Memaknai Waktu

timePernahkah kamu merasa waktu berlalu begitu cepat?  Hanya sekedipan mata lalu tiba-tiba masa-masa indah SMA-mu telah usai, berganti era kuliah yang menyibukkan.  Pun dalam sekejap berubah lagi dengan meninggalkan status mahasiswamu dan mulai bekerja.  Padahal dalam ingatan, sepertinya baru kemaren seragam putih abu-abu itu jadi rutinitas harianmu!  Dan serasa baru kemaren tumpukan laporan praktikum yang menyiksa itu mengejarmu!

Jadi, apa itu definisi waktu?  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.  Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.  Biasanya skala waktu ini dihitung dengan detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, windu, dekade, abad dan seterusnya.

Setiap manusia punya waktu yang sama, 86.400 detik, 1440 menit atau 24 jam yang terbagi dalam siang dan malam.  Meskipun begitu, selalu ada yang membuat perbedaan pada kualitas hidup kita.  Apakah itu?  Yep, pemaknaan terhadap waktu!

Kita tumbuh menjadi apa dan disebut apa tergantung bagaimana cara menggunakan waktu yang kita miliki.  Seseorang yang menggunakan waktunya untuk belajar, tentu akan menjadi orang pintar.  Seseorang yang menggunakan waktunya untuk membesarkan bisnisnya akan kita sebut pengusaha.  Seseorang yang menghabiskan waktunya guna meneliti akan menjadi seorang ilmuwan seperti Thomas Alfa Edison.  Ya kan?  Lalu coba kamu bayangkan, apa yang akan terjadi pada seseorang yang menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak jelas tujuannya?

Orang Barat menghargai waktu sebagai materi.  Mereka memaknai harga waktu dengan uang.  Time is money, katanya!  Namun sebagai seorang muslim, penghargaan kita terhadap waktu tentu berbeda.  Waktu lebih berharga daripada uang!  Nggak percaya?  Ayo kita buktikan!

Uang adalah alat tukar nilai tambah.  Namun faktanya, nilai tiap mata uang di dunia ini berbeda-beda.  Bandingkan uang dua ribu rupiah cuma cukup untuk sekali parkir kendaraan roda empat di pinggir jalan, sedangkan uang dua ribu dolar cukup buat jalan-jalan ke luar negeri.  Trus sekarang bandingkan dengan waktu.  Mau kamu tinggal di Indonesia kek atau di Amerika sekalipun, satu detik adalah satu detik, tidak kurang dan tidak lebih.  Jika untuk menjadi dokter ahli diperlukan waktu tujuh tahun maka dimanapun kamu hidup, jika kamu menggunakan tujuh tahun waktu belajar untuk menjadi dokter ahli, kamu akan menjadi dokter ahli.  Get the point?  Perfect!

Akan menjadi apa diri kita merupakan konsekuensi logis dari penggunaan setiap detik waktu yang kita miliki.  Time is more valuable than money.  Jadi, waktu adalah alat tukar nilai tambah sebenarnya dalam hidup kita.

Waktu dan Pencapaian

Dalam Islam, waktu bukanlah uang atau emas, tetapi nyawa.  Jika terbuang atau hilang, ia tak dapat digantikan layaknya sebuah nyawa.  Saat kita menyiakan waktu maka kita tak lagi menghargai hidup kita.

“Demi waktu.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.  Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati untuk menaati kebenaran dan menetapi kesabaran” (TQS. Al-Ashr : 1-3).

Melalui pengabdian kepada sang Khaliq, Allah SWT, manusia mampu membangun keunggulan.  Dan waktu sangat berperan penting demi mencapai tujuan ini.

“Dan orang-orang yang mereka berpaling dari melakukan hal yang sia-sia” (TQS. Al Mukminun : 3).

“Hal yang sia-sia” disini, menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya merupakan segala hal yang bathil meliputi perbuatan syirik, maksiat dan setiap perbuatan maupun perkataan yang tidak mendatangkan manfaat.

Mukmin yang sukses akan memanfaatkan waktu sekarang seoptimal mungkin karena ia ada dalam genggamannya.  Dalam bahasa Inggris, waktu sekarang adalah present, dan kata present juga dapat diartikan sebagai hadiah.  Hadiah tentu harus dihargai.  Seorang muslim memiliki potensi besar untuk sukses karena Islam mendidik ummatnya tidak menunda-nunda pekerjaan.

Khalifah Abu Bakar ra pernah berpesan kepada sahabatnya Umar bin Khattab ra, “Wahai Umar, tanggungjawab yang Allah serahkan pada malam hari janganlah ditunda sampai siang hari dan yang diserahkan pagi hari janganlah ditangguhkan sampai malam hari”.

Menunda pekerjaan adalah penyakit yang akan membuat kita gagal dalam hidup.  Sementara waktu berlalu begitu cepat dan tak bisa diulang.  Jika rugi satu jam, artinya kita telah kehilangan 3600 detik.  Pemanfaatan waktu yang baik akan membuat hidup kita lebih indah dan berkah.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin berkata, “Awasilah setiap detik dalam hidupmu, jangan kamu lupakan Allah sedetik pun.  Karena bila itu terjadi maka kamu sebenarnya dalam keadaan bahaya.  Sesungguhnya semua manusia berada dalam kehancuran kecuali mereka yang berilmu.  Orang-orang yang berilmu berada dalam kehancuran kecuali mereka yang beramal.  Mereka yang beramal juga berada dalam kehancuran kecuali golongan yang ikhlas.  Golongan yang ikhlas ini pun masih belum selamat sepenuhnya dari bahaya besar di sisi Allah.  Semua ini akan membebani kamu kecuali jika kamu mengambil dari dunia ini sekedar perlunya saja”.

Dalam suhuf Nabi Ibrahim yang diriwayatkan Ibnu Hibban dan Al Hakim, terdapat dorongan bagi kita untuk memanfaatkan waktu yang berharga…“Bagi seseorang yang berakal waras pikirannya, hendaklah ia membagi waktunya untuk sesaat bermunajat kepada Tuhannya, sesaat untuk muhasabah diri, sesaat untuk bertafakur berkaitan dengan segala ciptaan Allah dan sesaat untuk mencari keperluan makan dan minumnya.  Orang yang berakal jangan memprioritaskan hal lain kecuali pada tiga hal yaitu Bekal untuk akherat, bekal untuk kehidupan dunia dan bersuka ria dalam hal yang tidak diharamkan”.

Jadi, apa yang telah kita capai dalam hidup ini?  Berapa banyak yang telah kita hasilkan?  Bagaimana dengan pencapaian-pencapaian hidup yang telah kita targetkan?  Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan bagaimana kita memanfaatkan setiap detik waktu kita.  Akhir tahun lalu, saat Ustadz Faqih Syarif selesai memberikan materi training mahasiswa dan kami merubungi beliau untuk membeli bukunya, tiba-tiba beliau berhenti menggerakkan pulpen untuk tanda tangan dan berkata…”Mau sukses?  Cobalah kalian menargetkan diri untuk membuat prestasi setiap tiga bulan sekali.  Maka pasti keajaiban akan terjadi!  Insya Allah…”.

 

*Ditulis setelah merenungi pencapaian hidupku.  Semoga lebih baik ke depannya.  Aamiin ya Rabb…^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s