Mengikat Ilmu

menuntut-ilmuBelajar menulis itu awalnya dengan mengamati, meniru lalu memberi sentuhan baru hingga akhirnya kita berhasil menemukan bentuk khas yang sesuai dengan gaya kita masing-masing (Shabrina).

“Wow…siapa kamu, Brina…sok ngomongin tentang menulis segala?!”. Ada yang komentar begitu?  Kalau ada, baguslah…jadi aku bisa melanjutkan kisah ini, hehe…^_^

Entah karena terlalu sensitif atau memang aku kebetulan bertemu seseorang yang berpikiran negatif dan pikiran itu mempengaruhiku, maka semangatku menulis yang awalnya sudah senin kamis alias tersengal-sengal menjadi semakin kritis.  Ibarat pasien berpenyakit berat yang sedang koma dan tinggal menunggu ajal.  “Ah, sudahlah!  Jika begitu lebih baik aku tak menulis saja!”, pikiran ini sempat terbetik di benakku.  Komentarnya tentang tulisan-tulisanku masih terngiang jelas.  Beberapa hari setelahnya aku bahkan masih merasa tak nyaman dengan kejadian itu.

Hingga akhirnya aku mencari kenyamanan dengan bereksperimen di dapur.  Yah…masing-masing orang kan punya cara sendiri buat menyembuhkan diri.  Nah, ini salah satu dari sekian banyak yang biasanya kulakukan.  Nggak usah dikasih tahu aku masak apa ya?  Ntar tulisannya malah jadi resep makanan, hehe…^^V

Kembali ke cerita awal, aku mulai ngubek-ngubek resep masakan dari sohibku, Chef Naily.  Dicatat pada sebuah buku ajaib (oleh-oleh Adel waktu dia jalan-jalan ke Bandung dua tahun lalu) yang kuisi rekaman perjalananku dari A sampai Z.  Target kegiatan, kepanitiaan acara, belanja kantor sampai catatan kajian.  Aku menyebutnya buku pintar Shabrina, wkwk…^_^

Kebayang dong campur aduknya tuh buku?  Meskipun begitu, buku ajaib itulah yang membantuku menemukan kembali semangat untuk menulis.  Tepatnya sih…isi catatanku yang ada di dalamnya.  Aku menuliskannya dalam momen refresh kitab yang kami kaji.  Ustadz yang mengisi kajian hari itu mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan tulisan!  Imam Nawawi dan imam-imam lainnya menuliskan ilmunya untuk semakin mengokohkan ilmunya.                  Ayo menulis!”.

Nah, selesai membaca kalimat ini…mengalir perasaan hangat di dadaku.  Ah ya…dua tahun lalu aku mulai mempublikasikan tulisan dengan motivasi berbagi atas apa yang kupelajari.  Dan seperti yang sering kukatakan, aku belajar banyak hal dari banyak orang.  Mengamati masih jadi aktivitas terbesarku.  Kadang kala aku meniru gaya penulis favoritku atau meniru tema yang membangkitkan inspirasi bagiku.  Aku memberinya beberapa sentuhan.  Modifikasi alur, menambahkan hal-hal yang kuanggap perlu atau mengganti gaya bahasanya agar tak terlalu kaku dan lebih ringan dibaca.  Secara tak langsung, aku mengungkapkan isi bacaanku, isi pelajaranku tentang kehidupan, nilai-nilai juga prinsip yang kuanut.  Ini latihan mengeluarkan kembali ilmu yang diserap.  Ini ajang untuk menunjukkan pada guru-guruku tentang keseriusan belajar.  Bentuknya tergambar dengan amal yang bersungguh-sungguh termasuk mengikatnya.  Ya, mengikat ilmu dengan tulisan!

Meskipun di awal terasa inkonsistensinya, baik dari sisi alur, isi hingga gaya bahasanya namun aku berharap akhirnya aku menemukan jati diriku sendiri dalam menulis.  Tulisan yang benar-benar khas gayaku.  Tak sama seperti penulis favoritku.  Tak kalah memberi inspirasi bagi sekelilingku.  Pada akhirnya, semua tulisan ini hanyalah salah satu bagian dari proses pembelajaranku.  Itu saja.

Orang-orang hebat di masa lalu telah mengikatkan ilmunya dalam tulisan.  Kita mengenal karya-karya besar mereka yang melegenda.  Kebesaran karyanya bukan hanya karena kualitas, namun juga karena itu merupakan dokumentasi perjalanan hidup mereka yang luar biasa.

Tersebutlah Imam Nawawi yang meninggalkan banyak karya ilmiah terkenal.  Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya dalam bidang hadits :  Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir; dalam bidang fiqih :  Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’; dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat; dan dalam bidang akhlak :  At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.

Kitab-kitab ini dikenal secara luas dan banyak memberi manfaat bagi umat.  Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah SWT, juga keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu.  Disebutkan bahwa beliau menghadiri dua belas halaqah dalam sehari dan menghafal banyak hal.  “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].

Imam Nawawi telah mencatat berbagai ilmu yang beliau terima saat belajar.  Dan hasilnya, setelah menginjak usia tiga puluhan beliau pun mulai menulis karya-karyanya yang mengagumkan.  Beliau menulis dengan bahasa yang mudah, argumentasi kuat, pemikiran jelas dan objektif tentang pendapat para ahli fiqih.  Maka tak heran hingga hari ini, karya-karya Imam Nawawi mendapat perhatian besar di kalangan kaum muslimin.

Atau kegemilangan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir (sebuah harokah Islam terbesar di dunia).  Kehidupannya telah dihabiskan untuk mengajak manusia melaksanakan syariat Islam dan menegakkan sebuah institusi yang akan mengokohkan keberislaman mereka, Khilafah Islamiyah.  Sepanjang masa hidupnya, beliau telah melakukan berbagai kegiatan politik yang luas.  Dan hasil yang paling gemilang dan bisa kita lihat saat ini adalah warisan beliau berupa sebuah partai politik yang kuat dan tersebar di seluruh penjuru dunia.

Dan tak cukup hanya itu, puluhan buku-buku yang ditulisnya bisa kita pelajari hingga saat ini.  Nizhamul Islam, Taqathul Al Hizby, Nizhamul Hukmi fil Islam, Nizhamul Iqtishadi fil Islam, Syakhshiyah Islamiyah 1, 2 dan 3 adalah sekian diantaranya.  Kitab-kitabnya dikaji oleh para aktivis di berbagai belahan dunia.

Aku pastinya belum sekeren Imam Nawawi maupun Syaikh Taqiyuddin An Nabhani.  Wuih, jauh lah levelnya!  Kamu pasti bisa menilainya dengan cepat!

Aku hanya seorang pembelajar yang mencoba mengikatkan ilmu agar semakin mantap saat beramal, teringat kembali jika lupa dan membaginya pada manusia lain.  Aktivitas yang memberi harapan agar bukan hanya diri sendiri yang merasakan manfaat pelajaranku namun juga orang-orang yang ada di sekitarku.  Hmmm…semoga!

Jadi selamat tinggal komentar negatif yang melemahkan, selamat datang semangat baru mengikat ilmu.  Semoga ini menjadi indikasi pengamalan sabda Rasulullah saw, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

*Jazakallah khairan buat Naily atas resep “penghilang nyerinya” juga Adel yang memprasaranai buku pintarku…^_^

4 thoughts on “Mengikat Ilmu

  1. Rizki Handayani berkata:

    bagus ^_^
    aku ingin belajar untuk bisa menulis dg konsisten,
    tidak hanya disaat” tertentu saja,
    tp masih sulit,
    gimana ya caranya ?

    • shabrinasiprincess berkata:

      Nah, itu juga pe-er ku, sista…^_^

      Hmmm…kayaknya kalo mau konsisten, perlu dijadikan habits kali ya? Program menulis setiap hari? Setiap minggu? Ato setiap bulan? Hehe…(*Tuing…Brina lagi menularkan kemalasan neh kalo sarannya = tiap bulan, hehe…)

      Tapi selain hobi…bagiku pribadi menulis merupakan latihan komunikasi. Selain komunikasi verbal yang kita lakukan sehari-hari, komunikasi visual dengan gambar dan tulisan juga memberi makna yang dalam diantara orang-orang yang menjalinnya. Banyak pesan moral, hikmah maupun nilai yang kita transfer di dalamnya. Terlebih dengan keunggulan bahasa tulisan…jangkauannya luas dan mampu hidup lebih lama dibanding bahasa lisan. Motivasi agar hidup lebih lama melampaui usia biologis kita juga bisa dipelihara. Imam Nawawi dan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani telah membuktikannya. Jadi, yuk kita tetep semangat!^_^

      • Rizki Handayani berkata:

        Hehe,,,, :’)
        lagi coba dilatih nulis tiap hari sih,,,
        emm, tapi nulis catatan harian aja dulu dech,
        masih satu topik ( misalnya kejadian yang berkesan di hari itu )
        cuma lebih sering, udah dipikiran banyak eh ditulis bingung
        -_- # payah aku
        kalo nggak ya, lagi mikirin apa harus langsung ditulis, takut lupa,
        kadang mau tidur malah terlintas kata-kata yg bagus,
        bangun lagi dech cuma buat nulis, hhhaaaahhaa
        :p
        aneh jg tuh ….. ckckck

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s