Beda Selera

imaan___doodle_i_by_spinning_stars-d4ydy9xBuku.  Satu kata ini bermakna luar biasa bagiku.  Jendela pengetahuan, hiburan hingga sarana dakwah.  Karenanya, diantara semua benda yang kumiliki…dialah favoritku.  Dan kebayang dong, akhirnya aku akan kemana jika ada waktu kosong?  Yep, toko buku!  Book City, Gramedia, dan yang lainnya…tak pernah dilewatkan.

Nah, masalahnya…aku pindah ke tempat dimana jarak antara tempat tinggal dan tempat favoritku itu sangat-sangat jauh dan tak memungkinkanku untuk ke sana setiap saat kuinginkan.  Fiuhhh…  Akhirnya daripada tak ada tambahan koleksi (Pssttt…aku kan punya cafe buku yang perlu tambahan koleksi setiap bulan), aku pun beralih pada belanja buku online.  Lihat-lihat sampulnya, baca sekilas sinopsisnya trus masukin deh ke keranjang belanja.  Sayangnya, lewat pengiriman apapun tetap aja nyampenya lebih dari seminggu sejak uang ditransfer.  Lama banget kan?

Alternatif lain yang lebih cepat?  Ada!  Nitip teman trus dikirim, hari ini beli…besok pagi udah nyampe rumah.  Tapi masalahnya nggak semua buku pesananku ada.  Jadi, sisanya aku akan membebaskannya memilihkan buku yang memenuhi kriteriaku.

Kriteria apaan sih?  Mungkin kamu bingung sekaligus penasaran.  Tapi aku benar-benar menetapkan kriteria koleksi bukuku.  Beberapa waktu lalu, dimana salah satu penerbit melelang buku-bukunya, aku pun nekad meminta seorang teman memilih beberapa buku.  Datanglah barang yang ditunggu kemaren via pengiriman ekspres.  Hasilnya?  Dari tujuh belas buku, hanya sembilan yang lolos sensorku.  Delapan sisanya nggak akan dipajang.  Tanpa membuka sampul plastiknya aku sudah tahu isinya.  “Kok buku barunya diterlantarkan gini?”, tanya Adel bingung saat main ke rumah.  “Oh, itu roman picisan!”, jawabku.  Untung aja itu buku diskonan, coba kalo nggak bisa gawat, hehe…^^V

Aneh?  Terserah lah!   Bahkan dalam membaca dan mengoleksi buku…aku punya aturan main sendiri.  Saat pertama kali merintis usaha cafe buku, istri seorang kolega Adel di kantor yang ingin pindah tugas (dan kebetulan tahu rencana usahaku), menawarkan rental bukunya dengan harga yang lumayan murah.  Bisa dicicil pula karena kebetulan dia percaya Adel dan aku.  Kebayang dong gimana senangnya?  Saking semangatnya, hujan badai pun kami terjang demi melihat koleksi buku beliau (lebai mode on..^^V).

Yah, pokoknya…hujan super lebat, ditambah petir juga nggak membuat kami membatalkan janji.  Tapi sayangnya, isinya tak sesuai dengan standarku.  Di awal kesepakatan usaha dengan Adel, aku mengatakan padanya bahwa cafe buku kami hanya akan menyediakan buku-buku berkualitas, sebagian besar tentunya bernuansa Islam.  Dan begitulah…Kho Ping Ho dicoret, komik serial cantik yang memenuhi satu lemari besar dicoret, novel-novel roman picisan dicoret dan lebih banyak lagi yang dicoret dari daftar.

Adel berbisik ragu-ragu…”Gimana bukunya?”.  Aku memberi isyarat..”Tidak lolos sensor”, dan dia tersenyum menyetujui.  Begitulah akhirnya, aku hanya mengambil beberapa buku.  Kumpulan cerpen Islami, novel Islami, juga beberapa buku yang kunilai “aman” bagi pembacanya.  “Maaf Bu, bukunya yang kami ambil ini aja…!”, ujarku akhirnya.

“Lho…kenapa?  Komik serial cantik dan Kho Ping Ho itu banyak yang suka lho…”, jawab beliau heran.  Lalu beliau membukakan catatan peminjaman konsumennya yang membuktikan kebenaran ucapannya tadi.  Berikut beberapa kategori lainnya yang banyak diminati pembaca.  Apalagi jika ditambah kemudahan yang beliau berikan pada kami, boleh dicicil kapanpun kami punya uang.  Dan fasilitas seperti lemari, meja dan alat-alat lainnya bisa kami miliki tanpa membayar alias gratis.  Hmmm…menggoda bukan?

Meskipun begitu, aku tetap pada keputusanku sejak awal.  Saat itu aku hanya menarik nafas panjang dan berkata pada Adel, “Sayang ya…bukunya nggak sesuai sama selera kita.  Coba kalo klop, udah jadi milik kita deh 5000 lebih koleksinya”.

Begitulah, beda selera itu membuat kami melewatkan kesempatan membuka cafe buku lebih cepat dari rencana.  Bahkan di hari pertama buka, adek-adek yang menyerbu datang…sebagian pulang dengan kecewa.

Yah, kok nggak ada serial cantik sih?”, komentarnya.

“Bukunya gini aja?  Kok tebal semua?”, komentar yang lain.

“Kak, selain Conan…komiknya apa aja?  One Peace ada?”, tanya satunya lagi.

Perkataan istri kolega Adel ternyata tak salah.  Buku yang dia sebutkan memang dicari.  Tapi aku tak menyesali keputusanku.  Hingga sekarang, aku masih ingin buku yang kusediakan dan dibaca orang, bukanlah bacaan yang miskin ilmu alias tak bergizi.

Aku suka mengibaratkan buku seperti makanan.  Jika kita memakan makanan tak sehat, apa jadinya tubuh kita beberapa puluh tahun ke depan?  Buku merupakan makanan kepala kita.  Perlu menjaga kebaikan dan kesehatannya.  Jadi, meskipun novel bergenre roman picisan, komik serial cantik dan buku yang sejenisnya adalah favorit pembaca, aku tetap tak akan menyediakannya di sini.

Aku ingin menjadi penyedia makanan sehat bagi isi kepala pelangganku.  Bacaan yang insya Allah berkualitas meskipun resiko yang kuhadapi adalah harga lebih mahal saat aku membelinya dan peminat yang membacanya sedikit.  Tapi aku yakin, suatu saat pasti akan ada yang tahu.  Buku yang kupilih, bukan buku biasa.  Dia benar-benar jendela ilmu pengetahuan, hiburan yang bermanfaat sekaligus sarana dakwah.

Cita-citaku memang menjadi pengusaha sukses.  Nilai materi tentu menjadi nilai yang ingin diraih saat berjual beli.  Tapi bukan berarti aku akan fokus pada menyediakan keinginan konsumen tanpa memikirkan lagi jualanku merusak atau tidak.  Aku ingin menjadi seperti lebah, menyantap makanan yang baik dan mengeluarkan sesuatu yang baik dan bermanfaat pula.  Dan jika hinggap di atas dahan atau di atas bunga dia tidak akan mengoyak-ngoyaknya.  Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh baginda Rasulullah saw bahwa perumpamaan seorang mukmin itu sebagaimana lebah.  Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Dan aku juga meyakini bahwa buku adalah sebaik-baik teman.  Ia akan membuat kita bahagia hanya dengan menyempatkan diri membacanya dan mengembangkan otak kita dengan kekuatan hikmah-hikmahnya.

Nggak percaya?  Coba deh buktiin!  Insya Allah jika kamu membaca buku berkualitas maka akan mendapat beberapa manfaat ini:

Menambah keimanan

Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan daya ingat serta pemahaman

Mengusir  perasaan  was-was, kecemasan dan kesedihan

Melatih lidah untuk berbicara dengan baik

Mengembangkan akal dan mencerahkan pikiran

Mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain, kebijaksanaan kalangan bijak bestari dan juga pemahaman para ulama

Mematangkan kemampuan seseorang untuk mencari dan memproses pengetahuan untuk mempelajari pengetahuan yang berbeda serta penerapannya dalam kehidupan nyata

Membantu pikiran agar lebih tenang, membuat hati agar lebih terarah dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma.

So, jangan ragu memilih buku berkualitas sebagai teman dudukmu.  Sepakat?  ^_^

4 thoughts on “Beda Selera

  1. lazione budy berkata:

    Sepakat.
    Beli online ataupun nitip teman, sensasinya berbeda dengan kita datang langsung ke tumpukan buku yang ada. Aroma, suasana ataupun lingkungan dia antara buku jelas jauh lebih mendebarkan.

    Betapa terkucilnya kamu kalau sampai di kotamu tak ada toko buku. Berdoalah selagi bisa agar Tuhan meletakkan toko buku di sana. Sekarang!

    • shabrinasiprincess berkata:

      Yep, aku selalu berharap supaya toko buku super imut disini tambah gendut hingga bisa memuaskan kebiasaan cuci mata, baca buku gratisan dan memilih koleksi pribadi yang paling oke dengan mata kepala sendiri, hehe…^_^

      • shabrinasiprincess berkata:

        Maunya juga gitu, tapi…(nyari alasan ne, hehe…^^V), pertama modal usahanya lumayan besar tuh, trus juga yang kedua minat baca masyarakat masih rendah. Nah, karena belum bisa buka toko buku itulah akhirnya aku merintis…cafe buku. Buku-buku koleksiku dipajang buat disewakan. Ada juga sih disediakan buku yang dijual tapi jumlahnya masih terbatas dan biasanya buku khusus yang memang sudah ada pasarnya. Buku-buku agama buat ditawarkan ke pondok pesantren misalnya, buku-buku ilmiah yang menunjang bacaan siswa ato buku-buku kuliah, yang begitu doang! Kalo disediaiin yang lain, mereka pada nggak minat.

        Aku sih berharap masyarakat semakin tinggi kesadaran membacanya. Bukan cuma karena mo jualan buku, hehe…. Tapi karena buku = jendelanya dunia. Kita yang sudah jatuh cinta sama buku pasti bisa merasakan betapa besar manfaat buku itu buat pengembangan pribadi kita. Ya kan? ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s