Belajar dari Ibrahim

“Seseorang akan diuji di titik terlemahnya…”, demikian kata seorang ustadzahku pada kami, anak-anak binaannya yang seringkali bertingkah macam-macam dan memusingkan kepala beliau.  Dan kami membenarkan perkataannya dengan diam, tertunduk hingga meneteskan air mata.  Itu dulu, dulu sekali…saat aku dan teman-temanku masih menikmati tahun kedua sebagai mahasiswa.

Padahal saat itu yang menjadi masalah kami kebanyakan hanya seputar masalah na’u dan baqa saja.  Aktivis mahasiswa tergoda cinta, sesama aktivis mahasiswa salah paham dan mendiam-diamkan, atau yang semisalnya lah.  Hanya itu, titik.

Bagaimana sekarang?

Seiring berjalannya waktu, kami pun terjun ke masyarakat sesungguhnya.  Memasuki dunia kerja yang sarat persaingan, berdiam dalam dunia dimana manusianya larut dalam aktivitas duniawi dan menjadikannya sebagai orientasi hidup.  Dunia yang menjadikan agama tak lebih sebagai simbolitas diri dan akhirat tak lagi terpikirkan dalam benak.  Dunia dimana manusia berbangga diri dengan keuntungan materi yang dihasilkan per harinya.

Ya, itulah dunia kapitalisme yang mengagungkan kenikmatan materi di atas segalanya.  Dunia kapitalisme yang membuat orang baik berubah abu-abu hingga hitam karena terseret arus sistemnya yang buas.  Tak terkecuali para aktivis yang kesehariannya larut dalam dunia dakwah.  Tuntutan kebutuhan keluarga yang terus meningkat, beban hidup yang makin berat serta propaganda gaya hidup modern yang hedonis tak luput membuat galau.  Dan perangkap syaitan pun dipasang agar diri pelan-pelan melalaikan amanah hingga keluar dari jalan dakwah.

Jika demikian, saatnya rehat sejenak dan merenungi sebuah kisah yang begitu menginspirasi jiwa.  Belajar dari Ibrahim as tentang cinta, ketaatan dan pengorbanan….

Di dalam Qur’an surah Ash-Shaffaat 100-111 :

Ya, Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk golongan orang-orang yang saleh.  Maka kami beri kabar gembira dengan seorang anak yang sabar.  Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.  Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).  Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,” sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.  Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.  Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.  Demikianlah Kami memberi balasan pada orang-orang yang baik.  Sesungguhnya ia masuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Demikianlah kisah Ibrahim as, bapak para anbiya yang mulia.  Secara fitrah, manusia dikaruniai oleh Allah SWT gharizah an-nau’ yang perwujudannya berupa kecintaan pada orang tua, anak maupun istri.  Demikian pula halnya Nabi Ibrahim as, meski usianya dan istri kian senja, beliau terus berdoa agar diberikan keturunan yang shalih.

Maka tak ayal lagi, kehadiran Ismail dalam kehidupan beliau merupakan buah hati, kecintaan dan harapan yang telah lama dinantikan.  Ismail mendatangkan kebahagiaan yang indah di hari-hari Ibrahim.  Dan Ismail pun merasakan betapa besar kasih sayang ayahnya.  Namun di tengah rasa bahagia itulah ujian Allah menghampiri mereka.  Allah SWT menurunkan perintah kepada Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya.  Saat itu, Ibrahim menghadapi dua pilihan yang sulit : mengikuti perasaan hatinya untuk “menyelamatkan” Ismail ataukah menaati perintah Allah dengan “mengorbankan” putranya?

Pernah tahu rasanya menunggu bertahun-tahun lamanya sesuatu yang sangat kita harapkan kedatangannya?  Pernah tahu kebahagiaan tiada tara saat sesuatu yang kita tunggu begitu lama itu akhirnya datang kepada kita?  Tapi pernahkah tahu juga rasanya merelakan sesuatu yang sudah kita tunggu begitu lama untuk dikorbankan dan di kembalikan pada-Nya?  Itulah perasaan nabi Ibrahim as.

Merelakan sesuatu yg sangat dicintai, tentu bukan hal yg mudah.   Apalagi hal tersebut telah sangat kita nantikan bertahun lamanya.   Namun ketika akhirnya Sang Pencipta menguji dengan perintah untuk berkurban, disanalah keimanan dan ketaqwaan Ibrahim as diuji untuk merelakan, mengikhlaskan Ismail putranya untuk di sembelih.

Sebagaimana Nabi Ibrahim as, kita pun memiliki sesuatu yang sangat kita cintai, yang deminya kita akan rela mengorbankan apapun.  Sesuatu yang dapat melemahkan iman dan menghalangi diri menuju ketaatan kepada Allah SWT.  Sesuatu yang dapat membuat kita tidak mendengarkan perintah-Nya dan menyatakan kebenaran.  Sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban.  Sesuatu yang menyebabkan kita mengajukan alasan-alasan untuk menghindari perintah Allah SWT.

Perwujudannya tentu bermacam-macam, bisa jadi manusia berupa anak, suami, istri, orang tua dan siapa saja.  Atau bisa pula berupa harta benda, pangkat maupun jabatan.  Hanya diri kita sendiri yang paling memahami titik terlemah diri.  Dan hanya kita sendiri yang bisa menambalnya dengan cinta dan taqwa sebagaimana Ibrahim as mengajarkan pada kita.  Bahwa cinta di atas segala cinta adalah Allah SWT.  Cinta kepada anak, harta maupun dunia takkan bisa mengalahkan kecintaan pada Sang Pemilik jagad raya.  Bahwa setiap karunia Allah berupa anak, harta dan dunia takkan bisa menjadi saingan cinta beliau pada Allah SWT.

Di sini pula kita belajar tentang ketaatan dan pengorbanan.  Ibrahim yang menjalankan perintah Allah dengan ikhlas dan Ismail yang menerima perintah tersebut dengan penuh kesabaran.  Subhanallah, inilah kisah anak dan ayah yang luar biasa dalam menjalankan ketaatan kepada Rabb-nya.

Dan sebagaimana kita ketahui bersama, pilihan Ibrahim “mengorbankan” Ismail pun akhirnya berbuah manis.  Allah menggantikan derita pengorbanan mereka dengan kebahagiaan yang berkali lipat indahnya, di dunia dan akhirat.

Itulah pilihan nabiyullah Ibrahim as.  Bagaimana dengan kita?

Sering kita merasa taqwa

Tanpa sadar terjebak rasa

Dengan sengaja mencuri-curi

Diam-diam ingkar hati

Pada Allah mengaku cinta

Walau pada kenyataannya

Pada harta pada dunia

Tunduk seraya menghamba

Belajar dari Ibrahim

Belajar taqwa kepada Allah

Belajar dari Ibrahim

Belajar untuk mencintai Allah

Malu pada Bapak para Anbiya

Patuh dan taat pada Allah semata

Tanpa pernah mengumbar kata-kata

Jalankan perintah tiada banyak bicara (Snada, Belajar dari Ibrahim).

“Ya Rabb, mungkin kami belum mampu mengorbankan yang paling dicintai seperti berkorbannya Nabi Ibrahim as dalam memenuhi panggilan-Mu.  Namun jadikanlah kami hamba-hambamu yang ikhlas mengorbankan waktu, pikiran, harta dan jiwa demi memenuhi panggilan perjuangan di jalan dakwah-Mu”.

SELAMAT IDUL ADHA 1433 H

2 thoughts on “Belajar dari Ibrahim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s