Jilbab Rontgen

Chibi-Muslim-Lucu“Nona Shabrina…silahkan ganti pakaiannya di sana…”, petugas laki-laki itu mempersilahkanku menuju kamar ganti.  Sebelum masuk aku tersenyum dan berkata, “Bisakah saya pake pakaian sendiri?  Nggak ada kancing, risleting, manik dan sejenisnya kok!”, aku menawar.  Dia mengangguk dan menambahkan, “Kalo pake kalung tolong dilepas juga ya?”.  Sipp lah, tak masalah!

Sejak Ramadhan kemarin aku mengalami gangguan pernafasan.  Syawal Sembuh dan sekarang kumat lagi.  Daripada mengganggu aktivitas, kuputuskan mencari tau sebabnya pada yang ahli.  Datanglah aku antri di klinik penyakit dalam.  Singkat cerita, dokter pun menyuruhku mengunjungi bagian Radiologi dan dirontgen.  Ah, sudah kuduga!  Dan begitulah kejadiannya…aku dirontgen dengan pakaian pribadi yang memenuhi syarat petugas.  Heran?  Yep, aku sengaja menyiapkan pakaian ini buat rontgen.  Penasaran kan?  Hehe….

Jilbab rontgen ini punya sejarah lho….  Setelah memakai kerudung dan jilbab, pertama kali rontgen semata-mata demi syarat pekerjaan yang diminta dalam medical chek up.  Aku dan rekan-rekan seperjuangan pun janjian di rumah sakit.  Tes darah dan urine sih tak masalah.  Tapi rontgen dan EKG lain lagi kisahnya!

Alhamdulillah, EKG dimudahkan dengan diberikan pelayanan oleh perawat perempuan.  Yah, tentu tak langsung ada.  Awalnya petugas jaganya laki-laki namun aku pasang tampang memelas dan bilang, “Mas, bisa nggak…minta dilayanin sama petugas perempuan aja?”Si Mas yang tak kuingat lagi namanya itu mengangguk bijak dan langsung mengangkat telfon guna memanggil rekannya.  Alhamdulillah, tiga puluh menit kemudian petugas perempuan dengan kerudung putih bersih itu pun datang dan membantu kami.  Ah, senangnya!  Teman-temanku yang awalnya sudah menyiapkan mental di rumah, lega luar biasa.  “Untung…kita ngikut kamu, Brina!”, komentar mereka.

Tapi lain lagi kisahnya di bagian Radiologi“Silahkan ganti pakaian di sana, Mbak”, ujarnya.  Melihat model pakaiannya, aku sungguh tak tega.   Pakaian berlengan pendek yang menutupi bagian atas tubuh itu sangat tipis.  Kawan-kawanku sih nggak akan mempermasalahkan karena toh setidaknya masih berpakaian.  Namun aku yang sudah terbiasa menutup aurat secara sempurna merasa kurang nyaman.

Namanya juga usaha, aku pun menanyakan, “Bisakah kalo pake pakaian sendiri?”.

“Ada risleting atau kancingnya nggak?”, tanyanya balik.

“Ada”, jawabku polos.

“Berarti nggak bisa!  Ganti aja pakaian yang di dalam!”, sahutnya lagi.

”Kalo petugas yang perempuan ada?”, tanyaku penuh harap agar dikabulkan seperti di EKG.  Apa yang terjadi saudara-saudara?

“Nggak ada!”, jawabnya ketus dan ujung-ujungnya aku pun dimarahi habis-habisan.

Aku diam saja mendengarkan omelan panjangnya itu.  Namun tak kunjung melepas jilbab sementara teman-temanku satu per satu telah selesai dirontgent.  Sambil memandangi dengan tatapan kasihan, ”Udah, pakai aja!  Nggak lama kok…”, ujar salah seorang temanku sementara yang lain mengamini.  Petugas perempuan yang awalnya berseliweran saat kami datang tadi tiba-tiba menyingkir, tersisa petugas lelaki lainnya yang diam-diam menghampiriku.  Mungkin karena kasihan dia pun mengatakan, “Udah Mbak, kalo mau…balik aja lagi besok.  Nggak mungkin Mbak ngotot minta dirontgen kalo pakaiannya ada kancing atau risleting gitu”, ujarnya.

Oh, jadi masalahnya adalah ornamen-ornamen itu?  Aku pun memperjelasnya.  “Jadi kalo saya pakai pakaian yang nggak ada kancing, risleting, manik dan temen-temennya boleh?”, yakinku.  Dia mengiyakan diam-diam.  Dan aku tersenyum penuh kemenangan.  Aku tahu harus ke sini dengan pakaian apa!

Jilbab buatanku sendiri untuk olahraga.  Saat prajabatan, kan ada sesi senamnya tuh!  Tak mau hanya berkostum sepasang jaket dan celana training, aku merancang sendiri pakaian olahragaku.  Atasan kaos yang adem sesuai ukuranku, kusambung dengan kain yang lumayan menyerap keringat.  Bagian bawah yang lebar akan memudahkan gerakku saat senam.  Trainingnya gimana?  Celana di dalam jilbab sementara jaket di luar jilbab.  Jadi meskipun mau olahraga, kalau di lapangan begitu harus tetap pakai jilbab dong!  Hehe…^_^

Aku pun datang keesokan harinya ke bagian Radiologi dengan pakaian itu.  Petugas yang marah kemarin begitu melihatku langsung minggir tak mau melayani.  Terpaksa petugas laki-laki yang kemarin memberi arahanlah yang akhirnya maju melayaniku.  Adapun si temannya tadi mungkin sudah bete dengan tipe custumer sepertiku?  Ah, nasib!  Hehe….  Sambil bekerja, si petugas itu menceritakan alasan dibalik tak bolehnya pakaian rontgen ada ornamen-ornamen yang disebutkan sebelumnya.  Aku mendengarkan dengan khidmat.  Ah, enaknya kalau petugas kesehatan justru memberikan edukasi pada masyarakat seperti ini.  Jadi aku tetap bisa nyaman dengan syariat dan mereka pun bisa menjalankan tugas dengan baik.

Tahun berikutnya jilbab itu dipakai Adel dan beberapa orang lainnya untuk keperluan yang sama.  Prasyarat pekerjaan.  Tapi mereka tak lagi dimarahi karena sudah dapat tips supaya berhasil melewati tiap bagian dengan nyaman.  Jika diangkatanku hanya beberapa orang yang dilayani petugas EKG yang perempuan, hingga ada candaan, “jantungku berdetak nggak normal gara-gara diliatin petugasnya”.  Alhamdulillah, angkatan seterusnya justru berkata…”Oh, ternyata bisa minta dilayanin petugas perempuan ya?”.  Dipraktekkan tipsnya dan berhasil!  Maka sebagian mereka pun tenang melewati EKG.

Sebenarnya sih…dalam masalah kesehatan, diperbolehkan bagi perempuan membuka auratnya di  hadapan dokter atau perawat laki-laki sebatas yang diperlukan dalam pengobatan.  Namun bagaimanapun, tentu lebih nyaman jika pasien perempuan dilayani dokter atau perawat perempuan.  Itu sih menurutku.  Jadi kalau masih bisa pake jurus memelas minta dilayani petugas perempuan atau “diakali” seperti jilbab rontgen tadi, aku akan melakukannya seperti hari ini.  Bagaimana denganmu?

1Jilbab = gamis/jubah yang terulur dari atas hingga mata kaki, tidak tipis dan ketat (QS. Al Ahzab :  59).  Berbeda dengan kerudung/khimar yang merupakan penutup kepala (Lihat QS. An Nur :  31).

*Ditulis setelah pulang dari rumah sakit

One thought on “Jilbab Rontgen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s