Skenario Terbaik

Terkadang teori lebih mudah dihafal daripada prakteknya.  Seperti semua orang yang pasti pernah mendengar bahwa skenario buatan Allah lah yang terbaik dibanding skenario buatan manusia.  Namun berapa orangkah yang sungguh-sungguh meyakini tanpa keraguan?  Bahwa episode tak enak hari ini mungkin akan berbuah manis esok hari?  Entahlah!

Pada kasusku…aku tersesat saat mengantar proposal ke rumah guruku.  Berangkat dengan berbekal peta buta dan rajukan karena Ama yang awalnya berjanji menemaniku malah membatalkannya.  Bukan sengaja memang, ban motor beliau bocor saat akan pulang dari kebun.  Maka…aku yang tak mau ambil resiko menunda waktu pun segera tancap gas!

Hal pertama yang kulakukan tentunya mencari teman lain guna bertualang ke sana.  Setelah dipertimbangkan…pilihan paling enak sepertinya jatuh pada sobat kentalku, Dayah dan dia bersedia.  Satu fase baik pun akhirnya terlewati, Alhamdulillah….

Kami berangkat dengan riang.  Naik motor dengan santai sambil berbagi kisah karena lama tak jumpa.  Saat itulah aku bertanya padanya tentang jalan pintas, maksudnya sih biar nggak kesorean di jalan….  Apa jawabannya?  “Nggak ingat juga, Brina!  Lama nggak ke sana, hehe…”, ujarnya.

Aku tak terlalu ambil pusing saat itu.  Ya sudahlah kalau begitu, kita jalani saja.  Masih sambil obral obrol, kami menikmati perjalanan sore itu.  Dan…jreng jreng, kami pun tiba di tempat tujuan setelah berkendara selama tiga puluh menit.  Namun apa yang terjadi?  Olala…rupanya aku memacu motor ke jalan yang salah, hehe….^^

Kami tersesat.  Dan tersesatnya pun sangat-sangat jauh dari tujuan kami seharusnya.  Tak ayal lagi, kami berdua pun tergelak.  “Ya ampyuun, Brina….  Kok kita bisa sampai di sini?  Kan tempatnya di Bamban…kok kita malah ke Pasir Panjang?  Hehe….”, Dayah tak habis pikir.  Aku juga tak habis tawa, kekonyolan sore itu…luar biasa, wkwk….

Kami kembali masih dalam suasana geli.  Satu jam waktu pun akhirnya benar-benar terbuang percuma.  Padahal hari sudah semakin sore.  Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan.  Satu jam berikutnya kami habiskan dengan mencari tempat tujuan asli.  Eh, begitu hampir sampai…adzan maghrib pun berkumandang.  Merasa ini bukanlah jam sopan untuk bertamu, kami pun balik arah menuju masjid besar yang kami lewati sebelumnya.  Ikut shalat juga berdoa, semoga perjalanan ini tak sia-sia.

Begitu selesai, kami pun melanjutkan perjalanan.  Sudah mendekat, kami malah digonggong dua ekor anjing besar.  Alamak…ni doggy kayaknya terlalu surprise ngeliat kami, makanya sambutannya jadi lebay gitu.  Tapi kami tak peduli, anjing menggonggong kami tetap berlalu menuju rumah guruku!

Dan begitulah, momen ajaibnya pun terjadi saat kami tiba di sana.  Guruku ternyata juga baru sampai di rumah tak lebih lima menit sebelum kami datang.  Dan Dayah membisik di telingaku, “ternyata ini tho hikmahnya kita tersesat tadi?  Coba kalo kita datang sore, pasti nggak bakal ketemu Beliau.  Ya kan?”, ujarnya.  Aku mengangguk mantap, tersenyum.  Begitulah Allah SWT mengatur skenario terbaiknya.

Khusus kisah ini mungkin akan mudah bagiku dan bagimu untuk menangkap hikmahnya.  Namun beberapa kasus lain dengan rintangan lebih besar serta masa waktu lebih lama tentu akan menghadirkan perasaan berbeda.  Sebagai manusia yang punya banyak mimpi dan harapan lalu bertemu dengan rintangan silih berganti dan tak usai dari waktu ke waktu, akan mudah lisan kita mengeluh dan hati yang berprasangka.

Menghadapi situasi ini, terkadang ada yang mengambil sikap kurang produktif, sehingga ujung-ujungnya menimbulkan sikap kurang kooperatif.  Termasuk lebih suka pasif dan apatis menghadapi persoalan hidup.  Lebih parah lagi, bahkan tidak sedikit yang stress atau depresi.  Alih-alih memperkuat usaha dan doa, sebagian terjebak dalam bisikan syaitan.  Ada yang ke dukun, tukang ramal, memelihara jimat, bahkan ada yang mencoba untuk melakukan praktik suap.

Tatkala rasa jemu mulai menyelubungi jiwa dan raga, sementara target yang diharapkan tak kunjung tiba, hati mulai kesal, perlahan kecewa dan akhirnya berburuk sangka kepada Allah SWT.  Hati mulai lupa bahwa Allah semata yang menetapkan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya.  Akibatnya bukan aja usaha yang mulai ditinggalkan, perlahan keyakinannya kepada janji Allah pun kian menipis. Langkah demikian muncul karena tanpa sadar seseorang telah meredupkan api imannya dan menggadaikan diri kepada selain Allah.

Logika syaitan pun muncul dan diyakini sepenuh hati, “Apa saja deh yang penting urusan cepat tuntas”.  Nah lho???

Saat inilah, pemahaman tentang ar-roja sangat penting.  Apa itu?  Ar-roja adalah berbaik sangka pada Allah SWT yaitu dengan mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan serta pertolongan dari-Nya.  Allah SWT telah memuji orang yang mengharapkan perkara-perkara tersebut seperti halnya Allah SWT memberikan pujian kepada orang yang takut kepada-Nya.  Allah SWT juga telah mewajibkan roja dan berbaik sangka kepada-Nya sebagaimana Allah mewajibkan takut dan mengharapkan rahmat dari-Nya.

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).  Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (TQS. Al A’raf {7} :  56).

Selain itu, Watsilah bin Asqa pernah berkata :  Berbahagialah karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah berfirman : Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku.  Apabila ia berprasangka baik kepada-Ku maka kebaikan baginya dan bila berprasangka buruk maka keburukan baginya” (HR. Ahmad dengan sanad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

Sabda Rasulullah : “Apabila ia berprasangka buruk maka keburukan baginya”, adalah indikasi bahwa tuntutan dalam hadits tersebut bersifat pasti.  Artinya perintah untuk senantiasa berharap kepada Allah, berbaik sangka kepada-Nya pada ayat dan hadits di atas adalah tuntutan yang bersifat wajib.

Syeikh Ibn Atha’illah dalam kitabnya “al-Hikam” menuliskan bahwa, “Tidak sepatutnya seorang hamba berburuk sangka kepada Allah akibat doa-doanya belum dikabulkan oleh-Nya.  Dan sebaiknya bagi hamba, yang tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok hari, segera melakukan introspeksi diri”.

Setelah kita melakukan introspeksi diri langkah selanjutnya ialah menetapkan hati mencapai harapan dan mengoptimalkan daya dalam usaha.  Sungguh tidak ada yang melakukan langkah-langkah tersebut kecuali orang yang telah meyakini Allah SWT sepenuh hati dan karenanya ia selalu berbaik sangka kepada-Nya.

Allah SWT juga berfirman :  “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Dari Abu Hurairah ra.  berkata, bersabda Rasulullah saw. : Allah berfirman: “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sedepa dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

So, udah tahu kan bahwasanya Allah sangat bergantung kepada sikap dan perilaku hamba-Nya? Allah pasti akan memberikan keputusan yang terbaik bagi sang hamba yang berprasangka baik.  Sebaliknya jika berprasangka buruk, lalu mulai lesu dalam usaha dan jemu dalam berdoa, maka Allah pasti akan memberikan keputusan yang buruk pula.

Nabi Zakaria telah puluhan tahun menikah dan menjalani amanah dakwah namun tak kunjung dikaruniai anak. Siang dan malam Nabi Zakaria berdoa. Lalu datanglah malaikat menemuinya mengatakan bahwa Allah akan menganugerahinya putra bernama Yahya.  Nabi Zakaria berkata, bagaimana mungkin dirinya bisa punya anak, dirinya sudah sangat tua sementara istrinya mandul.  Allah SWT menjawab, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali” (QS. Maryam: 9).

Jadi apalagi yang harus diragukan dari kekuasaan Allah?  Allah SWT tidak akan kesulitan untuk memberi kita pekerjaan, memberi rizki pada seluruh makhluk hidup maupun memberi jodoh.  Tinggal seberapa jauh hati kita mantap dan yakin bahwa Allah benar-benar pasti menolong kita.

“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. Al Baqarah: 214).

Friends, sebagai seorang mukmin tidak ada jalan terbaik bagi kita untuk mengatasi setiap masalah yang kita hadapi selain kembali kepada Allah.  Mari kita tekun berusaha dan rajin berdoa dengan penuh harap.  Dua hal itulah tanda seorang mukmin telah berbaik sangka kepada-Nya.

Bagaimana menurutmu?

Yah, pada akhirnya, ini semua akan kembali pada bagaimana kamu memaknai setiap skenario Allah sebagai sebuah proses yang harus kau lalui agar lulus ujian hidup di dunia.  Maka jangan habiskan energimu hanya untuk mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu.

Hidupmu mungkin tak selalu sesuai dengan rencanamu.  Namun selama itu sesuai dengan rencana Allah…sebenarnya hidupmu sudah terencana dengan baik.  Yuk, kita hidupkan rasa syukur dalam setiap pencapaian kecil dan berharap itu akan merujuk pada kesempatan yang lebih besar.  Keep fighting!^_^

*Ditulis setelah mendengar curhat putus asa

2 thoughts on “Skenario Terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s