Islam Mencerdaskan Generasi

aisha_n_akid_by_saurukent-d4iecs8Sudah dua belas tahun sejak September selalu dikaitkan dengan tragedi runtuhnya gedung kembar WTC di Amerika Serikat.  Sejak itu pula, isu terorisme mengiringi dunia Islam secara keseluruhan.  Tudingan sebagai kaum ekstrimis, militan hingga teroris tak pelak dilekatkan pada diri kaum muslim, termasuk di Indonesia.  Terlebih pasca 911 tersebut, Indonesia “terbukti” menjadi sarang teroris.  Sebut saja pemboman Legian Bali, JW Marriot dan lain-lain.

Efeknya tentu bisa dirasakan semua pihak, demonologi Islam sebagai agama teroris ini telah menimbulkan islamophobia tak hanya di kalangan non muslim, bahkan kaum muslim sendiri.  Muslim yang awalnya ingin nyunnah dengan memanjangkan janggut kini segera mencukurnya karena khawatir dicap komplotan teroris.  Muslimah yang bangga dengan kerudung lebar pun tak ayal memendekkannya agar tidak dikaitkan sebagai istri teroris.  Para orang tua ramai-ramai menasihati anak-anaknya agar tak bertingkah terlalu fanatik dengan keislamannya.  Terlebih setelah terakhir kali ditengarai salah satu anggota teroris merupakan mantan aktivis kerohanian (rohis).  Guru-guru, merasa wajib meninjau ulang keberadaan rohis di institusi pendidikan mereka.  Takut anak didiknya mengalami cuci otak dan menjadi teroris.

Sikap seperti ini merupakan bukti bahwa kaum muslim di satu sisi termakan skenario demonologi Islam (anggapan bahwa Islam adalah agama setan) dan di sisi lain menunjukkan ketidakpahaman kaum muslim akan agamanya sendiri.

Sungguh disayangkan jika keadaan ini terus berlanjut.  Generasi muslim berkualitas tentu hanya akan tinggal nama, yang tersisa hanya generasi muslim miskin prestasi dan gemar maksiat seperti yang banyak kita saksikan.  Fenomena tawuran pelajar meningkat dari 96 kasus pada tahun 2011 menjadi 103 kasus pada tahun 2012 (Kompas.com, 27/09/2012).  Pornografi juga tak lepas dengan pelaku utama yang berusia remaja.  Seks bebas dan pelacuran di bawah umur pun merebak.  Bahkan dikabarkan, seorang siswi kelas 6 SD di Depok, R (12) berhubungan intim dengan pacarnya, SY, yang berusia 21 tahun (Okezone.com, 25/5/2012).  Ditambah lagi dengan kasus aborsi dan penyalahgunaan narkoba yang meningkat pesat.  Jelas hal ini disebabkan generasi jauh dari nilai Islam.

Padahal seperti yang kita sadari bersama, kejayaan dan kehancuran suatu bangsa akan tergantung dari kualitas generasinya.  Hal mendasar yang menentukan kualitas generasi adalah pemikirannya.  Pemikiran cemerlang akan mengantarkan suatu bangsa untuk mencapai keunggulan dan kejayaan, memimpin umat manusia pada kebaikan dan mensejahterakan kehidupan.

Sejarah telah mencatat kegemilangan generasi berkualitas yang berhasil diwariskan oleh peradaban Islam, agama paripurna dengan sistem hukum yang berasal dari Allah SWT, sang Maha Pencipta.  Islam terbukti mampu membuat generasi memiliki pemikiran dan pola sikap yang distandarkan pada aturan Allah SWT sehingga terbentuk generasi hanif yang mampu membawa kemaslahatan bersama.

Sebut saja Abu Ali al Hassain bin Abdillah bin Sina (Ibnu Sina), salah seorang ilmuwan terbesar di bidang kedokteran yang kita kenal pemikirannya paling banyak berpengaruh di Barat.  Ibnu Sina muda menerima pendidikan awalnya di Bukhara.  Menjelang usia sepuluh tahun ia telah menjadi orang yang hafal Al Qur’an dan memahami berbagai ilmu alam.  Meskipun muda, ia telah memperoleh gelar keahlian dalam bidang ilmu kedokteran yang membuatnya dikenal luas.  Pada usia tujuh belas tahun, ia berkesempatan mengobati Nuh bin Mansur, penguasa Bukhara yang sakit dan tidak memiliki harapan lagi.  Di kemudian hari, pemuda ini berkembang menjadi pribadi luar biasa dengan menoreh banyak prestasi dalam hidupnya.  Ia dikenal sebagai fisikawan, filsuf, penulis ensiklopedia, matematikawan dan astronom terkenal di zamannya.

Sumbangan terbesarnya terhadap ilmu pengobatan adalah  bukunya Al-Qanun, dikenal sebagai “Canon” di Barat.  Qanun fi at-Tibb merupakan ensiklopedia tentang pengobatan yang memiliki lebih dari jutaan entri kata.  Buku tersebut meninjau seluruh pengetahuan pengobatan yang diperoleh dari sumber-sumber kuno dan muslim.  Pendekatannya yang sistematis membuatnya mampu menggantikan buku Hawi karya Razi, buku Maliki karya Ali bin Abbas bahkan karya dari Galen dan mampu menduduki posisi puncaknya selama enam abad.  Belum lagi karya-karya fenomenal lainnya.

Ini baru satu nama yang memberikan kontribusi besar dalam peradaban Islam yang cemelang.  Masih terdapat ratusan ilmuwan lainnya dengan kualitas seperti Ibnu Sina dalam sejarah Islam.  Hal ini tentu sangat bertentangan dengan remaja yang dibentuk oleh sistem sekular saat ini yang cenderung rusak di banyak aspek.  Oleh karena itu, merupakan suatu keniscayaan untuk mendidik generasi hanya dengan Islam.

Kesempurnaan Islam telah terbukti mampu merubah generasi yang tadinya buta huruf dan bodoh menjadi generasi utama dan pelopor kemajuan kehidupan.  Bahkan mampu membangun sebuah peradaban manusia yang khas, yang menyinari hampir seluruh bangsa di dunia.  Kejayaan yang bertahan lebih dari sepuluh abad.

Faktor paling menentukan kualitas generasi tentunya keimanan dan keilmuannya, seperti yang kita lihat pada sosok Ibnu Sina.  Oleh karena itu,  Islam tidak mengenal dikotomi pendidikan seperti saat ini.  Pendidikan generasi dalam pandangan Islam tidak hanya ditargetkan untuk mencapai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan saja.  Tetapi yang menjadi target utama adalah mencetak generasi dengan keimanan yang kokoh, yang dengan dorongan keimanan tersebut lah maka teknologi dan ilmu pengetahuan dikaji, dikuasai dan dikembangkan.  Artinya keimanan menjadi dasar dari keilmuan seseorang.

Gambaran produk generasi cerdas dan berkualitas dalam Islam bisa kita lihat memiliki ciri sebagai berikut :

  1. Berkepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyah), yaitu generasi yang memiliki keimanan kuat dan bertekad menjadikan aqidah sebagai landasan juga standar satu-satunya dalam pola pikir dan pola sikap.
  2. Berjiwa pemimpin.  Islam datang dengan seperangkat aturan yang sempurna dan universal, sehingga menjamin terselesaikannya seluruh problem kehidupan manusia hingga akhir zaman.  “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (TQS. Al-Anbiya : 107).  Karakter Islam yang demikian telah mendorong umatnya untuk menyebarkan dan memperjuangkan Islam, bukan hanya memperbaiki individu tapi juga masyarakat, negara dan dunia secara keseluruhan.  Hal inilah yang menumbuhkan tanggungjawab dan kepemimpinan dalam diri generasi Islam.  Generasi yang tidak hanya mementingkan kesenangan hidup di dunia dengan mengejar materi, bermain dan hura-hura dengan gaya hidup materialis-hedonisnya.  Tapi sebuah generasi yang serius berjuang demi kemuliaan Islam.  Generasi yang memberikan keteladanan dan mengajak manusia untuk mengambil jalan keselamatan.
  3. Mampu mengarungi hidup berdasar aqidah Islam.  Generasi yang mendapatkan pembinaan untuk mengokohkan aqidah Islam dalam dirinya akan mampu mengarungi medan kehidupan dengan penuh keberanian.  Tidak ada yang ditakuti kecuali murka Allah.  Hidupnya hanya diabdikan pada Allah, pantang putus asa dan menyerah pada masalah yang melandanya.

Dengan pemahaman hidup yang benar dan sikap hidup totalitas sesuai petunjuk syariah Islam, insya Allah generasi muslim akan menjadi bintang paling terang di langit kehidupan.  Generasi pertama umat ini yaitu generasi para sahabat telah membuktikannya.  Mereka mampu mengungguli peradaban dua negara adikuasa saat itu, Persia dan Romawi.  Mereka mampu membuat tunduk kekuatan Romawi hingga ke Konstantinopel dan menyatukan berbagai bangsa di bawah panji Islam.  Begitu pula generasi-generasi sesudahnya.  Tak heran ratusan sosok Ibnu Sina menerangi gemilangnya peradaban Islam.

Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab bersama (orang tua/keluarga, masyarakat dan negara) untuk membentuk generasi berkualitas.  Keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak-anak yang menanamkan prinsip keimanan, masyarakat berperan sebagai kontrol sosial dan negara menyediakan fasilitas penyelenggaraan pendidikan generasi yang berasas Islam.  Jadi, tak perlu takut pada Islam.  Karena Islam terbukti mampu mencerdaskan generasi.

*Tulisan ini dimuat tanggal 16 september 2013  di rubrik opini Borneo News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s