Jari Kaki Aina

“Hai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu.  Tetapi pakaian taqwa itulah yang lebih baik.  Demikianlah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.  Hai anak cucu Adam, janganlah sampai tertipu oleh syaitan sebagaimana halnya dia (syaitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya.  Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.  Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. ” (QS. Al A’raf (7) : 26-27).

“Pakaian taqwa adalah pakaian yang dipakai oleh muslimah dengan tujuan membuktikan ketaatannya kepada Allah, bukan sebagai pakaian yang dipakai bertujuan untuk memamerkan kecantikan di depan orang banyak.  Pakaian taqwa adalah salah satu identitas wanita shalihah.  Hukum menutup aurat dengan sempurna adalah fardhu ‘ain bagi setiap wanita yang telah baligh.  Selain berpakaian taqwa, muslimah juga senantiasa menjaga penampilan dirinya agar tidak berpenampilan layaknya wanita jahiliyyah atau bertabarruj.  Tabarruj adalah bila seorang wanita menampakkan perhiasannya dan kecantikannya serta terlihat bagian-bagian yang seharusnya ditutupi, dimana bagian-bagian itu akan memancing syahwat laki-laki.” (Fathul Bayan)

Selembar kertas dibagikan kakak-kakak senior berpakaian aneh pada kami, para mahasiswa baru yang sedang mengikuti tes kesehatan.  Aku membacanya ogah-ogahan.  Di bagian akhirnya tertulis Presented by :  Divisi An-Nisa Forum Studi Islam Al-Furqon.  Hmmm…apaan itu ya?

***

“In, ngiri deh lihat kamu…”, ujar Vita padaku.

“Hah?  Apa?”, tanyaku balik.  Tak mengerti arah pembicaraannya.  Ngiri?  Ngiri apaan?  Nggak salah dengar?

“Itu…”, tunjuknya padaku dengan bibir yang dimonyongkan.

Aku mengikuti arahnya tapi masih tak mengerti juga.  “Aduh, apaan sih?  Nggak ngerti aku…”, sahutku lagi.  Aku bukan tipe anak yang bisa cepat mengerti bahasa isyarat, apalagi bahasa kalbu.  Bisa-bisa salah terjemah, bahaya!!!

“Kakimu…”, ujarnya lagi.

“Hah?”, lagi-lagi aku merasa ajaib dengan pendengaranku.  Aku yang budek atau temenku ini yang ngomong nggak jelas?

“Kakimu panjang, bentuknya indah…jari-jarinya juga cantik”, jelas Vita akhirnya.

Ini…pertama kali aku mendengar orang mengatakan bahwa kakiku cantik.  Hoho…benarkah?  Aku yang duduk berselonjor di atas pasir pantai Kubu takjub sendiri mendengarnya.  Memandangi kakiku bak barang langka nan eksotis.  Yup, betul kata Vita…memang panjang!  Telapaknya tak terlalu melebar, jari-jariku yang panjang pun tersusun rapat.

Kosakata panjang yang ditujukan buat kakiku mungkin biasa.  Mamaku sudah sering menggunakannya karena menurutnya sangat mirip kaki nenek.  Namun menggambarkannya dengan kata “cantik”…sungguh baru kali ini aku mendengar!  Makanya mau tak mau aku beralih memandangi kaki Vita, Lia, Emma dan teman-temanku lainnya yang berlarian bermain ombak di hadapanku dengan kaki telanjang.

Hmmm…ini pertama kali aku menyadari kecantikanku!  Selain wajah, ternyata kakiku pun dipuji cantik!  Cihuiii…inilah aku :  Aina Rahmi, 15 tahun.  Hari ini adalah perpisahan dengan teman sekelas.  Selamat tinggal putih biru, selamat datang putih abu-abu….

***

“Sudah cukup jelaskan tentang jilbab? “, tanya kakak yang memberikan materi mentoring pertama kami hari ini.  “Jika sudah, maka kita lanjutkan ke pertanyaan berikutnya.  Silahkan, sebutkan nama dan jurusan…”, ia mempersilahkan.  Aku mendengarkan dengan bosan, sambil memeriksa catatanku….

Jilbab, Gue Banget…

Resume  Materi  Mentoring
Tema                     :  Jilbab? Gue Banget….
Pemateri             :  Qonita Hanifah
Pelaksanaan       :  Jumat, 3 Agustus 2012 di Gedung Serbaguna Fakultas Teknik

  • Jilbab sangat penting bagi seorang muslimah, sesuai hadits riwayat Tirmidzi :  “Perempuan itu adalah aurat, maka apabila ia keluar dari rumahnya syaitan pun berdiri tegak (dirangsang olehnya)”. Dalam surat Al-A’raf ayat 26 pun Allah telah berfirman bahwa pakaian takwa itulah yang baik.
  • Pakaian yang bagaimanakah pakaian takwa itu?  Yaitu pakaian untuk menutupi aurat.  Kemudian ditegaskan pula mengenai kewajiban bagi seorang muslimah untuk menutup aurat, sebagaimana yang tercantum dalam QS. An-Nuur :  31.  Hafalkan surahnya (Tugas minggu depan!!!)
  • Keutamaan jilbab selain sebagai pakaian takwa bagi kita para muslimah yaitu jilbab merupakan identitas seorang wanita muslimah.  Karena dengan pakaian inilah, kita dikenali sebagai seorang muslim, menghargai kehormatan diri dan insya Allah akan dihargai pula oleh masyarakat.
  • Nah, kemudian, batas aurat wanita itu mana saja sih?  Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah ra: “Hai Asmaa! Sesungguhnya seorang perempuan apabila telah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya melainkan ini dan ini (Rasulullah berkata sambil menunjuk muka dan kedua telapak tangannya hingga pergelangannya)”.
  • Sebagai ilustrasi keutamaan jilbab, pemateri mengajak kami untuk membandingkan antara makanan yang ditutup (disimpan dalam wadah) dengan makanan yang dibiarkan terbuka tanpa penutup.  Apa yang terjadi?  Makanan yang tidak ditutup tadi dihinggapi lalat, sedangkan yang berada dalam wadah aman terlindungi.  Begitu pula dengan jilbab.  Jika kita menutup aurat kita dengan baik, maka tidak akan mudah diganggu oleh laki-laki.  Karena sekali lagi, masyarakat akan lebih menghargai seseorang yang bisa menghargai kehormatan dirinya sendiri.
  • Jilbab, adalah kemuliaan bagi seorang wanita muslimah.
  • Berikutnya adalah kriteria-kriteria jilbab :  menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, tidak tipis dan tidak transparan, longgar dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh.

***

 “Inaaa…tunggu!”, seseorang dengan suara khas yang kukenal memanggil.  Yuni, sahabat, teman sekelas juga pacar kakak sepupuku!  Hhhh…mendengar teriakannya, apa lagi kali ini?  Aku yang mengangkut ranting kering pun membalikkan badan dan menunggu, sementara ia berlari menghampiriku.

“In, pinjam sandal cakepmu yang kemaren dong?!”, pintanya tanpa basa-basi.

“Sandal? Sandal yang mana?”, tanyaku memastikan.  Sambil melanjutkan perjalanan dalam rangka menyelesaikan misi…bikin api unggun!  Nasib jadi junior yang ikutan ekskul pramuka.

“Itu…yang bertali-tali lucu trus kamu pake’ ke ultah party-nya si Mei”, jawabnya.  “Bandi ngajakin aku ikut acara kalian!  Ikut rombongan seserahan, katanya bareng kamu kan?”, sambungnya lagi panjang lebar.

Nah lho, emang susah kalo’ gini ceritanya.  Asyik sih, punya teman yang pacaran sama sepupuku.  Tapi kalo tiap kali diundang acara keluarga selalu pinjem barang kan jadinya gondok juga kaleee?!  Mana yang dipinjem selalu yang baru dibeli…dan selalu barang yang disematkan di kaki.  Heran deh!!!

Tapi dasar mental orang jajahan, aku pun hanya mengangguk pasrah dan bilang…”Ya udah, ntar aku titip Bandi deh!”.  Dalam hati, merutuki kelemahan diri sendiri yang nggak tegaan dan tentunya kakak sepupuku yang sudah menjerumuskanku dalam ketakberdayaan untuk menolak.  Relevan nggak ya?  Hhhh….

“Oke…thanks ya adek ipar yang baik”, ujarnya sambil tersenyum menang penuh rasa bahagia.

“Yaaa, asal balikinnya utuh aja.  Itu baru ku pake’ sekali lho!  Jangan kayak kemaren, tali high heels-ku putus padahal aku belum pernah pake’!”, sindirku terus terang (lebih tepatnya sih, protes, hehe…).

“Oke boss!!!”, sahutnya tanpa rasa bersalah.  “Tapi ikhlas aja kan?”, godanya padaku.

“Emang kalo nggak ikhlas kamu nggak jadi pinjem?”, balasku.  Yuni nyengir sambil geleng-geleng centil.  “Tuh kan…!  Lagian, kamu tuh tiap kali ada acara atau liburan ke luar kota pasti deh ngangkut sandal atau sepatuku.  Yang nggak pas juga kamu paksain, makanya jadi rusak kayak kemaren!”, lagi…aku melakukan aksi protes.

“Iya ya?  Hehe…”, lagi…juga tanpa rasa bersalah.

“Ya iyalah!  Liburan ke Bali, sapa yang ngangkut sepatu sendalku?  Pulang kampung ke Palembang pas nikahan kakakmu, juga bawa sendalku.  Ckckck…”.

“Habisnya…kamu sama aku tuh pas banget, In!  Coba…diantara temen sekelas,cuma kita berdua yang sama tingginya…167 sentimeter.  Trus ukuran sepatu atau sandal juga sama, 39.  Ya kan?  Mana kakak sepupumu jadian sama aku lagi…jadi pas lah aku menindasmu, hehe…”, jawaban seenaknya neh.  Bikin tangan gatal melancarkan serangan seribu cubitan dan kami pun main kejar-kejaran.

“Oke…oke becanda!”, kami kehabisan nafas karena berlari bak anak es-de.  Dia duduk, di atas potongan kayu di samping ancang-ancang api unggun kami.  Mulai menghimpun ranting yang tadi dikumpulkan, aku mengikuti.

“Sebenarnya gini…tiap kali kamu pake sesuatu di kakimu, nggak tahu ya…berasanya cantik aja!  Mau kamu pake’ high heels atau sandal jepit, kelihatannya selalu ciamik gitu.  Awalnya sih ku pikir itu karena kamu pinter milih sesuatu buat mempercantik kakimu.  Tapi…sejak aku mutusin tali high heels-mu kemaren aku sudah sadar kok!”

“Apa?”, aku penasaran.

“Aku akhirnya tahu…meskipun ukuran kita sama tapi bentuknya beda.  Kalo dilihat, kakimu seperti kaki yang memang sudah disiapkan buat jadi model iklan sepatu atau sandal gitu….  Dan yang paling menarik…itu jari-jari kakimu yang ramping, benar-benar indah dipandang!  Ini jujur lho…”, ujar Yuni puanjang lebar.

Aku tersenyum mendengarnya…ya, ini bukan pertama kali aku mendengar orang lain memuji kakiku, juga jari-jari kakiku.  “So…nggak pinjem-pinjem barangku lagi dong?”

“Masalah itu…tetap bisa berlaku, asalkan aku pinter-pinter milih pinjeman.  Yang ujungnya terlalu lancip kayak kemaren bukan buatku.  Itu khusus buatmu.  Tapi yang bisa ditolerir kakiku, aku tetep konsisten pinjem…hehe…”.  Halah, dasar Yuni!  Aku hanya tertawa di sampingnya, menikmati pujiannya pada kakiku.  Ya, aku sudah lama tahu…makanya aku memamerkannya dengan sandal atau sepatu semi terbuka.  Pamer…terutama jari-jarinya.

Begitulah, hari-hari aku melewati putih abu-abuku.

***

Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Leher dan rambutnya adalah aurat di hadapan lelaki yang bukan mahramnya walaupun hanya sehelai. Pendek kata, dari ujung rambut sampai ujung kaki, kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup.  Hal ini berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , dalam Al Qur’an surah An-Nur ayat tiga puluh satu yang artinya….“ Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya…”

“Nah, secara fakta kita bisa membuktikan sendiri bahwa tak bisa dipungkiri…setiap bagian tubuh wanita, bahkan jempolnya sekalipun…akan menarik perhatian lawan jenisnya.  Jadi bukan hanya wajah cantik, tubuh seksi yang memang sengaja dipamerkan, bahkan jempol kaki saja yang terlihat tanpa sengaja akan mampu membangkitkan syahwat kaum adam.  Kalian tahu kenapa?  Karena Allah swt menciptakan kita, wanita, sebagai perhiasan yang akan senantiasa indah di mata mereka”, jelas Kak Aisyah, pementor kelompokku dalam kajian kedua kami di kampus.  Aku, Aina Rahmi, si cantik berkaki jenjang…mendengarkan hati-hati!

***

“Aina!  Yang mana yang namanya Aina???”, suara senior di kampusku menggelegar, membuat hatiku berdebar.  Bukan karena jatuh cinta padanya, tapi lumayan keder waktu melihat tampang sangarnya.  Idih, aku bakal diapain ya?  Semoga bukan disuruh nyanyi, doaku dalam hati.

“Saya, Kak!!!”, sahutku tak kalah kencang.  Langsung berdiri sambil merapikan pita-pita di kepalaku.  Oh, aku lahir tanggal tujuh, maka sejumlah itulah pitaku.  Beruntungnya tak lahir di tanggal tiga puluh satu, bisa-bisa kepalaku seperti ulat bulu berpelangi.

“Jadi kamu yang namanya Aina?”

“Iya, Kak…saya Aina Rahmi”, sahutku mantap.  Maksud hati sih biar lebih meyakinkan bahwa akulah makhluk manis bernama Aina yang dari tadi ia sebut-sebut.  Ia memandangku dengan mata ultraman-nya, mencoba membuat nyaliku semakin ciut.

“Kamu ketua kelompok lima?”

“Iya, kak!”

“Siapa pembinamu?  Sudah kenal belum?  Lalu berapa jumlah anggota kelompokmu?  Siapa saja nama-namanya?”, duh pertanyaan borongan.

“Pembina kelompok kami Kak Hedi Agustinus, kak!  Belum kenal.  Anggota saya ada sembilan orang, namanya Indah Wulandari, Erna Nasution, Eva Meiyana, Zahratun Nisa, Norliana, Ani Novita, Yunita, Tyas Ningsih dan Winda Susanti”, jawabku lagi.

“Lho…kok cewek semua?”, tanyanya.

Tapi belum sempat aku buka mulut, tiba-tiba sudah terdengar jawaban…“Takdir kak, hehe…”, Adam meniru iklan di tipi.  Dia ketua kelompok lain yang memang gokil abis.  Teman-teman seangkatan langsung ngakak.  Sementara kami sekelompok khusyuk menahan gelak tawa juga.

“Adam…kamu dari tadi suka nyari masalah sama senior ya?”, senior lain marah mendengar olok-olok si Adam.

“Maaf kak, bukan kak”, sahutnya sok serius.

“Sudah sudah…”, lerai senior pertama.  “Aina dan anggota kelompoknya, tugas kalian sekarang ke lokasi dua.  Coba lihat peta”, ujarnya sambil menjelaskan tempat tujuan kami selanjutnya.  “Dan jangan lupa hafalkan password kalian…saya hanya akan mengulangnya sekali.  Siap???”, tanya sang senior berkuasa.  Kami bersepuluh serempak mengangguk sambil pasang indera pendengar.

“Oke…password kelompok kalian adalah…nenek pelet melet-melet karena kepepet”, ia diam sebentar lalu mengulangnya sekali lagi.

Aku menoleh pada anggotaku satu persatu, memastikan mereka menghafal password nggak mutu yang mendadak jadi penting dalam kehidupan ospek kami sebagai mahasiswa baru.  Lokasi dua yang dimaksud, berada tak jauh dari kolam ikan.  Sesampainya disana, seorang senior perempuan bermata galak sudah menunggu kami.

“Password???”, tanyanya pada kami.

“Nenek pelet melet-melet karena kepepet”, jawab kami serempak.

“Bagus!  Selamat datang para nenek pelet di lokasi dua.  Silahkan simpan bawaan kalian di pondok sebelah sana…”, tunjuknya.  “Kemudian tangkap ikan di kolam ini, terserah pakai apa.  Sepuluh menit, minimal satu orang menangkap sepuluh ekor!”

Wow, kami terbengong-bengong mendengarnya.  Pertama, karena nenek pelet yang dimaksud dalam mantra itu ternyata kami sendiri.  Ah, jika nenek peletnya seperti kami bukankah terlalu sayang?  Narsis.com, hehe….  Yah, intinya nggak rela lagi dipanggil nenek pelet!  Yang kedua…tugasnya itu lho?!  Nangkap anak ikan nila yang sebesar ibu jari di kolam yang ukurannya lumayan gede!  Biarpun kami bersepuluh, tapi menangkap tanpa jaring tentu menyusahkan.  Olala…tapi kami lagi-lagi hanya membebek!

Sepuluh menit berlalu, kolam yang semula jernih berubah keruh.  Sepuluh srikandi langsung masuk nyebur dan para ikan pun kabur.  Kami hanya berhasil mengumpulkan tiga puluh dua ekor, menangguk dengan gayung yang kami dapat di pinggiran pondok.  Anggota kelompokku menunggu hukuman dengan pasrah sambil membersihkan kaki yang penuh lumpur di pinggir kolam.

Aku yang membawa ember berisi ikan hasil tangkapan kami berjalan menuju pos jaga, mencari senior yang bertugas disana.  Ia satu-satunya yang tertinggal, senior cowok yang beberapa hari ini jadi buah bibir para junior cewek.  Bayu Pratama, tertulis di tag namanya.  “Password?”, ia mengeluarkan suara baritonnya.

“Nenek pelet melet-melet karena kepepet”, jawabku ragu-ragu.  “Maaf kak, cuma bisa menangkap tiga puluh dua ekor”, tambahku akhirnya.

“Emang tadi disuruh nangkap berapa?”, tanyanya sambil meneliti ember bawaanku.

“Totalnya seratus, kak!”, jawabku lagi seadanya.  Ia tertawa, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.  Aku bengong, dia masih tertawa sambil menggelengkan kepala.

“Jadi kalian kelompok yang anggotanya cewek semua?  Kamu ketua kelompoknya?”, tanyanya lagi setelah tawanya reda.  Aku mengangguk-angguk saja mengiyakan.

“Anggota kelompokmu mana?”

“Lagi nyuci kaki di kolam sana, kak!”.  Ia juga ikutan mengangguk dan memandangi kakiku yang belepotan lumpur.  Tanpa alas kaki.

“Hmmm…oke, taruh aja embernya disana.  Kamu ikut saya…”, ujarnya lagi.  Aku mengikutinya dengan patuh.  Di belakang pos jaga itu rupanya ada air mancur berpipa yang disumpal sabut kelapa.  Ia membuka sumpalnya, lalu menampung air dengan gayung dan menyiramkannya ke kakiku.  “Ayo…bersihkan kakimu”, suruhnya.  Aku masih bengong, juga bingung.

“Kakak bantu siram kakimu, kamu bersihkan dengan sabut kelapa yang disana itu.  Sayang, kakimu yang cantik itu belepotan lumpur”, jelasnya mengakhiri kebingunganku.  Oh my god, bahkan laki-laki ini pun mengatakan kakiku cantik!

***

Alasan Mengapa Aku Mengenakan Jilbab adalah…

  • Diniatkan untuk ibadah
  • Ingin taat kepada Allah yang telah menciptakan, menyempurnakan rupa dan kejadian, memberi rizki, melindungi, dan menolongku
  • Ingin taat kepada Rasul-Nya,  pembimbing ummat dengan risalah yang sempurna
  • Ingin memperoleh Ridho Allah (InsyaAllah)
  • Bukan karena gaya-gayaan
  • Bukan karena mengikut trend
  • Bukan karena berlagak sok suci
  • Tapi kayaknya lebih baik sok suci dari pada sok zholim, hehe…. ^_^
  • Jilbab cocok untuk semua wanita yang ingin meninggikan derajatnya dari belenggu kehinaan yang hanya menjadi objek nafsu semata
  • Lagian, bisa menghemat waktu dalam berpakaian
  • Menghemat waktu berhias
  • Hemat biaya untuk pakaian dan make up
  • Melindungi rambut dari debu-debu yang berterbangan
  • Menghindari hidup yang konsumtif
  • Membuatku lebih memikirkan hal lain selain mode dan perhiasan
  • Membuat diri tidak silau dengan kemegahan dunia dan segala perhiasannya
  • Menempatkan wanita menjadi subjek dalam proses pembangunan ummat
  • Aku ingin menjadi wanita solihah
  • Aku tengah berusaha mencapai derajat taqwa
  • Jilbab adalah pakaian taqwa
  • Jilbab adalah identitas wanita muslimah
  • Diawali dengan mengenakan jilbab, aku ingin menapak jalan ke surga….^_^

Aku meletakkan pulpenku, sekian dulu untuk hari ini.  Besok aku akan menemukan alasan lain untuk kutuliskan agar semakin kuat melangkah di jalan taqwa.  Yuk, kita hargai diri dan kecantikan kita dengan menjaganya.  Tutupi agar tak ada lalat nakal yang mengganggu!

3 thoughts on “Jari Kaki Aina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s