Mau Ikut?

akhwtngebut“Jika diantara kalian masih ada yang berangkat kuliah naik sepeda motor sendirian, sementara di jalan ada yang berjalan kaki dan kalian tidak menunjukkan kepedulian dengan mengajaknya, maka status kalian patut dipertanyakan…” (Pembina LDK-ku).

Kata-kata ini begitu membekas.  Maka bermunculanlah ojek-ojek gratis dadakan bertampang manis (ups, maaf…agak narsis sedikit, hehe…^_^).  Dengan jilbab dan kerudung panjang, tak lupa jaket almamater plus ransel maka seantero kampus biasanya sih sudah kenal.  Minimal kenal wajahnya.  Maklumlah, yang limited edition biasanya kan spesial dan tak terlupakan, hehe….

Aku berharap tak ada yang protes dengan pembuka cerita penuh semangat narsisme itu.  Karena justru di situlah letak pentingnya image yang melekat pada tokoh utama ceritaku kali ini.  Aku dan beberapa teman yang kebetulan punya sepeda motor pun dengan cepat mengaplikasikan petuah sang guru.  Kalimat populer yang kami ajukan biasanya adalah…”Mau ikut?”.  Tentu setelah lebih dulu dibuka dengan salam dan diakhiri dengan senyum manis.  Ting….  Hasilnya?  Survei menunjukkan rata-rata berakhir bahagia.  Maksudnya nggak ada yang nolak kok, kan gratis!

Status kenal atau tidak, biasanya bukan patokan mengajak mereka.  Namun jika dia jalan sendirian dan kebetulan tak ada yang dibawa di belakang, ya jadi!  Begitu bertahun-tahun hingga aku lulus dari kampus tercinta dan pulang ke kampung (beneran kampung nih ya?^_^).

Suasana pedesaan yang masih membumikan semangat kekeluargaan rupanya bisa menampung kebiasaanku yang suka mengangkut orang.  Berangkat atau pulang kantor, aku biasa berpapasan dengan anak-anak sekolah.  Dari SD, SMP hingga SMA.  Jika anak SD, aku bisa mengangkut tiga orang sekaligus.  Anak SMP dan SMA, kadang berdua pun diangkut.  Psttt…nggak usah ngadu sama polisi, di sana polisinya juga nggak pake helm kok, hehe…^_^

Atau jika bukan pelajar, aku bertemu pekerja sawit atau peserta pengajian.  Yah, apapun usia dan statusnya selama perempuan maka diangkut.  Dari pengalaman jadi ojek dadakan ini, aku mengenal banyak orang sekaligus mendengar banyak kisah.  Pengalaman anak kampus tetangga, cerita di sekolah yang dilakoni para pelajar hingga beratnya pekerjaan para ibu yang bekerja di pabrik sawit sementara upah yang didapat minimalis.  Atau jika beruntung, kadang-kadang mereka memberiku buah-buahan sebagai ucapan terima kasih.

Sekarang, sudah lebih setahun aku pindah ke ibukota kabupaten.  Mengambil kesempatan menjadi orang kantoran sementara waktu.  Masih membawa kebiasaanku yang suka mengangkut orang.  Sampai-sampai saat kemarin bercanda dengan seorang kakak satu pengajian, beliau mengolok-olokku punya spesialisasi sebagai ojek.  Tugas antar jemput sepertinya pas denganku sebagai pembalap, katanya.  Ckck….

Tapi itu rupanya hanya berlaku untuk kalangan terbatas.  Tetangga sekitar rumah yang memang sudah kenal, teman satu pengajian, teman kantor, teman masa kecil dan yang sejenisnya.  Bersyarat rupanya penumpangku :  wajib kenal!

Awalnya aku terheran-heran dengan reaksi seorang pelajar yang kuajak pertama kali.  “Assalamu’alaikum…mau ikut, dek?”, tanyaku pede.  Si adek dengan wajah bingung menyahut salamku gagu lalu menggeleng keras, “Nggak mba, saya bisa jalan sendiri kok!”, ujarnya.  Ia pun buru-buru berlalu dari hadapanku, bahkan bisa dikatakan hampir berlari menjauh.  Hah???

Saat kuceritakan kejadian itu pada Adel, dia pun langsung tertawa geli.  “Ya iyalah, dikiranya kamu penculik anak kaleee…”, terangnya masih cekikikan.

Aku tak terima dan langsung protes berat.  “Ih, enak aja!  Mana ada penculik yang manis kayak aku?  Pake jilbab dan kerudung begini?  Lagian aku ngajaknya juga dengan kata-kata yang baik aja…”, belaku.  “Lagian yang kuajak bukan anak SD kok, dia pake seragam putih abu-abu berarti setingkat SMA kan?  Gimana caranya aku nyulik anak yang badannya bahkan lebih besar dariku coba?”, aku menambahkan.

“Justru itu, anak-anak di kota udah dicekoki sejak kecil sama orangtuanya supaya jangan mau dikasih permen, coklat atau makanan enak lainnya oleh orang asing.  Apalagi kalo diajak pergi, pokoknya jangan mau.  Kalo perlu segera laporkan guru karena itu penculik anak!”, ujar Adel sadis sementara aku meringis.

Tapi kejadian itu tak membuatku jera.  Lain kali aku mengajak dan mengajak lagi.  Hasilnya?  Lebih banyak gagal dibanding berhasilnya.  Penolakan-penolakan pahit kuterima.  Berangkat dari niat baik memaksimalkan tunggangan, eh…rupanya tak selalu diterima.  Orang kota yang cenderung individualistik agak paranoid menemui hal-hal begini.  Aku maklum, itu tak biasa.

Bulan lalu si Fitri (nama sepeda motor bututku) sempat beberapa kali mogok dan membuatku harus berjalan kaki dari bengkel ke kantor atau dari kantor ke rumah Adel.  Jaraknya lumayan dekat jika dari bengkel.  Namun ke tempat Adel yang memutar, aku perlu waktu dua puluh menit berjalan kaki.  Rutin setiap hari selama seminggu.  Banyak yang lewat berseliweran di depanku dalam posisi sendirian.  Namun tak satu pun yang mengajakku.

Bukannya mupeng diajak, tapi aku bertanya-tanya…benarkah kepedulian sosial di perkotaan sudah demikian menipis atmosfirnya?  Jadi aku pun terpana saat seseorang bertanya padaku, “Mbak, mau kemana?  Yuk…ikut saya aja!”.  Seorang akhwat berjilbab ungu dan berkerudung kaos berwarna putih yang menunggang revo hijaunya mendekatiku.  Berkata manis dan menawarkan sebuah kebaikan.  Sayang, tempat tujuanku tak sampai lima meter lagi.  Jika tidak, aku tanpa ragu akan ikut dengannya.  Berbincang tentang banyak hal seperti kebiasaan yang kujalani bersama para penumpangku.

Subhanallah, aku pun menyadari satu hal bahwa di kota sekali pun bukan berarti kebaikan tak lagi ada.  Sifat individualis muncul akibat kesibukan mencari penghidupan dengan tingkat persaingan gila.  Wajar jika yang ada di benak masing-masing orang adalah dorongan untuk menyelamatkan diri sendiri dulu.  Tetangga?  Teman?  Nanti dulu! Tambah lagi kejahatan yang terus meningkat membuat manusia-manusia kota terpaksa waspada membunyikan alarm bahaya.  Jangan sembarang terima makanan.  Nggak boleh ikut orang tak dikenal.  Karena modus operandi kejahatan penculikan, perkosaan, perampokan dan seterusnya bicara demikian.

Sistem kapitalis sekuler ini telah menyebabkan manusia rusak dan hilang kepedulian.  Diawali dengan memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari.  Berakhir dengan kemaksiatan tak terperi.  Mereka lupa bahwa Allah SWT, Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya ini memerintahkannya untuk selalu berbuat baik pada sesama.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.  Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah : 148 ).

Ada seruan untuk fastabiqul khairat alias berlomba-lomba dalam kebaikan yang diperintahkan Allah pada kita.  Sebuah ajang kompetisi kebaikan yang akan dibalas Allah SWT dengan pahala dan syurga.  Sebuah insentif yang tak ternilai bahkan jika dibandingkan dengan dunia dan seisinya.

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 97).

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya” (QS. Al-An’am : 160).

Ajang kompetisi kebaikan ini, kitalah yang harus membumikannya.  Di desa dan di kota.  Jadi, kamu mau ikut?

*Ditulis sambil mengingat indahnya ajakanmu, sista!  Seolah-olah aku sudah ikut di motormu.  Jazakillah khairan katsir…^_^

2 thoughts on “Mau Ikut?

  1. lazione budy berkata:

    pengalaman pribadi.
    saya selalu menawarkan orang yang jalan kaki untuk tujuan searah bila tak tergesa-gesa.
    jangankan yg sekampus, yg asing saja sering.
    niat baik dijalankan? why not!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s