan atau KBBI yang terbit tahun delapan puluh sembilan. Antik kan? Hehe….
Sebagai salah satu penggila buku, aku sudah mampir ke sana beberapa kali. Ngubek-ngubek buku rongsokan itu dari ujung ke ujung. Hasilnya nggak buruk kok! Aku dapat beberapa novel klasik terjemahan yang sering kubaca saat kecil semisal serial Winnetou atau kitab-kitab sekelas al maghazy dan tafsir Ibnu Katsir. Kalau isinya tentu tak masalah, hanya penampilannya yang terlihat tua. Tapi bagi kamu yang mementingkan isi daripada cover, tentu tak masalah. Kan lumayan, bisa dapat separuh harga. Atau jika lumayan rajin, kamu bisa bertualang mencari buku tua yang masih tersimpan rapat dalam sampul plastik, sehingga masih terlihat rapi dan cantik. Jadi klasik banget deh penampilannya, hehe….^^V
Awalnya agak kecewa sih karena tak bisa menemukan buku-buku baru. Tapi setelah berputar beberapa kali diiringi dendangan Iwan Fals yang sarat kritik sosial itu, aku pun bisa menikmati momen duduk diantara tumpukan itu. Melihat buku-buku tentang make up dan fashion era akhir sembilan puluhan, lumayan menarik untuk dilihat lagi. Bayangkan aja, era itu sedang rame-ramenya model rambut keriting, bukan rebonding seperti sekarang. Model-model yang tampil pun rata-rata sudah alih profesi, sebagian membuka sekolah fashion atau bahkan bertobat dan jadi daiyah. Mungkin dia tak menyangka masih ada fotonya di majalah mode jadul yang terbit puluhan tahun lalu itu, hehe….
Bagian paling lucu adalah saat aku memborong kitab-kitab klasik itu. Seorang bapak-bapak yang sedang menemani anaknya memilih buku langsung berkomentar, “Dek…banyak sekali buku yang dibeli! Itu buat apa?”.
Terang aja aku bengong mendengarnya. Beli buku bukannya buat dibaca ya? Sehingga pengetahuan kita bertambah dan anak-anak bangsa jadi lebih berkualitas. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia? Jadi kenapa beliau bertanya lagi?
Tak urung pertanyaan itu terus mengikutiku sampai ke rumah. Ya, sebenarnya jika mau jujur, budaya membaca di tempatku memang kurang diminati. Terbukti dengan tak banyaknya toko buku yang layak ditongkrongi berlama-lama. Ada sih beberapa toko, tapi biasanya bercampur dengan jualan buku-buku sekolah. Yang lebih laku tentu buku sekolah. Alasannya simple, buku-buku itu diwajibkan untuk beli, hehe….
Lainnya? Jangan harap! Buku-buku bacaan macam novel yang sedang booming seantero jagad aja berdebu. Apatah lagi buku bacaan berat macam sejarah ataupun kitab-kitab klasik itu. Para penjaga toko bahkan sampai hafal dengan langganan yang biasa menyentuh kitab-kitab itu, saking terbatas kalangan peminatnya. Ckck….
Bahkan beberapa bulan lalu sebuah toko buku terpaksa tutup. Lokasinya lumayan strategis, dekat perkantoran, pusat perbelanjaan sekaligus hiburan. Alih-alih mengunjungi toko buku mungil yang nyaman itu, pekerja kantoran lebih suka mengunjungi pusat perbelanjaan. Demikian pula kawula mudanya. Dibanding masuk menikmati pemandangan buku yang membuka cakrawala berfikir, mereka lebih memilih tempat hiburan di sampingnya. Ah, sayang sekali! Padahal aku menyukai pemilik tokonya yang ramah dan selalu memberikan rekomendasi buku-buku bagus untuk dibaca. Dia harus mengalah pada bisnis lain yang memang lebih diminati.
Fenomena rendahnya minat baca di kalangan orang-orang muda sepertinya bukan hanya milik daerahku saja. Secara umum, budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur (Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi/OECD, 2009).
UNESCO pada 2012 juga melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.
Secara umum, masyarakat Indonesia memang lebih menyukai budaya visual maupun audio yang dinilai lebih praktis dibandingkan membaca. Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukan, masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%), mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%).
Pada tahun 2012 Indonesia nangkring di posisi 124 dari 187 Negara dunia dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya terpenuhinya kebutuhan dasar penduduk, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan ‘melek huruf’. Indonesia sebagai Negara berpenduduk 165,7 juta jiwa lebih, hanya memiliki jumlah terbitan buku sebanyak 50 juta per tahun. Itu artinya, rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang.
Aku yang selalu “kelaparan” melihat buku pun akhirnya menduga-duga. Entah karena budaya kita yang tak membiasakan anak-anak mengenal buku sejak dini kah penyebabnya? Atau justru kemalasan kita untuk mereguk pengetahuan dan menelaah buah pikiran para intelektual kah? Atau jangan-jangan kegiatan membaca buku rasanya tak selezat jalan-jalan di mall, tempat rekreasi atau pusat hiburan yang wah? Mungkin juga kemajuan teknologi telah mempengaruhi selera baca kita? Hanya dengan satu sentuhan, serba-serbi informasi akan tersaji dengan cepat dan tanpa batas? Entahlah!
Bagiku, tak ada yang lebih menyenangkan dari membaca buku. Apa saja. Dari fiksi hingga non fiksi. Temanya pun beragam, dari sejarah, hukum hingga politik. Tak semuanya kusukai. Tapi setelah selesai membaca, aku bisa memberikan penilaian bahwa buku ini layak dibaca berikut seribu satu alasan yang melatarbelakanginya atau sebaliknya. Dan seperti pecinta buku lainnya, aku juga lebih menyukai beberapa tema tertentu. Sejarah salah satunya seperti yang satu ini.2014-06-03 19.53.00

Peran Membaca
Membaca memiliki peranan penting karena mempengaruhi kemajuan pola berpikir. Terkadang kita hanya diajari bagaimana membaca dengan baik, cepat dan sebagainya. Sangat jarang kita diajari tentang keampuhan membaca dan peranannya dalam kehidupan. Budayan Taufiq Ismail bahkan menekankan bahwa kemajuan peradaban dimulai dari tingginya budaya membaca di tengah masyarakat. Sebagaimana kita ketahui, dalam membaca terjadi proses internalisasi pikiran-pikiran penulis sehingga mempengaruhi pola pikir dan berdampak bagi diri seseorang : membuka cakrawala intelektual.
Mendapat banyak pengetahuan merupakan manfaat utama. Selain itu kita juga bisa memahami gagasan-gagasan rumit secara lebih baik. Setelah membaca berbagai tema dengan bobot yang berbeda, akan membantu kita mengurai makna dibalik rangkaian kalimat-kalimat panjang penulisnya. Kita juga akan mampu mengembangkan pengetahuan, ide atau gagasan yang sejalan dengan idealisme kita ke dalam diskusi-diskusi menarik secara individu maupun komunal.
Itu manfaat secara langsung yang bisa kita rasakan dari aktivitas membaca. Padahal masih banyak efek lanjutan positif dari aktivitas ini. Diantaranya kemampuan menuangkan kembali pengetahuan, ide atau gagasan yang dibaca tadi ke dalam bahasa tulisan sesuai dengan kerangka berpikir sendiri. Hasil tulisannya? Bisa dipastikan akan memberikan wawasan yang lebih luas keberagaman dan membuat proses belajar dalam segala hal lebih mudah termasuk berpengaruh pada keterampilan bahasa asing.
Dan yang paling penting, memberikan beragam perspektif dan mengembangkan pola pikir kreatif. Terutama setelah melihat kehidupan digambarkan melalui sudut pandang penulis yang beragam. Hal tersebut tentunya akan membantu memahami pandangan orang lain dan berempati meskipun mungkin kita pribadi tak sependapat.
Itulah diantara beberapa hal yang kurasakan terkait aktivitas membaca. Ia menjadi sarana untuk membawa kita bertamasya dalam ribuan pola kehidupan yang berbeda, membuat kita memahami kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Proses internalisasi dari membaca akan langsung diolah oleh otak dan berpengaruh pada pola pikir dan sikap kita.
Menjadi manusia berpengetahuan luas, cerdas, kreatif, inovatif dan penuh empati pada sesama tentu tak buruk kan? Dan itu semua bisa kita petik dari aktivitas membaca dan menuangkan kembali pengalaman membaca kita dalam bentuk tulisan. So, membaca dan menulis? I love it!

*Ditulis setelah mengunjungi bazar buku lagi…^_^

2 thoughts on “Budaya Membaca dan Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s