Jeng Kelin

comm__hijab_girls_by_sayuko-d3j6qz9Episode Alin

“Itu perlu pendampingan, Mbak! Kalo sampeyan biarkan, bisa kacau nanti!”, sembur Jeng Kelin serta merta. Sang terdakwa, Alin, perempuan awal tiga puluhan yang baru menyesuaikan diri dengan amanah barunya sebagai ibu itu tersentak kaget. Belum pernah dalam pengalamannya berinteraksi dengan manusia-manusia dari komunitas ini diperlakukan begini.

“Itu amanah lho, Mbak! Kita dimintai pertanggungjawaban…”, serbunya lagi. Alin, ibu muda itu menelan ludah. Pahit. Namun lebih pahit terasa di hatinya. Ia tak menyahut sepatah kata pun, hanya mengeluarkan senyum kecut yang dipaksakan. Sungguh, jika bisa ia ingin tenggelam dalam retakan bumi secepatnya. Ia sukses dipermalukan dihadapan junior-juniornya!

 

Episode Aisyah

“Kamu gimana? Masihkah permasalahanmu yang dulu itu?”, lagi-lagi Jeng Kelin mencecar korbannya. Kali ini Aisyah,

ibu muda, benar-benar muda karena ia menikah tepat di awal dua puluhan. Ia bahkan masih berstatus anak kuliahan saat menikah dua tahun lalu.

“Masalah apa, Mbak?”, tanya Aisyah pelan sambil menggendong putrinya. Meskipun tersenyum, namun mulai terlihat ketidaknyamanan dalam gerak-geriknya.

“Lho…dulu masalahmu apa?”, tembak Jeng Kelin kembali.

“Hehe…”, Aisyah mencoba mengatasinya dengan tawa hambar. Matanya setengah putus asa menatap Ami, salah satu seniornya yang duduk tepat di sebelah Jeng Kelin dan sekarang menatapnya prihatin. Ia kehilangan kata-kata selain sebuah tawa hambar dan itu terdengar sumbang!

 

Episode Raisya

“Mbak Raisya gimana tho? Kelompok Mbak nih yang paling parah! Emang pengurusannya gimana? Janjian sama ibu-ibu tapi kok malah selalu batal?”, kali ini Jeng Kelin memulai manuvernya.

“Lho…batalnya itu bukan saya yang membatalkan, tapi mereka. Saya sudah meluangkan waktu seminggu sekali di jadwal yang bisa mereka ikuti. Saya juga terus menjalin komunikasi sehingga mereka bisa mengkonfirmasi kalau memang ada halangan dan mengganti jadwalnya di lain waktu. Meskipun hari kerja, saya juga bersedia. Jadi kalau mereka membatalkan dan tidak mau menggantinya, apakah itu salah saya?”, jawab Raisya berapi-api. Entah karena karakternya yang agak tomboi atau ia memang tak kenal segan terhadap kekasaran Jeng Kelin, ia menjawab balik semua pertanyaan dengan lugas.

“Lho…jangan marah-marah gitu dong!”, Jeng Kelin melunak.

“Saya nggak marah-marah, Mbak. Saya cuma menjawab pertanyaan yang sampeyan ajukan bertubi-tubi tadi!”, sahut Raisya lagi dengan kalimat yang lebih panjang. Suasana di sekitar mereka berubah panas. Raisya mencoba meredam kekesalannya dengan mengalihkan perhatian pada putranya yang berusia dua tahun. Untunglah, senyum yang memperlihatkan sederetan gigi kecil itu begitu lucu. Raisya merasa ditenangkan!

 

Episode Ami

“Kenapa terlambat?”, Jeng Kelin menyerang.

“Saya masih ada amanah dari atasan di kantor, jadi nggak bisa ontime. Maaf…”, sahut Ami dengan perasaan tak enak.

“Emangnya nggak bisa izin?”, cecarnya lagi.

“Ya ampun Bu, kalau saya bisa izin tentu saya nggak bakalan terlambat ke sini kan?”, Ami balik menjawab.

“Jadi gimana solusinya minggu depan? Kalau terlambat terus nanti nggak baik buat Mbak lho…”, ujarnya lagi.

Ami mendesah panjang. Ia heran, mengapa perempuan di hadapannya ini seperti manusia tanpa empati? Pernahkah ia berpikir dulu sebelum berucap dan bertindak? Memilah-milih mana yang pantas diucapkan dan layak dilakukan? Tak bisakah ia membaca ketidaknyamanan yang ia timbulkan? Tidakkah ia tahu jika terus begini, maka menyakiti hati saudaranya? “Insya Allah saya usahakan nggak terlambat minggu depan, tapi jadwalnya tolong dimundur tiga puluh menit”, Ami menjawab sambil menenangkan gejolak perasaannya yang mulai memanas!

***

Episode Tak Terucap 1

“Manusia terkadang selalu berhitung dengan kekuatan akalnya, padahal Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu. Selama kita yakin bisa melakukannya maka insya Allah pasti bisa. Seperti Mbak-Mbak di sini yang diberi amanah melakukan pembinaan. Toh Rasulullah saw bersama para shahabat telah membuktikannya saat perang badar. Dimana jumlah kaum muslim berbanding jauh dengan orang-orang kafir quraisy. Tiga ribu berbanding seribu?”, Jeng Kelin memberi kami motivasi yang membara.

“Seribu berbanding tiga ratus…”, Alin menyela.

“Nggak, Mbak! Tiga ribu berbanding seribu…”, Jeng Kelin tak mau terima. Ah, rupanya ia juga keras kepala!

“Seingat saya sih…seribu berbanding tiga ratus”, Aisyah ikutan bersuara sambil memandangi Ami meminta pembenaran. Ami hanya tersenyum menanggapinya.

“Yah, pokoknya berapa pun jumlahnya…kaum muslim berbanding tiga kali lipat dari kafir quraisy. Jadi…”.

“Iya…bener, seribu berbanding tiga ratus kok! Coba nih lihat!”, Raisya memotong ucapan Jeng Kelin sambil menunjukkan bukti otentik dalam kitab klasik itu.

“Oh gitu ya? Ya udah, pokoknya…”, dia melanjutkan perbincangan.

Raisya memandangi dengan tatapan sebal. Aisyah tersenyum samar. Alin memalingkan wajah geli. Sementara Ami memandangi kawan-kawannya begitu rupa. Hmmm…rupanya keempat pendengar itu sedari tadi sibuk ingin membenarkan pernyataan Jeng Kelin. Ah, Jeng Kelin mengapa kamu selalu mengatakan pokoknya? Bukankah bicara dari fakta sejarah itu bukan sekedar dongeng pengantar tidur? Akurasi datamu akan meningkatkan kepercayaan pendengar. Saat salah, cobalah meminta maaf karena kelalaianmu. Tak ada ruginya kok!

 

Episode Tak Terucap 2

“Lho…kok belum pada ke sini, sih?”, tanya Jeng Kelin dengan nada tinggi. Alin dan Ami yang mendengarnya langsung saling bertukar pandang. Raisya dengan cueknya tak menanggapi.

“Apaan sih? Kita kan nungguin situ…”, jawab Alin pelan hanya untuk didengar Ami. Ami tertawa mendengarnya. Sementara Raisya tak ambil pusing.

“Sabar, Mbak…”, Ami balas membisik sambil tersenyum mencoba menenangkan padahal ia sendiri merasa tak kalah kesal. Bagaimana tidak? Mereka sedang menunggu Jeng Kelin menyelesaikan urusan di belakang. Dan eng ing eng…begitu keluar ia malah menyemprot orang-orang di sekitarnya seolah merekalah yang menjadi penyebab segala sesuatu berjalan lambat? Ckck…bagaimana mungkin ia bahkan tak bisa melihat rasa pengertian dari saudaranya dan menganggapnya justru seperti pengganggu? Ah, andai dia sedikit berpikir, hajat dia lah yang menunda sedikit agenda mereka. Jika saudaranya memberi sedikit privasi, bukankah setidaknya ia bisa mengucapkan terima kasih atas perhatian itu? Itu akan melegakan semua.

 

Episode Tak Terucap 3

“Sudah sering kok, Mbak, saya menegur beliau saat melalaikan kewajiban jilbab dan khimarnya…”, ujar Alila pada Jeng Kelin.

“Tapi kok nggak ngefek ya? Pokoknya nanti setiap ketemu beliau dalam kondisi begitu langsung diingatkan aja…”, ujar Jeng Kelin berapi-api.

Ami yang kebetulan lewat dan mendengar langsung hinggap diantara mereka. “Siapa? Ibu Aminah?”. Alila mengangguk.

“Tegur aja beliau…tapi harus diingat adabnya! Yang tua dihormati, yang muda disayangi. Bu Aminah adalah tokoh di masyarakat. Terlebih lagi beliau seusia ibu kita. Jadi ajak beliau bicara berdua dan gunakan bahasa cinta. Jika Alila mengingatkan dengan bahasa yang kurang baik, tambah lagi di hadapan banyak orang seperti sekarang…itu bukan cara yang ma’ruf! Niat yang baik, cara yang baik. Sesuatu yang dari hati jika disampaikan lewat hati, insya Allah akan lebih efektif dibanding kekerasan!”, ujar Ami panjang lebar. Ia sengaja menginterupsi Jeng Kelin atas rekomendasi ajaibnya. Bukan, bukannya sebuah kesalahan mengingatkan orang yang berbuat keliru. Itu jelas kewajiban. Namun caranya hendaklah diperhatikan.

Ami ingat salah seorang ulama Salaf pernah berkata, “Siapa yang menasehati temannya dengan berdua-duaan maka itu adalah nasehat. Namun jika menasehatinya di hadapan orang banyak maka itu adalah penghinaan bagi saudaranya”.

Rasulullah saw sebagai suri teladan bagi kita telah mencontohkan dengan perilaku lemah lembutnya. Suatu hari Rasulullah saw dan para sahabat berada di masjid dan tiba-tiba datang suku badui mengencingi salah satu bagian masjid. Apa yang terjadi kemudian?

Para sahabat pun langsung marah, bahkan sebagian ada yang ingin menarik dan menghajarnya karena ketidaksopanan itu. Namun Rasulullah saw justru melarang para sahabatnya untuk berlaku kasar terhadap orang badui itu. Rasulullah membiarkan ia menuntaskan hajatnya. Setelah selesai dipanggillah orang badui tersebut ke hadapan Rasul saw. Alih-alih mengingatkan dengan kasar, beliau justru berkata dengan lemah lembut kepada orang badui itu, “ini adalah masjid, bukan tempat kencing dan buang kotoran. Sesungguhnya tempat ini untuk dzikrullah dan untuk membaca al-Qur’an.”

Beliau kemudian menyuruh sahabatnya untuk membersihkan tempat yang telah dikencingi oleh orang badui tersebut. Tutur kata yang lemah lembut dari Nabi saw menyentuh hati si Badui. Ia pun terkagum terhadap kehalusan budi pekerti beliau. Maka dengan kepolosannya ia berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad dan jangan rahmati seorang pun selain kami berdua”. Dalam do’anya ia menyindir para sahabat yang geram terhadapnya (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Asakir juga pernah menceritakan bahwa suatu hari Harun Ar Rasyid thawaf di sekeliling ka’bah. Tiba-tiba seseorang datang menghadap kepadanya sambil berkata, “Wahai Amirul Mukminin…saya ingin bicara kasar kepadamu, maka dengarkanlah!”.

Harun Ar Rasyid berkata, “Tidak, saya tidak akan mendengarkan dan saya tidak akan menghormatimu. Sebab Allah telah mengutus Nabi yang jauh lebih baik darimu kepada orang yang jauh lebih buruk dariku (tapi dia menasehati dengan lemah lembut).”

Kita mengenal utusan yang dimaksud oleh Khalifah Harun Ar Rasyid sebagai Nabi Musa as yang diutus Allah swt untuk mendatangi Fir’aun laknatullah. Nabi Musa as tetap menasehati dengan lembut meskipun kita mengenal kekejaman Fir’aun. Lagi pula, bukankah kita sepakat bahwa fungsi nasehat adalah memperbaiki dan bukan untuk menghinakan? Saya menasehati karena cinta. Simple kan?

 

*Ditulis sambil memikirkan tiga kata sakti : maaf, terima kasih, aku mencintaimu! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s