Nasehat Kematian, Sebuah Refleksi diri

“Dokter…”

“Suster…tolooong…”

Teriakan keluarga pasien yang terdengar panik membuatku dan orang-orang di sekitarku otomatis mendongakkan kepala, mencari arah datangnya suara.  Rupanya keributan itu berasal dari ruangan  depan, hanya berjarak beberapa meter dari ruangan yang tengah kusambangi.  Ya, hari itu…aku menjenguk dua orang teman yang masuk rumah sakit.  Keduanya teman sepengajian, yang pertama putrinya yang tengah sakit.  Yang kedua, si empunya diri dan ibunda beliau yang sakit di saat bersamaan.

Di tempat kedua inilah, aku mendengarkan kegaduhan yang terjadi di kamar depan.  Saat aku tengah terkagum-kagum pada bangunan baru rumah sakit Sulthan Imanuddin.  Bertanya ini itu tentang pasien yang kukunjungi dan perihal perawatannya, saat kami tengah berbincang panjang…teriakan yang lebih menyerupai lolongan histeris itu datang.  Para perawat berhamburan, dokter dengan tergesa masuk ruangan.  Sementara keluarga pasien sudah mulai banyak yang tambah histeris.  Ada yang berteriak-teriak meminta agar dokter menyelamatkan keluarganya.  Ada yang terisak dan sudah ada yang meraung-raung.

Keadaan saat itu benar-benar membuat kami masygul.  Keluarga dan tamu pasien lain di sekitar kamar itu hanya memandangi dari luar.  Ikut menanti dengan perasaan tak pasti sambil bertanya seputar kondisi pasien sebelum kritis.  Seorang laki-laki, belum ada empat puluh tahun dengan kanker darah.  Keluarga mulai berdatangan sore tadi karena kondisinya kritis.  Kami mulai penasaran apa yang terjadi di dalam sana?  Bagaimana akhirnya si pasien tersebut?  Selamatkah?

Dan satu jeritan panjang seorang wanita, meyakinkanku…si pasien telah tiada.  Ya, itulah akhirnya.  Kami menyaksikan satu per satu keluarga pasien diangkat ke ruangan lain karena jatuh pingsan.  Setidaknya ada tiga orang.  Belum lagi yang menangis dan berteriak histeris.  Hingga akhirnya jasad yang tertutup kain putih itu didorong keluar oleh perawat dengan pandangan menyesal.

Aku yang beberapa saat kemudian pamit diri, masih sempat menyaksikan mayit yang dipindahkan ke mobil ambulance dan keluarga pasien yang menangis sedih sambil berpelukan.  Lorong panjang bangunan baru rumah sakit Sulthan Imanuddin hari itu, terasa lebih panjang.  Tiba-tiba teringat satu hal yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

Tengah malam buta, saat aku tiba-tiba terbangun dari mimpi.  Jam masih menunjukkan pukul 02.00 WIB dinihari.  Mata yang tak mau terpejam membuatku iseng membuka facebook, melihat beberapa status teman.  Dan mataku tertumbuk pada satu status unik…doa kepada seorang sahabat fb yang telah meninggal kurang lebih setahun yang lalu, tepat beberapa waktu sebelum miladnya.  Aku membaca satu per satu doa-doa itu dengan perasaan haru.  Ia hanya lebih tua beberapa tahun dariku.

Ya Rabb, miladku hanya dalam hitungan hari lagi.  Akankah waktuku kan sampai pada hari itu?  Jangan-jangan seperti saudara yang  statusnya kubaca tadi…putus nafas, putus kehidupan, putus dari dunia ini?  Malam itu, aku menutup laptop dengan menyusut air di sudut mataku.  Dan malam ini aku juga turut merasakan duka keluarga yang ditinggalkan, juga merasa takut membayangkan kematian yang tak tahu kapan menghampiri diri sendiri.  Dokter paling hebat sekalipun takkan mampu menahan yang telah diambil-Nya, ya kan?

Bahkan jika aku telah menggenapi usia di hari milad-ku, berapa lama lagikah kiranya waktu yang ku punya?  Apa yang telah kusiapkan demi menyongsongnya?

Malam dan siang datang silih berganti.  Matahari dan Bulan pun bergilir. Begitupula kehidupan dan kematian.  Hari ini kita masih diberi kehidupan, namun besok…siapakah yang tahu?  Seperti tiap detik yang dihiasi suara tangis bayi, entah di bagian bumi Allah yang mana…seperti itu pula kematian.  Sungguh, telah banyak yang mendahului kita.  Dan berapa kali prosesi sholat jenazah dan pemakaman kita ikuti?

Sudahkah membekaskan kepada benak tentang sebuah nasehat?

Nasehat tentang kematian….

Hari ini adalah miladku, hanya ingin merenung sejenak tentang perjalanan panjang setelah hidup dan bernafas di bumi Allah.  Hanya ingin bertanya pada hati sendiri, bercermin pada usia yang makin berkurang….

Wahai jiwa, sudahkah engkau posisikan dirimu sebagai hamba yang harus selalu patuh pada sang Pemilik alam semesta, manusia dan kehidupan?

Sudahkan menjadikan akhirat lebih utama daripada dunia fana yang kau cinta?

Sudahkah menggunakan kehidupan duniamu sebagai upaya untuk meraih kehidupan akhirat yang hakiki dan abadi???

Telah tunaikah segala amanah yang selama ini kau pikul dipundakmu?  Jika belum, maka bersegeralah menjaganya!  Ingatlah betapa terbatasnya waktumu!

Detak jantungmu bisa berhenti kapan dan dimana saja.  Jika waktunya telah tiba, tak ada yang bisa menghentikan malaikat maut yang selalu siap melaksanakan titah Allah ta’ala tanpa menunda barang sedetik pun.  Maka persiapkanlah dirimu….

“Ketahuilah, umur dunia hanya sedikit.  Kemuliaan di dalamnya adalah kehinaan.  Pemudanya akan menjadi renta dan yang hidup di dalamnya akan mati.  Celakalah yang tertipu olehnya” (Umar bin Abdul Aziz).

“Allahumma Tsabbitnaa….  Allahumma ighfirlanaa wali ikhwaaninalladziina sabaquunaa bil iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillallilladziina aamanuu robbanaa innaka antar RauufurrRahiim”.

“Ya Allah, kokohkanlah kami….  Ya Allah, ampunilah kami dan ampunilah kawan-kawan kami yang telah mendahului kami dengan keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di hati kami dengki kepada orang orang yang beriman…. Rabb kami, sesungguhnya Engkau adalah maha Pengampun lagi maha Penyayang…”.

 

#Ditulis setelah membaca beberapa ucapan selamat untuk miladku

6 thoughts on “Nasehat Kematian, Sebuah Refleksi diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s