Kambing

screenshot-10“Kalo nak seribu daye, kalo tak nak seribu alasan…” (Pepatah Melayu).

Dampak pemadaman listrik yang memakan waktu enam hingga sepuluh jam di daerahku adalah banyaknya kambing.  Lho…apa hubungannya?  Begini ceritanya…. (Cerita mistis mode on) ^^

Di era modern seperti sekarang, kita bisa merasakan bahwa listrik memegang peranan vital dalam kehidupan.  Ibu-ibu rumah tangga, akan teringankan bebannya dengan mesin penyedot debu, penanak nasi, penggiling daging atau sekedar membuat jus buah untuk buah hatinya.  Itu baru ibu rumah tangga.  Adapun para pengusaha akan panen lebih banyak efisiensi kerja darinya.  Nah, bayangin aja gimana efeknya kalo dipadamkan semena-mena?

Oke, bicara dari sisi pemadaman listrik akan merugikan banyak pihak tentu sudah jadi rahasia umum.  Tapi ada satu hal lucu yang muncul dari sana akibat ketergantungan kita pada kemudahan teknologi.  Nggak bisa ngapa-ngapain kalo listrik mati!  Seolah dunia ini berhenti berputar hanya karena pemadaman listrik.

Eits, jangan kira aku setuju pemadaman listrik ini.  Bukan, sama sekali bukan itu maksudku.  Tapi jika ingat bahwa pemadaman listrik menjadi alasan bagi banyak pihak untuk tidak menjalankan tugas maupun target-target yang sudah ditetapkan maka bermunculanlah kambing yang kumaksudkan di atas.  Kambing hitam!

Ibu-ibu nggak bisa masak karena penanak nasinya nggak bisa beroperasi.  “Kan mesti dicolokin listrik…”, kilahnya.  Padahal jika si ibu mau bersusah payah sedikit dia bisa menanak nasi manual di kompornya.  Pekerja kantoran pada main catur karena komputer, printer dan peralatan lainnya tak berfungsi.  Padahal jika mau, ia bisa saja mengerjakan kegiatan lain yang tidak menggunakan bantuan listrik.  Tapi nyatanya, kita lebih suka beternak kambing hitam demi membela diri dari kelalaian-kelalaian kita.

Ini sama sekali bukan kritik yang kutujukan bagi orang lain.  Namun sebenarnya bagiku sendiri sebagai orang yang turut ambil bagian beternak kambing.  Nggak percaya?  Beberapa waktu lalu saat bertugas di satu kecamatan yang listriknya hanya hidup di malam hari, aku mengganti PC-ku dengan notebook.  Selain demi alasan bisa dinyalakan dengan baterai, benda ini pun lebih ringan dan mudah dibawa numpang di kantor tetangga yang listriknya nyala di siang hari.  Tujuannya apalagi kalau bukan untuk meningkatkan produktivitas kerja sekaligus hobi menulis ini?  Tapi nyatanya aku mulai beternak kambing.  “Ah, nggak enak kalo sering-sering numpang di kantor orang…”, dan sebagainya.  Akhirnya target meningkatkan produktivitas menulisku pun bablas, hehe….^_^

Lalu aku berpikir…”Coba aku tinggal di tempat yang dua puluh empat jam listrik menyala, tentu hasilnya akan lebih baik…”.  Namun lagi-lagi hal itu tak terbukti.  Hampir sembilan bulan berada di tempat yang dua puluh empat jam listrik beroperasi, produktivitasku tetap sekian.  Hmmm…saat itu aku mulai berpikir, sebenarnya apa yang salah dariku?  Tak pernah aku merasakan penurunan seperti ini!

Aku mulai merunut lagi apa yang sudah kulakukan dan kuraih di masa lalu dan sekarang.  Dan aku tetap pada kesimpulan bahwa rasanya ada yang jauh berkurang.  Pertanyaan pentingnya…apa penyebabnya?  Apakah aku membuat target yang terlalu banyak sehingga tak bisa terlaksana?  Rasanya tidak!  Apakah aku menetapkan target yang terlalu tinggi untuk kuraih?  Rasanya juga tidak!  Sebelum menetapkan target-target itu, aku berusaha menyesuaikannya dengan waktu yang kubutuhkan untuk menunaikan kewajiban-kewajibanku dan menetapkan prioritas sesuai dengan kaidah kausalitas (hubungan sebab akibat).  Aku pun telah berusaha mengukur capaiannya berdasarkan potensi yang kumiliki.  Jadi tak ada yang salah dengan target.

Tak teraihnya target justru karena persoalan teknis sederhana yang kubesar-besarkan.  Seperti halnya pemadaman listrik yang menjadi kambingku kali ini.  “Kak…ada tulisan yang mau dipublikasikan nggak?  Kalo ada, ntar kirim ke email Pak Anu ya?”, seorang adek memberiku pesan singkat ini tiga malam lalu saat aku sedang menikmati candlelight dinner-ku alias makan bergelap-gelapan hanya diterangi cahaya lilin seadanya, hehe….

Aku pun membalasnya, “Oke, kalo listrik nyala…bla bla bla…”.  Faktanya malam itu listrik baru dinyalakan pukul 22.30 WIB, saat dimana aku telah jatuh tertidur.  Apesnya, listrik mulai dimatikan lagi sekitar pukul 03.00 WIB.  Nah, aku pun menjadikan hal ini alasan untuk tidak mengirim tulisan sesuai deadline yang ditetapkan.  Subuh!

Padahal saat listrik mulai dinyalakan aku terbangun sejenak untuk mematikan lilin.  Jika mau bisa saja aku meneruskan kesadaranku dan mencari apa yang diminta si adek tadi.  Tapi aku justru memanjangkan angan-anganku.  “Ah, subuh nanti aku juga bangun…”.  Begitu dibangunkan weker tepat pukul 03.00 WIB, lampu kamarku yang terang tiba-tiba mati.  Dan seluruh kota kembali gelap.  Pemadaman listrik lagi?  Aku mengeluh!  Inilah akibatnya jika thulul amal.  Dan nasi pun telah jadi bubur.  Yang bisa kulakukan hanya minta maaf pada yang bersangkutan.

Dalam hidup ini, tak seorang pun ingin gagal.  Namun untuk tidak gagal bukanlah hal yang mudah.  Banyak tantangan yang mesti ditaklukan dengan tangan kita.  Rintangan yang harus disingkirkan dengan seluruh kemampuan kita.  Hingga keberhasilan yang senyananya merupakan buah dari proses usaha yang dilakukan tanpa kenal menyerah.  Tak hanya dinikmati oleh diri sendiri, namun juga bagi orang lain di sekitar.

Untuk sukses meraih target yang ingin diraih, Jamil Az Zaini, seorang trainer nasional pernah mengatakan kita harus bekerja dengan tiga As :  kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.  Tak ada kesuksesan yang bisa diraih dengan cara instan.  Serba cepat, langsung dapat.  Kita perlu kerja keras untuk meraihnya.  Mengerahkan pikiran, waktu, tenaga juga biaya tentunya.  Namun juga tak cukup itu, kita pun perlu kerja cerdas.  Ide-ide kreatif untuk melebarkan sayap usaha, membuka lapangan pekerjaan ataupun mengoptimalkan profit yang didapat misalnya, tentu memerlukan kecerdasan.  Tak setiap orang bisa cerdas dalam bekerja maupun menunaikan amanah-amanah yang telah diberikan kepadanya.  Sehingga produktivitas yang diraih masih rendah.  Maka kerja cerdas tentunya merupakan sebuah keniscayaan.  Apakah cukup?  Ternyata juga tidak, masih ada satu As terpenting yang harus diikutsertakan dalam usaha menuju keberhasilan.  Kerja ikhlas.  Hmmm…kerja ikhlas disini maksudnya menyandarkan setiap perbuatan kita hanya pada Allah SWT.  Memilih dan melakukan pekerjaan, prioritas aktivitas, membelanjakan harta dan sebagainya haruslah didasari pada tuntunan Allah SWT pada hambanya.  Sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT seperti itulah kita melaksanakannya tanpa tapi.  Tapi aku belum bisa, tapi aku belum siap, tapi…dan tapi tapi lainnya.  Berkaca dari bapaknya para Anbiya, Nabi Ibrahim AS yang tak pernah menawar perintah Allah padanya meskipun itu berarti mengorbankan darah dagingnya sendiri (Bawaan perayaan idul adha neh, hehe…).

Sehingga gagal atau berhasilnya meraih target-target yang telah ditetapkan tadi tak lain merupakan buah dari semua usaha.  Bagaimana kita hari ini, ditentukan pilihan kemaren.  Bagaimana kita besok ditentukan pilihan hari ini.  Pemadaman listrik yang menyebabkan banyak kesulitan pada berbagai pihak sebagaimana yang kuceritakan tadi hanya satu diantara banyak kambing yang sengaja kita ternakkan sehingga menunda keberhasilan.

Dalam salah satu pertemuan dengan seorang Ustadzah, beliau mengatakan pada jamaahnya bahwa saat seorang ibu menjadikan anak, istri menjadikan suami dan urusan rumah tangganya sebagai alasan untuknya tidak menjalankan amanah maka anak, suami dan urusan rumah tangganya telah ditransformasikannya menjadi kambing.  Saat seorang mahasiswa menjadikan studinya sebagai alasan untuk menunda kebaikan, orang sakit dengan sakitnya, yang merawat dengan yang dirawatnya, kekurangan-kekurangan dirinya…saat itulah kambing-kambing telah beranak-pinak.  Kambing hitam.

So, saatnya kita berhenti beternak kambing hitam.  Kambing yang satu ini takkan memberikan keuntungan apa-apa selain hati yang menutup-nutupi kebenaran dari sebab kegagalan kita.  Menjadikan pembenaran atas setiap tindakan kita yang kurang tepat.

Sesungguhnya saat meluangkan waktu setiap hari atau setiap minggu untuk berevaluasi, jauh di lubuk terdalam selalu ada kata hati yang jujur menyuarakan sebab musabab kegagalan maupun keberhasilan kita.  Saatnya mulai mendengarkan dengan hati-hati, menilik kembali setiap target dan mulai melakukan aksi dengan resep tiga As tadi.  Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.  Jangan beri kesempatan lagi pada kambing hitam untuk menunda kesuksesan kita besok.  Hari ini kita memilih.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar Ra’d : 11).

*Ditulis setelah mencuri kesempatan listrik dinyalakan saat subuh…^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s