Membonsai Islam

Summer 2005; this is how it went to the Gingko Award 2005.“Menurut saya, Muslim itu sebagai anggota masyarakat punya banyak sekali potensi tapi Islam mengekang potensi itu!”, tutur Geert Wilders, seorang politisi Belanda yang sangat membenci Islam.  (Republika Online, 22/11/2013).

Bonsai.  Pohon mini dengan tatanan artistik lagi menarik.  Jika merawat pohon berusia ratusan tahun sangat menyulitkan baik dari sisi waktu, biaya maupun tenaga ditambah lagi menikmatinya tak utuh karena ukurannya yang luar biasa besar hingga terasa kurang indah dipandang mata maka bonsai adalah alternatif.  Cukup menempatkannya dalam pot, mengatur arah pertumbuhan sesuai selera dengan pemotongan dan pemangkasan, pengawatan (pembentukan cabang dan dahan pohon dengan melilitkan kawat atau membengkokkannya dengan ikatan kawat) serta membuat akarnya menyebar di atas batu, maka jadilah pohon indah impian kita.

Begitulah bonsai.  Miniatur pohon yang tumbuh dikendalikan oleh senimannya.  Hasil karya yang sempurna akan menjamin pembeli merogoh kocek lebih dalam, apatah lagi jika senimannya memang telah dikenal luas.  Makin mantaplah status bonsai itu sebagai tanaman bergengsi.

Langkah yang sama seperti membonsai (seni mengkerdilkan pohon) ini pun rupanya telah ditempuh oleh sebagian kalangan yang membenci Islam.  Tak cukup dengan membuat film bertitel Fitna yang menghina Islam, permusuhan Geert Wilders, pendiri Partij voor de Vrijheid ini kembali terlihat dengan mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa ideologi Islam berbahaya.  Islam mengekang pemeluknya dan menjadikan Islam sebagai kambing hitam atas kemunduran kaum Muslim di kancah peradaban.

Pernyataan menyakitkan seperti ini bukan pertama kali singgah di telinga kita.  Sebelumnya para Orientalis Barat getol melakukan hal serupa.  Mereka mendengungkan bahwa jika kaum Muslim ingin maju maka modernisasi yang bermakna westernisasi mutlak dilakukan.  Pemahaman Islam yang dianggap terlalu kontekstual perlu direvisi, ditafsirkan ulang sehingga sesuai dengan tuntutan zaman.  Mengalirlah proyek liberalisasi, sekulerisasi hingga perombakan kurikulum pendidikan agama di pesantren dan sekolah-sekolah agama, dengan target deislamisasi.  Hasilnya, mucullah konsep diri Muslim moderat di kalangan umat Islam.

Islam sebagai sebuah agama paripurna yang meliputi aqidah dan syariah telah dikecilkan maknanya hanya sebagai agama ritual.  Umat Islam telah merasa cukup dengan melaksanakan kewajiban shalat, zakat, puasa dan berhaji ke Baitullah.  Sementara hukum-hukum yang lain seperti menutup aurat dengan jilbab (gamis) dan khimar (kerudung), meninggalkan riba, menjauhi zina, beraktivitas ekonomi dan politik sesuai syariat Islam, dan masih banyak kewajiban lainnya masih diabaikan.  Seolah Islam tak lebih sebagai agama pengusir setan karena bacaan ayat sucinya, agama penenang hati dengan dzikirnya, penyiram rohani dengan nasihat ruhiyahnya.

Dikotomi agama dalam ruang privat dan publik yang sebelumnya tak pernah dilakukan dalam sejarah bangunan peradaban Islam, diinstal dalam kehidupan umat secara sistematis.  Sayang, umat Islam tak menolak settingan hidupnya yang telah disekulerisasi dan diliberalisasi oleh pihak-pihak yang memang ingin membonsai Islam.  Menjadikan Islam hanya sebagai aqidah saja namun minus sistem, dengan label Islam moderat.  Penyandangnya terhormat dengan gelar Muslim moderat.

Berlomba-lombalah umat Islam mengejar status moderat ini.  Di Indonesia sendiri, kita bisa melihat banyak kalangan yang tak segan memutarbalikkan ayat-ayat Al Qur’an.  Mereka mengajak kaum Muslim melakukan reformasi dan reevaluasi terhadap “pemahaman klasik”.  Prof. Dr. Musdah Mulia yang notabene praktisi pendidikan Islam di UIN Jakarta adalah salah satunya.  Ia menilai gagasan klasik tentang larangan menikah beda agama perlu ditafsirkan ulang.  Ia tak segan-segan mengajukan draft kompilasi hukum Islam yang menggagas nikah beda agama sah, bahkan nikah sesama jenis dianggap tak menyalahi syariah.

Sepaham dengan itu, ada barisan pejuang Jaringan Islam Liberal yang gencar dengan berbagai propaganda pro Barat-nya.  Gagasan klasik mereka kategorikan sebagai kuno, kolot, ortodoks dan sebagainya.  Bahkan tak luput dikonotasikan sebagai fundamentalis atau radikal.

Melihat fenomena ini maka wajar jika Muslim Indonesia dalam dilema kepribadian ganda, antara pilihan taat syariat ataukah mengikuti tuntutan Barat dalam membonsai Islam?

Islam Ideologi

“Yang saya tidak suka adalah ideologinya, Islam sebagai agama, syariahnya. Islam itu berbahaya untuk kebebasan, kemerdekaan,” sebut Wilders.  “Secara ideologi, Islam sangat berbahaya!”, sambungnya lagi (Republika Online, 22/11/13)

Orientalis Barat telah lama memandang Islam sebagai sebuah ideologi, bukan sekedar agama ritual.  Pernyataan Geert Wilders ini mengindikasikan bahwa mereka melihat Islam sebagai saingan dari ideologi sekuler-kapitalis yang saat ini mereka usung. Namun sayang, justru dikalangan umat Islam sendiri, pemahaman Islam ideologi sangat asing.

Islam sebagai sebuah ideologi  jika diibaratkan pohon maka dia terdiri dari akar, batang, ranting hingga daun.  Akarnya merupakan aqidah  yaitu keimanan kepada Allah, Malaikat, kitab, Rasul, hari kiamat dan qadha serta qadhar.

Sementara batang, ranting dan daun merupakan gambaran dari syariah.  Ia merupakan seperangkat sistem aturan yang bersumber dari aqidah.  Sistem yang mengatur manusia dalam segala aspek kehidupan, tak hanya dalam ibadah mahdhoh (ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji), namun juga dalam ekonomi, pendidikan, budaya, pertahanan dan keamanan, politik, sosial hingga hukum.

Dalam hal ibadah mahdhoh, tiap muslim tentu bisa langsung melaksanakan secara individu.  Namun penyelesaian masalah kehidupan lainnya tentu dibutuhkan institusi yang mengimplementasikan syariah dalam sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat.  Bukan dalam bentuk sebuah organisasi sosial, bukan pula lembaga swadaya masyarakat dan sejenisnya.  Namun harus skala negara.

Layaknya ideologi lain yang hanya akan bisa menjaga eksistensinya jika disokong sebuah negara, ideologi Islam pun demikian.  Kekhilafahan, merupakan institusi Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW pada kita.  Keteladanan Khulafaur Rasyidin dalam memimpin umat telah melegenda di dunia.  Pengurusan Khalifah Umar bin Khattab pada umat yang tak kenal lelah.  Dinginnya malam di padang pasir nan gersang tak menghalanginya untuk melihat kehidupan umatnya dari dekat.  Saat ada yang kelaparan, beliau tak segan-segan memikul gandum dan mengantarnya sendiri ke tangan umat.  Juga kepiawaian Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mampu mensejahterakan rakyatnya.  Hal ini terbukti dengan tak ada seorang pun yang berhak menerima zakat hingga beliau disebut-sebut sebagai khalifah kelima dalam Khulafaur Rasyidin.

Saat itu, kaum Muslim hidup dalam lingkup ketaatan pada Allah di segala bidang.  Ekonomi, pendidikan, budaya, pertahanan dan keamanan, politik, sosial hingga hukum semua diatur dalam kerangka aqidah Islam.  Hasilnya, Islam  pun menjadi mercusuar peradaban dunia.

Dalam bidang pendidikan, kita mengenal Universitas Al Karaouiyinne di Fez Maroko dan Al Azhar Kairo sebagai universitas tertua di dunia.  Bahkan menurut Guiness Book of Record, Universitas  al-Karaouiyinne di Fez Maroko ini merupakan universitas pertama di dunia dan masih eksis hingga saat ini.  Kampus legendaris ini awalnya berdiri di Masjid al-Karaouiyinne yang dibangun tahun 254 H/859 M di kota Fes, Maroko.  Telah mencetak banyak intelektual barat, salah satunya adalah Silvester II yang menjadi Paus di Vatikan tahun 999-1003 M dan memperkenalkan “angka” Arab di Eropa.

Tak hanya itu, universitas top dunia menyebar di Gunddishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Kairo, Damaskus dan beberapa kota besar Islam lainnya.  Perguruan tinggi di luar Khilafah Islam paling-paling hanya ada di Konstantinopel yang saat itu masih menjadi ibukota Romawi Byzantium, di Kaifeng ibukota China atau di Nalanda India.  Di Eropa Barat, 100 tahun yang lalu belum ada perguruan tinggi, di Amerika apalagi!  Benua itu bahkan baru ditemukan tahun 1492.

Di bidang pertanian, telah ada Al-Jahiz (781-869) dalam kitab al-Hayawan sudah berteori tentang adanya perubahan berangsur pada makhluk hidup akibat seleksi alam dan lingkungan.  Juga ditemukannya alat-alat prediksi cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan, teknologi irigasi, pemupukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan pasca panen hingga manajemen perusahaan pertanian.  Revolusi pertanian muslim berhasil meningkatkan produksi hingga 100% dengan pendekatan ilmiah berbasis 3 unsur :  sistem rotasi tanaman, irigasi yang canggih dan kajian-kajian jenis tanaman yang cocok dengan tipe tanah, musim dan jumlah air yang tersedia.  Ditunjang hukum pertanahan dalam Islam sehingga orang yang memproduktifkan tanah akan diberi insentif oleh negara maka ketahanan pangan di negara khilafah pun terjaga.

Dalam bidang industri, kita bisa melihat berbagai penemuan revolusioner para ilmuwan muslim yang bersifat universal oleh al-Muradi pada abad ke 5 H tentang rangkaian roda gigi penggerak yang rumit dengan gir-gir bersegmen dan episiklus pada beberapa mesin.  Industri kertas yang menggabungkan pengetahuan kimia, material dan mesin bermunculan di dunia Islam setelah ada kontak dengan Cina.  Tak hanya itu, umat Islam tekun mengembangkan industri bertenaga alam yang terbarukan seperti air dan angin.

Penggilingan pasang-surut digunakan di Bashrah pada abad ke 11 M.  Dalam catatan, penggunaannya yang pertama di Eropa baru terjadi 100 tahun kemudian.  Padahal setiap provinsi Khilafah dari Spanyol dan Afrika Utara hingga Turkistan di batas Cina telah memiliki sejumlah penggilingan sebelumnya.

Adapun di daerah yang kekurangan air tetapi memiliki angin yang stabil, kincir angin menyebar sebagai sumber energi untuk industri.  Pengembangannya untuk industri tercatat dalam Kitab al-Hiyal karya Banu Musa Bersaudara pada abad 9 M.  Tak aneh jika sejarahwan bernama Joseph Needham menulis, “Sejarah kincir angin benar-benar diawali oleh kebudayaan Islam”.  Sungguh luar biasa bukan?

Sayangnya, kekhilafahan Islam saat ini sudah terhapuskan jejaknya dari muka bumi sejak Kemal Attaturk yang bekerjasama dengan Barat berhasil meruntuhkannya pada 3 Maret 1924.  Telah sembilan puluh tahun lebih umat Islam kehilangan negaranya.  Islam dibonsai (dikerdilkan) menjadi sekedar agama ritual yang akhirnya tak mampu membangkitkan umat Islam dari keterpurukan secara sains dan teknologi maupun degradasi moral yang memilukan.

Kesimpulan

Melihat bukti-bukti di atas maka jelaslah tidak benar jika dikatakan bahwa Islam mengekang potensi pemeluknya sebagaimana klaim Geert Wilders.  Justru ketaatan umat terhadap Allah SWT telah membuat mereka maju dan mampu unggul dalam kancah peradaban dunia.  Sudah saatnya umat Islam mengembalikan pemahamannya yang benar tentang agamanya sehingga tak lagi termakan target pihak-pihak yang ingin membonsai Islam dengan memberikan kebanggaan akan status Muslim moderat yang hakikatnya merusak.

Perlu kita sadari bersama tentang sebuah fakta :  jika Barat bangkit dengan meninggalkan agamanya, maka umat Islam justru terpuruk saat meninggalkan agamanya.  Mengapa?  Karena Islam berbeda dengan agama lainnya, ia bukan sekedar agama yang mengatur ibadah ritual pemeluknya namun juga merupakan sebuah ideologi yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan umat dengan syariahnya yang bersumber dari aqidah.  Yakinlah!

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan.  Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (TQS. Al Baqarah : 208).

*Tulisan ini dimuat dalam opini Borneo News pada 2 Desember 2013

One thought on “Membonsai Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s