Insya Allah

image

Setting suasana : siang hari yang cerah, di butik Z…

Penjual :  “Nggak papa jeng, ambil aja barangnya dulu. Bayarnya nanti-nanti deh…”, ujarnya menawarkan barang dagangannya. Rupanya ini bukan pelanggan biasa, tapi pelanggan setia yang dipercaya sehingga boleh bayar belakangan (baca : ngutang).
Pelanggan :  “Insya Allah…”, sahutnya sambil tersenyum simpul.
Penjual :  “Mau saya simpankan dulu atau langsung dibawa aja?”, sambungnya masih dengan suara menggoda si pelanggan.
Pelanggan :  “Lho…kan insya Allah…”, sahutnya menambahkan tanpa rasa bersalah.

Adegan ini bukan rekayasa penulis. Nama pelakon dan tempat sengaja nggak disebutkan. Jika ada kesamaan kejadian, itu murni kebetulan semata, hehe….^_^

Kejadian seperti ini tentu bukanlah peristiwa langka. Sering terjadi dan menimpa berbagai kalangan. Ya kan? Maksud pernyataannya juga jelas kita pahami bersama. Yup, apalagi kalau bukan menggunakan frase “insya Allah” sebagai tameng untuk sebuah penolakan halus. Betul?

“Ah, jangan gitu dong Mbak. Insya Allah itu kan artinya pasti iya. Itu artinya bentuk kesanggupan kita terhadap ajakan atau permintaan orang lain pada kita. Kadarnya menurut ukuran manusia 99,9 % lho…. Sisanya yang 0,01 % merupakan hak Allah, apakah mengizinkan kita atau tidak. Kan insya Allah artinya jika Allah menghendaki…”, sahutku tanpa diminta.

“Nah…”, keduanya serempak langsung ribut mengajukan berbagai uneg-uneg tentang frase insya Allah ini. Urutannya bagaimana, aku takkan mengulangnya dalam edisi tertulis ini. Tapi dari kejadian itu, aku menarik kesimpulan bahwa kisah tentang frase insya Allah sepertinya masih layak untuk diulik. Percaya deh…^_*

Frase insya Allah yang kita kenal saat ini, sebenarnya bermakna sebuah kesanggupan. Dengan kata lain, ia adalah janji yang harus ditunaikan oleh pihak yang mengucapkan. Mengapa demikian?

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu ‘sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut) “insya Allah” ‘. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah ‘mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenaran daripada ini” (TQS. Al Kahfi : 23-24).

Asbabun nuzul surah ini menceritakan…suatu hari kaum Quraisy mengutus An Nadlr bin al Harts dan Uqbah bin Abi Mu’ith menemui seorang pendeta yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Kedua utusan itu pun menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan dan perbuatan Muhammad. Setelah mendengarnya, pendeta Yahudi tersebut berkata, “tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia nabi yang diutus. Akan tetapi jika tidak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai nabi. Pertama, tanyakanlah tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula tentang roh”.

Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu mereka berangkat menemui Rasulullah saw dan menanyakan ketiga persoalan tersebut. Rasul saw bersabda, “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok”. Rasul menyatakan itu tanpa kalimat “insya Allah”.

Dan Rasul saw menunggu wahyu sampai lima belas malam namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasul sendiri sangat sedih karena tidak tahu harus mengatakan apa pada kaum Quraisy.

Kemudian barulah Jibril datang membawa wahyu yang menegur Nabi saw karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan “insya Allah” (QS. Al Kahfi [18] : 23-24).

Saat itu, juga disampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian yaitu Ashabul Kahfi (18 : 9-26); seorang pengembara yaitu Dzulkarnain (18 : 83-101); dan perkara roh (17 : 85) (Asbabun Nuzul KH. Q. Shalah dkk, 1995).

Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam kitab Jami’atul Bayan menjelaskan, “Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah saw agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apapun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah swt”.

Nah, dari sini kita pun bisa menarik pelajaran bahwasanya frase “insya Allah” bukan sekedar kalimat pemanis untuk menolak ajakan atau permintaan teman maupun saudara. Frase “insya Allah” merupakan sebuah janji dan harus ditunaikan.

“Hai orang-orang yang beriman, tepatilah segala janji dan aqadmu” (TQS. Al Maidah : 1).

Bukankah saat mendengar sebuah permintaan atau ajakan dari orang lain, sebenarnya kita bisa mengukur apakah bisa atau tidak menerima atau menjalankannya. Ya kan? Yah, memang tak selamanya perhitungan kita sebagai manusia hasilnya akurat. Terkadang ada hal-hal di luar jangkauan, di luar perkiraan kita yang mendadak terjadi dan menghalangi kita menunaikan janji tersebut. Tapi itu toh bukan niat awal kita yang memang sengaja ingin menolak kan? Itu adalah 0,01 % dari izin Allah yang sangat mempengaruhi kesanggupan kita yang sudah 99,9 %. Artinya, manusia boleh berkehendak namun Allah lah yang Maha Mengatur segalanya. So, alih-alih mengatakan “insya Allah” untuk menolak, mengapa kita tak membiasakan diri berterus terang dengan pernyataan yang juga ma’ruf?

Penjual : “Nggak papa jeng, ambil aja barangnya dulu. Bayarnya nanti-nanti deh…”
Pembeli : “Wah, makasih banget jeng…. Aku sih sebenarnya mau aja, tapi anggarannya nih yang belum ada. Mungkin lain kali deh…”.

See? Nggak menjadikan tameng insya Allah sebagai kata lain dari penolakan halus kan?

“Wah, kalau gitu aku bilangnya gini jeng…kapan-kapan aja. Insya Allah kalo ada rizki lebih dan barangnya masih ada, ntar aku balik ke sini. Oke?”, ralat pelanggan setia itu pada si penjual.
“Oke kan mbak?”, tanyanya meyakinkan diri padaku. Aku dan si mbak pemilik butik tertawa.

Bagimu yang membaca postinganku kali ini, yuk kita sama-sama mengingat kembali tentang makna “insya Allah” dalam pemahaman Islam yang benar. Bukan insya Allah yang telah mengalami inflasi hingga maknanya menurun menjadi kata lain dari “nggak deh, maaf aja ya…”, seperti yang lazimnya terjadi sekarang. Semoga insya Allah bisa jadi kalimat indah pengungkap janji kita pada teman maupun saudara.

Dan bagiku pribadi, ini adalah catatan berharga lain dalam kisah unik perjalananku. Hari itu, aku mencoba memaknai kembali kata-kata kakak mentorku yang begitu menginspirasi kami, krucil-krucilnya yang kadang “nakal”. Kata-kata yang tak hanya diucapkan tapi dibuktikan selalu dalam amal mereka. Sejak dulu hingga sekarang. “Always dakwah. Kapanpun, dimanapun dan pada siapapun”.

image

Hmmm…indahnya semangat dakwah itu. Dan aku, mengulangnya pada teman-teman satu timku. “Ayo sista, kita manfaatkan berbagai peluang di sekitar kita untuk berdakwah. Tak perlu menunggu pengajian berskala besar baru unjuk gigi, tak perlu menunggu momen atau merangkai kalimat indah nan mengharu biru terlalu lama hingga akhirnya melewatkan kesempatan emas untuk menyampaikan Islam pada ummat. Cukup lihat dan dengar apa yang mereka bincangkan lalu bergabunglah dalam pembicaraan itu. Oke?”

*ditulis dalam rangka mencoba ngeblog lewat hp…^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s