Bertemu Dalam Kebaikan

Bagaimana perasaanmu saat bertemu dengan orang yang kamu cintai?  Bahagia?  Berbunga-bunga?  Tentu saja!

Di dunia ini tak ada yang lebih indah selain pertemuan antara dua orang yang saling mencintai.  Pertemuan antara dua orang yang saling merindukan.  Pertemuan antara dua orang yang saling berkasih sayang.

Deuh…tapi jangan pikir yang macam-macam dulu ya?  Ini kisah tentang pertemuan dua orang sahabat yang lama tak bersua.  Pagi-pagi…saat dingin masih begitu tajam menggigit kulit dan lelah karena perjalanan dua belas jam ke Palangka Raya, pemandangan di hadapanku menghangatkan hati.

Seorang adik yang baru datang langsung berseru nyaring, “Assalamu’alaikum….  Kakaaa…”.

Kami yang ada di sana serempak menoleh.  Seorang akhwat dengan jilbab kuning gading, kerudung putih dan jaket khas berbordir bendera ar-roya dan al-liwa lengkap dengan ransel hitam berlari ke arah seorang teman yang duduk tak jauh dariku.  Si kakak yang dipanggil tersenyum lebar, yang menyaksikan pun tak kalah lebar menyunggingkan senyum.

“Ini…adek binaan saya waktu masih di sini dulu…”, si akhwat yang dipanggil kakak memperkenalkan mantan adek binaannya pada kami.  Maka cerita tentang kebersamaan mereka pun meluncur.  Si kakak pembina bercerita sementara si adek binaan menambahkan.  Ia duduk disamping mantan pembinanya sambil tersenyum-senyum malu.  Kisah dari awal mereka berkenalan, ikut kajian di mushala sekolah, atau jalan ke rumah si kakak pembina dengan sepeda.  Hohoho….^_^

Biasa atau istimewa???

Hmmm…bagiku sangat istimewa.  Seperti halnya adek yang dibina, aku juga pernah punya pengalaman sama.  Punya kakak pembina yang tak bosan dan selalu mengajak kami pada kebaikan.  Psstttt…padahal sudah pasang aksi muka sebel kalo ketemu…eh, beliau tetep kekeuh bicara Islam pada kami, adek-adek mahasiswa baru yang masih lugu (lugu dari pemahaman Islam, maksudnya, hehe…^_^).

Lalu tantangan yang dihadapi saat pertama kali mengazzamkan diri untuk menjadi muslimah kaffah dengan jilbab misalnya?  Atau bagaimana pragmatisme yang melekat pada diri dan coba dibabat tuntas dengan pemikiran Islam oleh kakak pembina?  Atau…bagaimana pergaulan yang semula tak terjaga, bahkan ikut dijagakan oleh mereka???  Luar biasa, bukan?  Itu bahkan belum seberapa!  Jika dirunut peran pembina kami “mempreteli” pemikiran dan perilaku rusak dulu, beghhh…bakalan panjang deret hitungnya, wkwkwk…^_^

Tentu saja, saat ini aku sendiri merasa masih jauh dari “baik”.  Namun…aku selalu mengatakan pada diriku sendiri dan orang lain bahwasanya aku juga sedang dalam proses pembelajaran.  Pembelajaran yang belum usai karena pemahaman Islam yang seluas samudera dan aku baru mengecap setetes.  Karena pengamalannya bahkan tak mudah biarpun hanya untuk tetes-tetes yang tak seberapa itu (karena masih dalam skala individu).

Balik ke cerita tadi…bagaimanapun, saat melihat kejadian tadi yang teringat olehku pertama kali adalah kakak pembinaku dulu.  Aku bersyukur pada Allah SWT atas pertemuan kami di kampus hijau tercinta.  Atas pertemuan yang mengukir bagian terindah dari hidupku sebagai mahasiswa.  Hari dimana aku dan teman seangkatanku yang sama-sama mengazzamkan diri untuk lebih baik dari kemarin-kemarin.  Hari dimana babak baru kehidupan sebagai muslimah yang berusaha terikat pada aturan-Nya kami mulai….

Hmmm…sungguh, semua itu takkan terjadi jika bukan berkat kegigihan seorang kakak pembina yang tak lelah mengajak kami pada kebenaran Islam.  Sungguh, ini adalah cinta terindah yang kami rasakan saat itu, saat ini hingga nanti!  Ya,bukankah dakwah itu cinta?

Dakwah Itu Cinta?

Hmmm…bener nggak sih???

Seorang Ibu berjalan bersama anaknya yang berumur delapan tahun.  Sang Ibu telah berulangkali mengingatkan anaknya agar berjalan di pinggir.  Lalu tiba-tiba saja, dari arah belakang si anak muncul sebuah mobil yang melaju kencang.  Ibu dengan sigap langsung menarik tangan anaknya.  Apa tanggapan anak akan peristiwa ini?

Ia tentu saja kaget karena ditarik tiba-tiba.  Juga merasa sakit karena Ibu memegangnya terlalu erat.  Dan huaaaa…menangislah ia dengan histeris.  Marah dengan Ibu yang dianggapnya menyakiti tangannya.

Apa yang dikatakan si Ibu?  “Nak, jika Ibu tak menarik tanganmu maka kamu sekarang takkan bisa lagi menatap wajah ibumu ini”.

Nah, bagaimana menurutmu?  Rasanya sikap Ibu tadi sudah cukup menggambarkan pada kita tentang sikap seseorang yang mencintai dan mengasihi anaknya.  Ia akan berusaha melarang siapapun yang dicintainya melakukan perkara yang bisa mendatangkan malapetaka baginya.  Demikian pula sebaliknya, ia akan senantiasa menyuruh orang yang disayanginya untuk melakukan perbuatan yang akan menjadikannya bahagia, selamat dan jauh dari kecelakaan.

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (TQS. At-Tahrim : 6).

Nah, bukankah wajar pula jika seorang yang mencintai akan senantiasa menyuruh orang yang dicintainya berbuat taat dan melarang berbuat maksiat?  Ia akan selalu melakukan amar ma’ruf nahii munkar dan akan terus berdakwah.

Seseorang yang menyampaikan dakwah Islam pada orang lain yang ada di sekitarnya bukanlah didorong perasaan benci pada orang tersebut.  Sungguh….  Justru sebaliknya, hal itu ia lakukan atas dorongan cinta yang tulus kepadanya.

Meskipun kenyataannya, dakwah tidaklah selalu berjalan mulus.  Selalu ada kasus orang yang didakwahi menolak, menentang bahkan menganggapnya sebagai bahaya yang mengancamnya.  Seperti si Ibu tadi yang disalahpahami anaknya.  Untunglah para pengemban dakwah ini sangat menyadari bahwasanya mereka bersikap begitu karena ketidaktahuan mereka.

Saat ia sadar bahwa satu-satunya solusi bagi permasalahan ummat sekarang adalah Islam maka dakwah pun terus berjalan, meskipun tak jarang orang yang didakwahinya menolak Islam untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.  Namun lagi-lagi atas dorongan cinta, si pengemban dakwah pun terus berusaha meyakinkan dengan berbagai argumentasi baik syar’i maupun realitas.  Hingga akhirnya Allah SWT membukakan hati orang-orang yang diserunya untuk secara sadar menerapkan Islam dan menjadi bagian dari pembela dan pejuang penegakan Islam.  Semua itu tentu karena cinta.

Pssstttttt…ilustrasi di atas kuambil dari buku mentoring kami dulu dengan sedikit editing, hehe…^^V

Materi ke berapa ini ya?  Nggak ingat lagi, wkwk….  Tapi seingatku, ilustrasinya masih relevan dengan pembicaraanku sekarang.  Yang lebih penting, materi ini…”sesuatu banget” deh!  Hehe…^_^

Pada kasusku, cinta kakak pembina telah membuat hari-harinya yang sibuk bergulat dengan penelitiannya tetap meluangkan waktu membagi ilmunya pada kami.  Cintanya, membuat ia selalu peduli dan membantu memecahkan persoalan kehidupan kami sebagai mahasiswa baru yang masih hijau.  Cintanya pula, yang membuatnya selalu mencoba menjaga kami dengan segala keterbatasannya.  Karena cintanya, ia pun rela menghabiskan energinya memarahi “kenakalan-kenakalan” kami.  Sungguh, hanya cinta lah yang bisa begitu.

Hhhhh…ironisnya, ketulusan cinta itu baru sangat terasa saat sudah jauh begini.  Jarak yang memisahkan membuat intensitas hubungan tak sedekat dulu, tentu meninggalkan kerinduan.  Rindu edisi curhatnya, rindu episode mabit barengnya dalam rangka ini itu, rindu scene “kelayapan” dikampus bareng-barengnya dan terutama rindu sogokan cokelatnya, hehe….^_^V

Cokelat ajaib yang berteman dengan mikroba penelitian di kulkas laboratorium itu emang luar biasa, wkwk…. Biar kata agak menakutkan tapi lucunya, banyak yang nempel deket gara-gara si cokelat.  Apalagi para cokelat mania seperti aku, uhhh…kagak nahan deh! hehe….

Dan lagi-lagi…”kisah kasih” kakak pembina ini baru sangat terasa saat sudah melakukan aktivitas yang sama, membina adek binaan.  Nah, lengkap tuh berasa asem manisnya cinta.  Disayangi dengan diajak taat malah ngambek, sama aja kayak diri sendiri dulu, hehe….  Diajak ikut pengajian bikin banyak alasan, terpaksa deh mengeluarkan berbagai jurus rayuan maut, wkwk….

Jadi makin terharu sekaligus bersyukur atas kesabaran kakak pembinaku berinvestasi waktu, tenaga, pikiran juga cokelatnya buat kami.  Sungguh, seperti dua orang di hadapanku yang saat ini sudah berpisah namun masih dilingkupi perasaan cinta karena Allah, gambaran hatiku pun demikian.  Seperti si adek yang tetap “histeris” bertemu mantan kakak pembinanya di hadapanku, seperti itu pula perasaanku padanya.  Masih sama seperti kami masih bersama.  Bahkan lebih….

Umar bin Khattab ra pernah mengatakan :  ”Tidak ada kebaikan setelah Din Islam daripada seorang saudara/kawan yang sholih.  Maka apabila salah seorang mendapat kasih sayang dari saudara/kawannya peganglah erat-erat persahabatan tersebut”.

Tulus, jazakillah khairan katsir kakak, semoga kau tetap seperti kakak pembina yang dulu kukenal, penuh semangat, tak menunjukkan kelelahanmu, juga tak pernah bosan menjadi pembina.  Dimanapun, kapanpun.

Maka engkau akan dapat bagian kebaikan sebagaimana yang disabdakan oleh junjungan kita, Rasulullah Muhammad SAW :  ”Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka hal itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam”. (HR. Bukhari-Muslim).

Subhanallah….  I luv u coz Allah, sist…and keep fighting!!! ^_^

Ditulis setelah menyaksikan keharuan dua sahabat, sambil mengingat kisahku sendiri.  Ah, kapan bisa ketemu ya kak?  ^^V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s