Antara Gelar MBA dan ABP

Tahu MBA kan???

“Tahu dunk!  Itu kaaan…”, jawabmu.  Tapi belum selesai sudah langsung kupotong! Khawatir kalian menjawab benar dan nagih hadiah, hehe…^_^V

Bukaaaan…ini bukan Master of Business Administration yang merupakan gelar tertiari dalam manajemen bisnis.  Yang mau kita omongin kali ini adalah Married by Accident, yang tak lain adalah hamil di luar nikah.  Orang-orang kreatif memperhalus bahasanya dengan MBA, plesetan dari sebuah gelar master professional di bidang manajemen bisnis tadi.  Maka para pelakunya mendapat gelar “kehormatan” yang sama…MBA namun dengan makna berbeda tentunya.  Makna yang sejujurnya tak bisa dibanggakan layaknya gelar MBA yang asli.  Hmmm….:-(

Lalu bagaimana dengan ABP???  Ada yang tahu, kira-kira itu gelar di bidang apa?  Kalo’ ada yang tahu, silahkan angkat tangan!  Adaaa???  Ada yang tahu?

Apaaaa???

Nggak ada yang tahu?  Ya iyalah, ini kan istilah buatanku sendiri, hehe…. (Jangan marah, namanya juga tebak-tebak nggak berhadiah!  Hehe…^^)

ABP ini singkatan yang kubuat untuk kejadian hari ini.  Accident by Palu, alias kecelakaan yang disebabkan oleh palu.

Gelar untuk apa ini?, pikirmu.  Yep, ini pertanyaan bagus!

Ini gelar buat jempol kiriku yang pagi tadi mengalami kecelakaan kegetok palu yang dilancarkan oleh tangan kananku sendiri!  Kyaaa…sakit tentu saja!  Aku meringis-ringis sendiri menahan sakitnya, langsung melepas si palu biang keonaran, mencuci tangan lalu mengoles habatussauda oil pada si jempol.

“Umay marasnya, kada melihatkah lawan jempol jadi sawat kena tukul?1, ini komentar temanku Nayli, hehe…. Yah, itu terjadi begitu saja.  Demikian cepat sampai aku tak sadar bahwa jempol kiri tersayangku sudah digetok oleh palu yang diayunkan tangan kanan tercintaku.  Hedeh, begitulah kisah kecelakaan yang diakibatkan palu tersebut.  Tak perlu kau tanya apa yang kukerjakan dengan palu kan?  Hehe….

Lalu apa hubungannya dengan MBA tadi?  Sejujurnya akupun tak ada ide untuk memberi gelar ABP alias Accident by Palu pada jempolku jika tak ada kejadian lain yang mengikutinya, hingga akhirnya jadi inspirasi buat menuliskannya.  Nah, coba simak latar belakang munculnya gelar ini….

Ilustrasi tempat :  Rental bukuku, sudah tengah hari, dengan Outlandish yang bernyanyi menghibur…ada telfon masuk dan bertanya, “Mbak, apa hukumnya menikah saat hamil?”.  Suara seorang perempuan muda ini mengusik keceriaanku disiang bolong yang sebenarnya sudah berkurang gara-gara kegetok palu!  (Sakit, tau!!!  Jempolku masih bengkak dan berwarna kebiru-biruan).

Hah?  Again???  Aku menarik nafas panjang sebelum memberikan pernyataan resmi, ckck….  Persoalan MBA alias Married by Accident ini dari waktu ke waktu bak jamur yang tumbuh di musim hujan.  Kemana pun kaki melangkah, dimana pun bumi dipijak…selaluuuu ada!  Setiap tempat, setiap waktu.  Bener-bener nggak habis-habisnya.  Satu selesai, yang lain pun muncul.

Tambah sebel saat melihat tayangan sinetron atau drama yang justru menambah “keindahan” hamil di luar nikah ini.  Sesuatu yang dulunya memalukan malah berubah romantis.  Hhhh…dapat inspirasi deh para muda-mudi!!!

Nah, balik ke pertanyaan tadi…ada sesuatu yang menggelitik saat orang-orang melontarkan pertanyaan yang sama untuk persoalan yang itu-itu juga.  Ini bicara pengalamanku pribadi.  Selama ngisi kajian di LDK hingga ngisi kajian ibu-ibu, pertanyaannya itu-itu saja.

“Apa hukumnya menikah saat si wanita hamil?”, seperti sebuah pertanyaan wajib yang dilontarkan berbagai pihak jika kita bicara tentang maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja saat ini.  Konsultasi terkait dengan nikah karena kecelakaan pun selalu dimulai dengan pertanyaan ini.  Masalahnya bagiku sama saja, MBA.  Namun entahlah, mengapa semua pihak bersepakat bahwa pertanyaan awal yang mereka lontarkan padaku adalah “hukumnya”?  Dalam hal ini tentu maknanya mereka menanyakan tinjauan hukum fiqihnya.

Dan dari berbagai kalangan pula!  Pelajar, mahasiswa hingga ibu-ibu.  Terakhir saat mengisi pengajian di kabupaten tetangga, pertanyaan ini juga terlontar dari istri seorang pejabat.  Nah lho???

Aku takkan menjelaskan jawaban apa yang satu per satu kuberikan pada mereka disini.  Hanya menuliskannya sebagai sebuah tinjauan fakta bagiku dan bagi kalian yang tersesat ke blog ku dan membaca tulisanku ini, tentang satu dari sekian banyak gambaran masyarakat kita yang pragmatis dan menyukai sesuatu yang instant.

Betapa kita lebih suka menangani berbagai masalah yang muncul dengan solusi cepat, jalan mudah menuju keamanan menyelesaikan problematika.  Namun benarkah?  Bagiku, itu layaknya orang sakit yang langsung minta obat pereda rasa nyeri pada dokter.  Nyeri yang hilang belum tentu menandakan penyakitnya benar-benar sudah hilang, kan?

Dalam kasus ini, kita bicara MBA.  Ketika terjadi, maka orang-orang akan langsung bicara…”nikahkan saja” sebagai solusi praktis.  Lalu baru bertanya “apa hukumnya menikah saat hamil?” tadi dalam rangka mencari pembenaran bahwa aktivitas pernikahan ini sudah menyelesaikan permasalahan yang terjadi akibat kecelakaan tadi.  Dan semua masalah pun dianggap selesai.

Aku sendiri bukan mau memperpanjang masalah atau protes dengan pernikahan yang dilakukan para pelaku MBA, karena jelas untuk tataran praktis pernikahan memang solusi (sementara). Hanya seperti kataku tadi, tergelitik…mengapa selama ini tak ada yang melontarkan pertanyaan yang lebih menyentuh jawaban akar masalah dan penanggulangan permanennya?  Bukankah selain solusi praktis, tataran pemikiran yang menghasilkan tindakan nyata yaitu tak terulangnya lagi kasus serupa pada orang-orang di sekitarnya juga penting?

Lihatlah betapa panjang daftar peraih gelar MBA, dari waktu ke waktu.  Mengapa bisa terus berulang?  Tentu karena masyarakat tak menyembuhkan sumber penyakitnya.  Minum obat hanya berdasarkan penampakan gejala penyakit ya akhirnya mewabah deh!

Selain itu, gejala adanya pembiaran dari masyarakat akan peristiwa MBA ini pun makin terasa.  Dulu, di kampung tempatku bertugas ini jika ada gadis dan perjaka ditemukan sedang berdua-duaan maka akan diarak2 keliling kampung.  Malu dengan manusia akibat perbuatan mesum tersebut membuat yang lain jera.  Ini lumayan efektif (padahal rasa malunya hanya karena manusia, belum diarahkan malu bermaksiat karena Allah).

Namun seiring bertambahnya waktu, moderenisasi yang merasuk hingga ujung desa pun membuahkan sikap individualistik yang nyata.  Ya syudahlah, itu kan anak orang juga, bukan anakku!

Nah, akhirnya apa yang terjadi?  Pergaulan bebas pun makin membudaya!

Seperti jempolku yang dihantam palu dan sakit, jelas mencari obat untuk mengurangi bengkak dan rasa sakitnya adalah prioritas.  Namun tak cukup hanya itu!  Jika tak menganalisis penyebab mengapa jempolku jadi korban ABP lalu mencari solusi permanen maka kejadian ini pasti akan terulang lagi.  Ya kan?

Mengapa aku mengalami ABP?  Karena ternyata aku bukan tukang yang mahir menggunakan peralatan palu tersebut.  Setidaknya jika aku bukan tukang aku harus mencari dasar teori bagaimana menggunakan palu agar yang dipukulnya bukan jempolku yang menyangga paku, ya kan?  Maka jika sudah tahu bagaimana menggunakannya niscaya kecelakaan kerja bisa diminimalisir jumlahnya atau bahkan dicegah.  Ini sih analogiku sendiri, terserah kalian setuju atau tidak, hehe….^^V

Sekarang penyelesaian ideologis dengan membangkitkan pemikiran semua pihak tentang penyebab satu cabang maksiat ini tentu harus dilakukan bersama.  Sumber virus MBA kan sebenarnya kebebasan yang membabi buta dari ideologi-ideologi selain Islam yang mendewakan kebebasan?  Saat liberalisme diagungkan maka generasi muda pun merasa dibenarkan untuk berbuat apa saja.  Tubuhnya maka haknya untuk berbuat semaunya.  Bebas…

Nilai-nilai kebebasan yang tak bersesuaian dengan ideologi Islam inilah sebenarnya yang harus dibabat tuntas.  Bagi seorang muslim atau muslimah, segala perilaku…tindak tanduknya semua tentu harus terikat pada hukum-hukum penciptanya yaitu Allah Azza wa Jalla.  Jika mau seenaknya sendiri, pergi aja sono…ke sebuah tempat yang bukan diciptakan Allah.  Ada nggak?  Hehe….(kalo’ nggak ada berarti jangan berani melanggar perintah-Nya dunk!!!)

Mengapa kita harus taat?  Pertanyaan ini sepertinya semua orang bisa jawab sambil merem.  Karena ada syurga dan neraka, katanya.  Dengan kata lain ada konsekuensi dari pilihan-pilihan kita saat berbuat.

“Maka barang siapa yang berbuat kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.  Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (TQS. Al Zalzalah : 7-8)

Lalu, apakah cukup penyelesaiannya pada pengembalian kesadaran tentang aqidah saja?  Tentu tidak!  Perlu ada upaya lebih besar lagi dalam rangka penanggulangan permanen sehingga masalah ini tak perlu berulang.  Apa itu?

Yah, tentunya dengan menerapkan hukum Islam secara sempurna dalam bingkai Negara.  Yaelah…UUD lagi deh, keluhmu!  Ujung-ujungnya Daulah, hehe…^^

Yah, aku pun akan menjawab…mo gimana lagi?  Di dunia ini keberadaan sebuah negara punya peran penting dalam membentuk masyarakatnya.  Seperti apa mereka, itu tergantung dari ideologi yang dianutnya.  Lihatlah bagaimana masyarakat di negara-negara kapitalis seperti AS.  Angka kerusakan sosial masyarakat yang terus menanjak dari tahun ke tahun membuktikan kebobrokannya.  Bandingkan dengan negara berideologi komunis seperti Uni Soviet (dulu) dan China, yang 11-12…alias nggak beda-beda amat penyakitnya.  Bandingkan lah lagi keduanya dengan negara berideologi Islam.  Negara yang dulu awalnya dibangun Rasulullah SAW di Madinah, yang atas izin Allah telah membesar menguasai hampir 1/3 bagian dunia.  Dan telah membuktikan diri bahwa dari rahimnya telah lahir masyarakat Islam yang gemilang.  Tak ada cerita generasi mudanya sibuk hura-hura, mereka di usia muda berlomba mendekatkan diri pada Allah dengan berbagai macam cara.  Menghafal Al Qur’an, hadits dan pemahaman agamanya disamping juga terkemuka dalam sains dan teknologi, aktif dalam dakwah dan jihad fi sabilillah pula!  Subhanallah…beda banget kan dengan generasi kita???

Kok bisa?  Ya iya, wong Negara ini sudah diruntuhkan makanya umat Islam jadi penyakitan kayak sekarang.  Tapi yakin deh, kedepannya…insya Allah negara ini akan segera ada mewujud di hadapan kita.  Ayo, kita perjuangkan bersama…^_^V

Cat :

1 Umay marasnya, kada melihatkah lawan jempol jadi sawat kena tukul = Aduhai kasihan sekali, jempolnya nggak terlihat ya sampe kena palu?

2 Diarak         =  Dibawa berkeliling seperti pawai

Ditulis saat menghayati jempol yang digetok palu, ternyata masih lebih ringan sakitnya dibanding mendengar kisah MBA yang makin banyak masuk ke telinga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s