Antara Mekkah dan Paris

female_muslima_vector_by_hillllallll-d5eyxtm_editHari jumat yang cerah, seorang adik menyerbuku dengan berbagai pertanyaan.  Jam berapa pulang, bisakah minta tolong dan berakhir dengan janjian ketemu.  Lokasinya tentu rumahku.  Sebenarnya bukan hal yang aneh jika mereka bertandang, karena di rumahku ada Cafe Buku.  Atau pertemuan di kajian rutin kami setiap hari minggu pun sudah dekat.  Namun kali ini mendesak.  Dia perlu nasihat berbusana buat tampil dalam acara fashion show di sekolah besok.

Hmmm…bicara tentang fashion memang nggak pernah ada matinya.  Setiap tahun, setiap musim, arah trend fashion berubah.  Inilah biang penyebab para gadis di berbagai penjuru bumi mengganti mode busana secara berkala demi tampil menarik di hadapan publik!  Ideologi sekuler memang mensyaratkan penampilan sebagai modal utama eksis dalam pergaulan.  Kebutuhan fashion dianggap sama penting dengan makanan yang notabene kebutuhan primer.  Bahkan kaum hawa tak segan menyiapkan anggaran khusus untuk mengupdate fashion-nya, mulai dari sepatu, tas, pakaian, aksesoris hingga make up.

Termasuk dunia fashion Muslim yang berkembang pesat beberapa tahun terakhir.  Para designer dari berbagai brand berlomba meluncurkan produknya mengikuti permintaan pasar.  Kesadaran masyarakat dunia terhadap syariah, turut mempengaruhi perkembangan trend berbusana Muslim dunia.  Muslimah, dibidik sebagai target pangsa pasar menjanjikan.

Indonesia, negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia telah lama menjadi perhatian banyak kalangan termasuk pebisnis.  Ide untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion Muslimah tak sekedar wacana.  Berbagai event nasional maupun internasional digelar demi merintis jalan.  Dari Jakarta Islamic Fashion Week hingga menjamurnya komunitas hijabers yang berlomba-lomba menjadi pioner yang menampilkan gaya busana Muslimah moderen.  Masalahnya, itu hanya sekedar wacana sementara arah kiblat fashion Muslimah, hakikatnya tetap Paris.  Indonesia hanya pangsa pasar potensial yang akan memakai konsep fashion Barat dibungkus Islam.

 

Beda Konsep

Secara umum, fashion adalah gaya berpakaian yang populer dalam suatu budaya.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fashion atau mode merupakan bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada suatu waktu tertentu (tata pakaian, potongan rambut, corak hiasan dan sebagainya).

Dalam konsep fashion Barat, seseorang akan mengkonstruksikan dirinya berdasarkan gaya hidup dan itu akan tercermin dalam gaya berpakaiannya, entah disadari ataupun tidak.  Fashion dimetaforakan sebagai kulit sosial yang membawa pesan dan gaya hidup suatu komunitas tertentu yang merupakan bagian dari kehidupan sosial.  Dengan kata lain, fashion mengekspresikan identitas tertentu dari si pemakai.  Jika dulu para bangsawan akan dikenali dari gelar kehormatan yang menempel pada namanya, maka di dunia moderen seperti sekarang sepertinya cukuplah dengan melihat gaya berpakaiannya.  Dari sana secara otomatis kita akan tergambar tentang status atau pun pekerjaannya, karena fashion telah bermetamorfosa menjadi dewa yang membagi strata kelas umatnya.

Menurut Simmel dalam bukunya Fashion, terdapat dua kecenderungan sosial yang penting dalam membentuk fashion.  Bila salah satu kecenderungan itu hilang maka fashion tak akan terbentuk.  Kecenderungan yang pertama adalah kebutuhan untuk menyatu dan yang kedua adalah kebutuhan untuk terisolasi.  Nah lho?  Maksudnya…individu haruslah memiliki hasrat untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, namun masyarakat dan individu juga harus memiliki hasrat menjadi sesuatu yang terlepas dari bagian itu.  Manusia didorong untuk menjadi makhluk sosial sekaligus individual pada saat yang sama, maka fashion merupakan cara untuk menegosiasikan hal tersebut.  Saat kebutuhan untuk membedakan diri atau kelompok semakin besar maka fashion akan berkembang cepat seperti saat ini.

Maka kita akan sangat memahami mengapa brand-brand ternama dunia memberi label harga selangit dengan jumlah produksi terbatas, kan?  Semata-mata demi menunjukkan keberadaannya sebagai bagian dari kelas sosial atas sekaligus membedakan dirinya dari yang lain sehingga mampu menarik perhatian.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam, dimana kelas sosial, harta dan jabatan tak dipandang sebagai sesuatu yang penting.  Dalam Islam, semua orang dipandang sama di hadapan Allah.  Yang paling baik tentunya orang yang bertakwa.  Ketakwaan ini akan tercermin dalam kepribadian Islamnya, yaitu pola pikir yang berlandas aqidah Islam dan pola sikap yang senantiasa taat syariat.  Termasuk gaya berpakaian dengan pakem harus menutupi aurat secara sempurna.  Khusus muslimah mengenakan jilbab dan khimar minus tabarruj adalah kewajiban.  Sementara gemerlap pakaian dan keindahan perhiasan hanyalah kulit luar yang tak termasuk dalam indikator ketakwaan manusia beriman.

 

Kiblat Fashion Muslimah

Saat ini, istilah hijab sangat populer di kalangan Muslimah.  Hijab tumbuh bak jamur di musim hujan sebagai manifestasi perkembangan trend fashion muslimah.  Berbagai bentuk, warna, pernak-pernik hingga tatacara pemakaian yang ribet bin rumit agar terlihat indah dipandang. Aku sendiri seringkali jadi korban ajakan teman untuk mengikuti tutorial hijab yang disponsori oleh brand tertentu.  Peminatnya banyak meski biaya pelatihan lumayan mahal.  Demi statusisasi moderen nih!  (Halah…ketularan bahasa alay!  Hehe…^_^)

Nah, sebelum ikut-ikutan, ada baiknya kita cari tahu dulu bagaimana pandangan syariah Islam terkait hal ini.  Hijab secara bahasa artinya penghalang.  Hijab pada wanita ada dua yaitu hijab pada badan dan hijab pada tingkah laku.  Adapun hijab syar’i dalam Al Qur’an terdiri dari khimar dan jilbab, tentunya tanpa disertai tabarruj.

Yang pertama, perintah menutup aurat dengan menggunakan khimar bisa kita lihat dalam firman Allah SWT :  ‘Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.  Dan hendaklah mereka menutupkan khimar (kain kerudung) ke dadanya…” (TQS. An Nur : 31).

Sementara yang kedua mengenai jilbab :  ‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin :  “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.  Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.  Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (TQS. Al Ahzab : 59).

Nah, masalahnya kebanyakan orang memahami jilbab adalah penutup kepala alias kerudung.  Padahal sesungguhnya khimar berbeda dengan jilbab.  Khimar merupakan penutup aurat bagian atas yang harus menutupi kepala (kecuali wajah) hingga menutupi dada.  Sementara jilbab merupakan penutup tubuh bagian bawah yang diulurkan dari atas hingga menutupi mata kaki, tidak membentuk tubuh apalagi berbahan kain transparan yang memperlihatkan warna kulit.  Orang-orang biasa menyebut jilbab ini sebagai jubah atau gamis.

Terkait pemakaian jilbab dan khimar, aku tak akan berpanjang lebar karena sudah pernah merincikannya dalam tulisan sebelumnya (Berjilbab Itu Cantik bagian 1 dan 2).  Pada postingan kali ini, karena khimar dan jilbab kuanggap pembahasannya di tulisanku sebelumnya sudah cukup jelas maka aku akan fokus pada poin terakhir dari hijab syar’i tadi yaitu menghindari tabarruj.  Terutama disebabkan hal ihwal konsep trend fashion Muslimah yang sedang populer.

Kira-kira apa sih pengertian tabarruj?  Apakah artinya sama dengan membuka aurat?  Trus kalo seorang muslimah sudah mengenakan khimar dan jilbab, apakah sudah ada jaminan tak terjerumus dalam tabarruj?  Lalu apakah larangan terhadap tabarruj merupakan larangan mutlak untuk berdandan dan memakai segala macam perhiasan?  Yuk, kita cek sama-sama….^_^

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) bertabarruj dengan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana” (TQS. An Nur : 60).

Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (TQS. Al Ahzab : 33).

Ayat-ayat di atas menunjukkan pada kita tentang larangan untuk bertabarruj.  Jika di ayat pertama larangan tersebut berlaku bagi perempuan tua, maka ayat kedua menunjukkan bahwa larangan tersebut juga berlaku bagi istri Nabi SAW dan seluruh perempuan Muslim agar tidak bertabarruj menyerupai perempuan-perempuan jahiliyah sebelum datangnya Islam.

Selain itu, dari Fadholah bin ‘Ubaid, Rasulullah SAW bersabda, “tiga golongan yang tidak ditanya :  seorang laki-laki yang memisahkan diri dari jama’ah, mendurhakai imamnya, kemudian meninggal dalam kedurhakaannya itu; Seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri meninggalkan tuannya, lalu mati; seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya, yang mana suaminya itu telah mencukupi kebutuhannya, namun dia bertabarruj maka mereka tidak ditanya” (HR. Al Hakim dan Ahmad).

Hadits di atas semakin menguatkan indikasi larangan tabarruj dengan larangan yang tegas, sehingga bisa dimaknai sebagai aktivitas yang diharamkan oleh Allah SWT.  Hanya saja, di tengah gempuran dunia fashion yang tak lagi berkiblat Mekkah (Islam), maka terjadi kekaburan di kalangan Muslimah.  Jadi, apa sih sebenarnya tabarruj?

Secara bahasa, tabarruj artinya pertunjukkan keindahan yang dilakukan oleh perempuan dimana pertunjukkan itu dapat menarik perhatian laki-laki dari aspek syahwat.  Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Lisanul Arab : “at tabarruju :  idzhaaruz ziinati wa maa yustad’aa bihii syahwatur rijaali, artinya tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan apa saja yang dengannya syahwat kaum lelaki tertarik”.  Maka ketika wanita berpenampilan sedemikian rupa, baik dengan riasan, pakaian atau perhiasan sehingga menarik perhatian dan syahwat kaum laki-laki maka itu dinamakan tabarruj menurut pengertian bahasa dan makna inilah yang juga dikehendaki oleh nash-nash syara’.

Dalam nash yang lain :  “Dan janganlah mereka memukulkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan” (An Nur :  31).

Rasulullah SAW juga bersabda :  “wanita mana saja yang memakai wewangian kemudian dia melewati kaum (laki-laki) agar mereka mencium baunya maka dia pezina” (HR. An Nasa’i, Abu Dawud, At Tirmidzi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda :  “Dua golongan ahli neraka yang belum aku lihat :  orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, mereka mencambuki manusia dengannya; dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan menggoyangkan kepalanya seperti bergoyangnya punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya itu bisa dicium dari jarak sekian dan sekian” (HR. Muslim).

Dari sini kita bisa memahami bahwa menampakkan aurat bisa merupakan bentuk tabarruj.  Namun jika kita merujuk pengertian tabarruj yang bermakna mempertontonkan kecantikan dan perhiasan wanita untuk menarik perhatian pria maka seorang wanita yang telah menutup aurat dengan khimar dan jilbab yang terstandarisasi pun bisa terkategori bertabarruj.  Nah, kok bisa?  Ya bisa lah kalo khimar dan jilbabnya terlalu indah sehingga menarik perhatian laki-laki.

Hmmm…kayak kasus kemaren itu deh!  Si adek yang udah dipahamkan tentang hijab ini tetap ngotot ikut.  Memang sih, pakai jilbab juga khimar.  Tapi make up-nya itu lho…ditambah juga memakai pernak-pernik yang menggoda pandangan.  Aihhh…makin nampak lah kecantikannya.  Dan itu tabarruj!

 

Fashion dan Dandanan?

“Brina…aku nggak terima!  Trus kita mesti kelihatan lusuh dan jelek gitu?”, pasti protesmu.

Sabar ya?  Aku juga nggak bilang kita mesti berpenampilan lusuh, jelek apalagi bau kan?  Allah SWT sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini tentu adalah pihak yang paling memahami tentang hakikat penciptaan kita.  Buat apa diciptakan, bagaimana harusnya menjalani kehidupan agar selamat di dunia dan akhirat.  Jadi, kita ikuti aja…biar nggak menyesal nanti-nanti!

Adanya larangan tabarruj bukan berarti larangan mutlak mengenakan perhiasan dan berdandan.  Mengenakan pakaian (jilbab dan khimar) dan perhiasan (bros, cincin, gelang dll) yang tidak terlalu mencolok tentu bukan masalah.  Pun riasan ringan seperti bedak dan celak mata untuk orang Indonesia sepertinya masih merupakan kelaziman.

Trus gimana dengan pakaian berwarna-warni atau bermotif?  Ibnu Abi Syaibah, sebagaimana dikutip oleh Al Albaniy meriwayatkan beberapa atsar yang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi SAW dan muslimah pada masa sahabat pernah menggunakan pakaian berwarna.  Atsar itu antara lain :

  1. Dari Ibrahim (An Nakha’i) bahwasannya ia pernah bersama Al Qamah dan Al Aswad mengunjungi para istri Nabi SAW dan dia melihat mereka mengenakan pakaian-pakaian panjang berwarna merah.
  2. Dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, “saya pernah melihat Ummu Salamah ra. mengenakan baju dan pakaian panjang berwarna kuning”.
  3. Dari Al Qasim (Ibnu Muhammad bin Abu Bakar) bahwa Aisyah pernah memakai pakaian berwarna kuning dan dia sedang ihram.

Jadi, memakai pakaian berwarna maupun bermotif tidak otomatis dianggap tabarruj. Ini dengan catatan, warna itu wajar digunakan di lingkungan si pemakai sehingga tidak terlihat mencolok. Jika sebuah motif (corak) atau warna itu tidak wajar digunakan di lingkungannya atau biasa digunakan untuk menggoda lawan jenis, maka fakta tabarruj akan terwujud, karena ia akan menarik perhatian. Untuk itu, masalah memilih warna dan corak ini butuh pencermatan yang hati-hati juga!

Jadi jelas ya?  Boleh kok ngikut fashion atau dandan asal mengikuti syarat dan ketentuan berlaku :  perhiasan atau dandanan tidak menarik perhatian sehingga fakta tabarruj (menampakkan perhiasan dan kecantikan sehingga menarik perhatian dan mengundang kekaguman lawan jenis) tidak terwujud.^_^

 

Kesimpulan

Memang agak susah sih menyatukan konsep fashion yang berkiblat pada Paris dan Mekkah.  Fashion Paris ala Barat yang berorientasi ideologi kapitalis sekuler tentu memegang teguh konsep menarik perhatian.  Jadi setiap produk fashion entah itu make up, tas, sepatu, pakaian, pernak-pernik dan sebagainya haruslah bisa mengundang decak kagum banyak mata terutama lawan jenis.  Masih ingat salah satu tokoh telenovela bernama Betty ta Iye, eh…Betty La Feya yang rela menghamburkan banyak biaya demi mendapatkan perhatian Armando dengan mengubah penampilannya kan?  Fashion Paris diciptakan agar kita yang memakai produknya menjadi pusat perhatian.  Entah dalam kesempatan biasa kayak hang out bareng teman, di sekolah hingga Party yang memang mengharuskan kita tampil chic dan gaya.  Fiuh….

Sementara fashion yang berkiblat Mekkah justru sebaliknya.  Wanita dilindungi harga diri dan kehormatannya dengan perintah untuk menutup aurat menggunakan jilbab dan khimar disertai larangan untuk bertabarruj.  Jadi, rumus Jilbab plus khimar minus tabarruj inilah yang membuat Muslimah percaya diri tampil sederhana saat ke luar rumah.  Ia takut siksa Allah sehingga tak suka jika kecantikannya dinikmati oleh selain suaminya.  Sementara di rumah, ia menampilkan diri secantik mungkin karena memburu pahala Allah SWT.  Cukuplah baginya cantik di mata Allah karena ketaatan pada Pencipta dengan janji menjadi penghuni syurga hingga para bidadari pun cemburu kepadanya.  Mau?^_^

2 thoughts on “Antara Mekkah dan Paris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s