Hujan dan Jas Hujan

hujan5Aku menyukai hujan.  Begitu menyukainya hingga sering menantikannya.  Semakin lebat, semakin dingin, semakin aku menyukainya.  Tak seperti orang lain yang otomatis berteduh saat tetes-tetes bening itu turun, aku dengan senang hati bermain dengannya.  Tak peduli dengan rasa dingin yang menusuk tulang, tak menghiraukan petir yang kadang menghiasi suasana.  Sejak aku mengenalnya di usia belia, aku selalu mencari cara agar bisa bersamanya.  Menunggu di ujung talang air di samping rumah, agar curahannya bisa menghujaniku semakin deras.

Biasanya Ibu akan memberi kesempatan bermain sejenak sebelum beliau menghentikan cengkeramaku bersama hujan, memandikan lalu membungkusku dengan pakaian tebal.  Tak lupa segelas susu cokelat yang mengepul hangat.  Begitu selalu.  Bahkan jika hujan turun saat aku pulang sekolah, aku akan menerobosnya penuh suka cita.  Mungkin itu juga salah satu alasan aku tak menyukai jas hujan.

Logikaku begitu sederhana…aku menyukai hujan ini, jadi mengapa aku harus berlindung darinya?  Bukankah takkan menyenangkan jika aku memakainya?

“Kriiiiing…”, telfon di ruang tamu membuatku meletakkan gelas berisi teh beraroma melati yang menghangatkan dua telapak tanganku.  Mengalihkanku sejenak dari ingatan indah tentang hujan.  Tapi aku tak beranjak, membiarkan saja dering telfon menyaingi denting air yang jatuh di atap rumah, tertampung talang dan turun di penampungan berupa kendi besar dari tanah liat.  Air hujan mengucur dari mulut kendi yang mungil itu ke saluran air.  Sebagian lagi memercik pada Caladium kesayangan Ibu yang ditanam dalam pot tanah.  Aku lagi-lagi hanyut dalam cantiknya hujan sore ini.

“Sayang, ada telfon dari Rasti tuh…”, Ibu muncul dari pintu yang menghantarkannya menuju teras samping tempatku berasyik masyuk dengan hujan.

“Ibu tahu perasaanmu belum membaik, tapi kasihan Rasti yang menelfonmu jauh-jauh dari luar kota sana.  Mengapa tidak memberinya kesempatan menjelaskan semuanya padamu?”, rendezvous ini, juga kata-kata Ibu membuat mataku agak berkabut.  Sudah lama sejak aku tak lagi menikmati hujan.  Sudah lama sejak hujan mulai membuatku tak nyaman.  Aku…mendadak alergi hujan!

***

“Ras…”, aku mengguncang bahu sahabatku yang baru terlelap beberapa jam setelah menyelesaikan laporan fisika dasar yang harus kami setor besok pada asisten.  “Rasti….  Ras…”, dengan mulut masih setengah ternganga, ia menelan liur yang hampir menitik di sudut bibirnya.  Aku tersenyum-senyum geli memandangi sambil memanggil namanya kembali.

“Heh?”, Rasti membuka matanya separuh lalu mengerjap-ngerjap.  Menguap sangat lebar karena kantuk yang masih bersarang.  Lalu refleks bangun dengan malas mengikuti langkahku.  Ia sudah hafal kebiasaanku yang sering ke belakang tengah malam.  Jadi saat aku membangunkannya malam-malam begini, ia hanya akan meresponku dengan satu kata “heh?” lalu bangun tanpa mengeluh sepatah kata pun.  Begitu bertahun-tahun.  Ia menemaniku melewati malam gelap menuju kamar kecil kost yang terpisah di luar kamar meski hanya dalam hitungan sepenggalah.  Ia menungguiku dengan mata setengah terpejam, ditemani nyamuk-nyamuk nakal yang kadang mencuri satu dua gigitan.  Itulah sebabnya aku begitu menyukainya.  Aku mencintai dengan sepenuh hati.  Sahabatku, Rasti.

***

“Ras….  Rasti, bangun…”, aku lagi-lagi membangunkan sahabatku itu di malam buta saat ia baru memejamkan mata beberapa jam lamanya.  Ia tak bergeming.  Mungkin amat lelah.  Sejak kedatanganku ke sini, ia hanya tidur paling banyak empat jam sehari.  Melihat wajah polosnya saat tidur dengan mulut setengah terbuka dan liur yang lagi-lagi tak jadi menetes karena terkejut, aku setengah tertawa setengah kasihan.

Aku mengguncang bahunya agak histeris.  Ia tidur masih dengan pulpen di tangan dan meja kecil yang bermuatan kertas-kertas coretan.  Di sampingnya berserakan buku-buku tebal beraneka judul.  Dari Metode Penelitian Ilmiah, Statistika Dasar, Statistik Non Parametrik dan beberapa referensi terjemahan lain teronggok sukses.

“Rasti…ayo bangun!”, kali ini aku tak sekedar mengguncang lagi.  Bahkan sudah menarik-narik tangannya.  Ia mengerjap-ngerjapkan mata, bangun dengan limbung lalu menuju kamar mandi.  Aku mengikuti langkahnya di belakang.  Bukan…aku bukan lagi minta ditemani menjaga pintu kamar kecil seperti tahun-tahun awal kami kuliah.  Sama sekali bukan.  Ketakutan seperti itu sudah berhasil kulewati, jauh sebelum aku lulus dan kemudian bekerja.

Aku datang demi Rasti yang belum menyelesaikan skripsi hingga detik-detik terakhir karirnya di dunia kampus.  Aku datang dari jauh demi sahabat yang menemaniku di depan kamar kecil kost dan menghalau pekatnya malam yang membuatku takut.  Aku datang membangunkannya di tengah malam dan menemaninya begadang hari ini, agar ia lebih tangguh melewati skripsi yang bagai siksaan akhir mahasiswa itu.  Seperti ia yang tak mengeluh menemaniku, aku pun takkan mengeluh datang padanya.  Meski akibatnya aku harus mendapat surat cinta akibat melalaikan pekerjaan, aku tak peduli.  Aku menyayanginya dengan segenap yang kumiliki.  Sahabatku, Rasti.

***

Aku tak ingat lagi kapan terakhir kali aku bahagia saat berada di bawah guyuran hujan.  Sejak terakhir kali aku tahu bahwa reaksi tubuhku berubah mungkin?  Sejak kusadari bahwa sensasi hujan yang kusukai akhirnya membawaku pada satu kenyataan pahit, bentol-bentol seperti gigitan nyamuk yang terus membesar dan akhirnya bengkak!

Rasa gatal tak tertahankan membuatku menggaruknya hingga terasa pedih.  Kulitku luka, aku tak bisa lagi bebas bermain dengan hujan seperti dulu.  Saat ia datang, perasaan waswas akan menghantuiku.  Bagaimana jika aku bengkak-bengkak lagi dan sampai bolos kuliah?

Dilema itu menyakitkan.  Aku menyukai bermain hujan, tapi aku juga tak menyukai fakta terkini bahwa hujan yang kucintai membuat reaksi negatif pada tubuhku.  Jas hujankah solusinya???

Dengannya, aku masih bisa menikmati berjalan di bawah hujan, sedikit dingin namun tak langsung mengenai kulitku.  Bisakah aku berdamai dengan hujan melalui perantara jas hujan itu?  Aku masih bertanya-tanya, mencoba mencari jawaban dalam eksperimen-eksperimen kecilku.  Memuaskan rasa keingintahuan yang bertumpuk dalam benak.  Kata lainnya, aku ingin mendapat jawaban sebagaimana yang kuinginkan.  Aku ingin kembali seperti dulu.  Aku dan hujanku.  Tanpa jas hujan!

***

“Lho…ini kenapa?”, Rasti setengah tertawa setengah kasihan melihatku yang tak karuan bentuk.  Tangan dan kakiku bengkak-bengkak, begitu pula ujung mata dan bibirku…jadi agak monyong!

“Nggak tahu nih, tiba-tiba aja gini…”, sahutku sekenanya.  Setelah mengurung diri sepanjang hari dan tak kunjung hilang, aku melapor pada Rasti.  Ia tertawa lepas, namun demi melihat cemberut yang menghiasi wajahku…ia menahannya menjadi seulas senyum dengan deheman.  Aku makin cemberut.

“Yaelah neng, gitu aja marah!  Kamu kayaknya beliman1 nih…”, ujarnya mendiagnosa seenaknya.  Tapi aku mendengarkan dengan khidmat.  Beliman?  Aku belum pernah punya penyakit dengan nama itu, pikirku.

“Biasanya sih pemicunya alergi makanan atau…bisa jadi cuaca.  Ada temanku juga yang karena udara dingin jadi bentol-bentol trus membengkak persis gini.  Obatnya gampang kok, cukup dikasih madu…sembuh deh!  Kan madu panas, jadi bisa mengurangi efek dingin cuaca”, jelasnya asal.  Maklumlah…ini momen dimana dua mahasiswa non kedokteran sedang mendiskusikan sebuah penyakit dan melakukan diagnosa sendiri, pembicaraan ngawur tentunya.  Tapi aku mendengarkan dengan serius.  Menerima sarannya tanpa protes, termasuk sebotol madu yang diculik khusus untukku dari rumahnya.

Sebenarnya aku bukan tipe orang yang dengan mudah mengungkapkan kelemahan diri sendiri.  Aku menjaga semua yang bisa kusembunyikan pada dunia.  Tapi pada sahabatku satu ini, kami berbagi segalanya.  Kebaikan, keburukan, kesenangan, kesedihan.  Semuanya!

Tak ada batas, tak ada rahasia.  Padanya aku bisa mengatakan semua yang ingin kukatakan.  Padanya aku bisa mengungkapkan semua yang tak bisa kuungkapkan pada orang-orang lainnya.  Kami begitu saling memahami, hingga bisa bicara hanya dengan kerlingan mata.  Begitulah aku dan sahabatku, Rasti.

***

Ini sudah lama.  Lama sekali…sejak aku tak lagi terlalu menyukai hujan.  Aku meninggalkan aktivitas rutin bermain hujan, bersih-bersih setelahnya lalu mengenakan mantel hangat dan duduk di depan jendela kamar tidur atau teras samping rumahku.  Mencecap cokelat yang menghangatkan tubuh dan hatiku.

Aku menikmati setiap bulir-bulir hujan yang jatuh.  Bak musik yang mengalun indah, aku menikmati suaranya.  Bak lukisan ajaib mempesona mata, aku membiarkan mataku memandangnya tanpa jeda.  Lalu beralih pada teman novel atau komik kesayanganku, atau bisa juga mengkhayal tentang sesuatu.

Meskipun terkadang aku merindukannya, namun aku juga takut padanya.  Pada hujan yang tak lagi ramah padaku.  Hujan yang tak lagi sesuai prasangkaku.  Kukira ia temanku.  Takkan mungkin menyakitiku.

***

“Bisakah kita bicara?”, Rasti selalu meminta satu kesempatan padaku.  Bukannya aku tak pernah memikirkan tawaran ini.  Hanya saja aku takut bahwa aku tak bisa menerima alasan apapun yang dikatakannya.  Bisa jadi hatiku terlalu egois untuk menerimanya.  Entahlah!

Saat waktu demi waktu berlalu, aku membulatkan tekad.  Sudah saatnya perang dihentikan.  Sudah saatnya menciptakan perdamaian.  Maka kuputuskan untuk tak mempertanyakan lagi apapun padanya.  Berharap dengan begitu semua akan berlalu seiring berjalannya waktu.  Kecanggungan, ketidakterbukaan, basa-basi yang terkadang begitu basi, menjadi pola interaksi setelah sekian lama putus hubungan.  Aku memaafkan semua yang bisa kumaafkan.  Namun hasilnya tak pernah bisa sama seperti dulu.  Maafkan aku, ini giliranku meminta.

***

“Jam berapa sampai sini?”, sebuah sms masuk ke galaxi note-ku.  Aku tersenyum membacanya.  Mengetikkan beberapa patah kata, “Insya Allah 13.30 wita, jemput ya…”, lalu mengirimnya.  Setelah check-in beberapa waktu lalu, aku berkeliling mencari tempat nyaman untuk menunggu.  Berputar sejenak memilih majalah untuk dibaca lalu duduk sambil sesekali memandangi rintik hujan yang jatuh di luar jendela kaca cafe bandara.  Mencecap cappucino hangat dan tersenyum simpul pada artikel menarik yang kubaca.  Sebuah ulasan tentang cinta dan benci karena Allah, dengan membubuhkan kalimat Umar bin Khattab yang terkenal…“Jika engkau mencintai janganlah berlebihan seperti seorang anak kecil mencintai sesuatu. Dan, jika engkau membenci, janganlah berlebihan hingga engkau suka mencelakai sahabatmu dan membinasakannya”.

Hmmm…aku memang tak lagi seantusias dulu saat hujan.  Namun aku tetap berusaha menikmatinya kapan saja saat ia datang.  Dan sesekali mengenakan jas hujan demi kebaikan bersama tak lagi terlalu menggangu, meskipun kadang hinggap perasaan tak nyaman saat memakainya.  Namun setelah dipikir-pikir, mungkin itulah ujian Allah buatku.  Hanya berharap semoga hati ini makin bijak, doaku diam-diam.

“Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai” (HR. Muslim).

Catatan :

1Beliman =  Biduran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s