Sedasawarsa Bersamamu

SMDC0011.JPG“Jika kau kehilangan…kau bisa mencariku dan akan menemukan aku dari waktu ke waktu” (Cindy Lauper, Time After Time).

Suatu hari aku dipertemukan dengan mereka.

Jihan

Seorang gadis dengan perawakan tinggi kurus mengenakan rok payung berwarna krem, hem panjang motif kotak-kotak berwarna cokelat dan kerudung putih datang ke hadapan kami.  Kedua tangannya dipenuhi piring berisi mi goreng.  “Yuk, kita makan dulu…”, ujarnya sambil membantu menyingkirkan buku dan kertas yang berserakan di atas meja.

Hari itu sudah pertengahan semester pertama perkuliahan.  Kami berkumpul dalam satu kelompok belajar yang kebetulan iseng-iseng kuikuti hanya untuk bersosialisasi dengan teman-temanku.  Sepuluh orang berkumpul dengan pembagian tugas :  dua orang diskusi dan memecahkan tugas kuliah, dua orang memasak mi goreng dan sisanya ngerumpi di sekeliling ruang tamu.  Hmmm…bukankah alasan kelompok belajar ini hanya formalitas buat nyontek tugas rame-rame?  Aku mengeluh diam-diam memperhatikan para perumpi yang tinggal menyalin hasil kerja kami sementara berterima kasih atas mi goreng buatan petugas konsumsi.  Sejujurnya…aku lapar, hehe….^_^

Sejak saat itu, aku mengingatnya dengan jelas.  Gadis dengan pembawaan sederhana, penyabar juga ringan tangan membantu teman.  Dan hari-hari berikutnya, ia masuk dalam hidupku sebagai salah satu sahabat terbaik.  Seseorang yang mendengarkan semua keluh kesahku, bahu-membahu berjibaku menaklukkan dunia mahasiswa yang ajaib, mengingatkanku saat salah dan bersabar dengan pembawaanku yang menurutnya selalu jadi “biang keributan”.

Memberiku kesempatan untuk mempunyai rumah kedua, tempat mahasiswa perantauan sepertiku mengungsi saat hari libur demikian pendek.  Menjelajah tempat baru, mengenang berbagai cerita lama, membuat skenario baru esok hari dan petualangan lainnya.  Kami berbagi banyak hal, memahami dalam banyak sisi dan saling mendukung dengan banyak cara.  Tak perlu bicara, hanya dengan tatapan mata saja kami sudah sama-sama tahu isi hati.

Hmmm…anehkah?  Begitulah aku dan dia.  Termasuk ketika kami sama-sama mulai bosan hura-hura di usia belia ini, pun akhirnya menemukan muara yang sama.  Sama-sama memutuskan berjilbab juga mengkaji Islam bahkan mendakwahkannya.  Bersama.  Ckck….^_^

 

Naily

“Ah, kada1 papa, Kak….  Sementara kami lihat orangnya dulu, hehe…”, ini adalah kalimat pertama yang ku dengar darinya.  Setelah mengikuti Mabit Pusat Pembinaan Keislaman di fakultas, kantukku tak tertahankan lagi dan aku bahkan tak mencoba menyembunyikannya dengan pura-pura mendengarkan.  Tidak.  Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja.

Peserta lainnya mulai kasak-kusuk meributkan sesuatu, tapi aku tak tertarik nimbrung.  Namun mendengar kalimatnya, aku refleks berpaling menoleh si empunya suara.  Yep, di sanalah dia!  Duduk di belakangku dengan senyum yang sangat-sangat manis dan terlihat anggun dengan kerudung lebarnya.  Aku mencoba mencari tahu sumber pembicaraan mereka, menguap sekali dan kembali menelungkupkan kepalaku.

Setelahnya, kami tak langsung dekat.  Tapi aku mengingatnya.  Juga senyumnya yang khas.  Dan baru setelah aku berubah sedikit manis (ngaku2.com, hehe…^^V) lalu aktif dalam kegiatan keislaman, kami mulai dekat.  Dia dipilih menjadi Ketua Divisi An Nisa, dan aku Koordinator Pembinaan dan Kaderisasi.  Ibarat dua orang yang saling mencintai tanpa sadar, mungkin begitulah yang terjadi pada kami.  Cie…hehe…^_^

Diawali dengan sama-sama terjun dalam aktivitas keislaman, berdiskusi banyak hal dan berujung pada perbedaan pendapat, saling kritik dengan kalimat lugas nan pedas, saling marah karena perkara yang bahkan sepele dan kembali tersenyum saat semua salah faham terselesaikan.  Kami begitu sering berperang namun juga saling mengandalkan.  Ironi yang lucu, bukan?  Tapi seperti itulah hubungan kami.

Meski begitu, bagiku…dia seseorang yang layak diikuti. Karakternya yang tegas dan memegang idealismenya mungkin bagi orang lain terlalu kaku, tapi aku menyukainya.  Setidaknya dia bukan tipe yang akan bermanis muka dengan kelalaian yang dibuat saudaranya.  Meski kadang dia juga harus mengalah dengan merelakan kamarnya yang super rapi untuk diobrak-abrik pengungsi, dia cuma bisa menggeleng sambil mengomeli “pengacaunya”.  Amanah dan tepat waktu telah jadi karakternya.  Intinya, dia…Miss Perfect!  (Ehm…dia gak baca tulisan ini, kan?  Hehe…^^V)

 

Adel

Nah, makhluk ajaib ini pertama kali kutemui saat dia melongok-longokkan kepala mengintip kamar kost-ku yang cantik.  Waktu itu, kami buka pendaftaran anggota baru (Yeee…dikira girl band apa?  Wkwk…^_^).  Kemudian kisah tentangnya yang SKSD dengan ibu RT kami, membuat lengkap asumsiku tentangnya.  Si jenius yang sering tulalit!  Ya ampyuuunnn, tak menyangka jadi teman sekamarku akhirnya, hehe….^_^

Si tomboi yang pemalu ini, seringkali membuat kami menarik nafas dalam-dalam.  Meski jenius namun kadang merasa dia hidup di dunia yang berbeda.  “Hahhh???  Kemana aja kamu, Del?”, ini keheranan standar saat kami tahu bahwa dia tidak tahu tentang perkara remeh-temeh sementara sangat memahami teori-teori fisika yang rumit.  Ckck…>.<

Entah kenapa dan bagaimana, aku juga tak ingat lagi ketika akhirnya kami jadi teman sekamar abadi (sampai lulus kuliah maksudnya), hehe….  Pembawaannya begitu bertolak belakang denganku.  Aku menyukai warna-warna cerah sementara dia hanya menginginkan warna hitam dan biru sebagai warna jilbab dan kerudungnya.  Aku ceriwis sementara dia pendiam dan cenderung tertutup.  Tapi justru perbedaan itu yang membuat semuanya jadi lebih indah.

Suatu hari dia mengatakan padaku bahwa dia marah denganku, namun begitu dia ingat kebaikanku…dia pun kembali menyayangiku.  Hmmm…jadi terharu…T_T

Gak Ada Loe, Gak Rame!

Masih ingat slogan iklan ini?  Seorang kakak pernah menyematkannya pada kami.  “Halah..kalian tuh pasti harus berempat!!!”, ujar beliau ketika kami berandai-andai mengikuti acara di luar kota.  Dan kami cuma bisa senyam-senyum geli.

Entahlah, itu sudah jadi kebiasaan kami.  Saat ada yang tak hadir, kami akan merasa ada yang kurang lengkap.  Bahkan rela menggosip bareng dengan satu orang memegang handphone hingga telinga panas bahkan ketiduran dengan handphone masih di tangan, hehe….  Ada-ada aja!

Jika ada dua orang berselisih paham, dua orang lainnya akan berupaya keras menanggung beban sebagai duta perdamaian dunia.  Jika ada yang sedih, kami akan menangis bersama.  Jika ada yang bahagia, kami pun membaginya.

Yep, pada akhirnya kami dipertemukan dan didekatkan karena aktivitas keislaman di era kemahasiswaan dulu.  Tak selalu manis memang.  Seperti air laut yang kadang pasang, sementara di lain waktu surut.  Ada konflik-konflik kecil maupun besar yang melilit persahabataan kami.

Dan sedasawarsa pun terlewati.  Dua masih setia di Banjarbaru sementara dua lainnya telah pulang kampung.  Juga dua diantaranya bahkan telah lebih dulu menikah.  Tak bisa seintens dulu bertemu :  nginap bareng, nonton bareng, merencanakan program dakwah bareng, ngaji bareng, ngerumpiin kucing tetangga bareng (Ups…^^V), dan bareng lainnya.  Namun tak pernah saling ketinggalan berita.

Adakah yang berubah?  Jika aku bilang tak ada, jelas bohong!  Ada peta keeratan yang berubah.  Ada perasaan yang dulu kadang tak kufahami ada pada sahabatku yang ini, saat ini tiba-tiba kufahami.  Ada kebiasaan lama yang tak lagi sama.  Dan lain-lain yang tak etis jika kusebut satu per satu, hehe…  Wajar!  Bukankah kami bertambah dewasa?

Yang tak berubah?  Tentu masih ada!  Jihan yang masih ingat lagu favoritku beserta khayalan “gilanya”, juga film “yang mematahkan hati sampai serpihannya melolosi lobang jarum”.  Hahhhh???  Film apaan tuh?  Penasaran kan?  Kasih tahu, nggak ya???  Hehe…. >.<

Naily yang masih rela diajak nongkrong di bubur ayam bandung pagi-pagi buta.  Mengejar soto plus sate di “Soto Anang” atau “Soto Bawah Jembatan”.  Belanja benang dan kain di Martapura.  Dan nyamperin toko langganan di pasar Banjarbaru.  Fiuhhh…pulang-pulang, dia gempor gara-gara diajak jalan keliling kota, hehe…^_^

Adel, masih sering ngintil dan menjadi kelinci percobaan mencicipi masakanku yang super ajaib.  Tapi setelah belajar sedikit resep Chef Naily, setidaknya ada yang enak kan?  Hehe…^^V

Dan yang paling penting, saat kami berkumpul, kekonyolan seperti dulu masih sering terjadi.  Seperti saat usia kami masih belasan tahun.  Seperti saat di pertama kami bertemu.

Catt :  1Kada (banjar) = tidak

*Ditulis setelah melihat rekaman video pantai tempoe doloe di handphone Naily.  Ah, dia masih menyimpannya.  Syukron, sista!  Itu mengingatkanku kembali akan cinta kita berempat.  Memang…gak ada loe, gak rame!  Luv u all…^_^

2 thoughts on “Sedasawarsa Bersamamu

  1. MinaUmmuZaidan berkata:

    Salam…Kaa ….hehe uln blogwalking beberapa hari ini sambil berkhayal punya blog juga ehhh ketemu blognya pian….. mudahan masih ingat ulun yaw…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s