Mimpiku

Copy of tiupSesaat aku terpana memandang sebuah toko yang baru buka beberapa hari lalu.  Tanpa berkedip, berusaha menangkap setiap detilnya tanpa ketinggalan.  Dekorasi nan artistik dari warna dinding, manekin yang dipajang di etalase depan, pengaturan cahaya, tata letak barang di bagian dalam hingga design papan reklame berikut nama tokonya yang tergolong unik.  Hanya satu kata…menakjubkan!  Dan semuanya menyedot habis perhatianku.  Saat itu, Adel menghampiri dan bicara setengah berbisik…”Bukankah itu seperti impianmu?”.

Setelah ribuan tahun bumi ini tercipta, milyaran manusia telah dilahirkan.  Menjalani hidup, beranak-pinak dan menyebabkan penduduk bumi terus bertambah dari waktu ke waktu.  Masing-masing manusia ini menjadi pribadi yang unik.  Berbeda dalam wajah, postur, sifat, perilaku bahkan gen.  Belum lagi latar belakang, entah latar keluarga, ras, hingga status sosial maupun ekonomi.

Namun terlepas dari semua perbedaan itu, semua manusia mempunyai keinginan yang sama.  Semua punya mimpi.  Ingin sukses juga bahagia. Tak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak.  Sebagian orang mungkin tak mengatakannya.  Namun di lubuk hati terdalam, keinginan ini pasti ada.

Dalam rentang waktu sejak manusia pertama diciptakan hingga saat ini kita hidup, berbagai usaha telah dilakukan demi mencapainya.  Banyak jalan telah ditempuh.  Berbagai hal telah dikerjakan.  Semuanya dalam rangka sukses dan bahagia.  Sebagian mungkin memang berhasil mewujudkannya namun tak sedikit juga yang gagal atau malah berputar-putar tak menemukan jalan lalu lelah dan menyerah pada impiannya.

Aku tiba-tiba teringat pada diri sendiri.  Suatu saat, aku telah menyusun rencana kerja yang menurutku sudah mantap.  Aku pun optimis semuanya akan berjalan sesuai rencana.  Nyatanya,  rencana itu tak kunjung terlaksana.  Pertanyaan pentingnya…siapa yang telah menghambat rencana ini?  Siapa yang mempengaruhi pembatalan sebuah keputusan yang telah dipikirkan dengan matang ini?

“Apa nggak terlalu cepat kalo launching sekarang?”.

“Gimana kalo rugi ntar?”.

“Kamu udah sibuk lho….  Kalo nambah buka usaha ginian kira-kira bisa nggak?”.

“Udahlah…nggak usah muluk-muluk mimpi jadi pengusaha segala.  Syukuri pekerjaanmu yang memberikan zona aman…”.

Kalimat-kalimat ini telah hidup di kepalaku sejak memutuskan membuka usaha beberapa waktu lalu.  Karenanya, telah menunda rencanaku satu tahun lebih beberapa hari.  Tentu aku tak bisa mencari pembenaran dengan alasan sibuk lah, partner kerja kurang parsitipatif lah atau bahkan mungkin dengan konyolnya menyalahkan orang yang mengatakan kalimat-kalimat negatif itu di depan hidungku.  Toh pada kenyataannya, akulah orang yang paling berperan dalam menentukan apakah akan meneruskan langkah menuju impianku atau memutuskan untuk berhenti dan menyerah.  Akulah, satu-satunya orang yang paling bertanggungjawab membuat impian itu hanya sekedar impian kosong atau mewujudkannya dengan usaha dan kerja keras.

Mungkin aku telah melupakan fakta bahwa aku seorang manusia yang dilahirkan sebagai sang juara dan diciptakan Allah SWT sebagai mahkluk paling sempurna.  Mungkin aku lupa menanyakan lagi pada diriku, “Brina, apakah kamu sudah menghasilkan sesuatu yang terbaik dalam kehidupan ini?  Apakah kamu telah berkarya dan berkontribusi besar bagi kehidupan di muka bumi ini?”.  Ah, ini mengusikku, semoga kamu juga!

Mungkin juga, aku telah terperangkap bisikan syaitan, baik secara langsung ketika kalimat bervirus itu terlintas di benak maupun secara tak langsung ketika ada seseorang yang sengaja mengucapkannya.  Bukankah syaitan sengaja membisikan kalimat bervirus untuk menghentikan impian kita?  Agar kita menjadi orang biasa yang miskin manfaat dalam kehidupan ini, ia sengaja melemahkan jiwa kita untuk melangkah, mengalihkan fokus, merendahkan diri kita, membuat kufur nikmat, sengaja membuat bingung, mencuri waktu, menghindari tanggung jawab, memberikan keyakinan palsu dan menurunkan level energi kita?

Jadi, mulai sekarang aku hanya akan mendengarkan bisikan malaikat saja.  Tak ingin lagi menunda lebih lama menapak di jalan mimpiku.

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah pernah bersabda :  “setan dan malaikat selalu memberikan bisikan dalam jiwa manusia.  Jika seseorang terbersit dalam dirinya untuk melakukan kejahatan dan mengingkari kebenaran, maka itu adalah bisikan syaitan.  Dan jika terbersit dalam dirinya untuk melakukan kebaikan dan membenarkan yang benar, maka itu adalah bisikan malaikat”.  Nabi melanjutkan, “Jika seseorang merasakan dalam dirinya bisikan kebaikan, maka pujilah Allah.  Jika merasakan bisikan kejahatan, mintalah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”.  Seraya memberikan penegasan atas ucapannya, Nabi menukil firman Allah, “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir)”. (TQS. Al Baqarah : 268), (HR. Tirmidzi).

*Ditulis setelah melihat senyum pemilik toko yang mungkin aja geli dengan mupengku.  Syukron buat ingatannya tentang mimpiku, del!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s