Mendadak Penata Rias

henna-weddingCantik.  Di dunia ini, mungkin kata-kata inilah yang paling digemari kaum hawa.  Perempuan mana yang tak mau menjadi cantik atau dibilang cantik?Ya kan?  Apalagi pada momen spesial seperti pernikahan.  Nah nah nah….

“Brina, anti yang bertugas merias…”, begitu ketua panitia pernikahan teman menunjuk dengan semena-mena.  *Ups…beliau gak baca tulisan ini kan?  Hehe…^^V

What???  Nggak salah order neh?  Bagaimana mungkin yang bertanggungjawab menata rias adalah aku?  Aku yang sehari-hari sangat jauh dari benda-benda berbau make up.  Oke, aku memang memakai bedak, celak mata jugahandbody lotion.  Tapi cuma itu doang.  Jadi bagaimana bisa?

Beliau cuma mengatakan…”Bisa kok, pokoknya harus bisa!”, titik.  Aku sih maklum darimana filosofi ini bermula.  Pengalamanpernikahan akhwat sebelumnya yang menggunakan penata rias profesional telah membuat wajah pengantin sangat berbeda.  (Baca :  menor!).  Jadi, aku pun menerima tugas ini.  Anggap aja uji mental plus menambah pengalaman baru.  Dengan catatan, si pengantin harus rela dijadikan kanvas uji cobaku, hehe….^_^

Dan petualangan baruku pun dimulai.  Awalnya, singgah di rumah cantik War**h, mencari make up yang diperlukan.  Pelembab, foundation, bedak padat, lipstik, maskara, eye shadow, eyeliner, eyebrow dan blush on.  Wew, banyak banget ya?  Jangan tanya tagihannya, yang pasti jika peralatan ini dipakai setiap hari, budget bulanan habis cuma buat make up aja.  Hedeh, berat euyyy!

Lalu aku mulai bereksperimen.  Korban yang mau menyerahkan wajahnya dengan sukarela sangat sulit ditemukan selain calon pengantin.  Padahal motto yang dipesankan Ama padaku adalah “bisa karena biasa”.  Otomatis aku merasa wajib mencobanya beberapa kalidulu untuk membiasakan tanganku berkreasi dengan alat-alat ajaib itu, sebelum memakaikannya pada korban aslinya.  Jadi dengan sedikit paksaan aku meminta Adel menjadi kanvas pertama.  “Kasihanilah temanmu yang mendadak dangdut, eh…mendadak jadi penata rias ini!”, dan dia pun pasrah.  Cihuyyy!!!

Hasilnya sih masih lumayan menurutku.  Idih, muji pekerjaan sendiri, hehe….  Ya iyalah, paling tidak aku harus membesarkan hati biar makin mantap jadi penata rias di hari bahagia saudariku.  Ya kan?

Dan akhirnya bereksperimen dengan calon pengantin menjadi latihan terakhir bagiku.  Maklumlah, tenaga amatiran kan harus mengeluarkan energi ekstra agar tak mengecewakan.  Dan aku pun menghabiskan waktu beberapa kali bongkar pasang, mencocokan warna pakaian dan make up-nya, mencoba pulasan yang sederhana tapi tetap membuatnya tampil CANTIK di hari bahagianya.

Kalo mau jujur sih, mungkin gelisahku menyaingi calon pengantin, wkwk….  Pagi-pagi dalam perjalanan menuju rumah mempelai, aku mengatakan pada diriku sendiri ”Brina, tenang aja…gak papa kok!  Kamu cuma disuruh menata rias doang.  Itu kan sama aja dengan melukis.  Bukannya kamu suka melukis?  Anggap aja kedua matanya gunung, hidungnya bantaran sungai, bibirnya bunga dan seterusnya!  Jadi, nikmati aja kanvasmu hari ini…”.

Dan aku pun mulai berkreasi pada wajah saudariku di hari pernikahannya.  Make up yang kucoba bukan untuk koreksi, hanya riasan sederhana agar pengantin terlihat sedikit lebih bersinar dari biasanya.  Jadi polesan tipis pelembab, foundation plus bedak yang senada dengan warna kulitnya, eyeliner hitam untuk memberi efek mata lebih besar, maskara untuk menebalkan bulu matadan hanya sekali oles biar terkesan alami, aplikasi eye shadow ringan dengan warna kalem di kelopak mata, lipstik berwarna natural danblush on yang kububuhkan sekedarnya, telah cukup membuat sejarah cantik di catatan momen spesialnya.

Hari itu, semuanya bertanya padaku…”Brina, belajar make up gitu dimana?”.  Aha…itu artinya hasil kerjaku masih bisa diharapkan.  Tak lama berselang, aku kembali mendapat kesempatan menjadi penata rias pengantin.  Konsep tata rias“Cantik itu sederhana” sepertinya masih bisa diterima keluarga mempelai.  Hmmm…kalau mereka tahu aku baru belajar kemarin, apakah mereka masih akan mempercayakan wajahnya?  Hehe….

Kata-kata sakti Amaku…”bisa karena biasa”, terbukti merupakan petuah ampuh saat mulai menaklukan tantangan baru.  Ingat saat pertama kali mengkoordinir mentoring di kampus.  Kemampuan bicara minim dan gugup luar biasa.  Selesai mentoring, semuanya telah jadi biasa.  Pertama kali menyebar proposal dana, malu dan takut ditolak menguasai hati dan pikiran.  Tapi setelah melewati beberapa kali, kemampuan lobi meningkat dan jika ditolak pun masih bisa ditertawakan.  Pertama kali jadi MC di hadapan para guru besar, ditertawakan para pengintip karena membuka acaranya seperti membuka kajian.  Setelahnya, mau MC apapun bisa!Pertama kali belajar naik motor, jatuh di selokan.  Tapi sekarang bahkan bisa menyaingi Rossi balapan di medan berat pedalaman.

Akan selalu ada saat pertama kali dalam hidup kita.  Tak perlu selalu menghindarinya dengan mengatakan “tidak”.  Cukup beranikan diri dan yakinkan hati bahwa kita pasti mampu melewatinya.  Katakan dengan pasti…”Aku pasti bisa!!!”.beneran

So, maukah mempercayakan wajahmu padaku?  Hehe….^_^

6 thoughts on “Mendadak Penata Rias

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s