UDIN

Udin menahan pedih yang menyayat hatinya saat mendengarkan cercaan Acil1 Minah.  Bahkan matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya pada dunia, namun Acil Minah sudah membeberkan aibnya pada seluruh tetangga.

“Coba kamu ingat Udin…uang yang kamu pinjam itu sudah berapa lama???  Saya juga perlu duit buat hidup!  Saya lihat kamu kalau punya uang bukannya membayar utang malah kamu hambur-hamburkan.  Harusnya kamu mendahulukan membayar utang pada saya kan?”, ujar Acil Minah penuh Emosi.  Dia bicara dengan suara keras yang bisa didengar dalam radius sekian puluh meter.  Sengaja…mempermalukan Udin dan keluarganya yang tak juga membayar utang.

“Bukan begitu, Cil.  Tapi memang saya belum ada duit buat bayar utang dengan Acil.  Saya benar-benar minta maaf jika waktu pengembaliannya lama.  Selalu ada yang lebih mendesak, makanya saya mohon kebijaksanaan Acil untuk memberi tambahan waktu”, sahut Udin menekan perasaan.

Enor, istri Udin memilin-milin ujung dasternya.  Sesekali ia menyusut air mata yang menetes diam-diam di sudut matanya.  Isaknya tertahan.  Uji dan Yakin, dua anaknya yang masih duduk di kelas enam dan lima sekolah dasar berdiri di pinggir pintu kamar.  Menyaksikan Ibu dan Bapaknya yang jadi sasaran kemarahan tetangga mereka dengan ketakutan.  Sementara Komar, anak bungsu mereka masih belum terganggu dengan suara-suara kemarahan, ia masih dibuai ayunan.

“Apa???  Tambahan waktu lagi?  Uang lima ratus ribu yang kamu pinjam itu sudah setahun.  Kalau kamu memang ada niat baik mengembalikan uang itu pasti sudah dari dulu-dulu, Din….  Tapi buktinya mana?  Saya juga perlu uang, jadi saya minta dikembalikan.  Titik!!!”, balas Acil Minah sengit.

Suara Acil Minah yang naik beberapa oktaf sontak langsung membangunkan si bungsu.  Ia menggeliat di ayunannya, kaget dan mulai menangis.  Enor bangkit perlahan ke dalam kamar, mengambil anaknya di ayunan dan mulai menyusuinya agar diam.  Kedua anaknya yang semula berdiri di pintu kamar ikut merubung ibunya.  Si Yakin yang sudah kelas lima pun sudah mulai berkaca-kaca.  Uji yang kelas enam diam di sebelah ibunya, matanya masih awas memperhatikan Bapaknya yang tak berdaya di hadapan sang penagih utang.

Udin sendiri tak tahu harus berkata apa.  Tetangga-tetangga sekitar rumah sudah mulai berdatangan.  Suara mereka berdengung-dengung seperti lebah yang membuat pikiran Udin tambah bingung.  Ia tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat agar Acil Minah percaya bahwa ia tak pernah berniat untuk mengabaikan utangnya.

Bagaimanapun ia hanya pegawai honorer di Kelurahan Maju Mundur.  Gajinya yang tujuh ratus ribu per bulan harus menghidupi 5 perut : ia sendiri, istri dan ketiga anaknya.  Jangankan untuk membayar utang yang hampir menghabiskan gaji bulanannya, bahkan saat ini tempat berasnya sudah mulai kosong.

Padahal tanggalan di kalender baru disilang sampai tanggal 17 Januari.  Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang segera sementara satu-satunya penghasilan Udin hanya gaji bulanan yang tak seberapa jumlahnya itu?  Ia tak punya usaha lain, tak punya modal.  Ia juga tak punya harta lain yang bisa ia gadaikan untuk sekedar menenangkan kemarahan Acil Minah karena kelalaiannya membayar utang.

Lihat saja rumahnya…bukan, ini bukan rumah.  Ini hanya gubuk tua peninggalan orang tuanya.  Satu-satunya warisan yang ia punya.  Bangunan hampir reyot berukuran 4 x 6 m dengan satu kamar bersekat triplek bulukan untuk mereka tidur, serta ruang tamu sekaligus dapur mereka.  Atap sirapnya yang tua sudah berlobang dimana-mana.  Jika hujan, ia dan istrinya harus menaruh baskom di beberapa titik lubang yang parah.  Bunyi kerontangan air hujan yang menetes dalam baskom seng mereka satu-satunya sarana hiburan di rumah itu.

Tak ada televisi, tak ada radio.  Listrik pun menyalur dari tetangga mereka, Haji Ebol yang berbaik hati memberi satu bola lampu pijar dan kabel bekas supaya anak-anaknya bisa belajar dengan nyaman pada malam hari.  Jika tidak, ia dan keluarganya akan tetap memakai lampu minyak yang membuat hidung anak-anaknya belatat2 jika terlalu dekat.

“Ada apa ini sebenarnya?”, sebuah suara berwibawa membuat kerumunan di depan rumah Udin menoleh ke arahnya.  Tak ada yang menyahut, mereka memberikan jalan saja.  Rupanya si empunya suara adalah Haji Ebol, tetangga Udin yang selalu membantunya.

Saat beliau mendekat, Acil Minah pun mulai bersuara.  Membeberkan sekali lagi aib Udin sejelas-jelasnya kepada Haji Ebol dan kerumunan di depan pintu rumahnya dengan beberapa penambahan disana-sini.  Udin mengatupkan kedua giginya, menahan ribuan jarum yang menusuk-nusuk di dadanya.  Serasa ia ditelanjangi bulat-bulat di hadapan orang banyak.  Harga dirinya telah dinodai karena kemelaratan yang membelit kehidupannya yang malang.  Terlebih di hadapan Haji Ebol yang sangat ia hormati, ia tak punya muka lagi.

Haji Ebol mendengarkan dengan tenang hingga Acil Minah selesai.  “Pulanglah Minah, utang si Udin biar aku yang membayar…”, ujar beliau akhirnya.  Udin bertambah-tambah malunya.  Sementara Acil minah dengan agak terperanjat meyakinkan pendengarannya.

“Utang si Udin ini banyak Pak Haji, lima ratus ribu jumlah semuanya”, ujarnya.

“Iya, aku akan membayarnya.  Besok pagi datanglah ke rumahku, Minah.  Hari ini cukup sampai disini.  Pulanglah, jangan bikin ribut lagi”, sahut Haji Ebol.  “Kalian juga pulanglah”, katanya kemudian pada orang-orang yang berkerumun di depan pintu rumah Udin.

“Baiklah Pak Haji, karena Pak Haji yang menjamin jadi saya pulang sekarang!  Saya ikhlaskan menolong si Udin yang tak bisa dipercaya ini dengan uang lima ratus ribu saya, tanpa bunga!”, ujarnya masih dengan suara nyaring.

“Dengerin tuh Din, kamu harus berterima kasih sama kami-kami ini.  Orang seperti kalian yang hobi ngutang ini kalau ditolong sekali aja langsung ngelunjak!  Lain kali bayar utang dulu baru urusan lainnya…”, tambah Acil Minah lagi.

“Iya, Cil.  Te..terima kasih banyak untuk kebaikannya”, Udin bicara dengan tersendat.

“Sudah sudah…kubilang pulanglah, Minah”, sekali lagi Haji Ebol mengingatkan Acil Minah yang masih sempat-sempatnya mengeluarkan kata-kata pedas.

Acil Minah berbalik pergi, orang-orang di depan pintu sudah mulai menjauh.  Udin tinggal berdua dengan Haji Ebol.  Ia tertunduk di hadapan tetua dermawan itu.  Tak berani mengangkat muka.  Sementara istri dan anak-anaknya masih di kamar, perasaan malu dan takut bercampur meracuni hati dan pikiran mereka.

Haji Ebol membiarkan Udin sejenak dalam diamnya.  Membiarkan Udin melepas sedikit demi sedikit tekanan yang dialaminya pagi buta ini.  Seorang laki-laki, suami dari istri, ayah dari tiga anak, dibantai didepan mata keluarganya.  Meskipun hanya dengan kata-kata namun telah memecahkan gelas hatinya berkeping-keping.  Harga diri yang remuk.

“Kamu harus sabar, Din…”, ucap beliau akhirnya.

Udin diam tak bergerak.  Namun itu tidak berlangsung lama, tubuhnya terguncang.  Udin menangis tanpa suara.  Menangisi ketaklayakannya sebagai suami yang tak bisa memberi pakaian yang baik buat istrinya.  Meratapi ketakmampuannya sebagai ayah yang tak pernah membeli makanan dan mainan yang pantas buat anak-anaknya.  Menangisi kemiskinan yang sudah turun temurun singgah di keluarganya.  Mengapa ia miskin hingga harus dihinakan sedemikian rupa?

Dalam hatinya, Udin tak pernah bahkan berniat melupakan utang-utangnya.  Udin hidup prihatin, menghemat disana-sini. Namun barang-barang kebutuhan pokok yang terus naik, juga keperluan sekolah anak-anaknya yang terus bertambah membuat gaji yang tak seberapa itu selalu kurang.  Haji Ebol menepuk bahunya dan bangkit berdiri meninggalkan Udin di gubuk tuanya.

***

Udin berangkat ke kantor Kelurahan Maju Mundur diiringi tatapan orang-orang yang seolah menuduhnya sebagai pencuri.  Tukang utang yang mengelit akan utangnya.  Ia mengayuh sepeda ontelnya dengan agak tergesa.  Tak nyaman dengan keadaannya.

Begitu sampai di kantor, ia langsung menuju dapur.  Akibat insiden pagi tadi, ia terlambat 30 menit dari jadwal biasanya.  Belum ada pegawai yang datang memang, namun ia harus segera bergegas.  Ia menghidupkan kompor untuk memasak air, lalu mulai mengambil sapu dan pel lantai.  Tangannya yang terampil bekerja gesit, mengejar tiga puluh menit keterlambatannya agar tak ada keluhan dari atasan.  Maklumlah, pegawai honorer sepertinya yang bertugas sebagai jongos selalu menjadi bulan-bulanan rekan kerja yang kedudukannya lebih tinggi.  Salah sedikit, telinga pun merah.

Satu per satu pegawai kantor Kelurahan Maju Mundur pun berdatangan.  Setelah apel pagi rutin, ia melanjutkan pekerjaannya.  Pak Lurah meminta beberapa data untuk lomba desa difotocopy, Sekretaris Lurah memerintahkannya segera mengantar surat tembusan acara maulidan ke kantor kecamatan, Kasi Kesejahteraan sekalian nitip beli gorengan di warung samping fotocopy-an.  Ia berangkat dengan ontelnya, berusaha tersenyum meskipun teman-teman sekantornya sudah mulai banyak yang berkomentar diam-diam maupun terang-terangan tentang kejadian pagi tadi di rumahnya.  Rupanya berita itu demikian cepat menyebar.  Seperti tersiarnya wabah flu burung yang langsung sampai ke sudut kampung.  Udin menarik nafas panjang sebelum menginjak pedal ontelnya yang setia.

Di warung gorengan tempat persinggahan terakhirnya, Udin bertemu Pak Iyar yang sedang asyik menikmati tempe goreng dan teh esnya.  Ontel si Udin begitu kontras saat bersanding dengan sepeda motor besar milik Pak Iyar.

“Oh…Udin rupanya.  Sini, Din…sini!  Aku punya proyek buat kamu…”, ujar Pak Iyar begitu menyadari yang datang adalah Udin si pegawai honorer kelurahan.

Udin masuk ke warung gorengan sambil tersenyum.  “Wah, proyek apa Pak Iyar?”, tanyanya kalem.

“Duduk dulu, makan gorengan dulu…kita bicara santai lah…”, ujar pak Iyar padanya.  “Sum, teh esnya satu lagi ya buat Udin…”, tambahnya pada Sumi si pemilik warung.  Sumi langsung mengiyakan dengan tangannya yang cekatan menghidangkan teh es dalam waktu singkat.

“Ah…tak usah repot, Pak.  Saya harus segera kembali ke kantor”, ujar Udin tak enak.

“Sudahlah Udin, duduk sebentar saja.  Tenangkan hatimu, aku tahu di rumahmu pagi tadi ada hal yang membuat kepalamu sakit.  Siapa tahu setelah makan tempe goreng dan es teh si Sumi pikiranmu jadi plong, ya kan Sum?”, ujar Pak Iyar minta pembenaran pada Sumi.  Sumi hanya menanggapi sambil lalu.  Ia sekarang sibuk mengadon bakwannya.

Udin menelan ludahnya, pahit.  Tapi ia tetap menarik sudut bibirnya, tersenyum.  “Ah, iya Pak.  Saya lupa, betapa cepatnya berita di kampung kita menyebar.  Begitulah Pak, nasib orang miskin seperti saya ini…selalu ada masalah begitu”, sahutnya.

“Ya ya ya…aku tahu, makanya aku ingin memberimu proyek, Din.  Dengan proyek ini…kamu bisa segera membayar utang-utangmu.  Juga bisa membelikan pakaian buat anak istrimu…”, ujar Pak Iyar sambil memelankan suara dan mengedipkan sebelah matanya.

Udin jadi curiga.  “Proyek apa, Pak?”, tanyanya ragu-ragu.

“Tahun ini perusahaan sawit ABC akan menambah plasma untuk Kelurahan Maju Mundur sejumlah 100 KK.  Aku sudah bicara dengan managernya, informasi ini valid!  Nah, karena jumlahnya yang terbatas aku mau minta tolong denganmu, Din!  Tidak gratis tentu, aku bayar dengan jumlah yang memuaskan!”, terang Pak Iyar.

Udin masih belum paham.  Ia memandang wajah Pak Iyar dengan ekspresi agak bingung.  Apa yang bisa ditolongnya dalam proyek ini, batinnya.  “Apa yang harus saya lakukan, Pak?”, tanyanya.

“Aduh udin…masak kamu tak mengerti juga?  Kelurahan Maju Mundur saat ini punya sekitar 500 KK, tahun lalu 100 KK sudah didaftar untuk perkebunan sawit plasma di PT. ABC.  Nah, tahun ini akan ada 100 KK lagi.  Keluargaku belum ada satu pun yang masuk.  Makanya aku minta tolong agar nama aku dan saudara-saudaraku duluan munculnya…”, jelas Pak Iyar.

“Jadi Pak Iyar ingin saya mmunculkan nama Bapak dan keluarga?”, Udin meyakinkan diri.

“Pintarrrr…kamu, Din!  Bagaimana?”, tanyanya.

“Aduh Pak Iyar ini ada-ada saja.  Saya mana ada kemampuan membuat nama Bapak dan keluarga muncul, Pak.  Saya ini cuma pegawai honorer di Kelurahan Maju Mundur”, tolak Udin halus.

“Ah, siapapun tahu, Din…kamu yang mengurus tetek bengek daftar-daftar seperti ini.  Tak akan ada yang tahu….  Kan selama ini sistemnya arisan, kamu cukup memasukan lebih banyak nama kami”, ujar Pak Iyar meyakinkan Udin.

“Saya tidak berani, Pak.  Kalau keluar nama Bapak dua kali bagaimana?”, tanya Udin polos.  Ia mulai khawatir dengan tawaran ini.

“Ah, gampang…bilang saja itu kekhilafan manusia yang memang tempatnya salah dan lupa.  Beres kan?  Ayolah, Din!  Kita hidup ini harus berani.  Berani memperjuangkan nasib.  Kapan perlu namamu juga dibuat banyak disitu biar sekalian keluar tahun ini.  Nah, kamu dapat dua keuntungan dari proyek ini.  Plasma sawit atas namamu keluar dan aku akan membayar satu juta untuk setiap nama anggota keluargaku yang keluar.  Bagaimana???”, kali ini Pak Iyar bicara sambil berbisik.  Khawatir didengar Sumi si pemilik warung yang sibuk menggoreng bakwannya.  Bunyi adonan yang masuk ke kuali dengan minyak panas menyamarkan pembicaraan rahasia mereka.

“Lumayan itu, Din!  Jika berhasil, uang lima juta rupiah berada di tanganmu.  Kontan!  Kapan perlu malam nanti kuantar dua juta sebagai DP ke rumah mu.  Bagaimana???”, lagi-lagi Pak Iyar bicara dengan suara pelan.

Udin menelan ludah.  Lima juta?  Wah, jika ia punya uang lima juta dalam waktu dekat tentu akan mengurangi bebannya.  DP dua juta saja jika benar diantar malam ini sudah bisa melunasi utangnya di tempat Acil Minah tanpa merepotkan Haji Ebol.  Tempat beras yang kosong karena yang terakhir sudah dimasak istrinya subuh tadi, tentu akan terisi lagi.  Seragam olahraga untuk Uji bisa segera ditebus.  Juga uang sumbangan untuk acara di sekolah si Yakin bisa segera dibayar.  Tak lupa beberapa vitamin buat si bungsu Komar yang kemarin demam panas.  Bisa membeli terpal juga untuk melapisi atap di dalam rumahnya, sehingga derita akibat bocor di musim hujan begini berkurang.  Juga….

Ah, berbagai angan akan bagaimana menggunakan uang lima juta itu tiba-tiba memenuhi benak Udin.  Ia memandang Pak Iyar yang mengangguk padanya dengan bimbang.

“Pikirkan saja, Din!  Pokoknya malam ini aku akan datang ke rumahmu…”, ujar Pak Iyar.  Ia berdiri membayar semua yang dimakannya sekaligus pesanan Udin.  Tak lupa ia minta dibungkuskan buat keluarga Udin, buat anak-anaknya kata Pak Iyar.  Udin yang masih bingung dengan apa yang terjadi membiarkan saja.  Ia diam, masih memikirkan betapa enaknya punya uang lima juta.

Sepulang dari warung hingga jam kantor berakhir, Udin bungkam.  Pikirannya benar-benar terbang membayangkan lima juta yang akan segera ia miliki jika mau membantu Pak Iyar.  Shalat maghrib, ia sampai lupa tasyahut awal.  Shalat isya, ia lupa…sudah berapa rakaat?  Terpaksa harus sujud sahwi.  Oh, uang lima juta itu benar-benar membuat pikiran Udin kacau.

Dan benar saja.  Selepas isya, ketukan di pintu rumah Udin yang reyot pun terdengar.  Tok tok tok….

Udin menjilati bibirnya, gugup.  Istrinya yang tak tahu menahu segera masuk kamar karena sedang menyusui si bungsu, akhirnya Udin sendiri yang membuka pintu.  Pak Iyar benar-benar datang ke rumahnya dengan uang kontan dua juta rupiah seperti yang dijanjikannya siang tadi di warung.  Transaksi berjalan cepat karena hanya proses mengantar setelah proposal yang diajukannya disetujui Udin dengan diamnya.  Maka bahkan istri Udin sekalipun tak menyadari apa maksud kunjungan Pak Iyar malam itu.  Ia keluar saat anaknya sudah tidur, namun tamunya sudah pulang.

Tak merasa perlu mencampuri urusan para lelaki, istri Udin tak bertanya apa-apa.  Hanya bingung, saat besoknya…Udin memberinya uang seratus lima puluh ribu untuk menebus seragam dan sumbangan sekolah anaknya.  Dan besoknya lagi, Udin membawa pulang sekarung beras dan ikan kering dari pasar.  Dan besoknya lagi saat mendengar celotehan tetangga bahwa suaminya sudah membayar utang langsung pada malam setelah keributan itu pada Acil Minah.  Kasak-kusuk tetangga mengatakan uang itu bukan dari Haji Ebol.  Jadi dari mana suaminya mendapatkan uang sebegitu banyak?  Ya, bagi orang lain mungkin jumlah itu tak seberapa.  Namun bagi Udin dan istrinya, utang dan tagihan-tagihan itu adalah beban besar yang harus dipikul.  Ditambah lagi sikap suaminya yang murung dan lebih banyak diam akhir-akhir ini membuat Enor khawatir.

Maka saat akan menyiapkan keperluan suaminya untuk jumatan, ia pun memberanikan diri bertanya pada suaminya, Udin.  “Bang, saya dengar abang sudah melunasi utang kita di Acil Minah.  Benarkah, Bang?”.

Udin yang baru mengenakan baju koko bututnya terdiam dari aktivitasnya.  Ia sudah menduga istrinya pasti akan bertanya, entah kapan.  Namun secepat ini rasanya Udin belum siap.  Ia menelan ludah, memantapkan hati…berbohong.  “Oh…itu, kebetulan aku pinjam dengan teman”, ujarnya.

“Siapa, Bang?  Setahu Enor, tak ada teman kita yang punya uang demikian banyak dikampung ini?”, tanya si istri lagi.

“Iya, ini teman jauh yang baru ketemu, Nor.  Dia teman waktu kecil…”, bohong lagi.  Udin mempercepat aktivitasnya agar bisa segera jumatan ke masjid.  Tak ingin memperpanjang daftar pertanyaan istrinya tentang sumber uang itu.  Tangan dan kaki Udin gemetar.  Ia serasa tak mampu mengayuh sepedanya.  Lutut-lututnya lemas seolah tak bertulang.  Uang yang diterimanya dan kebohongan yang baru saja diucapkannya begitu menyiksa.

***

                “Tidak jauh berbeda dari sebelumnya…tahun 2011 kemarin juga dilewati dengan serangkaian problem sosial masyarakat yang terasa sangat memilukan.  Kejahatan meningkat, seks bebas seolah-olah menjadi tren, angka aborsi bertambah setiap tahun, mewabahnya HIV/AIDS akibat seks bebas dan penyakit psikis yang mendera manusia akibat makin tinggi beban hidup yang harus ditanggung.  Depresi menjadi penyakit yang angkanya jauh lebih tinggi dari penyakit lainnya.  Angka kematian akibat bunuh diri meningkat.”

                “Faktor ekonomi sering dituduh sebagai akar masalah.  Namun jika diteliti lebih dalam lagi, yang mengalami depresi lalu bunuh diri tak hanya lantaran kemiskinan.  Penyebab mendasar dari problem sosial ini bukanlah faktor ekonomi tapi apa yang menimbulkan masalah ekonomi itu muncul.  Sesungguhnya penerapan sistem ekonomi kapitalis lah yang menjadi biang keroknya.”

“Dalam sistem kapitalis, kekayaan alam yang melimpah hanya dinikmati oleh segelintir orang lewat kebijakan privatisasi, sementara rakyat hidup dalam kepungan krisis multidimensi yang berujung pada tekanan jiwa yang terus mendera dan jalan pintas menghalalkan segala cara demi mencukupi kebutuhan hidup.”

Udin mendengarkan khutbah jumat dengan khusyuk.  Hati kecilnya tak tenang sejak menerima uang DP atas imbalan berbuat curang membantu Pak Iyar berada dalam daftar penerima sawit plasma.  Ia merasa menjadi orang yang menghalalkan segala cara demi perut.  Sesungguhnya ia malu.

“Menuntaskan segala problem tersebut tidaklah bisa hanya dengan menyelesaikan satu per satu masalah yang muncul.  Upaya yang komprehensif dan menyeluruh harus dilakukan yaitu dengan menghilangkan akar permasalahan.”, suara yang sangat dikenal Udin ini melanjutkan khutbahnya.

“Mengganti sistem yang salah itulah jawabannya!  Selanjutnya kita perlu menghadirkan pilar-pilar pengokoh tegaknya sistem yang benar.  Pertama, menghilangkan faktor internal individu berupa lemahnya iman dan miskinnya pengetahuan tentang aturan Islam”.

“Keimanan yang kokoh akan membentengi seseorang dari perilaku melanggar hukum syariah; menghalangi seseorang dari berbuat maksiat.  Sebab ia yakin benar bahwa baik-buruknya yang ia lakukan di dunia akan berkonsekuensi pada pahala dan dosa”.

Udin beristighfar.  Ya Allah, betapa lemahnya keimananku…batinnya.  Haji Ebol membacakan surah Al Zalzalah ayat 7-8.  Udin hafal surah itu, ia seringkali mengulang-ulang membacanya saat shalat.  Namun bagaimana ia mengamalkannya?  Udin meratapi kelemahan imannya yang tergiur dengan uang lima juta, iming-iming yang menggoda kesadarannya.

‘Ikhlas, sabar dan tawakal akan menjadikannya kuat menghadapi beragam cobaan kehidupan dan menjauhkannya dari sikap putus asa.  Keteladanan Rasulullah SAW dan para shahabat manakala diboikot kafir quraisy selama tiga tahun harus menjadi contoh.  Kesulitan hidup tidak menjerumuskan seorang muslim ke dalam kemaksiatan.  Sebaliknya ia tetap istiqomah dalam keimanan”.

“Ilmu laksana cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seseorang.  Pengetahuannya tentang aturan syariah serta pemahamannya tentang kewajiban terikat pada seluruh peraturan tersebut akan mengarahkan dirinya untuk tetap berada pada jalan yang benar, bukan jalan kemaksiatan yang menyimpang”.

Udin kali ini benar-benar menyusut air mata.  Betapa ia merasa mulai menemukan sebab musabab, mengapa ia bisa tersesat di jalan kemaksiatan?  Rupanya selama ini ia tak punya banyak cahaya.  Saking sibuknya memenuhi hajat perut, ia seringkali lupa jika diajak ke pengajian.  Ia seringkali enggan karena kelelahan dan berbagai alasan lainnya.  Allahu Rabbi…, Udin membatin lagi.

Kedua yaitu faktor yang berasal dari luar masyarakat.  Sikap peduli masyarakat terhadap sesamanya akan membantu meringankan masalah yang sedang dihadapi seseorang.  Contoh nyata telah dibuktikan oleh para shahabat Muhajirin dan Anshar.  Mereka tidak menunggu teriakan minta tolong, kelaparan yang berujung keputusasaan atau kemiskinan yang mendorong kejahatan seperti yang terjadi sekarang”.

Udin langsung teringat Haji Ebol sendiri yang saat ini sedang bicara.  Tetangganya yang satu ini selalu siap mengulurkan tangan tak hanya pada Udin.  Betapa indahnya jika semua orang yang diberi kelebihan harta berbuat demikian, Udin tersenyum dan bersyukur pada Allah atas bantuan-Nya lewat tangan tetua kampungnya itu.

“Kekokohan iman individu tidak akan cukup kuat untuk menghadapi sulitnya kehidupan sekalipun disertai dengan sikap peduli masyarakat.  Masih ada pilar ketiga yang akan mengeluarkan individu dari kubangan masalah kehidupan.  Pilar itu adalah penerapan sistem shahih yang dijalankan oleh orang yang amanah, yang akan memandang seluruh urusan rakyat sebagai amanah Allah yang menjadi tanggungjawabnya”.

“Dia betul-betul akan menunaikan amanah ini sesuai dengan aturan Allah SWT.  Masalah ekonomi, masalah sosial kemasyarakatan, masalah hukum dan masalah lainnya hanya diatur dengan aturan Islam yang mensejahterakan”.

“Ya, itulah syariat Islam yang diterapkan dalam institusi pemerintahan Islam, Khilafah Rasyidah yang insya Allah akan segera tegak kembali”.

Udin masih mendengarkan bagian akhir khutbah dengan khusyuk.  Beribu pertanyaan tentang pilar ketiga yang diungkapkan Haji Ebol beterbangan di kepalanya.  Benarkah?  Jika ada satu negara yang menerapkan syariat Islam secara keseluruhan dan dijalankan oleh orang-orang yang amanah keadaan manusia seperti dia takkan seperti sekarang?  Benar bisakah menjalankan kekuasaan dengan menjadikan kepentingan umat sebagai prioritas?  Bisakah menjaga agar setiap individunya tetap bertakwa?  Ah, ia ingin segera menanyakannya langsung pada Haji Ebol.  Nanti ia pasti akan menanyakannya sejelasnya pada tetua itu.  Ia juga ingin diajari syariat agar paham mana yang boleh dan mana yang tidak.  Ia ingin punya lentera.  Maka Udin berusaha tetap menjaga konsentrasi hingga shalat usai.  Satu tekad telah dibulatkannya.

Namun sebelum itu…selepas jumatan, Udin mengayuh sepedanya menuju rumah dengan semangat membara.  Ia tergesa-gesa mengambil amplop sisa uang DP dari Pak Iyar yang belum dipakai.  Tekadnya, ia akan mengembalikan uang yang ada ini kepada pemiliknya sebelum terlanjur melakukan kecurangan.  Sisanya yang terpakai, begitu gaji diterima awal bulan akan langsung ia bayarkan.  Udin keluar lagi diikuti tatapan Enor, istrinya yang masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.  Mengayuh lagi sepedanya menuju rumah Pak Iyar.

Insya Allah, Udin yakin akan ada jalan lain bagi Allah untuk menolong agar lima perut di rumahnya tetap terisi. Insya Allah….  Dan senyum Udin pun mengembang. ^_^

Cat :

1Acil                      =  Tante

2Belatat                =  Terkena asap dari lampu tembok yang bisa meninggalkan noda hitam

One thought on “UDIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s