Jalan Milik Nenekmu!

Suatu hari aku pernah dipanggil guru Bahasa Indonesiaku.  Beliau memang sangat “perhatian” padaku, entah apa sebabnya.  Mungkinkah karena nilai bahasaku cukup memuaskan?  Wallahu a’lam.  Yang pasti perhatian beliau tak hanya berlaku saat jam pelajaran berlangsung.  Bahkan di luar jam sekolah pun beliau selalu menyempatkan diri memperhatikanku, ckck….  Salut deh, pokoknya!

Beliau ini terkenal killer, kalo nggak salah sampai mendapat sebutan “Ibu bermata tajam”.  Yah, maklum lah anak-anak….  Merasa nggak bisa nyontek saat beliau menjadi pengawas ulangan, akhirnya nama panggilan ini tersemat secara diam-diam di kalangan siswa.  Begitu tahu dipanggil, aku sok pede menyodorkan wajah innocent-ku pada beliau.

“Ibu memanggil saya?”, tanyaku pasti.

“Iya!”, jawab beliau tegas.  Nah nah nah, melihat gelagat tanpa senyum itu perasaanku mulai tak enak.

“Ada apa ya, Bu?”, tanyaku lagi, diliputi perasaan bingung sekaligus penasaran.

“Kamu merasa ada salah nggak?”, beliau malah balik tanya.

Aku menggeleng tak pasti.  Otakku berputar cepat, memikirkan apa gerang kesalahanku?  Tapi setelah beberapa menit berlalu…nihil!  Aku benar-benar tak menemukan “kesalahan” yang beliau maksud.

“Yakin…nggak salah?”, tanya beliau lagi.

Aku diam.  Mencoba mengingat kembali aktivitas ku beberapa hari lalu di sekolah, tapi lagi-lagi tak ada clue.  Pasrah.  Mungkin melihat wajahku yang benar-benar tak tahu-menahu, akhirnya beliau buka suara.

“Kamu kemaren pulang sekolah bareng siapa dan ngapain?”, pertanyaan lagi.

Aku ingat, aku pulang bareng dua orang temanku…Ana dan Vina.  Tapi kami nggak ngapa-ngapain.  Awalnya kami pulang dengan berjalan kaki lalu begitu ada angkot lewat, kami pun naik dan langsung pulang ke rumah masing-masing.  Apa salahnya?  Namun belum sempat aku mengemukakan pendapatku, beliau sudah menyambung pembicaraan kami.

“Kalian bertiga itu, kemaren Ibu lihat jalan berjajar dan posisinya di tengah jalan.  Sambil lari-lari becanda lagi!  Ya kan?”.  Aku mengangguk lemah, membenarkan.  Meskipun masih bingung.

“Kamu pikir itu jalan milik nenekmu makanya bisa kamu gunakan seenaknya?”.  Aku kaget!  Jelaslah itu jalan bukan milik nenekku, makanya kepalaku serta-merta langsung menggeleng.

“Kalau tahu itu bukan jalan milik nenekmu, tapi jalan bersama…maka gunakanlah jalan dengan bijak!  Ada pengguna jalan lain yang akan terjajah haknya jika kamu egois menggunakan jalan semaumu.  Akibatnya bisa fatal.  Kalau bukan kalian yang celaka maka pengguna jalan lainnya.  Jadi jangan diulangi main-main di jalan seperti kemarin!  Kamu mengerti?”, panjang lebar beliau memberiku panduan keselamatan saat berada di jalan raya.

Saat itu, aku merasa tak terlalu tersentuh dengan nasihat ini.  Kami bertiga yang “dituduh bersalah” justru menganggap kejadian ini tak ubahnya sebuah lelucon saja.  Maka kebiasaan egois di jalan raya pun masih berlanjut.  Maklumlah kawan, kami masih belum punya kedewasaan berfikir saat itu!

Namun kebiasaan ini pun berubah padaku dengan beberapa alasan.  Pertama, seorang sepupuku meninggal akibat kecelakaan di jalan raya.  Usianya hanya terpaut dua tahun di atasku, dia pergi di usia yang sangat muda.  Saat dimana kami saling memamerkan mimpi-mimpi masa depan yang ingin dirajut bersama…belajar, kuliah, dll.  Kepergiannya membuatku membenarkan untuk pertama kali bahwa kata-kata guruku tentang keegoisan di jalan raya akan membahayakan banyak orang adalah benar….

Kedua, aku melihat sendiri beberapa kecelakaan lalu lintas dengan korban nyawa.  Bahkan sampai sekarang aku masih belum melupakan salah satunya.  Sebuah taksi hulu sungai yang menabrak seorang pengendara sepeda motor tepat di depan kantor polisi Martapura.  Begitu tahu menabrak kendaraan, si pengemudi taksi malah melarikan mobilnya lebih kencang.  Tabrak lari!  Aku dan Adel tepat berada di belakang korban.  Melihat kejadian itu aku langsung turun dengan niat ingin menolong, namun begitu tanganku hanya berjarak beberapa centimeter…darah segar mengalir dari kepalanya seperti air tumpah dari ember.  Dan korban pun meregang nyawa.  Dzikirku bergetar, aku menangisi keegoisan pengguna jalan raya yang akhirnya berakibat fatal, merenggut nyawa pengguna jalan lainnya.  Guruku…lagi-lagi benar!

Ketiga, entah bagaimana…adek-adek yang kost denganku seringkali mengalami kecelakaan.  Dari yang ringan (hanya lecet-lecet dan keseleo) sampai yang berat hingga wajahnya tak bisa kukenali kecuali dari jilbabnya.  Sementara kerudung sudah melayang tak tentu arah.  Menjaga mereka yang tak bisa bernafas akibat hidungnya penuh darah, menemani ke kamar mandi sambil membawakan infus…semakin menyadarkanku tentang hak korban yang terjajah telah memberikan rasa sakit sekaligus trauma.  Uh, guruku memang benar!

Terakhir, kecelakaan yang dialami orangtuaku beberapa hari lalu yang membuatku harus ngendon di poli bedah selama berjam-jam.  Masya Allah, beruntunglah tak parah!  Namun tetap saja, karena keegoisan seorang pengguna jalan…Emak dan Amaku tercinta harus bedrest mungkin sampai berminggu-minggu ke depan, kami harus mengeluarkan biaya ekstra untuk berobat dan si Fitri (itu nama motorku) rusak berat.  Ah, aku menyesali keegoisan pengguna jalan yang membuat orang-orang tercintaku sakit.  Kesedihanku…tak bisa digantikan dengan uangnya.  Guruku, sungguh benar!

“Jumlah laka lantas selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2012 mencapai 5.233 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 908 orang meninggal dunia”, kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Jakarta, Senin 27 Agustus 2012.  Penyebab kecelakaan yang terjadi karena faktor kelalaian pengemudi, karena kecepatan, tidak hati-hati masuki jalan yang licin, tidak hati-hati mendahului kendaraan orang lain.  Berdasarkan data yang berhasil dihimpun mencatat sebanyak 1505 orang mengalami luka berat dan 5139 lainnya luka ringan.  Sementara kerugian materil selama 16 hari itu mencapai Rp. 11,8 miliar lebih.

“Untuk jumlah laka lantas pada 26 Agustus 2012, sebanyak 227, meninggal dunia 39, luka berat 67, luka ringan 226 dan kerugian materil Rp383.470.000,” kataBoy Rafli Amar lagi (http://www.suarapembaruan.com).

“Kamu pikir itu jalan milik nenekmu makanya bisa kamu gunakan seenaknya?”.

So, manusia-manusia yang punya akal…tentu akan bisa berfikir bijak bagaimana caranya agar semua pihak selamat di jalan.  Bukan hanya AKU tapi KITA semua.  Karena seperti kata guruku, jalan raya itu bukan milik nenekmu.  Maka jangan egois menggunakannya, ada hak orang lain di sana karena ia milik kita bersama.  Oke???

*Buat Guruku, Jazakillah khairan katsir untuk semua perhatian dan nasihatnya.  I luv you full deh…^_^

2 thoughts on “Jalan Milik Nenekmu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s