VALENTINE DAY AND TEKNOLOGI??? (Konsep Hadharah-Madaniyah)

“Jangan hanya say no to valentine.  Say no juga dengan teknologi dan barang-barang milik orang barat.   Jangan hanya hari valentine saja.   Nanggung!  Tradisi mereka kamu hina sedangkan teknologinya kamu nikmati”.

Gleg!  Ini adalah sebuah statement dari temannya teman di facebook.  Bulan februari yang penuh dengan nuansa merah jambu, cinta-cintaan semu (baca : gaul bebas aka seks bebas) berbalut hari kasih sayang atau valentine day.  Ah, masih selalu hangat rupanya tema ini.  Maklumlah, kalo udah ngomongin cinta…ibarat air yang kagak pernah berhenti mengalir gitu dweh….

Tiap tahun membicarakan Valentine.  Tiap tahun juga makin banyak muslim yang sadar untuk mengingatkan saudaranya akan bahaya hari Valentine.  Salah satunya temanku tadi yang memanfaatkan situs pertemanan di dunia maya yang memang sedang digandrungi anak-anak muda.  Tapi anehnya, kok masih banyak remaja-remaja yang keras kepala tidak mau sadar dan disadarkan akan bahaya yang sedang mengintainya ini ya?  Malah kemudian gusar hingga mengeluarkan statement seperti di atas?

Bukankah statement itu menarik?  Inilah yang kemudian mendorongku menggerakkan jari-jari di atas keyboard laptop padahal masih lelah karena baru datang dari perjalanan jauh dua jam dengan speedboat.  Berusaha mengumpulkan semua ingatan tentang bahasa paling sederhana untuk pembicaraan yang tak terlalu sederhana.  Semoga bisa, bismillah….^^

Nah, lalu apa menurutmu yang mau kita bicarakan pertama kali terkait masalah ini?  Sejarah V-day?  Oh no, itu sudah banyak yang membahas.  Kalian nanti bisa melihat beberapa link yang aku cantumkan di akhir tulisan ini sebagai bahan rujukan.  Aku mengkhususkan diri ingin “komen” terhadap statement temannya temanku tadi saja.   Membahas tentang konsep hadharah dan madaniyah dalam pandangan Islam.  Nah lho…apaan tuh pikirmu???  Hehe…sabar fren, kita bahas satu-satu yach….

Sebenarnya pembicaraan yang mencampur-adukan produk yang berasal dari barat baik yang berupa budaya maupun barang dan teknologi ini tak hanya terjadi sekarang.  Dulu saat negeri kita yang bernama Indonesia ini masih dijajah ama Londo (baca:  Belanda), yang jadi juragan kerja paksa, begitu banyak pembicaraan masyarakat dan ulama yang mengklaim dasi sebagai barang najis, haram…dan mengucilkan orang-orang yang memakai dasi dengan tuduhan “menyerupai orang kafir” karena ia (dasi tadi) adalah bagian dari orang kafir.

Pada kasus ini mungkin wajar.  Kenapa kukatakan wajar?  Yah, itu dipengaruhi kondisi psikologis masyarakat Indonesia yang saat itu sudah luar biasa benci melihat ulah Belanda (kafir) yang semakin hari semakin menyengsarakan penduduk jajahannya.  Selain itu juga ada hadits yang menyatakan bahwa, “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk dalam golongan mereka”.  Namun sayangnya, hadits ini kemudian ditakwil dan disalah pahami untuk menghukumi haram selembar dasi.  Nah, ini sih versi zaman penjajahan.  Bagaimana sekarang?

Masih ingat nggak beberapa waktu lalu saat muncul fatwa  bahwa facebook (lagi…salah satu produk sains dan teknologi yang sangat digandrungi pengguna internet) = haram?  Maka kemudian terjadilah banyak perdebatan.  Yang sudah terlanjur gila dengan Facebook melayangkan counter attack akibat hobinya merasa dicekal, sementara yang masih dalam tahap belajar keislaman pun tak sedikit yang berubah menjadi bimbang, kelimpungan, mempertanyakan dan mencari perbandingan argumentasi untuk memantapkan kebenaran.

Berbagai macam asumsi dan pandangan di kalangan umat Islam sendiri, seperti…“Katanya menolak barat, tapi kok pakai teknologi dari barat?”, atau…“Katanya segala sesuatu yang baru itu bid’ah, tapi kok pakai barang-barang yang ditemukan orang kafir?”.  Nah lho???  Mirip deh sama statement di atas.  Ya kan?

Lalu pertanyaan pentingnya…apakah semua hal yang berkaitan dengan barat harus ditolak? Jika tidak, mana hal-hal yang harus ditolak dan mana yang boleh untuk diambil?

Menjawab pertanyaan ini, masuklah kita pada pembahasan tentang hadharah dan madaniyah tadi.  Hedeh, bahasa ini lagi?  Apaan tuh???  Lanjuuut…jangan protes dulu, simak sebentar…ok?

Apa sih sebenarnya hadharah dan madaniyah itu?

Hadharah secara istilah, diartikan sebagai sekumpulan pemahaman, persepsi, atau mafahim tentang kehidupan.  Sementara madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam aspek kehidupan.

Belum mudeng? Sabar…akan kujelaskan satu persatu.

HADHARAH

Tak bisa dipungkiri, setiap tingkah laku atau perbuatan manusia, tentu tidak akan terlepas dari pengaruh pemahaman yang ada dalam pikirannya. Tidak akan lepas dari persepsi “aturan” yang dipahaminya.

Contoh sederhananya gini…misalnya aku neh, jatuh cinta sama seorang laki-laki bernama Muhammad (jangan ge er ya yang namanya sama, ingat…ini cuma contoh, hehe…^_^V).  Maka persepsiku pada si Muhammad ini tentu akan mempengaruhi tingkah lakuku terhadapnya.  Minimal akan tersenyum manis jika bertemu.  Jiahhh, hehe….  Tapi sikapku pasti akan berbeda jika bertemu dengan orang yang kurang kusukai, misalnya si Aming (maap ya ming, namamu jadi contoh…).  Jangankan bicara, bertatap muka pun mungkin akan menampakkan wajah masam.  Kenapa?  Tentu karena aku punya persepsi kebencian terhadapnya. Ingat, persepsi!

Sekarang mari kita lihat lebih jelas tentang hadharah.  Sederhananya, hadharah dibagi menjadi dua macam yaitu hadharah Islam dan hadharah kufur.  Dua hadharah ini bertentangan satu sama lain.  Kita bisa merasakan perbedaannya.  Misalnya definisi kebahagiaan menurut islam dengan kebahagiaan menurut pemahaman barat (kufur) jelas berbeda.  Begitu juga dengan definisi kesuksesan yang hakiki, kekayaan yang hakiki dan sebagainya.  Terlebih lagi aturan yang berlaku diantara keduanya.  Sekali lagi, ini semua terjadi karena persepsi!!!

Hadharah Islam berdiri di atas dasar iman kepada Allah SWT dan bahwasanya Dia telah menjadikan alam semesta, manusia, dan kehidupan ini suatu aturan yang masing-masing harus mematuhinya.  Dengan kata lain, hadharah Islam ini berdiri di atas dasar Aqidah Islam yang membawa konsekuensi bagi kita untuk tunduk dan taat terhadap seluruh aturan atau syariat-Nya.

Nah, dengan persepsi pemahaman hadharah Islam ini, maka segala yang kita lakukan haruslah merujuk pada aturan yang diberikan oleh Allah SWT, itulah syariat Islam. Mulai dari ibadah mahdhoh (ritualitas) seperti sholat, puasa, haji dan sebagainya, hingga ibadah ghairu mahdhoh dalam hal mu’amalah seperti pergaulan laki-laki perempuan, cara berpakaian, hingga dalam hal hukum pemerintahan.  Karena jelas dalam Islam telah diajarkan pemahaman bahwa dalam hal apapun, sekecil apapun, semuanya tak ada yang luput dari jangkauan aturan Islam. Dengan demikian, hadharah Islam ini berlandaskan pada asas yang memperhatikan ruh (yaitu hubungan manusia dengan Pencipta) atau melandaskan semua perbuatan pada motivasi spiritual.

Bagaimana dengan hadharah Kufur? Hadharah ini dibangun berdasarkan pemisahan antara agama dan kehidupan (sekularisme), disamping ada juga yang sama sekali meniadakan agama alias tak mengakui keberadaan Pencipta (Atheisme).

Sekularisme, pemikiran “impor” ini yang sekarang marak menjangkiti banyak manusia di muka bumi, tak terkecuali orang-orang muslim sendiri.  Oleh karena itu jangan heran ketika dalam majlis dzikir banyak orang sampai nangis-nangis, tapi ketika kembali kepada kehidupan umum maka agama tetap dinomor dua kan, dinomor tiga kan bahkan nomor akhir!  Ckckc…ironis yah?

Saat berada di barisan shaf sholat berjejer laki-laki sendiri dan perempuan sendiri, tapi di taman kota, di kampus dan di tempat-tempat lainnya tanpa tedeng aling-aling haha-hihi khalwat (berdua-duaan) dan Ikhtilat (campur baur laki-perempuan) secara berjamaah.  Apalagi saat momen valentine day seperti sekarang, tambah parah deh!!!:-(

Di saat sholat, seluruh badan tertutup sempurna  kecuali wilayah tertentu, tapi begitu keluar dari masjid langsung berevolusi dengan pakaian ala kesebelasan sundel bolong alias you can see.  Di saat berdiri untuk khutbah jumat menyerukan harus taat seluruhnya kepada syariat, tapi di saat upacara bendera juga berseru kita harus patuh kepada UUD 45 karena kita bukan negara syariat! Hah? Bagaimana ini?

Lalu kita mengenal ideologi Kapitalisme, yang menjadi anak kesayangan Sekulerisme.  Ideologi ini dengan wataknya yang serakah seperti anak kecil yang masih ingusan.  Kalo nggak percaya, coba perhatikan adekmu jika diberi mainan, biasanya ia ogah berbagi dengan teman sepermainannya.  Ya kan?  Inilah kepribadian dari Ideologi Kapitalisme.  Bagaimana tidak, jika ideologi ini yang dipikirkannya hanya bagaimana caranya agar mereka kaya raya?  Mereka hanya berpikir bagaimana caranya meraih manfaat duniawi?  Persetan dengan aturan, omong kosong itu syariat Islam, selagi korupsi  menjanjikan, selagi riba menguntungkan, selagi menipu itu memuaskan, ya sudah, sikat saja!

Kemudian Pluralisme.  Paham menyamakan semua golongan dan agama.  Pada mulanya niatnya memang terkesan “baik”, untuk tujuan kerukunan golongan dan agama.  Tapi di sisi lain paham ini tampak terlalu “memaksa” dengan logika yang gegabah lagi salah kaprah.  Akibatnya, serta merta dari mulai agama Islam, Kristen, Budha, Konghucu, Sinto, dan sebagainya, kesimpulannya semua adalah sama!  Sama-sama jalan menuju kebenaran, sama-sama jalan menuju Tuhan, dan sama-sama akan memperoleh keselamatan.  Semuanya benar, tidak ada yang salah, katanya.  Kita sebagai seorang muslim yang telah bersyahadat pun diharuskan mengakui agama yang lain juga benar.

Padahal kalau hanya untuk tujuan kerukunan tak perlu dengan logika yang jungkir balik begitu kan?  Aku sendiri yang sebagian keluarga masih Kristen pernah berdebat dan membuat kesepakatan dengan Pamanku terkait keyakinan kami akan surga dan neraka.  Bagaimana itu???  Nah, katakanlah Pamanku sebagai orang Kristen mengaku benar dengan agamanya dan menyalahkan agama yang lainnya, silakan!  Biarlah Pamanku sebagai orang Kristen berkeyakinan bahwa mereka akan masuk surganya Kristen, sementara aku, keponakannya dan kaum muslim lainnya akan masuk nerakanya Kristen, no problem!  Tapi sebaliknya, biarlah aku juga kaum muslim lainnya berkeyakinan akan masuk surganya Islam, sementara orang-orang Kristen akan masuk nerakanya Islam.  Beres!!!  Yakin, rukun aja kok, hehe…^_^V

Liberalisme. Kalau diumpamakan, liberalisme ini seperti anak ingusan yang dandanannya awut-awutan, suka mangkal di perempatan lampu merah, nggak mau disuruh pulang, malah ikut-ikutan anggota Punk jalanan.  Bebas, ngawur, ngelantur!  Liberalisme dalam negara bisa kita lihat contohnya berupa privatisasi Sumber Daya Alam (SDA), menjual kekayaan alam secara ugal-ugalan.  Sedangkan liberalisme dalam agama, lihatlah begitu banyak aliran sesat yang mengatasnamakan Islam seperti Lia Eden (baca: edan) dkk yang masih dibiarkan tanpa upaya penyembuhan.  Hedeh, emang bikin edan kan?

Lalu bagaimana Liberalisme pada tataran individu?  Nah, disini nih poin pentingnya pembahasan dari statement teman di atas.  Liberalisme tahap individu terlihat dari bagaimana para pengusungnya membudayakan seks bebas atas nama kebebasan bertingkah laku.  Suasana yang diciptakan bulan Februari dengan keromantisan yang makin mengental dari hari ke hari mendekati tanggal 14 (hari ini kan ya???).  Lihat aja, televise, radio, majalah, surat kabar dan berbagai media marak mengekspos acara ini dengan berbagai suguhan program maupun rubric spesial V-Day.  Suasana romantic ini juga bisa kita temukan di tempat-tempat umum macam mall, hotel atau tempat-tempat hiburan.  Bahkan beberapa media sampai meliput ada mall yang menjual coklat plus KONDOM.  Ckckck…parah!!!

Anak muda sibuk ikut berpartisipasi merayakannya.  Memaksakan diri beli coklat, bunga mawar atau aksesoris bantal berbentuk hati yang disukai pacarnya untuk mengungkapkan kasih sayangnya hari ini.  Padahal jika dirunut-runut, V-Day ini merupakan perayaan bagi Juno Februata, sang Dewi Cinta dan Dewa Lupercalia, sebuah pesta orang-orang romawi kuno .  Atau dalam riwayat lain menghubungkan V-Day dengan beberapa pendeta.  Sementara yang lainnya lagi menghubungkan dengan sebuah kepercayaan Inggris yang menyebutkan bahwa burung-burung memilih pasangannya pada tanggal 14 Februari.  V-Day mungkin saja datang dari kombinasi ketiga sumber riwayat tadi dan dihubungkan dengan kepercayaan sebagai hari bagi para pecinta.

Prakteknya sekarang valentine day dijadikan sebagai ajang merayakan perzinahan. Bahkan gilanya lagi, Charles George, seorang pakar kesehatan Inggris menganjurkan melakukan seks bebas di hari valentine dengan dalih kesehatan.  Nah lho???  Apa yang terjadi ba’da V-day?  Gadis kehilangan virginitasnya, hamil di luar nikah, angka aborsi meningkat, penyakit kelamin, dll.  Hiiyyy, serem kan?

Dari sini kita tahu bahwa sumber perayaan V-Day adalah hadharah kufur, karena bukan berasal dari Islam.  Dan jelas juga kan bahayanya bagi generasi muda muslim???

Lalu, apakah ketika sudah terjawab sebagai bagian dari hadrarah barat maka pembahasan ini kita cukupkan sampai disini?  Sebentar, masih ada poin tentang teknologi kan?  Kita akan bahas juga itu dalam madaniyah nanti.

Hanya saja sebelum masuk ke sana, kita simpulkan saja sekilas bahwa SIPILIS: Sekularisme, Pluralisme, dan liberalisme, telah selesai kita bahas secara singkat. Lalu apa lagi yang tergolong hadharah kufur  dan tak boleh diambil? Sebenarnya masih banyak! Ada sosialisme (Atheis), permisifme, hedonisme, paham Gender dan sebagainya.  Yang kusebutkan sebagai contoh tadi cukuplah yang sering kalian dengar aja. Toh yang penting kan kamu sudah faham definisi dan pembagian hadharah ini.  Intinya, yang halal dan yang wajib kita adopsi adalah hadharah yang bermuara pada Islam.  Sedangkan hadharah yang berasal dari barat (kufur), maka wajib kita buang jauh-jauh dari kamus hidup kita.  Bilang aja…”hadharah kufur, loe and gue…end!!!“.

MADANIYAH

Telah kita pahami sebelumnya, bahwa madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam aspek kehidupan.  Nah, langsung saja sekarang menginjak pada pembagian madaniyah: madaniyah amm (umum) dan madaniyah khas (khusus).

Madaniyah Amm, adalah bentuk fisik suatu benda yang tidak ada unsur hadharah tertentu. Seperti hasil sains dan teknologi, produk makanan-minuman atau apalah yang semisal dengannya.  Selagi tidak ada unsur hadharah tertentu (kufur) maka boleh-boleh aja kita gunakan dan kita konsumsi, seperti Komputer, Handphone, Facebook, Pizza, Dunkin’ Donnuts, dll deh.

Kenapa halal? Itulah aturan dalam Islam.  Rasulullah SAW memberikan kelonggaran untuk memanfaatkan produk duniawi bukan semata-mata karena Beliau SAW merasa iri, dengki atau tendensi terhadap orang-orang kafir yang memanfaatkan produk duniawi, bukan.  Beneran deh!  Seperti yang kita tahu, Rasulullah SAW dalam setiap gerak-geriknya, tutur katanya, semuanya atas petunjuk Allah SWT.  Lagian secara fitrah manusia emang diciptakan untuk memanfaatkan apa-apa yang telah diciptakan di bumi.

Hal ini pernah dilakukan Rasulullah dan para sahabat ketika mengambil hasil teknologi dan hasil budaya orang-orang kafir, sebab tidak mengandung pandangan hidup tertentu.  Rasulullah pernah menggunakan senjata Dababah dan Manjaniq buatan orang kafir.  Dababah adalah sebuah alat tempur yang memiliki moncong berupa kayu besar yang digunakan untuk menggempur pintu benteng musuh. Rasulullah saw  juga pernah menggunakan senjata Manjaniq dalam Perang Khaibar ketika menggempur benteng An Nizar milik Yahudi Bani Khaibar.  Manjaniq adalah sebuah ketapel raksasa yang biasa digunakan oleh orang Romawi dalam menggempur lawan.

Selain itu Rasulullah pernah membuat parit di sekitar kota Madinah saat Perang Khandaq.  Salman Al Farisi, sahabat Rasulullah saw yang berasal dari Parsi mengusulkan untuk menggali parit di sekeliling kota Madinah sebagaimana dulu dia pernah membuatnya bersama orang-orang Parsi.  Umar bin Khathab, juga pernah mengadopsi berbagai sistem administrasi orang-orang Romawi dan Parsi untuk mengurus sistem administrasi daulah Islamiyah.

Adakah kamu menemukan pandangan hidup tertentu dari Dababah, Manjaniq, parit yang dibangun Salman Al Farisi dan sistem administrasi Parsi yang diadopsi Umar bin Khathab?  Berbagai fakta tersebut menunjukkan bahwa hasil peradaban umat selain umat Islam halal untuk diambil, dengan catatan…selama tidak mengandung pemahaman dan pandangan hidup tertentu!

Apa yang telah diucapkan oleh Rasulullah SAW?  Belasan abad yang lalu Beliau saw sudah menyatakan: “Antum a’lamu bi umurid-Dun-yakum (Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian)”.

Kemudian kaidah syara’ juga membahas tentang hal itu, “Al-ashlu fil asy-yaa’ al-ibaahah, maalam yarid Daliilut-Tah-rim. (Hukum asal suatu benda adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya)”.

Jelaslah sudah.  Lalu, bagaimana urusannya dengan fatwa “Facebook Haram” dulu itu?

Ah, basi!!!”, ujarmu.  “Kita udah tau kaleee…”.

“Iya, iya…aku juga cuma mau menegaskan aja kok, biar lebih yakin tentang pemanfaatan teknologi ini.” (maksa banget ya???  Hehe…^^)

Seperti kasus dasi di zaman Belanda, orang yang berpendapat Facebook haram mungkin kebetulan melihat fenomena Facebook yang banyak digunakan untuk maksiat, misalnya pacaran atau pertemanan bermasalah lainnya.  Untuk hal ini aku pun sepakat dan sependapat, bahwa suatu hal -meskipun halal, jika digunakan untuk tujuan yang haram (maksiat) maka hukumnya menjadi haram pula.  Mari kutunjukkan kepadamu satu Kaidah Syara’, “Al-Wasiilatu ilal-haraami, haraamun. (Perantara suatu keharaman hukumnya adalah haram pula).”

Alhasil, kalau ada yang menyatakan bahwa Facebook haram, internet haram, parabola haram, itu benar.  Benar jika sesuatu itu digunakan sebagai “perlengkapan” untuk mendukung seseorang melakukan kemaksiatan.  Lha…kalau tidak digunakan untuk bermaksiat tapi justru untuk keperluan dakwah???  Tentu tak ada masalah!

Madaniyah Khas, adalah bentuk fisik suatu benda yang didalamnya terdapat unsur hadharah tertentu.  Misalnya kalung yang berbandul salib.  Atau mendengar cerita teman yang kemarin ikut tour ke Borobudur, pulang-pulang dia dititipi adiknya oleh-oleh berupa miniatur candi atau patung Budha.  Apa??? (Kagetnya gaya lebay mode on, hehe… >.<)

Nah, ketiga benda tadi (bandul salib, candi dan patung Budha), inilah yang disebut dengan madaniyah khas, yakni suatu benda yang mempunyai nilai hadharah tertentu (Kufur).  Kalau benda yang pertama terdapat nilai hadharah Kristen, maka benda yang kedua membawa makna hadharah Budha.  Maka untuk memakai benda tersebut bagi seorang muslim tidak diperbolehkan.

Untuk memudahkan dalam memahami lihatlah tabel berikut:

Lalu bagaimana jika seseorang mengadopsi hadharah Kufur untuk kemudian dipoles dengan Islam?  Seperti halnya mengadopsi rtual Hindu yang oleh orang islam diganti bacaan-bacaannya dengan bacaan yang Islami?  Hal ini sebenarnya jika kita bicarakan lebih lanjut akan masuk dalam bid’ah, namun kita fokuskan pada pembahasan hadharahnya saja.

Renungkanlah Hadits berikut, “Man tasyabbaha bi Qaumin fahuwa minhum (Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka termasuk dalam golongan mereka)” (Sunan Abi Dawud no.4031).

Ritual Hindu adalah menjadi hadharah Hindu.  Jika kaum muslim menirukan hadharah Hindu tersebut maka secara otomatis hukumnya adalah haram.  Bahkan jika kita merujuk pada hadits diatas, Rasulullah SAW menyebut orang yang menyerupai perilaku suatu kaum maka termasuk dalam golongan kaum tersebut.  Na’udzubillahi min dzalik.

Jadi begitulah pembahasan mengenai hadharah dan madaniyah ini.  Puanjang banget ya?  Semoga nggak ada yang tidur sambil membacanya, hehe….^_^

Jika kalian mau peka maka bukalah mata lebar-lebar,  lalu perhatikan realitas kehidupan orang di sekitar kita.  Mereka akan terbagi dalam tiga tipe manusia:

  1. Manusia yang ekstrem menolak segala sesuatu yang berasal dari barat.  Tipe pertama ini biasanya kita temui pada diri orang yang hidupnya hanya berkutik pada hal ritual belaka, di saat yang sama ia mengharamkan untuk mengikuti perkembangan zaman.  Hasilnya, mereka akan menjadi orang yang paham “dalil” tetapi kuper dan gaptek.
  2. Manusia yang ekstrem menerima segala sesuatu yang berasal dari barat.  Tipe kedua ini adalah orang yang keblinger, terlalu asyik hingga tidak sadar kalau dirinya nyasar.  Mau madu, mau racun…semua ditelan.  Mati deh!!!  Wkwkwk….
  3. Manusia yang mampu memilah dan memilih sesuatu yang berasal dari barat, mana yang boleh diambil dan mana yang harus ditolak ia teliti sebelum bertindak.  Nah, tipe ketiga inilah orang yang bijak dan proporsional, yang sesuai dengan pemahaman Islam. Alhamdulillah….

So, termasuk yang manakah kamu???  ^_^

*Dirangkai dari ramuan tulisan berbagai tetangga blog, dengan penambahan dan pengurangan

Baca juga :

http://abangdani.wordpress.com/2011/01/30/valentine%E2%80%99s-day-dalam-pandangan-islam-tinjauan-historis-dan-aqidah/

http://maf1453.com/felix/2012/02/09/vday-love-or-lust

http://khoirunnisa-syahidah.blogspot.com/2012/02/remaja-cerdas-tolak-valentine.html

One thought on “VALENTINE DAY AND TEKNOLOGI??? (Konsep Hadharah-Madaniyah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s