Berjilbab Itu Cantik (2)

What goes through your mind ?

As you sit looking at me,

Well, I can tell from your looks…

That you think I’m so oppressed,

But I don’t need for you to liberate me!

(Sami Yusuf, Free)

Ingat lagu ini?  Yah, meskipun agak jadul tapi kayaknya masih konstektual deh sama obrolan kita…berjilbab itu cantik.  Setuju???  Harus dong, hehe… (maksa.com)^^V

Akidah sekuler kapitalis telah menjadikan akal dan hawa nafsu sebagai standar untuk menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupan, namun berbeda dengan Islam.  Akidah Islam berlandaskan keyakinan pada Allah SWT sebagai Sang Pencipta manusia dan alam semesta.  Ia adalah satu-satunya Dzat yang mempunyai otoritas untuk menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupannya.  Allah adalah Dzat yang menciptakan manusia beserta potensi kehidupannya (naluri dan kebutuhan jasmani), sehingga Dia juga lah yang paling tahu bagaimana cara terbaik mengatur manusia.

Pandangan hidup sekuler yang mengemban konsep kebebasan pribadi telah menetapkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berbusana, berpenampilan, memandang lawan jenis, model pergaulan, peranan dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat, serta bagaimana bertingkah laku.  Sebaliknya, kaum muslim, baik laki-laki maupun perempuan, menjalani kehidupan mereka atas dasar keyakinan bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan di dunia kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan.  Maka apapun masalahnya, hukum syara’lah standarnya.  Oleh karena itu, perempuan muslim tidak menjadikan akal pikiran dan hawa nafsunya sebagai penentu bagaimana mereka mendefinisikan kecantikan, penampilan atau bagaimana mereka menilai dirinya, kecuali mengembalikan semua permasalahan tersebut kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

                “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (TQS. al-Ahzab [33]: 36).

Islam tidak menentukan konsep yang pasti mengenai kriteria “perempuan cantik” dan juga tidak menentukan bagaimana penampilan seorang perempuan agar nampak kecantikannya.  Oleh karena itu, dalam Islam tidak terdapat harapan-harapan yang tidak wajar yang mesti diraih oleh perempuan, maupun diharapkan oleh laki-laki (baca https://shabrinasiprincess.wordpress.com/2012/08/16/berjilbab-itu-cantik-1/).  Namun, Islam juga membahas konsep tentang bagaimana seorang muslimah harus berpenampilan pada berbagai kesempatan dan kepada siapa saja ia dapat sepenuhnya menunjukkan kecantikannya.

>>>Batasan Aurat

Firman Allah swt :  “Janganlah mereka menampakkan perhiasannya selain yang biasa tampak daripadanya…”. (TQS. An-Nur[24] : 31).

Ibnu Abbas menafsirkan kalimat “yang biasa tampak daripadanya” sebagai wajah dan kedua telapak tangan.  Menurut Al Qurthubi, hal ini dikarenakan kebiasaan sosial sehari-hari perempuan, juga dalam shalat dan haji, yang biasa nampak dari perempuan adalah wajah dan kedua telapak tangan.  Karenanya sangat tepat jika pengecualian tersebut diarahkan pada keduanya (wajah dan telapak tangan).  Kesimpulan ini juga ditunjukkan hadits dari Aisyah ra. yang telah menuturkan riwayat bahwa Asma’ binti Abu Bakar pernah masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, sehingga Rasulullah saw. pun berpaling seraya bersabda :  “Wahai Asma, sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh, tidak pantas untuk ditampakkan dari tubuhnya kecuali ini dan ini”, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.

So…jelaslah bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan.  Jaga ya…^_^

Perintah menutup aurat yang terdapat dalam Qur’an surah An-Nur ayat 31 tersebut memang tidak ditentukan dengan pasti bentuknya, bisa celana panjang, t-shirt, ketat atau berpotongan, yang penting menutup aurat. Namun yang perlu diingat, ketika perempuan sudah menutup aurat, bukan berarti mereka boleh jalan di pasar, sekolah-sekolah, jalan-jalan umum dan menampakkannya dengan sembarangan.  Perlu dipilah-pilih…kapan dan dimana kita bisa menggunakannya.  Karena beda tempat akan beda busana yang kita kenakan.  Simak lebih lanjut yuk….

Busana Muslimah dalam Kehidupan Khusus

Kehidupan khusus (Al hayah al khashshash) yaitu tempat-tempat dimana perempuan hidup bersama mahram atau sesama perempuan, seperti rumah pribadi dan kost.  Aurat perempuan dalam kehidupan khusus berbeda lho friend, dengan kehidupan umum.  Dalam kehidupan khusus ini, seorang perempuan boleh menampakkan tempat-tempat perhiasan dari tubuhnya.  Dengan catatan asalkan tidak menimbulkan kesulitan dalam menjalankan kewajiban pelayanan di rumahnya.  Oleh karena itu, kita boleh mengenakan pakaian apapun yang terasa nyaman untuk aktivitas dalam rumah.  Mau kaos oblong kek, celana pendek nek, atau daster beraneka rupa bentuk juga boleh….

Tapi…harus diingat juga, meskipun itu kehidupan khusus bukan berarti boleh obral sembarangan juga.  Terutama bagi kita yang tinggal di rumah yang isinya tak hanya perempuan, tapi juga ada laki-lakinya baik itu ayah atau saudara.  Bagaimanapun menjaga kesopanan lebih elok dibanding pameran terbuka.  Lebih aman dan nyaman buat semua penghuni rumah, ya kan?

Dan jika dalam kehidupan khusus itu hadir laki-laki asing (non mahram), maka mereka haram melihat si perempuan itu kecuali wajah, kedua telapak tangan dan telapak kakinya.  Saat itu perempuan juga diwajibkan menutup auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan.  Meskipun dalam hal ini ia tidak diwajibkan mengenakan jilbab.  Yang penting, friend…dalam kehidupan khusus, terutama dalam konteks ini, seorang perempuan sudah menutup auratnya.  Bisa pake’ daster rumahan panjang plus kerudung, dll.

Tentunya kehadiran laki-laki asing di rumahnya pun harus dengan hajat atau keperluan yang dibenarkan dalam pandangan syara’.  Misalnya…pegawai PDAM yang lagi ngontrol pipa air,  petugas PLN yang memperbaiki listrik rumah, tukang rumah yang memperbaiki lantai, tukang servis gas dan karyawan khusus lainnya yang datang untuk melakukan perbaikan pada berbagai perabot dan fasilitas rumah.  Atau…bisa juga saudara sepupu (entah dari Ayah atau Ibu), dan yang lainnya, yang datang dalam rangka menghadiri jamuan makan atau silaturrahim.

Namun jika kedatangan mereka dalam kehidupan khusus tersebut (di dalam rumah) karena alasan yang tidak dibenarkan oleh syara’, maka dianggap haram, meskipun seorang perempuan itu menemuinya dengan mengenakan jilbabnya.  Nah lho???  Lanjut ya….^_^

Busana Muslimah dalam Kehidupan Umum

Kehidupan umum (Al hayah ammah) yaitu tempat-tempat dimana perempuan berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya secara umum, seperti jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus dan sebagainya.  Allah swt memerintahkan kita, perempuan muslim untuk berpakaian sempurna dalam kehidupan umum.


Perhiasan perempuan mutlak harus ditutup kecuali wajah dan kedua telapak tangan.  Penutupnya pun sudah ditentukan bentuknya dengan jelas yaitu khimar (kerudung) sebagai penutup kepala dan jilbab sebagai penutup tubuh.

1.  Khimar (kerudung)

Ibnu Hajar menuturkan di dalam kitab Fathul Bari, dari Shafiyah, yang berkata :  “Aku menyebut-nyebut perempuan Quraisy dan kelebihan mereka di sisi Aisyah.  Lalu Aisyah berkata :  ‘sungguh perempuan Quraisy memiliki kelebihan.  Akan tetapi demi Allah, aku tidak pernah melihat kaum perempuan yang lebih membenarkan dan mengimani kitab Allah, melebihi kaum perempuan Anshar’.  Sungguh telah diturunkan (ayat) dalam surah An-Nur : “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (TQS. An Nur [24] : 31).

Lalu kaum laki-laki (para sahabat) langsung pulang ke rumah mereka masing-masing dan membacakan ayat itu kepada keluarga mereka apa yang telah diturunkan Allah.  Tidak satu pun dari kaum perempuan itu kecuali segera mengambil kain sarungnya (dan menggunakannya sebagai kerudung).  Sehingga pada saat shalat subuh, mereka semua telah mengenakan penutup kepala, seakan di atas kepala mereka terdapat seekor burung gagak. (HR. Abu Hatim)

Dengan demikian, ikhtimar (mengenakan khimar) maknanya adalah menutup kepala saja.  Inilah tafsiran Aisyah, selain makna syar’i yang telah dibatasi dalam ayat.  Penyifatan Aisyah terhadap kaum perempuan Anshar pasca turunnya ayat tentang khimar, bahwa ketika mereka sedang shalat seolah-olah di atas kepala mereka ada seekor burung gagak yang sedang hinggap (dengan tenangnya) adalah sebuah pujian Aisyah untuk mereka, yakni bahwa mereka benar-benar telah menutup kepala, leher, dada dan kedua telinga.

Al Qurthubi meriwayatkan, bahwa Hafshah puteri Abdurrahman bin Abi Bakar pernah masuk ke rumah Aisyah dengan mengenakan khimar yang masih menampakkan leher dan hal-hal yang ada di sekitarnya.  Maka Aisyah menyobek-nyobeknya dan berkata : “sesungguhnya harus dikenakan kain penutup yang meliputi bahu dan dapat menutupnya”.

2.  Jilbab

Dan sebagai penutup tubuh, Allah swt telah mewajibkan perempuan mengenakan jilbab saat berada di luar rumah sebagaimana firman-Nya :  “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin :  Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (TQS al-Ahzab [33]: 59).

Perintah ini juga dikuatkan dengan hadits dari Ummu Athiyah yang berkata :  Rasulullah saw memerintahkan kepada kami untuk keluar pada hari Fithri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil baligh, wanita-wanita yang sedang haid maupun wanita-wanita pingitan.  Wanita yang sedang haid tetap meningggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimAku bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab.  Rasulullah saw menjawab:  “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya (HR Muslim).

Nah, jelaslah bahwa jilbab…tak peduli dengan alasan apapun harus dikenakan perempuan muslim jika berada dalam kehidupan umum.

Jilbab hanya punya makna secara bahasa.  Dalam kamus Al-Muhith, jilbab berarti pakaian luar seperti mantel atau bisa membentuk mulaah (tidak berjahit) atau mihafah (selimut).  Jilbab ini dipakai di atas pakaian rumahnya dan diukur dari atas pakaian rumah tersebut dari atas ke bawah.  Syarat panjangnya sampai menutupi seluruh tubuh dan tidak transparan sehingga tidak menampakkan lekuk tubuh pemakainya.

Adapun pendapat ulama-ulama tafsir mengenai pengertian jilbab adalah sebagai berikut :

  • Kain penutup atau baju luar/mantel yang menutupi seluruh tubuh wanita (Tafsir Ibn ‘Abbas, hlm, 137).
  • Baju  panjang (mula’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita (Imam an-Nawawi, dalam Tafsir Jalalyn, hlm. 307).
  • Baju luas yang menutupi seluruh kecantikan dan perhiasan wanita (Ali ash-Shabuni, Shafwah at-Tafasir, jld. 2, hlm. 494)
  • Pakaian seperti terowongan (baju panjang yang lurus sampai ke bawah) selain kerudung (Tafsîr Ibn Katsir).
  • Intinya, Allah memerintahkan kepada Nabi agar menyeru istri-istrinya, anak-anak wanitanya, dan wanita-wanita mukmin secara umum, jika mereka keluar rumah untuk memenuhi  hajatnya, untuk menutupi seluruh badannya, kepalanya, dan juga juyub mereka, yaitu untuk menutupi dada-dada mereka.
  • Pakaian yang lebih besar dari khimar (kerudung). Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas‘ud meriwayatkan, bahwa jilbab adalah ar-rada’u,yaitu terowongan (pakaian yang lurus tanpa potongan yang menutupi seluruh badan) (Tafsir al-Qurthubi).

Jilbab ini dipakai di atas pakaian rumah yang kita kenakan sehari-hari atau dalam kehidupan khusus.  Hal ini juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah di atas.  Nggak mungkin kan sahabat perempuan yang dimaksud dalam hadits tersebut nggak berpakaian sama sekali saat berada di dalam rumah?  So, dengan kata lain…pakaian kita ketika berada dalam kehidupan umum mesti berlapis!  Pertama, pakai pakaian rumah dulu, lalu baru kenakan jilbab dan khimar sebagai pakaian luar.

“Wow, ribet ya???  Kayak kue lapis aja, Brina!”, komentarmu.

Dan aku akan dengan senang hati menjawab, “Ah, nggak papa lah ribet sedikit demi meraih sesuatu yang lebih besar nantinya, insya Allah…”, sambil memberikan senyum terbaikku!^_^

Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran.  Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api.  Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu.  Ada yang berkata, “Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?”.  Rasululah Saw menjawab, “Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).(HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan).

Dan meskipun Islam tidak memiliki konsep yang pasti tentang kriteria “wajah atau bentuk tubuh yang cantik”, namun muslimah didorong untuk berpenampilan rapi dan bersih, serta melakukan tindakan-tindakan tertentu yang membuat penampilannya menarik hati suaminya (jika sudah punya, hehe…), seperti berdandan.  Kyaaa….^^V

Tapi catet ya…khusus buat suami dan tidak terbuka untuk umum!  Insya Allah tindakan seperti itu akan mendatangkan ridha Allah SWT.

Nah, begitulah friend…bagaimana Islam sebagai agama yang sempurna menjaga kita, perempuan-perempuan muslim agar senantiasa berada dalam kemuliaannya sebagai perhiasan indah nan berharga.  Tak semua orang bisa melihat apalagi menyentuhnya.  Ia berlindung dibalik pakaian takwa.  Hmmm, cantiknya….^_^

So don’t you see?
That I’m truly free
This piece of scarf on me
I wear so proudly
To preserve my dignity

My modesty
My integrity
So don’t judge me
Open your eyes and see…

(Masih lanjutan lagu Sami Yusuf, Free)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s