Miss World dan Invasi Budaya Postmodern

CHINA-LIFESTYLE-WOMEN-MISS WORLDBeauty with a purpose, demikian slogan kontes kecantikan Miss World yang telah berjaya menjaring wanita-wanita cantik dari berbagai negara ini.  Sebagaimana santer diberitakan, menurut rencana, Indonesia akan menjadi tuan rumah acara Miss World 2013 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor dan Bali pada 28 September 2013. Kontes ratu kecantikan sedunia — diadakan sejak tahun 1951 — sudah umum diketahui menjadi ajang mengumbar aurat wanita, yang dalam salah satu acaranya terdapat sesi penampilan berbikini.

Apapun alasannya – apakah itu untuk menarik wisata, atau yang dinilai bukan hanya tubuh tapi juga kecerdasannya – tetap saja, unsur kecantikan menjadi ukuran pertama dan utama. Tidak mungkin wanita berkaki satu, cebol, bermata cacat, bisa lolos dalam kontes ratu-ratuan itu, walaupun ia cerdas luar biasa. Meski terdapat peserta kulit hitam, namun keseksian tubuh wanita itu tetap ditonjolkan.

Sekilas Sejarah Kontes Kecantikan

Kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Fakta uniknya, panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut adalah panitia yang sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan anjing, bayi, dan burung. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut pun akhirnya diuji-coba untuk manusia.

Meskipun menuai kontroversi, pagelaran kontes kecantikan di dunia tidak serta-merta mati.  Sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali. Kontes ini awalnya bernama Bikini Contest Festival, kemudian berganti nama menjadi Miss World. Jadi, Miss World adalah kontes kecantikan termasyhur yang tertua di dunia karena mampu menyedot perhatian penonton yang jumlahnya mengalahkan even Olimpiade dan Piala Dunia.

Saat Eric Morley meninggal, pagelaran tersebut diteruskan istrinya, Julia Morley.  Di tangan wanita ini, Miss World Organization makin berkembang menjadi sebuah bisnis global.  Berpusat di London, ia melebarkan sayap dengan membuat waralaba ajang tersebut dan dijual ke 130 negara lainnya di dunia.   Demi meredam protes dari berbagai kalangan yang menilai kontes ini hanya mengeksploitasi perempuan, ia memunculkan konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian).

Setelah Inggris cukup sukses menggelar kontes kecantikan, sukses tersebut merambat ke Amerika meski sebelumnya publik sempat melakukan protes. Pada tahun 1952 sebuah perusahaan pakaian dalam di Amerika mencoba untuk mencari cara mempromosikan produknya dengan menggelar Miss Universe. Tentu para peserta wajib berbusana bikini agar menarik minat pembeli pakaian dalam tersebut. Pada tahun 1996 Donald Trump membeli hak kontes tersebut untuk ditayangkan di sebuah televisi.

Sementara Indonesia baru ikut-ikutan kontes kecantikan kelas dunia pada tahun 1982 dengan mengirimkan wakilnya, yakni Andi Botenri, secara diam-diam karena di dalam negeri kontes kecantikan semacam itu masih banyak pihak yang menolak. Tahun berikutnya, 1983, Titi DJ dikirim diam-diam untuk mewakili Indonesia dalam kontes Miss World di London Inggris.

Pengiriman diam-diam tersebut dilakukan karena sebelumnya Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan yang mengeksplotiasi aurat itu.  Ia berpendapat bahwa kontes ratu-ratuan sedunia adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakekat perempuan dari mahluk manusia. Tujuan kegiatan ini adalah tidak lain meraup keuntungan bisnis dari perusahan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan dll, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Wanita yang terjebak dalam kontes ratu-ratuan tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya, itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Kritikan tersebut ia tulis dalam buku memoarnya (Dia dan Aku :  Memoar Pencari Kebenaran, 2006).

Walaupun menuai penolakan di dalam negeri, kontes kecantikan di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini tetap digelar untuk pertama kali di hari ulang tahun Jakarta ke 441 pada 22 Juni 1968 dengan peserta hanya 36 orang dan yang terpilih sebagai None Jakarta yaitu Riziani Malik.  Indonesia baru memiliki kontes kecantikan secara nasional pada tahun 1992 yang digelar oleh Yayasan Puteri Indonesia dengan sponsor pabrikan kosmetik. Seperti dikatakan Menteri Daoed Joesoef, kontes kecantikan selalu berbanding lurus dengan bisnis.

Pada tahun 1992, kontes kecantikan nasional bertitel Puteri Indonesia diizinkan pemerintah karena masih dianggap sopan. Namun sejak tahun 1997 kontes Puteri Indonesia dilarang Presiden Soeharto karena ajang pamer aurat itu disalahgunakan penyelenggara. Ini terjadi karena setahun sebelumnya, penyelenggara secara diam-diam menjadikan kontes tingkat nasional tersebut sebagai ‘batu loncatan’ untuk mengirim pemenangnya, yaitu Alya Rohali untuk mengikuti kontes Miss Universe 1996.

Suasana berubah justru ketika tahun 2000, di masa pemerintahan Gus Dur, kontes Puteri Indonesia kembali diizinkan, namun pemenangnya tidak dikirim ke kontes Miss Universe maupun Miss World. Kebijakan ini tetap dipertahankan sewaktu Megawati memimpin negara ini. Sayangnya, setelah SBY berkuasa di Istana Negara, pemenang kontes Puteri Indonesia kembali mendapat restu untuk mengikuti kontes pamer aurat sejagad

Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Timur KH. Abdurrahman Navis, Lc,M.Ag mengatakan ajang internasional itu bukan saja membawa misi bisnis, melainkan juga sebagai salah satu upaya untuk merusak moral Indonesia. Sejak dulu, lanjut dia, umat Islam di Indonesia selalu menolak semua bentuk ajang perlombaan yang mengarah pada pengumbaran aurat, yang digelar di luar negeri (jaringnews.com 27/4).
Tentu saja selain membawa misi bisnis, kontes ini juga membawa misi liberalisasi dan anti terhadap syariah Islam. Terbukti pada tahun 2002, pelaksanaan Miss World diarahkan ke Abuja, ibukota Nigeria. Saat itu di negeri tersebut seorang wanita bernama wanita Amina Lawal sedang menunggu hukuman mati dengan dirajam karena perzinaan di bawah hukum syariah. Ajang Miss World menggunakan pengaruhnya untuk kampanye global membebaskan wanita tersebut.

 

Invasi Budaya Postmo

Dalam budaya postmodern sekuler yang anti nilai agama, tubuh wanita bisa menjadi media mengeksploitasi seks dan untuk kepentingan market bisnis. Michel Foucault berpendapat, dalam dunia global, antara nilai jual tubuh, hasrat dan kekuasaan kapitalis terdapat hubungan yang tidak terpisah.

Postmodernisme dalam era sekarang, telah mempunyai andil besar dalam menciptakan ruang pembebasan tubuh dan hasrat, yang mampu membentuk paradigma baru dalam kehidupan sosial dan budaya (Zaitunah Subhan, Pornografi dan Premanisme: 2005).

Eksploitasi tubuh wanita tersebut, menurut Foucault dijalankan melalui media; televisi, koran, majalah, video, dan lain-lain. Tubuh digunakan untuk kepentingan relasi sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Hal ini merupakan agenda masyarakat Barat. Postmodernisme adalah paradigma, tubuh wanita adalah alat dagangan, dan media massa adalah kendaraannya.

J.F. Lyotard, sosiolog postmodern, mengatakan, sistem relasi dengan tubuh wanita sebagai alatnya merupakan wacana libidinal economy (ekonomi libido). Yaitu kecenderungan menciptakan ruang untuk pelepasan hasrat, sehingga setiap orang dapat mengeksplorasi setiap hasrat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang maksimal.

Dalam wacana ekonomi libido, lekuk-lekuk tubuh wanita diekspose secara publik karena memiliki nilai jual. Mereka menolak dikatakan melakukan degradasi moral. Lyotard menganjurkan dalam wacana ini harus bersifat permisif. Semakin tinggi permisifisme, semakin tinggi pula daya jual kepada masyarakat. Atau dapat dikatakan, semakin luas aurat yang terbuka semakin tinggi nilai ekonominya (Zaitunah Subhan:2005).

Dalam kaitan dengan hal tersebut, Miss World merupakan produk serangan budaya postmodern, dalam bentuk ekonomi libido. Para pendukung kontes ratu-ratuan menolak dikatakan ajang tersebut merusak moral. Panitia Miss World beralasan, yang dinilai adalah brain (otak), bukan seksualitas wanita. Selain itu, seorang ratu kecantikan dapat menarik minat wisata di Indonesia.

Sebagai alat, wanita tak ubahnya alat penarik uang. Tentu, tidak ada kemuliaan ketika wanita menjadi semacam alat belaka.

Justru disinilah problemnya. Wanita adalah komoditi. Yang dijual kecantikan. Wanita memiliki nilai jual untuk kepentingan ekonomi. Ini adalah bentuk ‘penjualan’ wanita. Jelas ini pelecehan terhadap kaum Hawa. Seks, dalam dunia postmo bukan saja alat pemenuhan kebutuhan biologis, tapi juga dijadikan pembangkit market sebuah produk ekonomi. Makanya, di Barat, penonjolan lekuk-lekuk tubuh wanita dalam iklan dan film tidak dianggap pelecehan wanita, tapi seni yang bisa mendongkrak produk ekonomi. Paradigma Barat kebingungan membedakan antara seni, pelecehan dan hasrat seks. Pelecehan dinilai seni, penistaan dapat membangkitkan ekonomi. Inilah budaya anti nilai (nihilisme).

Islam Memuliakan Wanita

420211_321048887938936_100001014837045_930118_1856481517_nAkidah sekuler kapitalis telah menjadikan akal dan hawa nafsu sebagai standar untuk menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupan, namun berbeda dengan Islam.  Akidah Islam berlandaskan keyakinan pada Allah SWT sebagai Sang Pencipta manusia dan alam semesta.  Ia adalah satu-satunya Dzat yang mempunyai otoritas untuk menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupannya.  Allah adalah Dzat yang menciptakan manusia beserta potensi kehidupannya (naluri dan kebutuhan jasmani), sehingga Dia juga lah yang paling tahu bagaimana cara terbaik mengatur manusia.

Pandangan hidup sekuler yang mengemban konsep kebebasan pribadi telah menetapkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berbusana, berpenampilan, memandang lawan jenis, model pergaulan, peranan dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat, serta bagaimana bertingkah laku.  Sebaliknya, kaum muslim, baik laki-laki maupun perempuan, menjalani kehidupan mereka atas dasar keyakinan bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan di dunia kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan.  Maka apapun masalahnya, hukum syara’lah standarnya.  Oleh karena itu, perempuan muslim tidak menjadikan akal pikiran dan hawa nafsunya sebagai penentu bagaimana mereka mendefinisikan kecantikan, penampilan atau bagaimana mereka menilai dirinya, kecuali mengembalikan semua permasalahan tersebut kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

                “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (TQS. al-Ahzab [33]: 36).

Dalam Islam, wanita bukanlah alat dan tidak boleh dieksploitasi. Wanita harus dilindungi kehormatan dan martabatnya sehingga tiap aktivitas maupun pekerjaan yang bisa merendahkan, apalagi mengeksploitasi kecantikannya akan dijauhkan.  Wanita dilarang menampakkan auratnya, apalagi sengaja mempertontonkan di hadapan publik untuk dinilai kecantikannya.

Pada dasarnya kehidupan laki-laki dan wanita adalah terpisah, namun syariat Islam tetap memperbolehkan adanya interaksi dalam hal-hal tertentu seperti pendidikan, kesehatan, pengadilan dan muamalat seperti jual beli, dll.  Itu pun tak sekehendak hati manusia.  Ada aturan main yang harus ditaati semisal menjaga pandangan, dll.

Wanita dalam Islam dihargai atas dasar keshalihan dan ketakwaan, bukan penampilan fisik tubuhnya.  Allah SWT berfirman :  “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (TQS. Al Hujurat : 13).

Perlindungan terhadap wanita ini tak melekat pada individu melainkan menjadi tugas negara.  Bukan sembarang negara tentunya, tetapi negara yang melaksanakan syariat Islam secara kaffah, Khilafah Islamiyah.  Khilafah lah yang akan menegakkan hukum Allah dalam urusan interaksi laki-laki dan wanita sehingga kehormatan dan kemuliaan wanita terjaga, manusia terhindarkan dari kerusakan.  Segala hal yang dapat membangkitkan nafsu seksual akan dicegah, baik dalam bentuk cerita, gambar, video, film hingga kontes dan festival yang menjadikan wanita sebagai objek.  Sebab fakta-fakta yang dapat memicu nafsu seksual tersebut akan mengakibatkan kerusakan.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada fitnah wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari kecerobohannya terhadap wanita.” (HR. Muslim).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s