Kupinang dengan Hamdalah

Kupinang Engkau Dengan HamdallahSekretariat Akhwat LDK.

“Ukh, ane mau bayar buku yang kemaren diambil…”, ujar seorang ikhwan.

Nah, hari itu aku dan Saudah giliran ngendon di sini.  Ini jadwal kami piket jaga sekre, sebut saja begitu biar mudah.  Masa kepengurusan kami memang sedikit berbeda.  Biasanya sekre akhwat tepat bersebelahan dengan sekre ikhwan.  Ah, kata lainnya sih…satu ruangan yang disekat jadi dua ruangan gitu.  Satunya dipakai ikhwan, sementara yang satunya…merangkap perpustakaan masjid kampus, menjadi sarang kami.  Ups…sekre, maksudnya!

Kepengurusan akhwat sepakat untuk pindah sekre demi beberapa alasan.  Pertama, alasan kenyamanan.  Akhwat merasa tak bebas saja jika bicara harus berbisik-bisik karena sekat triplek yang demikian tipis itu.  Kedua dengan alasan program kerja biro dana dan usaha yang ingin mengekfektifkan fungsi sekre sebagai tempat usaha.  Maka kami sepakat pindah ke samping rental dan warnet di tengah kampus.  Posisi strategis memang, wajar jika pelanggannya lumayan.

Apa yang kami jual?  Macam-macam…dari pernak pernik seperti bros, kerudung, jilbab, snack dan minuman, hingga buku!  Dan buku ini jadi salah satu daya tarik bagi kami, para penjaganya.  Lumayan kan, bisa baca buku baru gratis…dengan catatan tak boleh sampai lecek!  Pssstttt…bagian ini sebenarnya rahasia penjual, hehe….^^V

Pelanggan kami salah satunya ikhwan tentu saja.  Mereka juga bisa mengakses buku-buku disana saat kami sudah pulang dari sekre.  Cukup izin dengan ketua keputrian, lalu jika ada barang yang diambil dan belum bayar silahkan menghubungi pengurus yang piket besoknya.  Begitu!

“Buku apa?”, tanyaku sambil membuka buku catatan penjualan.  Mencari nama barang dan nama yang bersangkutan.  Sementara Saudah yang duduk tepat di sebelahku tak memalingkan wajah sama sekali dari diktat kalkulusnya.

“Kupinang dengan hamdalah”, ujarnya singkat.

“Apa tadi?”, aku mengulang pertanyaan karena tak menemukan judul sebagaimana yang dia sebutkan.  Terdengar suara tawa tertahan di sebelah (ingat :  rental plus warnet di sebelah sekre akhwat, yang jaga kebanyakan juga pengurus LDK.  Ckck…).  Meskipun dindingnya lebih tebal daripada sekre lama kami, suara yang cukup heboh akan terdengar oleh kami.

“Ehm…kupinang dengan hamdalah”, sahutnya lagi.  Finally…setelah membolak-balik sekali lagi, akupun menemukannya.  Meskipun setelah kulihat judulnya tak sama persis dengan yang seharusnya, aku tak mempermasalahkannya.  Setelah mengembalikan sisa uang, ia hanya mengatakan “Syukron, assalamu’alaikum…”, lalu berbalik pergi.

Bagi aku dan Saudah, transaksi sudah selesai maka kami melanjutkan aktivitas.  Tapi tidak bagi tetangga sebelah.  Justru mereka makin riuh saat si ikhwan sudah kembali.  Aku dan Saudah sontak bertukar pandang.  Apa yang salah dari peristiwa barusan?

Kening kami berkerut-kerut, mencoba mencari kejanggalannya.  Tiba-tiba saja aku teringat pada buku catatan penjualan yang masih terbuka di atas meja.  Kupinang Engkau dengan Hamdalah, demikian judul buku yang ditulis oleh M. Fauzil Adhim itu.  Tertulis rapi, tulisan tangan si ikhwan tadi.

Hmmm…mau tak mau, aku dan Saudah ikut menahan tawa geli ketika menyadari apa yang terjadi.  Pantas saja saat ia menyebut judul buku yang dibeli terasa ada yang aneh.  Rupanya ia sengaja meninggalkan satu kata yang bisa bermakna ganda jika diucapkannya pada penjual yang notabene akhwat.  Takut si akhwat ge-er mungkin?  Wkwk….>.<

Kupinang (engkau) dengan hamdalah.

Untunglah, penjual hari itu adalah kami berdua yang agak-agak lemot sehingga tak ada kesalahpahaman atau kege-eran yang tak perlu.  Kami biarkan saja ikhwan di sebelah menggoda temannya akibat aksinya tadi.  Bagi kami, senyum geli dan sesekali tawa tertahan cukuplah menjadi teman saat mengingat lagi kejadian lucu itu di kost.  Aku dan Saudah, teman sekamar…maka obrolan lucu itu pun berlanjut.  Si Saudah membayangkan…bagaimana seandainya kami salah paham, bisa-bisa badai berkecamuk dan dunia sebelah semakin heboh, wkwk….>.<

Lembaga Dakwah Kampus punya segudang cerita unik buatku.  Ada suka, duka, tawa, canda juga cinta di sana.  Termasuk kekonyolan-kekonyolan saat menghimpun massa, merancang acara hingga menjalankannya, mungkin sudah tak terhitung banyaknya.  Selalu mampu menghadirkan senyum di wajah-wajah kelelahan kami.  Menertawakan hal-hal yang dulunya menyebalkan, tapi sekarang terasa manis di ingatan.

Itu dulu, beberapa tahun yang lalu….  Dan besok, kami akan menandai awal dakwah kampus di tempat baru.  Tempat kami memijakkan kaki dan menata langkah baru setelah meninggalkan kampus tercinta.  Kegiatan besar telah matang terentang.  Jalan menuju pembentukkan LDK sebagai wadah mahasiswa yang menyatukan perjuangan dakwah berada di depan mata.  Semoga, mahasiswa dengan idealisme kokoh bisa terbentuk.  Tak hanya mahasiswa 3K…kampus, kost dan kakus.  Tapi mahasiswa yang siap terjun di masyarakat untuk terus memperjuangkan idealismenya dengan pemahaman Islam kaffah.

*Ditulis setelah diingatkan Adel tentang kisah ini.  Sebagai anggota ketiga di kamar tercinta, ia tentu mendengar versi lengkapnya.  Ah, jadi kangen Saudah…^_^

2 thoughts on “Kupinang dengan Hamdalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s