Berjilbab Itu Cantik (1)

Mungkin kalimat ini terdengar klise bagi para perempuan yang belum mengenakan jilbab.  Ia tak lebih dari kalimat sugesti para jilbaber alias orang-orang pengusung ide wajib jilbab bagi muslimah.  Coba pikir, bagaimana menilai cantiknya seorang perempuan jika ia mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya?  Bukankah cantik itu bermakna memamerkan apa yang kau miliki?  Begitukah???  Hmmm…tapi tunggu dulu!  Pengalamanku beberapa hari lalu mungkin bisa merubah sudut pandangmu?  Kita coba aja….^_^

Hari minggu, karena batal ngisi daurah…aku pun memutuskan jalan-jalan.  Jangan tanya mengapa daurahnya batal, itu topik kisah lain waktu, hehe….  Kali ini izinkan aja aku menceritakan peristiwa lucu di hari minggu itu.  Meskipun agendanya dadakan tapi lumayan berkesan.

Hmmm…kemana aku?  Awalnya ingin mampir ke pasar, tapi melihat hiruk pikuk orang-orang belanja dalam rangka persiapan lebaran membuatku membatalkan niat.  Jalanan macet, tempat parkir penuh, para pengguna pasar bergesekan untuk bergerak ke tujuan masing-masing.  Uh, itu bukan rute favoritku!

Jadi kuputuskan untuk mengunjungi kawan lama aja, teman sebangku waktu SMA dulu.  Ia bekerja di toko yang menjual kaset dan berbagai macam barang elektronik.  Hmmm…lumayan, sekalian cuci mata.  Kali aja ada barang diskon yang bisa dibeli, wkwk….  Ini mah, ibarat kata pepatah sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui….^^V

Singkat cerita, aku ikutan duduk di dalam dengan barisan temanku dan penjaga toko lainnya.  Kami bertukar cerita sambil melayani para pembeli yang ternyata tak kalah rame dibanding pasar.  Ya, toko ini memang luar biasa besar.  Karyawannya aja lebih dua puluh lima orang untuk shif siang, belum lagi malam.  Bahkan menurut temanku, toko ini juga melayani penjualan grosir.  Pantaslah jika berbagai macam orang dan rupa turut membludak disana….

Saat itulah, kompak…mata kami tertumbuk pada seorang perempuan yang berjalan menuju tumpukan kaset di depan kami.  Dandanannya…sangat seksi!  Pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna, plus…rambut yang dicat pirang menyala.  Aduhai….

Coba tebak, apa yang dikatakan temanku saat itu?

“Wow, cantiknya!!!”, begitu pikirmu?

Maaf non, bukan itu!  Dia justru geleng-geleng kepala melihatnya dan mengatakan, “betapa cantiknya berjilbab…”, sambil memandangku.  Nah lho?!  Kok bisa???  Aku juga perlu waktu beberapa saat sebelum tersenyum mengangguk.  Ya, melihat tatapan jengah mereka pada si Seksi itu, aku tahu mereka merasa risih.  Yakin…bukan karena iri akibat S line body-nya, bukaaan….  Tapi semata-mata tak tega, keindahan yang harusnya bersifat pribadi itu diumbar kemana-mana.  Bukankah ini artinya cantik itu sebenarnya tak identik dengan pamer aurat?  Jangan-jangan kita salah memaknainya???

Mitos Kecantikan

Seperti apa perempuan cantik itu?

Hmmm…ini pertanyaan menarik.  Wajarnya sih…beda orang maka akan beda selera dalam menentukan citra perempuan cantik, ya kan?  Namun lucunya, justru bukan begitu!  Seperti telah ada pakem tertentu untuk menilai kriteria perempuan cantik itu.  Apa kira-kira?

Yup…dia adalah “perempuan yang tinggi, langsing, berkulit putih, berambut lurus (atau pirang jika kamu ternyata bule, hehe…^^V) dan sensual”.  Wowww….

Memang tak bisa dipungkiri, jika kita bicara tentang kecantikan maka kita akan bicara tentang penampilan seorang perempuan.  Baik bentuk fisik tubuhnya maupun pakaian atau busana yang ia kenakan.  Dan saat ini konsep kecantikan dan konsep berbusana ala baratlah yang menjadi kiblat perempuan, termasuk perempuan muslim.  Bukankah konsep sesat yang ”dipaksakan” dengan manis dalam pemikiran para perempuan ini sebenarnya telah menjajah perempuan itu sendiri tanpa ia sadari?  Benarkah?  Yuk kita telusuri bersama!

Pertama, konsep kecantikan fisik.  Tinggi, langsing, berkulit putih mulus, berambut lurus dan sensual tadi merupakan contoh konsep tentang kecantikan yang diagung-agungkan oleh berbagai majalah kecantikan, fashion dan gaya hidup, yang dijual di sepanjang jalan kota London, Paris, Roma hingga Indonesia.  Majalah Vogue, Cosmopolitan dan Marie Clare bak kitab suci baru yang memberi pencerahan tentang proses transformasi seorang perempuan agar cantik dan dihargai di tengah masyarakat karena kecantikan fisiknyanya.

Tak hanya itu, konsep kecantikan ini juga diusung oleh perusahaan-perusahaan yang menjual alat kecantikan dan kosmetik bermodal miliaran dollar.  Ukuran kecantikan yang disajikan ke tengah masyarakat juga dilakukan melalui model-model yang dimanfaatkan oleh berbagai industri periklanan.  Mereka menjelma menjadi figur yang diidolakan dalam industri hiburan.  Kok bisa kompakan ya?  Tidakkah kamu curiga?^_^

Konsep tentang bentuk tubuh dan penampilan yang “sempurna” ini telah membombardir rumah kita ribuan kali sehari.  Ia menjadi standar yang diinginkan oleh kaum perempuan.  Dengan arus yang sedemikian kuatnya, pengaruh konsep kecantikan seperti itu di tengah masyarakat mengakibatkan perempuan memaksakan diri untuk memenuhi harapan-harapan tersebut.  Mereka terobsesi pada penampilan atraktif secara fisik semata.  Perhatian pada masalah kecantikan sedemikian besar melebihi perhatian mereka terhadap masalah kehidupan lainnya.

Wajarlah jika akhirnya industri kosmetik di Inggris sampai bisa meraup penghasilan hingga 8,9 miliar poundsterling pertahun.  Sedangkan industri kosmetik Amerika Serikat mengalami pertumbuhan rata-rata 10% setiap tahun.  Sebuah artikel di majalah Time pada tahun 1988 menunjukkan bahwa industri makanan diet di AS berhasil mencetak angka penjualan sampai sebesar 74 miliar dollar per tahun.  Jumlah ini setara dengan sepertiga dari seluruh anggaran kebutuhan makanan penduduk AS selama satu tahun.  Masih di AS, sebuah survey menunjukkan bahwa kalangan profesional perempuan telah menyediakan anggaran khusus untuk ‘memelihara kecantikan’ hingga sebesar sepertiga dari seluruh pendapatan mereka dan menganggap pengeluaran ini sebagai suatu bentuk ‘investasi’.  Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati, 33.000 perempuan AS menyatakan kepada para peneliti bahwa mereka lebih menyukai berat badannya berkurang 10 sampai 15 pon, daripada berhasil meraih tujuan-tujuan lainnya.  Nah lho?

Demikian pula yang kedua, yaitu konsep kebebasan berbusana, dimana perempuan ingin bebas dalam menentukan etika berbusana, bebas menentukan mana yang dianggap menarik dan mana yang tidak.   Bukankah itu sebenarnya hanya omong kosong?  Mengapa?  Coba kamu perhatikan fakta-fakta berikut ini :  industri busana dunia ditaksir mempunyai aset 1.500 miliar dollar AS (lebih besar dari industri persenjataan dunia).  Selain itu standar berpakaian yang pantas untuk dipakai bagi perempuan dan yang tidak pantas dipakai pun sudah ditetapkan.  Harapan-harapan yang dibangun oleh industri busana itu telah menentukan bagaimana bentuk penampilan yang menarik dan bagaimana pula penampilan yang ketinggalan zaman dan buruk bagi perempuan.

Lebih dari itu, kita perlu mencermati siapa sesungguhnya yang menentukan standar-standar mengenai bagaimana seharusnya seorang perempuan menampilkan diri kepada masyarakat.  Kita akan melihat, bahwa mayoritas perancang busana terkemuka di dunia, baik pada masa lalu maupun sekarang adalah laki-laki.  Melalui rancangan busananya, orang-orang tersebut telah menyebarkan pandangan mereka tentang kecantikan dan bagaimana seharusnya perempuan berpakaian.  Gianni Versace, Alexander McQueen yang merancang busana untuk rumah mode Gucci, Dolce & Gabbana, John Galliano yang merancang untuk Christian Dior dan Karl Lagerfeld yang bekerjasama dengan rumah mode Chanel adalah segelintir di antara perancang busana laki-laki terkemuka di dunia.

Mereka (yang merupakan pengemban konsep kebebasan yang berakar dari akidah sekulerisme) menganggap dirinya bebas memandang seorang perempuan sesuai keinginannya. Kemudian menentukan busana yang indah, yang dapat menyingkap keindahan bentuk tubuh perempuan.  Semakin banyak keindahan tubuh perempuan yang terlihat maka akan semakin indah busana itu.  Demikianlah, telah nampak jelas bahwa dalam berbusana, ternyata ada harapan-harapan di tengah masyarakat yang mesti dipenuhi oleh perempuan.  Bahkan, ternyata harapan-harapan itu sebagian besar dibangun oleh kaum laki-laki, yang menganggap bahwa merekalah pihak yang paling berhak melihat keindahan tubuh dan kecantikan perempuan.

Dengan demikian, upaya mempercantik tubuh dan wajah bagi perempuan sebenarnya bukan merupakan bentuk kebebasan, justru sebenarnya penjajahan.  Konsep bahwa perempuan bebas memilih citra dirinya sesungguhnya hanya merupakan mitos belaka.  Upaya mempercantik diri tidak akan dapat membangun kepercayaan dan penghargaan terhadap perempuan, tetapi justru mengakibatkan munculnya perasaan tidak aman dan terobsesi pada penampilan.

Pandangan hidup kapitalisme buatan manusia hanya menilai masalah kecantikan ini dari sisi uang dan manfaat.  Industri alat-alat kecantikan, kosmetika, fashion, bisnis operasi plastik, dll didukung oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki aset jutaan dollar.  Demikian pula industri majalah, yang mengiklankan produk-produk tersebut dan mendongkrak citra penampilan perempuan.

Oleh karena itu, segala macam upaya mempercantik diri yang dilakukan perempuan harus tetap dipertahankan agar perusahaan-perusahaan tersebut terus mendapatkan keuntungannya.  Berbagai citra dan cita-cita kaum perempuan yang tidak wajar harus terus dipelihara demi bertambahnya pendapatan perusahaan-perusahaan itu.

Naomi Wolf menyatakan dalam bukunya “The Beauty Myth”, “Perekonomian yang bergantung pada perbudakan harus mampu menampilkan citra budak yang dapat “melegitimasi” lembaga perbudakan itu sendiri”.  Mitos kecantikan semacam itu harus disembunyikan sejauh mungkin dari pandangan publik agar dollar yang diharapkan terus mengalir masuk.  Dengan demikian, citra perempuan barat terus dijadikan idola perempuan seluruh dunia untuk memuaskan nafsu sejumlah pimpinan dan pemilik perusahaan yang serakah.

Seorang pakar ekonomi, John Kenneth Galbraith memberikan komentar tentang upaya mempercantik diri ini :  “Kita dipaksa oleh ilmu sosiologi populer, berbagai majalah, dan kisah-kisah fiksi untuk menyembunyikan fakta bahwa kaum perempuan dalam kedudukannya sebagai konsumen memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat industri kita … Perilaku yang penting bagi perkembangan ekonomi itu telah berubah menjadi sebuah nilai yang utama di tengah-tengah masyarakat.”

Dan harus kita cermati lebih lanjut, tujuan yang melatarbelakangi tindakan orang-orang Barat mempengaruhi para perempuan muslim agar mau mengadopsi konsep kecantikan mereka.  Bukankah mereka mengekspor citra tersebut ke negeri-negeri kaum Muslim?  Aku nggak bilang semua yang berasal dari barat itu jelek (Baca https://shabrinasiprincess.wordpress.com/2012/02/14/valentine-day-and-teknologi-memahami-konsep-hadharah-madaniyah-dengan-lebih-mudah/), namun jika sudah terkait dengan pandangan hidup maka jelas akan bertentangan dengan akidah kita sebagai seorang muslim.

Dengan mengadopsi konsep kecantikan ala barat, muslimah akan kehilangan jati diri keislamannya, lupa kewajibannya sebagai perempuan muslim.  Konsep kecantikan yang disebarluaskan tersebut akan mengikis pemikiran dan perilaku Islam dalam diri para muslimah, serta menanamkan jati diri sekuler barat kepada mereka.  Penyebarluasan konsep kecantikan ini merupakan salah satu bentuk kolonialisme budaya (ghazw ats-tsaqafi) yang dilancarkan kaum kafir barat.

Pada dasarnya, semua upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kembalinya Islam sebagai pandangan hidup kaum muslim, mempertahankan pandangan hidup sekuler serta budaya dan aturan-aturannya agar terus berkuasa di muka bumi.  Upaya tersebut juga dimaksudkan untuk melindungi kepentingan-kepentingan material masyarakat Barat dan mempertahankan hegemoni mereka.

Demikianlah akibatnya jika perempuan bercita-cita untuk mendapatkan citra kecantikan sebagaimana yang ditetapkan oleh barat serta mengadopsi jati diri mereka.  Inilah agenda barat yang belum banyak diketahui kaum Muslim.

Nah, masih mau percaya mitos kecantikan, Non?

2 thoughts on “Berjilbab Itu Cantik (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s