Arab Melayu

Mataku keriting.  Lho kok bisa?  Iya bisa!  Pasalnya seorang sahabat, yang biasa dipanggil Ummi Hafidz meminjamiku buku pelajaran bahasa Arab milik adeknya saat masih nyantri di pondok dulu.  Aku berulang kali mencoba membaca kata-kata itu satu persatu, namun tetap saja tak mengerti.  Akhirnya aku menolak membacanya meskipun berulang kali ia mengatakan bahwa kitab itu yang paling mudah dimengerti.

Aku tertawa.  “Oleh siapa, Mi?  Coba deh Ummi baca lagi…”, tuntutku!  Si Ummi Hafidz yang sibuk menyiapkan masakannya di dapur langsung menghampiriku yang juga sibuk bermain dengan Hafidz, putranya.  Dia pun mengambil buku itu dan serius membacanya.  Sekarang giliran dia yang tertawa.  “Oalaaah…pantesan, rupanya bahasa jawa tho?  Kromo inggil pula, hehe…”, ujarnya paham.

Akhirnya, Ummi Hafidz membacakan beberapa paragraf yang ditulis disana (background :  Hafidz yang berteriak-teriak seolah menyemangati pasukan, bermain peran menjadi Shalahudin Al Ayubi), berikut mengartikannya untukku dengan meninggalkan beberapa kata yang ia pun ternyata sudah lupa maknanya.  Maklum lah, sudah lama di Kalimantan makanya bahasa jawanya mengalami penurunan.  Tak ada lawan tanding sih, hehe….^_^

Itu sudah hampir dua tahun lalu.  Sekarang saat guruku di pondok membagikan sebuah kitab fiqih, aku kembali mengalami “buta aksara” secara tiba-tiba.  Lho?  Aku memandangi dengan ganjil kitab di hadapanku.  Ini apa ya bacaannya?  Dengan konsep membaca Arab yang kufahami selama ini sepertinya tak berhasil membacanya.  Olala, ternyata kali ini kasusnya sama seperti saat aku diberi kitab bahasa Arab oleh Ummi Hafidz itu.  Ini Arab Melayu…sodara-sodara!

Tahu kan maksudku?  Orang-orang juga menyebutnya dengan huruf Arab pegon.  Meskipun wujudnya memakai aksara Arab, pembacaannya menggunakan tata bahasa Indonesia karena sejatinya huruf Arab pegon/Arab Melayu memang berasal dari bahasa Melayu yang penulisannya menggunakan aksara Arab.

Jadi jelas jika membaca dengan pakem bahasa Arab asli ya…agak nggak nyambung gitu, hehe….  Tapi setelah terbiasa, mata pun mulai menyesuaikan meskipun tak bisa secepat mereka yang sudah lama berkecimpung di dalamnya.  Maklumi aku dunk…santriwati baru!  (Alasan.com)

Membedakan huruf Arab pegon dengan huruf Arab asli sebenarnya sih mudah bagi yang sudah memahami kaidah-kaidahnya.  Berhubung aku juga sedang dalam proses belajar, so…seadanya dulu deh!  Anggap aja sebagai catatan tambahan karena mengejar ketertinggalan dengan teman-teman lainnya sejak memutuskan mondok beberapa waktu terakhir ini….^^V

Penulisan Arab pegon menggunakan semua aksara Arab hijaiyah kok, tapi dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi.  Modifikasi ini dikenal sebagai huruf jati arab melayu, berwujud aksara Arab serapan yang tak lazim.  Misalnya, untuk konsonan “ng”, Arab pegon menggunakan huruf ‘ain dengan tiga titik di atasnya.  Sedangkan untuk konsonan “p”, diambil dari huruf fa’ dengan tiga titik di atasnya, dan seterusnya.  Selain itu huruf Arab pegon juga meniadakan syakal (tanda baca) layaknya huruf Arab gundul.  (Nanti lah jika ada waktu aku tuliskan juga sebuah catatan untuk mengenal huruf Arab Melayu, insya Allah….*SambilMikirKapanKira-KiraItuYa???  Hoho…>.<).

Sejarah penulisan Arab pegon di Nusantara diperkirakan sudah ada sejak tahun 1200/1300 M seiring dengan masuknya Islam menggantikan kepercayaan Animisme, Hindu dan Budha.  Katanya sih, di kalangan orang-orang Malaysia…huruf Arab pegon ini dikenal dengan sebutan tulisan jawi sementara orang jawa sendiri justru menyebutnya dengan huruf Arab pegon.  Banyak orang jawa mengira bahwa huruf Arab pegon itu hanya milik orang jawa saja karena penggunaannya sudah menjadi tradisi di pesantren-pesantren salaf di sana.  Bahkan hingga kini, santri-santri biasanya masih menggunakan huruf Arab pegon untuk memahami teks-teks Arab dan kitab kuning yang penerjemahannya dengan Arab pegon.

Di kalangan yang lebih luas, huruf Arab pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei hingga Thailand bagian selatan.  Psstttt…di tempatku, jika kalian jalan-jalan di makam kesulthanan Kotawaringin maka nama sulthan berikut tanggal lahir dan wafatnya ditulis dengan Arab Melayu ini juga lho!

Makanya tak aneh juga jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand selatan, Brunei dan beberapa wilayah di Indonesia) bisa dipastikan terdapat tulisan Arab Melayu dalam kemasannya.

Selain digunakan oleh puak Melayu sedunia, huruf ini juga digunakan oleh Turki, India, Pakistan, Bangladesh, dan beberapa negara mayoritas muslim lainnya.  Tentunya dengan beberapa modifikasi yang juga muncul dari kebutuhan untuk mewakili bunyi huruf dalam bahasa mereka yang tidak dimiliki oleh hijaiyah.

Sayangnya huruf Arab Melayu kini tak lagi dikenal oleh masyarakat luas.  Padahal menurut sejarahnya huruf Arab Melayu telah digunakan secara massal oleh para penyebar agama Islam, baik dari kalangan ulama, penyair, sastrawan, pedagang hingga politikus di kawasan dunia Melayu.  Bahkan tidak hanya antara sesama bangsa Melayu.  Perhubungan antar bangsa, khususnya dengan Eropa, dilakukan dengan Arab Melayu.  Penulisan Arab Melayu antar bangsa ini meliputi Perjanjian Dagang, Surat-menyurat antara Raja-Raja di  kerajaan Melayu dengan Pemerintah Eropa dan lainnya.

Perkembangan tulisan Arab Melayu selanjutnya tidak terlepas dari perkembangan bahasa Melayu itu sendiri.  Ulama-ulama Islam di Nusantara, banyak yang telah menerjemahkan berbagai kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu dengan tulisan Arab Melayu.  Puncak kejayaan Arab Melayu adalah dengan ditulisnya Kamus Arab – Melayu oleh Syekh Muhammad Idris al-Marbawi; yang dikenal dengan Kamus al-Marbawi.

Pergeseran penggunaan huruf arab melayu menjadi huruf Rumawi dimulai saat Kemal Attaturk (yang meskipun dikenal sebagai Bapak Turki modern namun pada hakikatnya pengkhianat Khilafah Islamiyah), menggulingkan Kekhilafahan Ustmaniyah terakhir, Sulthan Abdul Hamid II pada tahun 1924.  Kongres bahasa yang diadakan pada 1950-an juga telah memperkuat penggunaan huruf Rumawi.  Saat itulah hampir semua penerbit koran, majalah dan buku dengan terpaksa mengganti aksara Arab Melayu dengan huruf Rumawi.

Begitulah, saat musuh-musuh Islam menghancurkan Daulah Khilafah Islamiyah…bahkan perangkatnya berupa bahasa Arab juga ikut dimusnahkan, walau hanya Arab Melayu sekali pun.  Tak faham bahasa Arab = tak faham Al Qur’an = tak tahu syariat-Nya = kemudahan bagi mereka menjajah kita, kaum muslimin.

So, pelajarilah bahasa Arab asli dan tak ada salahnya sekali-sekali kita baca kitab klasik dengan terjemahan Arab Melayu!  Tetap semangat!!!  ^_^

*Ditulis setelah Guru bertanya, “sudah selesai mencatatnya?”What???  Beneran harus dicatat sama persis dalam Arab Melayu?  Aku kelimpungan, menggeleng dengan tampang bersalah dibuat imut (yeiiiiiii, semoga beliau nggak sebel punya murid sepertiku!).  Langsung tancap gas, menuliskannya.  Fiuhhhh….>.<

6 thoughts on “Arab Melayu

  1. lekardhi berkata:

    wah sebenernya keren ya kalo make alfabet arab gitu hehehe… kalo di sini juga ada og mbak alquran+terjemahan yang diterbitin per juz make bahasa jawa tapi alfabetnya arab, tapi ndak mudeng bacanya😀

    • shabrinasiprincess berkata:

      Nah, Lek Ardhi…kayaknya itu termasuk terjemahan al qur’an menggunakan aksara arab melayu/huruf arab pegon/huruf jati arab melayu/apapun sebutan lainnya lah. Kan ulama-ulama dulu mencari cara terbaik buat menyampaikan Islam ke masyarakat, biar membumi salah satunya dengan menterjemahkan al qur’an ke dalam bahasa jawa.

      InsyaAllah kalo udah tahu kaidah aksaranya pasti mudeng kok, kecuali saya…soalnya belum belajar bahasa jawa, hehe…^__^

  2. Atikah (عتيقة) berkata:

    Kalau di Malaysia, tiap-tiap orang Islam diajar membaca tulisan Jawi ini sejak TK sampai ke SMP, bahkan kalau di sekolah-sekolah juga..segala buku pendidikan Islam (buku-buku ugama) ditulis menggunakan tulisan ini…sehinggalah ke kertas-kertas ujian subjek ugama Islam..sehinggakan waktu mahu diijab kabul juga..surat akad nikahnya ditulis dalam tulisan Jawi..

    • shabrina berkata:

      Assalamu’alaikum Atikah. Salam kenal. Senangnya tulisan lama ini masih relevan untuk dibaca. Mungkin itulah keberuntungan penduduk Malaysia yang memang kental suasana Islamnya sehingga terbiasa dengan tulisan arab-melayu. Di Indonesia sendiri, hanya pelajar yang mengikuti pendidikan di pondok pesantren ataupun sekolah-sekolah Islam saja yang akrab dengan tulisan ini. Adapun yang mengecap pendidikan di sekolah-sekolah umum seperti kami, tentunya jarang bersua…^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s