Tikus dan Ikan Papuyu

Di suatu tempat di pinggiran sungai, hiduplah seekor tikus abu-abu.  Ia mempunyai sahabat karib, bernama ikan papuyu.  Keduanya selalu bersama, berbagi suka duka dan…tentu saja makanan.  Ikan papuyu terkenal sangat pandai memasak.  Apapun makanannya, asalkan yang memasak adalah ikan papuyu maka sudah bisa dipastikan sedap.

Si tikus yang seringkali merasa tak percaya diri dengan masakannya pun mencoba mencari tahu, apa gerangan resep rahasia ikan papuyu.  Maka saat ikan papuyu memasak, diam-diam si tikus mengintipnya.  Hari itu menunya adalah sayur asam, hmmm…wangi, pikir si tikus.  Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana sahabatnya ikan papuyu memasak.  Aha…teriak tikus senang dalam hati, akhirnya ia menemukan resep rahasianya…si papuyu menceburkan diri ke dalam panci sebelum memasak!  Pantas saja masakannya sedap, demikian pikir tikus.

Maka dengan semangat membara, si tikus yang berniat mempersembahkan masterpiece masakan terbaik pada sahabatnya itu pun segera mempraktikkan apa yang dilihatnya.  Ia menceburkan diri dalam air mendidih.  Apa yang terjadi kemudian???

Enakkah masakannya?  Aku pikir kamu sudah bisa menebak ending kisahnya.  Tapi tak apalah biar kutuntaskan, ok?

Tikus yang meniru perbuatan papuyu tanpa berpikir pun akhirnya mati di dalam panci.  Tinggallah sahabatnya, si ikan papuyu yang menangisi kepergiannya.

Pertanyaannya…pernahkah kamu merasa iri ketika melihat kelebihan-kelebihan temanmu?  Aku…pernah!  Terlebih jika itu menyangkut keahlian memasak.  Maklumlah, hidup di kost dengan banyak teman akan membuatmu sering berbagi makanan.  Setidaknya itu yang kualami!  Entah hasil beli dari warung atau hasil karya sendiri.

Jika itu hasil beli di warung maka percakapannya berlanjut pada kesepakatan enak atau tidak, juga sedikit rekomendasi warung-warung lain yang rasa masakannya tak mengecewakan (dan harganya miring^^).  Yah, dua hal terpenting bagi mahasiswa dalam makanan adalah murah dan enak, hehe….^_^

Tapi seperti yang disadari oleh sesama anak kost, semurah-murahnya beli tetap aja lebih murah masak sendiri.  Maka keputusan bersama buat masak bareng pun disepakati.  Targetnya tentu menghemat uang makan.  Nah, mulai tuh bergantian merasakan masakan saudari-saudari seperjuangan.  Beda asal, beda bumbu.  Beda orang, beda citarasa.

Hmmm…aku yang tak terbiasa memasak tentu membuat banyak ulah “lucu”.  Mulai dari masakan salah bumbu, hangse bin gosong dan tentunya bercitarasa agak-agak ajaib (baca = gak enak, hehe…^^).

Nah, saat sedang mengeluh tentang masakanku sendiri…si Adel menceritakan kisah ini padaku.  Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun yang menanggapi keluhanku…mengapa masakannya lebih enak, masakan Nayli lebih sedap, masakan Jihan lebih nyaman?  Ia justru menceritakan kisah tikus dan ikan papuyu ini padaku.

Di akhir cerita, ia mengatakan…”Saudariku yang baik, semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.  Ikan papuyu tentu saja akan membuat masakannya enak dengan menceburkan diri dalam masakannya karena saat itu ia mengeluarkan telur-telurnya.  Sementara tikus, apakah ia punya telur yang senikmat telur ikan papuyu?  Lagian caranya juga salah!  Bukankah si ikan papuyu masuk ke dalam panci sebelum airnya dididihkan?  Mengapa tikus hanya asal tiru dan tak berpikir dulu sebelum melakukannya?”.

Sungguh, tak bisa berkata-kata mendengarkan kisah Adel saat itu.  Mencoba meresapi maknanya yang dalam.  Hmmm…iya ya???  Semua orang pasti punya potensi dalam dirinya.  Dan potensi orang yang satu akan berbeda dengan orang yang lainnya.  Tak perlu iri, apalagi dengki!  Hanya mencoba melihat dalam diri kita, apa yang menjadi kelebihan-kelebihan itu!  Mungkin bicara?  Mungkin menulis?  Mungkin…banyak kemungkinan lainnya.  Tinggal bagaimana kita mengembangkan diri menjadi lebih baik.  Tentunya dengan target-target terukur, juga batas waktu!

Dalam kasus memasak ini, saat itu aku menganggapnya sebagai keterampilan yang belum terasah saja.  Insya Allah dengan banyaknya jam terbang, pasti akan ada progress yang berarti.  Kita lihat saja nanti!  Yah, setidaknya kan gak gosong meskipun rasanya tetep aja kurang memuaskan, wkwk…^^V

Ibrah lainnya, berpikirlah dulu sebelum berbuat.  Jangan main telan bulat-bulat, ntar bisa keselek, hehe….  Kunyah pelan-pelan baru ditelan perlahan, insya Allah aman buat kesehatan!

Ibrah-ibrah lainnya lagi, silahkan kamu terjemahkan sendiri.  Yang jelas, sangat berterimakasih kepada saudari-saudariku yang masih mau memakan masakanku.  Sungguh, jasa kalian takkan kulupakan….(lebay mode on…^^).

Yah, ini hanya sepenggal kisah lika-liku karierku di dapur kost-kost an dan semangat penuh cinta dari sahabat-sahabatku di baliknya.  Adel, jazakillah khairan katsir buat fragmen kisah tikus dan ikan papuyunya.  Kisah ini sungguh cantik, terima kasih sudah membaginya denganku.  Harusnya dulu bilang ini…bukannya, “kamu dapat cerita ini dari mana?”, hehe…^^V

#Ditulis sambil memasakkan coto buat Adel yang lagi ngidam, maaf…rasanya masih ajaib ya? Wkwk…^_^

One thought on “Tikus dan Ikan Papuyu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s