Sedia Payung Sebelum Dipilihkan Payung Lain!

gadis_bertudung_by_hanisfiza22-d5meze1Pengalaman sebagai guru terbaik memang tak terbantahkan.  Dari pengalaman, entah gagal maupun berhasil, kita belajar banyak hal.  Meskipun kadang bukan milik kita pribadi namun selalu ada cara untuk mengambil hikmahnya.

“Mbak Brina, besok nggak usah ke sini!”, sms ini masuk ke handphone-ku sore kemaren.  Daripada penasaran, aku pun langsung mempertanyakan alasannya.  Jawabannya simpel, “Ntar aja edisi lengkapnya.  Ana pengen istirahat dulu menenangkan hati dan pikiran..”.  Nah, lho….

Yang bersangkutan adalah mempelai wanita, akan menikah dua hari lagi.  Dan seperti biasa, side job-ku adalah penata rias dadakan!  Jadi, sejak desember kemarin aku “belajar” merias lagi.  Nyari wajah yang mau diuji coba, ikut mencari barang-barang yang diperlukan dari make up,  jilbab hingga kerudung dan pernak-perniknya semisal rangkaian melati.  Hmmm…semuanya sudah siap, kecuali melati yang harus pesan di luar kota.  Dan pemberitahuannya untuk tak datang memberi sinyal telah terjadi sesuatu.

Nah, jangan-jangan terulang lagi?  Kisah aktivis yang belum mampu menjaga indahnya gerbang kehidupan pernikahan mereka dengan seremoni sakral yang sesuai perintah-Nya?  Dan ternyata benar saja dugaanku!

Setiap pasangan yang akan menikah tentu menginginkan pernikahan mereka barokah, terlebih jika itu pengemban dakwah.  Pernikahan yang dijalani aktivis bukan milik sendiri dan keluarga, namun juga milik umat.  Sudah selayaknya pernikahan mereka menjadi cerminan bagi masyarakat tentang sebuah ketaatan yang mengikat.  Termasuk pesta pernikahan sekali pun!  Sehingga umat, meskipun terbengong-bengong akan mengatakan, “Oh…beginikah pernikahan yang Islami?”.

Emang gimana sih?  Yuk, kita obrolin rame-rame….^_^

Islamic Wedding Ceremony

Konsep pernikahan saat ini telah berkembang pesat.  Dari yang murni tradisional, bergaya moderen atau memadukan keduanya bukanlah hal baru lagi.  Beberapa keluarga bahkan membuat pesta atau perayaan walimah beberapa kali dengan nuansa yang berbeda tergantung asal daerah maupun kesukaan masing-masing.  Namun secara umum, masih banyak yang menggunakan adat istiadat atau urf yang kadangkala bertentangan dengan syariat.

Adat istiadat atau urf hakekatnya dihasilkan dari sekumpulan pemikiran dan pemahaman yang menguasai masyarakat, dihasilkan dari sistem yang telah dijadikan solusi hukum oleh manusia dalam memecahkan perkara mereka sejak zaman dahulu.  Pemikiran dan sistem inilah yang kemudian menjadi adat istiadat dan standar bagi manusia dalam masalah hukum, amal perbuatan hingga menyelesaikan perselisihan, baik mereka mengerti sumbernya atau pun tidak.

Maka adat istiadat atau urf pada kaum muslimin, didapat dari pemikiran dan hukum Islam yang telah diadopsi oleh kaum muslimin sejak lama dan bersandar pada dalil syara’.  Beberapa masih kita warisi hingga saat ini, misalnya berkunjung ke rumah sanak keluarga di hari-hari besar, membuat makanan untuk keluarga mayit hingga aktivitas walimah dalam pernikahan.

Bahkan sebagian fuqaha muslim seperti Malikiyah dan Hanafiyah telah menganggap urf sebagai dalil.  Maka muncullah sebagian hukum-hukum hasil ijtihad mereka yang berasal dari adat istiadat yang selaras dengan hukum syara’.  Wajarlah…karena masyarakat Islam di Madinah maupun wilayah lainnya dari kota-kota Islam seperti Mesir dan Baghdad menjalani kehidupan dengan suasana Islami.  Entah itu di rumah-rumah, jalan-jalan, gedung-gedung dan di semua urusan kehidupan lainnya.  Mereka lahir sebagai muslim yang hidup dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang berhukum dengan Islam dan memelihara urusan mereka hanya dengan aturan Islam.  Maka adat istiadat atau urf mereka memancar dari ide dan pemikiran Islam, meskipun kadang kala sebagian diantaranya tidak mengerti dalil syara’ yang menjadi landasan adat istiadat mereka.

Nah, masalahnya kondisi kehidupan kaum muslim tak lagi sama.  Saat ini, telah banyak terjadi pergeseran yang mengakibatkan berubahnya adat istiadat tersebut hingga menyalahi aturan Islam.  Hal ini tak lain disebabkan lenyapnya institusi yang menaungi kaum muslimin, Daulah Khilafah Islam pada awal abad XX masehi lalu.  Penjajah Barat telah memerangi kaum muslim dengan pemikiran dan kebudayaan sekuler-kapitalis dan memerintah kaum muslim dengan sistem mereka sehingga hukum yang berlaku di tengah masyarakat bukanlah berasal dari Islam.

Dominasi sekulerisme, kapitalisme, patriotisme, nasionalisme, dan isme-isme lain, produk sistem buatan manusia yang serba lemah dan terbatas sangat terasa.  Dari sana lahirlah adat istiadat yang bertentangan dengan syariat semisal campur baur (ikhtilat) antara sanak keluarga laki-laki dan perempuan pada kehidupan tertentu tanpa rasa berdosa.  Padahal hukum syara’ menetapkan wajibnya memisahkan lelaki dan perempuan dalam kehidupan khusus dengan menundukkan pandangan dari kerabat jika mereka bukan mahram seperti ayah, saudara laki-laki, paman dari ayah dan ibu, dan lain-lain.

Atau munculnya mayoritas perempuan pada kehidupan umum dengan busana yang tidak syar’i.  Mereka meninggalkan jilbab dan khimar padahal ia adalah pakaian takwa yang wajib dipakai saat berada di kehidupan umum.  Sementara sebagian lain yang masih memiliki ghirah keberislaman, mereka mengenakan jilbab maupun kerudung namun jauh dari standar syariat yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.  Agar tak ketinggalan zaman, muncullah jilbab ketat yang menampakkan lekuk tubuh dan kerudung punuk unta.  Sehingga adat istiadat menampakkan aurat dan tabarruj adalah biasa.  Maka sudah selayaknya kita jeli melihat fakta adat istiadat yang berkembang sekarang, termasuk yang berhubungan dengan walimah pernikahan.

Mau gaya moderen atau nuansa etnik tradisional pun sebenarnya tak masalah selama pakem hukum syara menjadi pegangan utama.  Kira-kira, apa aja sih yang harus diperhatikan?

Pertama, tak ada klenik yang mengarah pada syirik.  Di Indonesia, banyak ditemukan adat istiadat atau urf yang bertentangan dengan aqidah dan syariah.  Menyediakan sejenis sesajen berupa kopi pahit dan manis buat “tetangga sebelah” dalam adat Banjar atau prosesi tampung tawar dalam adat Dayak, misalnya?  Mereka meyakini, jika tak ada aktivitas ini maka bisa menyebabkan dharar atau keburukan bagi mempelai.  Nah, jika sudah begini urusannya berat!  Meskipun terkadang harus adu argumen dengan para tetua dan prosesnya alot, aku berharap para mempelai yang akan menikah bisa bertahan hingga akhir.  Berikan hujjah yang kuat bahwa Allah-lah sang Maha Segalanya.  Takkan terjadi sesuatu entah kebaikan atau keburukan tanpa izin Allah.  Dan bukankah Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya?  Maka bersangkalah hanya kebaikan yang datang jika taat!  Sayang sekali jika momen mengawali kehidupan pernikahan yang niatnya ingin sakinah, mawaddah warahmah malah dihiasi dosa besar syirik.  Naudzubillah, jangan sampai deh!

Kedua, pemisahan tamu laki-laki dan perempuan agar tak terjadi percampuran (ikhtilat).  Hah???  Ada yang heran?  Seperti yang kusebut di atas, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram bukanlah tradisi Islam!

Menghilangnya daulah dan ideologi Islam telah menyebabkan kaum muslim mengadopsi hukum penjajah asing, salah satunya budaya berkumpul laki-laki dan perempuan dalam sebuah forum.  Para perempuan berdandan secantik mungkin untuk menarik perhatian bahkan menggoda lawan jenis dengan keindahan fisik.  Dari rok mini, hot pants, pun kebaya tembus pandang diumbar.  Gayung bersambut, para lelaki menikmati pemandangan yang terhampar di depan mata.  Bahkan laki-laki melakukan hal yang sama dalam hal penampilan luar, hingga muncul istilah laki-laki metroseksual.  Olala…dunia sekarang semakin gila!

Allah SWT telah mewajibkan kita terikat pada aturan-Nya termasuk dalam walimah pernikahan.  Antisipasi keterkejutan masyarakat untuk menerima yang belum biasa dengan menyebutkan pemisahan ini di dalam undangan pernikahan yang dikirim.  Jangan khawatir akan tanggapan negatif atau komentar miring.  Pemisahan tamu laki-laki dan perempuan bukanlah bentuk tidak menghormati kebebasan para tamu undangan.  Namun justru penjagaan yang dilakukan pemilik hajatan agar kegiatan yang dilaksanakannya bukan berperan sebagai sarana pelanggaran hukum-hukum Allah SWT.

Ketiga, karena tamunya sudah dipisah maka demikian pula baiknya posisi kedua mempelai.  Pengantin laki-laki bersama jamaah laki-laki sementara pengantin perempuan bersama jamaah perempuan.  “Yah…nggak seru dong, nggak ngelihat mereka bersanding di pelaminan?!”, mungkin begitu komentarmu!

Yep, adat kebiasaan menyandingkan kedua mempelai ini terkadang membahayakan.  Kasihan pengantin perempuan, ia didandani secantik mungkin namun yang menikmati keindahannya adalah semua undangan termasuk laki-laki non mahramnya padahal mereka tak memiliki hak.  Seandainya nih ya…ada yang terpesona hingga terbayang-bayang kecantikan si mempelai (terlebih dengan tidak ditutupnya aurat plus tabarruj), lalu siapa yang harus disalahkan?  Ayooo….

Islam menjaga kehormatan perempuan dengan membiarkan kecantikan menjadi rahasia bagi kalangan terbatas, yaitu mahram saja.  Islam pun menjaga agar kejahatan tak berkembang dengan menghalangi akses laki-laki pada perempuan non mahramnya, sekali pun hanya dengan memandang.  Ingat, panah setan itu ada pada mata lho?!  So, tundukkan pandangan dan tak usahlah bersanding dalam satu pelaminan sekalipun tamu undangannya sudah dipisah.

Bagi para tamu laki-laki, nggak perlu lah penasaran dengan kecantikan mempelai perempuan tetangga.  Perhatikan saja kecantikan istri sendiri sehingga ia makin merasa dicintai.  Sama halnya bagi tamu perempuan, tak perlu bertanya-tanya seberapa ganteng mempelai laki-laki tetangga.  Biar seganteng Edward Cullen eh…Robert Pattinson sekali pun, dia sudah jadi milik orang.  Kecuali kamu mau jadi yang kedua, ketiga dan keempat, hehe….^^V

Keempat, perhatikan pakaian mempelai wanita.  Jika terpisah total, maka mempelai wanita bisa bebas berekspresi dengan penampilannya.  Namun jika masih ada kemungkinan laki-laki non mahram melongok maka perhaluslah make up, juga pakailah jilbab dan kerudung standar.  Saat ini sudah banyak didesign jilbab pengantin cantik dan yang paling penting :  syar’i!  Kerudungnya pun sama.  Tak perlu ikut-ikutan kerudung yang ujungnya dimasukkan ke dalam pakaian.  Hamparkan saja menutupi dada, gaya khasmu tak perlu ditinggalkan meskipun hanya sejenak di hari bahagia.  Terakhir, make up tak perlu menor.  Kamu akan ngeri jika melihat wajahmu dibedaki mirip topeng.  Cantik itu sederhana kok!  Kamu akan tersipu memandang wajah yang hanya berhias make up natural.  insya Allah aman dan berkah! ^_^

Kelima, abadikanlah momen bahagiamu dengan foto yang “aman”.  Kedua mempelai dengan para mahramnya saja.  Atau mempelai laki-laki dengan tamu undangan laki-laki saja.  Begitu pula dengan mempelai perempuan hanya berfoto dengan tamu undangan perempuan saja.  Jangan lintas gender, hehe….

Pada dasarnya, berfoto sih mubah atau boleh hukumnya.  Namun dengan catatan yang sama :  usahakan tidak ada ikhtilat alias campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.  Biasanya setelah akad nikah, pengantin berfoto bersama keluarga besarnya (sebatas mahram).  Baru dilanjutkan pada kenalan dan sanak keluarga jauh semisal sepupu.  Keluarga jauh yang bukan mahram tetap berlaku hukum yang sama seperti yang lain!  Kecuali jika semua objek foto berdampingan dengan mahram masing-masing.  Ribet?  Kan Islam melindungi kehormatan manusia, niar nggak menyesal nanti-nanti!  Hehe….^_^

Keenam, sebagai pelengkap…jangan lupa suguhkanlah hiburan yang tidak bertentangan dengan syara’.  Tak perlu repot-repot mengundang pelawak ternama yang ngocol dengan menghina kelemahan tamu undangan, atau penyanyi yang punya suara maupun body seksi.  Ada rebana jika ingin suasana yang kental dengan islam tradisonal.  Puji-pujian pada Allah dan Rasul-Nya tetap oke sepanjang masa kok!  Selain itu, ada nasyid akustik milik teman-teman kampusmu yang lebih moderen tentunya!  Ditambah lirik romantis islamis, hmmm…syahdunya!  Atau cukup putarkan lagu-lagu islami, murah meriah dan dapat ridha Allah.  Luar biasa!

Terutama bagi para aktivis, walimah pernikahan mereka adalah sarana dakwah.  Peran sebagai penyeru telah menempatkan para aktivis sebagai role model pelaksanaan syariat Islam.  Jika pernikahan mereka berlandaskan pemahaman Al Qur’an dan sunnah Rasul-Nya sebagaimana yang didakwahkan selama ini ke tengah umat, maka akan terbentuk sebuah integritas diri.  Mengutip kata-kata salah satu tamu ketika menanggapi konsep islamic wedding ceremony seorang sahabat, “Kan pernikahan Ustadz!”.

Belajar dari Pernikahan Senior

Hari itu, masjid kampus terasa lebih meriah.  Dinding bertabur bunga, demikian pula hijab yang menghalangi jamaah laki-laki dan perempuan.  Di pelataran, berdiri tenda.  Tempat makanan prasmanan yang akan diantar dengan sigap oleh petugas konsumsi.  Kakak yang rumahnya kutinggali akan menikah.  Beliau aktivis dakwah, guru ngaji kami.  Calon suaminya seorang dosen muda di PTN almamater kami juga.  Mereka pasangan sempurna.  Kompak melakukan pendekatan persuasif dengan kedua orangtua, terutama orangtua mempelai perempuan agar mengizinkan mereka menyelenggarakan pernikahan Islami.  Dibantu calon kakak ipar, mempelai laki-laki berkeliling meyakinkan keluarga besar.  Awalnya banyak yang merasa aneh dan tak setuju.  Namun berkat dukungan kuat orangtua dan saudara, yang memang sudah diberikan konsep pernikahan Islami sejak lama maka perjuangan panjang berbulan lamanya itu pun tak sia-sia.  Dan mereka di sini hari ini, sebuah pernikahan berkah yang membahagiakan semua pihak.

Beberapa waktu berselang, rumah seorang kakak cantik yang baru saja menyelesaikan S2-nya penuh keramaian.  Calon suaminya teman satu jurusan yang juga baru menyelesaikan S2.  Panitia pernikahan telah dibentuk rapi, anggotanya terdiri dari tetangga, keluarga dan teman pengajian.  Keluarga menyiapkan konsumsi, para tetangga sigap membantu dekorasi sementara kami menjadi petugas saat hari H berlangsung :  dari penerima tamu yang memisahkan tamu laki-laki dan perempuan hingga petugas pengantar makanan.

Pengantin perempuan nan cantik duduk manis di pelaminannya, ia berpakaian khas banjar.  Karena ia ditempatkan dalam ruangan tertutup yang hanya diakses para perempuan dan mahramnya, maka ia bebas bereksplorasi dengan dandanannya.  Hari itu kami benar-benar merasa beliau seperti ratu sehari meskipun hanya kami yang melihat.  Subhanallah….  Ini pernikahan yang indah!

Tak lama setelahnya, berlangsung juga pernikahan seorang kakak yang lama menjadi sahabat, ibu sekaligus musuhku, hehe….  Saat akad nikahnya berlangsung, aku mendengarkan via handphone.  Setelahnya, aku sempat bicara sebentar padanya mengucapkan selamat dengan mata yang berkaca-kaca karena cinta.  Meskipun jauh, aku selalu mendoakannya.

Pernikahan berlangsung sederhana namun khidmat di rumah kakak beliau.  Nasihat pernikahan yang menyentuh diberikan oleh seorang Ustadz kaliber nasional.  Maklum, si kakak yang menikah ini punya usaha Event Organizer yang cukup sukses.  Keahlian mengorganisir acara terbukti bermanfaat pada walimah pernikahan beliau.  Itu berkesan buat kami, para juniornya!

Tiga seremonial pernikahan ini berjalan baik.  Rahasianya cuma satu :  sosialisasikan konsep pernikahanmu jauh hari bahkan sebelum ada calon yang datang melamar!  Ketiga kakak tersebut adalah guru ngajiku.  Mereka selalu mengajari kami agar bersiap sejak dini.  Bahkan kakak yang terakhir kusebutkan, iseng menyuruh kami menulis surat cinta buat orangtua.  Isinya harus mampu mentransfer pemahaman kami yang telah belajar Islam.  Sahabatku yang gokil, memilih pernikahan sebagai topik utama.  Mengikuti jejak para suhu, terbukti pernikahannya pun sukses!

Bagaimana dengan yang gagal?  Dari pengamatanku sih, kebanyakan mereka terlambat melakukan sosialisasi atau pendekatan persuasif yang mereka lakukan kurang tepat.  Orang tua dan keluarga terkadang juga perlu waktu untuk menerima konsep yang tak mereka ketahui.  Nah, di sini nih resep 3 As masih berlaku :  kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas, hehe…

***

“Lho…nggak jadi berangkat?”, tanya Ama padaku.  Maklum, aku kan sudah minta izin jadi penata rias sejak awal bulan lalu.  Secara, tempatnya di luar kota gitu loh!

“Nggak, Ma!  Si temen…konsep pernikahannya yang awalnya bla bla bla…berubah jadi bla bla bla…”, jelasku panjang lebar.  Beliau cuma manggut-manggut lalu berkomentar, “Nah, makanya dakwah pada keluarga tuh harusnya jadi prioritas.  Jadi, kapan ya kita terapkan konsep itu di Istana Kuning?”.

Haha…Ama menggodaku!

Intinya sih, sedia payung sebelum dipilihkan payung lain untukmu!  Yuk, jadi yang muda yang bijaksana, memimpin umat dengan integritas diri sebagai teladan penerap syariat!

*Ditulis setelah ngobrol2 di mabit dadakan ba’da ruqyah massal…^_^

4 thoughts on “Sedia Payung Sebelum Dipilihkan Payung Lain!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s