Rapunzel

menara“Why I can’t go outside?”, Rapunzel ask to her mother.

“The outside world is a dangerous place, filled with horrible, selfish people.  You must stay here, where you’re safe”, her mother said.

Haruskah aku juga mengurung diri di menara untuk menjauhi dunia yang kejam ini?

***

“Aaaaaa….”, seseorang berteriak histeris.  Dina mendengarnya merasakan seolah suara itu berasal dari tempat yang jauh.  Sangat-sangat jauh.  Dengan semua sisa tenaga yang dimilikinya, gadis kecil berusia tujuh tahun itu mencoba membuka matanya.  Sakit.  Ia menangkap seberkas sinar di belakang seorang wanita yang berteriak tadi.  Lalu semuanya menjadi gelap.

***

“Dina…dimana kamu, nak?”, Ibu Rani, pengawas panti asuhan memanggil.  “Dina…?”, ia memanggil lagi dan tersenyum saat mendapati orang yang dicari sibuk dengan kuas-kuas cat airnya.  “Rupanya kamu di sini, nak.  Apa yang kamu gambar kali ini?”.  Ibu Rani melihat lukisan di atas kanvas itu dan terbelalak.  “Nak, mengapa masih melukis ini?”, tanyanya dengan suara tercekat di tenggorokan.  Yang ditanya tak menjawab atau mengubris satu pun pertanyaan.  Ia melanjutkan pekerjaannya seperti semula, seolah tak ada orang lain disana selain dirinya sendiri dan kanvas, kuas beserta cat airnya.

Ibu Rani menatap sedih lukisan dan gadis lima belas tahun di hadapannya itu bergantian.  Bukan karena lukisan yang dibuat Dina buruk makanya ia bereaksi demikian.  Lukisan yang dibuat Dina sungguh mengagumkan.  Tangannya mampu menghasilkan lukisan yang bahkan lebih nyata daripada foto sungguhan.  Ingatannya sangat baik hingga detil warna tiap objek lukisannya terasa nyata.  Namun sungguh sayang, objek lukisan itu terlalu suram.

Ibu Rani mendesah.  Pelan-pelan ia mendekati Dina.  “Nak, seseorang ingin menemuimu.  Sekarang dia ada di kantor Ibu.  Maukah kamu menemuinya barang sebentar?”, ujarnya lembut.  Namun lagi-lagi yang ditanya tak bergeming sedikit pun.  Ibu Rani seolah bermonolog sendiri.  “Ayo…”, sambungnya lagi sambil memegang kuas yang dipegang Dina.  Otomatis apa yang dilakukan pengawas panti ini menghentikan aktivitas khusyuk Dina.  Ia memandang Ibu Rani sesaat lalu meletakkan paletnya di meja yang terletak tepat di samping kanvas lukisnya.  Ibu Rani tersenyum, ia tak balas tersenyum.  Ibu Rani menuntunnya keluar gudang penyimpanan di lantai dua bangunan panti asuhan itu menuju kantor dengan lembut, Dina menurut tanpa ekspresi.  Suara sepatu bertumit Ibu Rani yang mengetuk koridor dengan nada riang berpadu gesekan sepatu balet Dina yang terseret dengan bunyi tersayat.  Perpaduan nada ini telah berlangsung delapan tahun.

***

“Assalamu’alaikum Dina….  Nama kakak Grandis Ayuning Priyanto.  Panjang ya?  Panggil Adis aja, biar mudah.  Itu nama kecil kakak!”, ujar sang tamu memperkenalkan diri pada Dina.  Tersenyum cerah dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.  Dina mengalihkan pandangannya dari Adis, si tamu pada Ibu Rani, pengawas panti asuhan yang telah lama merawatnya seperti keluarga sendiri.  Ibu Rani tersenyum dan mengangguk.  Dina memandangi tangan Adis lama baru kemudian balas mengulurkan tangan dengan gerakan lambat.  Adis tersenyum mendapatinya.  Setidaknya ia diterima, gumamnya dalam hati riang.

“Kakak dengar Dina pandai melukis.  Benarkah?”, tanya Adis mencoba membuat percakapan.  Meskipun ia sudah diingatkan sebelumnya bahwa gadis ini tak pernah bicara sepatah kata pun sejak tragedi yang menimpa diri dan keluarganya, Adis masih ingin mencoba.  Hasilnya nihil.  Tak ada tanggapan.  Dina hanya memandanginya dengan tatapan kosong.  “Bolehkah kapan-kapan kakak melihatnya?”, usahanya masih berlanjut.  Dina teguh diam.  “Ibu Rani bilang…lukisan Dina sangat mengesankan.  Kakak sungguh ingin melihatnya jika Dina tak keberatan…”, ujarnya lembut.  Dina tetap diam.  “Besok…kakak akan main ke sini.  Menemui Dina dan melihat lukisan Dina.  Boleh kan?”, tambahnya.  Dina tak berubah, ia masih membisu.  “Oke, sampai ketemu besok.  Have a nice day…Dina, assalamu’alaikum…”, tutup Adis dalam monolog sempurnanya.

***

“Entah apa yang ada di benak laki-laki berinisial RR (30 tahun) itu melihat istrinya.  Ia dengan santai memotong tubuh istrinya, Astri (26 tahun), yang sudah meninggal dunia kemudian membuangnya ke dalam karung beserta sampah rumah tangga.

Sebelum memutilasi istrinya, buruh harian perkebunan sawit ini menghajar istrinya hingga tewas Sabtu (2/3).  Ini bukan kali pertama Astri menjadi sasaran kebiadaban RR.  Menurut tetangganya, sudah berulang kali RR berlaku kasar terhadap istrinya.  Berkali pula Astri pergi karena tak tahan, tapi berkali pula ia kembali ke rumah dengan alasan putrinya masih di sana.

Pelaku mengaku tak bahagia menikah dengan Astri karena selalu tertekan akan besarnya biaya tuntutan hidup sang istri sementara ia hanya bekerja sebagai buruh harian perkebunan sawit.  Ditambah lagi perlakuan keluarga istrinya yang dianggap telah melecehkan harga dirinya.  Ia selalu diolok-olok sebagai menantu yang kurang bertanggungjawab.  Diduga setiap kali tersinggung dan merasa malu berat, RR akan melampiaskan kemarahannya pada Astri dengan menghajarnya.  Puncaknya, saat pasangan suami istri ini bertengkar pada Sabtu (2/3) kemarin hingga berujung pada kematian sang istri.  Malangnya, MH (7 tahun) putri pasangan ini menjadi saksi mata kebiadaban ayah kandungnya terhadap ibunya.  Ia mengalami luka ringan akibat benturan”.

Adis, mahasiswi psikologi semester tujuh itu menatap kliping koran yang diberikan Ibu Rani sebagai referensinya.  Ibu Rani sengaja mengumpulkan berbagai koran lokal maupun nasional terkait pemberitaan kasus orangtua Dina, berharap dapat membantu rehabilitasi mental sang anak yang hingga saat ini hidup dalam dunia bisunya.  Ah, berat nian masa lalumu Dina.  Adis merasakan air di sudut matanya, perih mendengar derita gadis itu.  Semoga interaksinya selama penelitian akhir ini bisa membawa pengaruh positif bagi Dina.  Ia mengangguk mantap.

***

 “Berdasarkan catatan kepolisian akhir tahun 2012 lalu, kejahatan di Indonesia berdurasi 91 detik.  Artinya setiap 91 detik terjadi satu tindak kejahatan.  Jumlah kejahatan itu sendiri di Indonesia selama 2012 mencapai 316.500 kasus, dari yang ringan hingga yang berat.  Fakta ini membuat miris banyak orang.  Mengapa itu bisa terjadi?”.  Adis menghentikan sentuhannya di atas keyboard neetbook biru mudanya.  Memandangi Dina yang tengah memunggunginya, melukis sesuatu di depan jendela gudang lantai dua bangunan panti asuhan itu.

“Sejak kapan mulai berinteraksi dengan Dina, Bu?”, tanya Adis saat Ibu Rani mengantarnya ke ruangan ini tadi.

“Sejak pertama kali ia diantar ke sini, Nak Adis.  Saat itu dia berumur tujuh tahun, berarti sudah hampir delapan tahun saya merawatnya”, Ibu Rani berhenti, menarik nafas sejenak dan melanjutkan…”Saya sudah sepuluh tahun diberi amanah sebagai pengawas panti asuhan ini.  Biasanya anak-anak yang datang ke sini karena diterlantarkan orangtua maupun keluarganya saja.  Baru kali itu, yang datang adalah korban kekerasan….  Parahnya,  baik pelaku maupun korban adalah ayah dan ibunya sendiri.  Sementara dia menyaksikan dengan mata kepalanya.  Trauma yang dialaminya begitu besar, itulah pikiran saya saat itu.  Makanya saya selalu memberi perhatian lebih padanya, saya berharap ia tak terperangkap dalam dunia kejam yang disaksikannya.  Namun setelah delapan tahun, ia masih sama seperti pertama kali datang”.

“Saya sudah membaca laporannya di koran.  Dikatakan Dina mengalami luka ringan akibat benturan.  Benarkah, Bu?”, tanya Adis penasaran.

“Benar, Nak.  Sepertinya ia berusaha menghalangi ayahnya, namun gagal.  Ah, apalah daya anak berumur tujuh tahun?  Badannya biru lebam.  Secara fisik tak parah memang, namun di dalam sini tentu kerusakannya parah…”, ujar Ibu Rani menunjuk dadanya.  Matanya berkaca-kaca, namun masih melanjutkan kata-kata.  “Melihat kondisi Dina, tiba-tiba saya merasa miris.  Betapa manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk paling sempurna tapi rupanya berperilaku bejat, melebihi binatang.  Dengan tega, seorang suami membunuh istri di hadapan anaknya karena alasan sepele.  Anak-anak yang seharusnya mendapat perlindungan dari mereka sebagai orangtua justru disakiti.  Dan kasus Dina ini hanya sedikit diantara kasus-kasus lain, semisal pemerkosaan dan kekerasan yang mungkin belum terungkap ke hadapan publik.  Jumlahnya mungkin lebih banyak dari yang diungkap media sekarang.  Ah, melihat satu Dina saja hati saya sudah hancur.  Bagaimana jika lebih?”, Ibu Rani menyusut air matanya.

Adis menghela nafas dan melanjutkan ketikannya…“Maraknya kriminalitas di tengah keluarga saat ini disebabkan beragam faktor, akan tetapi jika ditarik benang merahnya maka akan bermuara pada penerapan sistem rusak dan jauhnya keluarga dari ajaran Islam.  Sehingga wajar ketika menghadapi masalah, orang mudah stress dan kemudian melampiaskannya dengan cara yang keliru.

Faktor ekonomi adalah salah satu diantaranya.  Diakui atau tidak, saat ini kita menerapkan sistem ekonomi kapitalisme.  Dalam sistem ini, akses terhadap sumberdaya hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki modal.  Sedangkan orang yang tidak memiliki modal atau hanya sedikit memiliki modal, akan menjadi semakin miskin.  Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin melebar.  Kondisi ini tak jarang memicu stress di kalangan orangtua yang melampiaskannya pada keluarga dalam bentuk kekerasan.

Dalam ideologi kapitalisme ini juga akan terlahir kehidupan materialistis, sehingga tingkat stress cenderung semakin tinggi.  Tolok ukur keberhasilan dan kesuksesan hidup hanya bersifat material.  Maka wajar jika kebutuhan materi tidak terpenuhi akan timbul kegelisahan luar biasa.  Misalnya saat seseorang kehilangan pangkat, jabatan, status sosial, uang, kekuatan fisik, intelektual, cinta, perhatian dan lain-lain yang bersifat lahiriah, ia akan mengalami stress dan melakukan tindakan di luar batas kemanusiaan”.

Adis menghentikan jalinan kalimatnya saat tiba-tiba Dina meletakkan kuas dan paletnya.  Berjalan dengan gesekan seringan angin di lantai ubin, berusaha menyamarkan keberadaannya.  Perlahan membuka jendela dan menatap sesuatu di kejauhan.  Adis berdiri, mencoba melihat apa yang dilihat Dina dalam menara diamnya.  Anak-anak panti yang bermain riang di lapangan bola, suara mereka riuh rendah di bawa angin.

“Bukankah Ibunya sudah sering mengalami kekerasan, Bu?  Apakah tetangga tak melakukan apa-apa menyaksikannya?”, tanya Adis pada Ibu Rani.

“Itulah yang sangat saya sesalkan, Nak Adis.  Jangankan hanya tetangga, bahkan keluarganya sendiri cuma bisa mencemooh kekurangan ayahnya secara materi sebelum tragedi itu terjadi.  Saat akhirnya ibunya meninggal lalu Dina menjadi satu-satunya korban kekerasan yang tersisa, tak satu pun yang bersedia merawatnya di bawah pengasuhan mereka.  Pamannya sendiri yang mengantarnya kemari.  Memang kadang sekali-sekali ia berkunjung, namun itupun bisa dihitung hanya beberapa kali dalam setahun.  Bagaimana mungkin mereka bersikap masa bodoh begitu?”, ujar Ibu Rani menahan emosi.

Adis kembali ke kursinya.  Meresapi pemahamannya dan mulai menulis…“Faktor lainnya yang turut mempengaruhi kriminalitas di tengah keluarga ini adalah faktor lingkungan.  Masyarakat yang berpaham materialis cenderung individualis.  Kepekaan terhadap lingkungan sosial menjadi sangat rendah.  Orang akan bersaing guna meraih kebahagiaannya sendiri tanpa peduli kepentingan orang lain.  Hubungan interpersonal semakin fungsional dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan seperti keramahan, perhatian, toleransi dan tenggang rasa.

Akibatnya, tekanan isolasi dan keterasingan kian kuat.  Orang makin mudah kesepian di tengah keramaian, ini disebut juga dengan fenomena lonely crowded, yang merupakan gejala mencolok dari masyarakat kapitalis dan merupakan salah satu pemicu stress.  Ketika ada persoalan maka sosok individualis ini akan menyelesaikan dengan caranya sendiri.  Tetangga sebagai lingkungan terdekat yang harusnya membantu memecahkan masalah dan mencegah terjadinya tindak kejahatan, malah baru tahu terjadi tindak kejahatan setelah semuanya terjadi.  Itu pun melalui media massa seperti koran dan televisi”, Adis menyudahi aktivitasnya menulis saat Ibu Rani datang, menjemput Dina untuk makan siang.  “Ketemu besok lagi ya Din….”, tak ada tanggapan, tapi Adis tetap tersenyum.  “Have a lovely day, sista….  Assalamu’alaikum…”, ia melambaikan tangan.  Dina tetap diam.

***

A healthy baby girl, a princess was born with beautiful golden hair.  That’s Rapunzel.  To celebrate her birth, the king and queen launched a flying lantern into the sky.  And for that one moment, everything was perfect. And then that moment ended.  Gothel broke into the castle, stole the child and just like that, gone!  The kingdom searched and searched, but they could not find the princess.

Ayah, mengapa kau tega membuat aku hidup dalam menara sunyi mengerikan ini?

***

Sudah dua bulan sejak Adis mengikuti kegiatan sehari-hari Dina.  Secara fisik, gadis itu tumbuh sehat dan…cantik.  Seratus enam puluh sentimeter, untuk ukuran gadis lima belas tahun, ia lumayan jangkung.  Kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam lebat mengkilap dan selalu dibiarkan tergerai bebas.  Hidung bangir dan bibir mungil yang terkunci rapat itu mempesona.  Ia sangat mirip ibunya dalam segala hal yang bisa dideskripsikan dalam kata terkait postur dan wajah.

Tapi seperti perkataan Ibu Rani, gadis itu terluka hebat secara psikologis.  Gadis yang seperti mayat hidup.  Rutinitas seperti makan, minum, tidur, melukis dan membaca dilakoni bak robot.  Tanpa keluhan maupun gairah.  Tanpa senyum atau air mata.  Hanya diam dan membisu.  Membangun bata demi bata menara diam yang semakin tinggi dan dianggap mampu melindunginya dari dunia luar yang kejam.

Maka Adis membuat satu kebiasaan baru.  Selama ia menemani Dina, sambil membaca referensi skripsinya maupun mengamati perilaku gadis itu, Adis memutarkan mp3 ayat-ayat Al Qur’an dan maknanya.  Saat hampir jam makan siang, Adis mematikan netbook-nya dan mengamati perkembangan lukisan Dina.  Mencoba menarik Dina keluar dengan mengajaknya berbincang namun selalu berakhir gagal.  Maka jadilah monolog-monolog panjang itu milik Adis sendiri.  Seperti juga hari ini.

“Wah…Kakek Rizal ikut bermain lomba lari bersama yang lain.  Dina tak mau ikut?”, tanyanya.  Namun seperti biasa yang ditanya tak beralih bahkan jika itu hanya sekedar tatapan pada orang yang bicara.  Bagaimanapun Adis berkeras melanjutkannya.  “Dina tahu, dulu Rasulullah juga sering lho…mengajak Bunda Aisyah lomba lari.  Dalam salah satu hadits diceritakan bahwa Bunda Aisyah sering menang, trus pas udah gedean dikit…Bunda Aisyah berhenti main lomba larinya makanya beliau jadi gemuk.  Nah, pas itu tuh…Bunda Aisyah sama Rasulullah berlomba lagi.  Tahu nggak siapa yang menang?  Hehe…”, Adis membiarkan gema tawanya berhenti baru menyambungnya.  “Tentu aja yang menang Rasulullah, hehe…”.

“Hebat ya Rasulullah, Din?  Beliau ini sosok yang paliiiing penyabar dengan istrinya.  Sampe-sampe beliau bilang gini…”Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya…”(HR. Hakim)

Belum sempat melanjutkan perkataannya, Adis tersentak kaget.  Dina mendorongnya ke samping lalu lari meninggalkan gudang yang telah diakrabi Adis selama dua bulan ini.  Bunyi langkah kakinya lebih nyaring dari langkah terseret biasanya dan tentu saja beremosi.

***

“Bagaimana ayahnya sekarang, Bu?  Saya baca hanya dihukum enam tahun penjara.  Kalau begitu…apakah sudah keluar?”, tanya Adis pada Ibu Rani.  Beliau menghentikan langkah di anak tangga pertama bangunan tua panti asuhan itu.  Berbalik dan memandang Adis dengan sedih.  “Ayahnya meninggal akibat perkelahian di dalam penjara saat baru menjalani masa tahanan selama setahun.  Dina menjadi yatim piatu saat usianya delapan tahun”, sahutnya.

“Dina tahu, Bu?”, tanya Adis lagi.  Ibu Rani mengangguk.  “Ya, saya memutuskan untuk memberi tahunya.  Ingin melihatnya melepas emosi yang terkunci, entah marah, sedih atau bahagia sekalipun mendengar berita ini.  Namun ia hanya berkedip sekali dan melanjutkan lukisannya.  Ah, anak itu…sebenarnya apa yang ada dalam benaknya?”, ujarnya panjang lebar.

Adis mencatat…“Hukuman bagi para pelaku kekerasan ini sangat ringan.  Akibatnya hukum mandul dan tidak memiliki efek pencegahan maupun membuat jera pelaku.  Hukum hasil penerapan demokrasi, yang penyusunannya diserahkan pada akal dan pikiran manusia yang bersifat lemah dan terbatas.  Karena kasihan, manusia membuang hukum rajam, hukuman mati atau hukuman di hadapan khalayak.

Inilah akibatnya saat manusia tak berpegang teguh pada agama.  Nilai kebebasan dalam sistem kehidupan sekuler telah meracuni akar dan naluri manusia.  Ia telah menghilangkan ketakwaan individu.  Orangtua yang harusnya menjadi pelindung justru menjadi sumber ancaman bagi anak-anak.  Suami yang mestinya melindungi istri, dengan mudah membunuhnya karena alasan sepele.  Inilah gambaran sebuah keluarga rusak, keluarga yang tumbuh tanpa nilai agama sehingga fungsinya tak berjalan sebagaimana mestinya.  Dan semuanya berpangkal pada diterapkannya sistem kapitalisme.

Hanya aturan Islam yang mampu menuntaskan masalah ini dengan sempurna mulai dari pencegahan sampai hukuman yang mampu membuat jera pelaku.  Islam adalah satu-satunya agama yang menjamin kesejahteraan anak.  Anjuran memberikan ASI selama dua tahun, kewajiban seorang ayah menanggung nafkah anak merupakan contohnya.  Islam juga melarang orangtua menyakiti anak saat mendidik mereka.  Kebolehan memukul hanya setelah anak berusia sepuluh tahun, itupun saat si anak tidak mau melaksanakan shalat.  Dan hanya dengan pukulan yang ringan tak berbekas, semata-mata bertujuan memberikan pendidikan bukan menghukum dengan pukulan penuh emosi yang menyakiti anak.

Islam juga mewajibkan negara menyediakan lapangan pekerjaan yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah bagi keluarganya.  Semua sumberdaya alam strategis adalah milik ummat yang dikelola negara.  Negara berkewajiban mendistribusikan hasil kekayaan negara untuk kesejahteraan warga negaranya, baik untuk mencukupi kebutuhan pokok, kesehatan dan pendidikan.  Dengan jaminan seperti ini, tekanan ekonomi yang menjadi salah satu faktor pemicu kekerasan dapat dihilangkan.

Penerapan sistem Islam juga menjaga suasana takwa terus hidup di tengah masyarakat.  Negara membina warga sehingga ketakwaan individu menjadi pilar bagi pelaksanaan hukum-hukum Islam.  Individu-individu bertakwa tidak akan melakukan kekerasan.  Masyarakat yang bertakwa juga akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan pelanggaran.

Umar bin Khaththab yang terkenal dengan ketegasan dan sikap kerasnya dalam menghadapi kemungkaran pernah berkata saat didatangi oleh orang Badui yang hendak mengadukan sikap cerewet istrinya.  Di saat bersamaan Umar pun baru saja mendapat omelan dari istrinya dengan suara cukup keras.  Umar memberi nasihat kepada si Badui :  “Wahai saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri terhadap sikap (istriku) itu, karena ia memiliki hak-hak atas diriku.  Aku menahan diri meski sebenarnya aku bisa saja menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya.  Akan tetapi aku sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan tidak ada orang yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti.  Aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang”.  Demikianlah gambaran individu dan masyarakat bertakwa dalam memperlakukan keluarganya.

Dan tentunya negara juga menjatuhkan hukuman tegas terhadap pelaku kekerasan dan pelecehan seksual.  Pemerkosa dicambuk seratus kali jika dia belum menikah dan dirajam jika sudah menikah.  Penyodomi dibunuh.  Pembunuh anak akan di qishash yakni balas bunuh atau membayar diyat sebanyak seratus ekor unta, yang bila dikonversi saat ini senilai kurang lebih dua milyar rupiah.  Setiap anggota tubuh anak memiliki nilai diyat sama dengan orang dewasa.

Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang melakukan kekerasan maupun pelecehan seksual akan berfikir ribuan kali sebelum melakukan kejahatannya.  Penerapan hukum secara utuh akan menyelesaikan masalah dengan tuntas.  Namun tentunya hukum-hukum Islam terkait keluarga dan ekonomi tersebut tidak bisa berdiri sendiri.  Karena satu hukum ini dan hukum lainnya merupakan subsistem dari sistem Islam kaffah yang hanya bisa tegak sempurna dalam bingkai khilafah Islamiyah”.  Selesai.  Adis tersenyum sebelum menyimpan tabungan akhir tulisannya.

***

But the walls of that tower could not hide everything.  Each year on her birthday, the king and queen released thousands of lantern into the sky.  In hope that one day, they lost princess would return.

Masihkah ada dunia indah yang bisa dilihat di luar sana?

***

“Mbak Adis…”, seorang gadis cantik enam belas tahun berjilbab dan kerudung merah muda merangkul lalu bergelayut di bahu Adis.  Membuat miring topi wisudanya.  “Mbak Adis, hari ini Dina dapat hadiah kan?”, tanyanya manja.  Adis pura-pura sewot…”Yeee…Mbak Adis yang wisuda kok Dina yang dapat hadiah tho?  Bukannya Dina yang harusnya ngasih Mbak Adis hadiah kelulusan?”, todong Adis.

Dina cengengesan memamerkan deretan gigi putihnya.  “Ntar Dina kasih hadiah nyanyian indah Dina.  Oke?”, ujarnya mengedipkan sebelah matanya nakal.  Adis tertawa.  Ya, suara Dina semerdu burung bulbul.  Delapan tahun sunyi, akhirnya suara indahnya dapat berkicau riang.

Hari dimana Dina berlari dan mendorong Adis, merupakan titik balik kembalinya gadis itu ke peradaban.  Ia memutuskan keluar dari menara diamnya setelah dua bulan bersama Adis dan monolog-monolog pemahaman Islam yang menyentuh hati dan akalnya.  Meskipun reaksi pertamanya adalah perasaan marah yang meraja.  Berlari sekuat tenaga ke kamar, membanting semua benda yang ada di hadapannya dan sakit.  Demam tinggi dengan erangan dan igauan tentang ibu yang dianiyaya ayahnya membuat Bu Rani dan Adis tak mampu menahan air mata.  Setelah sebulan, gadis itu mulai sembuh dan tenang.  Adis telah membawanya keluar dari menara.

“Tahukah Dina?  Ada sebuah negara dimana selama berabad-abad, hanya terjadi dua ratus kejahatan yang diajukan ke pengadilan….  Sebuah negara yang menciptakan keamanan warganya?”, kuas Dina menggantung di udara.  Benarkah masih ada dunia yang bisa diharapkan di luar sana?

***

For deep within the forest, in a hidden tower, Rapunzel singing a song…”Save what has been lost, bring back what once was mine, what one was mine…”.

Ayo, kita perjuangkan lagi…negara dengan sistem sempurna yang dulu pernah menjadi ibu yang mengasuh dan mengayomi kita, kaum muslim dengan sebaik-baik pengasuhan.  Khilafah Islamiyah ala minhaj nubuwwah.

*Ditulis setelah mendengar kasus suami membunuh istri dan ketiga anaknya di tempat tugasnya.  Naudzubillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s