Antara Cake dan Pisang Goreng???

Pagi jumat yang syahdu, saat sedang asyiknya menikmati kesenyapan kantor yang jauh dari keramaian sambil membolak-balik Trubus, tiba-tiba diberondong dengan pertanyaan…”Brina temenmu ada yang masih single nggak?”.  Hah, kesambet apa nih temen…gak ada salam pembuka, kalimat pengantar de el el, langsung interogasi kayak polisi razia jomblowati?  Hehe….^_^

“Emang napa?”, jawabku penasaran.

“Kenalin dong satu…”, pintanya.

Ilustrasi itu hanya satu dari sekian banyak ulah laku teman-temanku yang kebanyakan memang kaum adam.  Teman sekantor!  Di lingkungan ini…aku adalah satu diantara limited edition woman, hehe….  Makanya dalam rangka menyongsong cita-cita pensiun dini, sekarang sedang merintis usaha mandiri.  Ada yang mau investasi?  Weits, kok jadi ngelantur yah???

Balik ke cerita tadi, akhirnya aku pun melakukan investigasi dibalik motif pertanyaannya.  Usut punya usut ternyata dia baru putus cinta dan ingin mengobati hatinya yang berdarah-darah itu dengan mencari cinta baru (Hedeh, lebay amat ya bahasanya?  Abaikan saja!!!  Hehe…).  Karena aku juga mengabaikan permintaan teman tadi dengan tersenyum saat itu.  Satu kali berlalu.  Dua kali pun tak kugubris.  Tiga kali…aku benar-benar “ditagih”.  Nah, padahal aku tak berjanji apa-apa!

Lucunya…ini jadi curhatan baru yang berkelanjutan.  Tanpa diminta, tanpa ditanya…dia akan selalu lapor padaku tentang perkembangannya mencari jalan cinta.  Termasuk tentang “tipe ideal” dambaannya.  Teman yang lain (tetep…laki-laki di kantor) pun tak mau ketinggalan, ikut nimbrung obrolan yang mulai menghangat setiap jumat.  Maklum…jadwal piket tuh!  Maka forum jumat pagi pun berubah layaknya konsultasi bersama psikolog.  Anda bertanya, saya menjawab, hehe…^^

Awalnya aku mendengarkan sambil lalu saja, namun saat berbagai kepala bersatu menyumbangkan “suara-suara aneh” pemikiran yang bertentangan dengan syariah-Nya, mulai pulalah aku ikutan serius menimbang, memperhatikan lalu memutuskan…diskusi ini tak boleh berhenti pada kesimpulan ngawur ala playboy.  Mesti dikasih gambaran dikit nih tentang prayboy, wkwkwk…^^

Ketika bicara tentang “tipe ideal”, laki-laki tentu menginginkan seorang perempuan yang enak dipandang mata.  Ini biasanya selalu berada pada tingkatan teratas kriteria mereka.  Tak salah memang, bahkan kami kaum hawa pun dalam hal ini serupa.  Hayooo jujur, siapa sih yang nggak suka ngeliat yang bening???  Ups…hehe…^^V

Yang kedua tambahannya adalah seksi!  Uhuyyy, seksi dirumah sih nggak masalah.  Ini yang dicari seksi yang diumbar kemana-mana.  Weleh-weleh…para pria playboy ya…bawaannya begini nih!

Dipikir-pikir…siapa sih yang nggak seneng punya istri cantik dan seksi atau suami ganteng?  Yang bening takkan malu-maluin dibawa kondangan, ya kan???  Ini kata orang-orang lho!  Hehe….  Kadang kecantikan dan ketampanan ini emang bisa jadi sesuatu yang sangat membanggakan!  Termasuk bagi teman-temanku tadi yang sedang berandai-andai bertemu bidadari.  “Betapa bangganya  memenangkan hati sang bunga…”, begitu komentarnya!  Ckckck….

Selanjutnya baru kriteria baik dan pengertian.  Dalam hal ini tak jelas juga apa standarnya.  Pokoknya itulah diantara beberapa kriterianya.  Saat ditanya bagaimana denganku?  “Oke…begini ya teman, display waaaah…emang menggoda tapi tak cukup hanya itu!  Kan udah jelas tuh Rasulullah bilang pilihlah yang beragama, niscaya selamat dirimu!”.

Nah, mulai lah suara-suara protes berkumandang, “huuuu…si Brina mah, ujung-ujungnya pengajian kita!”.

Tapi aku tak peduli.  Layar sudah terkembang jadi kapal harus tetap berlayar.  Apa hubungannya ya?  Hehe….  Yah, pokoknya mereka harus mendengarkan pendapatku!  Diterima atau tidak, belakangan.  Dengarkan saja dulu, ok?

Bicara tentang “tipe ideal” maka keimanan lah yang layak menduduki posisi teratas dari daftar tadi.  Tampang boleh cakep tapi keimanan bener-bener harus lebih cakep lagi!

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk badan dan rupamu tetapi Ia melihat kepada hatimu” (HR. Muslim).

Tuh kan…bahkan dalam riwayat lain Rasul SAW yang mulia pernah bersabda :

“Barang siapa yang menikahi wanita karena kemuliaannya semata, niscaya Allah tidak akan menambahkan sesuatu kepadanya selain kehinaan.

Barang siapa yang menikahi wanita hanya karena hartanya, niscaya Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain kefakiran.

Barang siapa yang menikahi wanita karena nasabnya semata, niscaya Allah  tidak akan menambahkan sesuatu kepadanya selain kerendahan.

Barangsiapa yang menikahi wanita karena hendak menundukkan pandangan matanya atau untuk menjaga kehormatannya atau karena hendak menyambung tali persaudaraan, niscaya Allah akan memberkatinya dihadapan istrinya dan memberkati istrinya dihadapan suaminya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Maka kesimpulannya carilah yang baik agamanya, kataku sok teu!  Hehe….  Kan saia juga sedang belajar???  Oke ya, bisa dimengerti?

Idem, mereka akur mengiyakan alias setuju dengan tawaranku tentang cewek impian = sholihat!  Lalu pertanyaan selanjutnya pun muncul…”trus gimana caranya ngedapetin mereka?”.  Hedeh, bahasanya itu lho, ngedapetin…kayak barang aje???

“Jadi begini teman, si sholihat ini biasanya sih…nggak didapat dengan pacaran!”, jawabku.

“Lho…trus gimana nikah kalo’ nggak pacaran??!”, protes mereka serempak!

Nah ini diskusi panjang berikutnya.  “Pernah nonton KCB kan?”, mulaiku lagi.  Alhamdulillah…pada nonton, jadi sudah melihat bagaimana perjuangan Mas Azzam mencari cinta, hehe….  Pernah baca novelnya juga, jadi sebenarnya sudah ada sedikit gambaran di benak mereka guna mencari si sholihat yang ngumpet entah dimana.

Tapi justru ini yang akhirnya malah menjadi akhir tragis diskusi kami.

”Oalah Brina…pusing aku kalo mesti begitu!  Ntar nggak boleh berduaan lah, nggak boleh pegangan lah, nggak bolehnya banyak!  Nggak seru nih cinta-cintaan ama si sholihat!”, satu komentar.

“Wah berat juga ya…kalo gitu?  Iya kalo beruntung kayak Mas Azzam yang berhasil ngedapetin Mbak Ana, lha…kalo nggak?  Ntar malah nyesel seumur hidup!”, yang ini komentarnya tentang film kali ya?  Hehe….

“Aduh Brina, batal deh kalo gitu!  Aku minta dicarikan yang “biasa-biasa” aja deh!  Susah kalo gitu ceritanya!  Terlalu ribet!  Terlalu banyak aturan!  Nggak minat aku jadinya!”.

Lho???  “Aturan ini bukan aku yang bikin, tapi Allah…Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita!  Berani nggak taat kalian?”.  Mereka cengengesan dan mulai beralasan!

Akhirnya cewek impian = sholihat = didapat dengan jalan halal yaitu khitbah dan nikah pun tertolak!

“Nggak ada seninya kalo ngejar cewek begitu.  Aku pengen cewek yang kudapatkan dengan kebanggaan karena berhasil mendapatkannya dari sekian cowok yang mengejarnya!  Cantik, seksi, baik dan pengertian itu kriteriaku!”

“Ya udah…gini deh, pertanyaanku jawab yang jujur ya?  Kalian lebih suka mana sih…cake yang dipajang di etalase atau pisang goreng di pinggir jalan?”

“Cake harganya lebih mahal dari pisang goreng.  Kenapa?  Karena harga bahan bakunya lebih mahal.  Cake dbuat dengan gandum terbaik, kuning telur juga margarine yang memberi rasa lebih gurih.  Proses pembuatannya pun lumayan rumit, perlu banyak alat dan waktu lama.  Namun rasanya tentu lebih lezat, terutama cream pelapisnya yang berfungsi ganda…memberi rasa dan membuatnya tampak mempesona. Karena itu ia dijual di tempat-tempat tertentu secara eksklusif, tak mudah menjamahnya karena ia terjaga”

“Sementara pisang goreng…ia bertebaran di antara para pedagang kaki lima di pinggir jalan.  Setiap orang boleh memegangnya, jika tak suka tinggal disingkirkan.  Kenapa?  Karena ia dibuat hanya dari gandum biasa, dengan tambahan bahan seadanya.  Proses pembuatannya pun sangat sederhana.  Makanya dia lebih murah dan mudah didapatkan!”

“Seperti itu juga profil perempuan-perempuan yang kita bicarakan tadi.  Mana tipe ideal kalian?  Perempuan yang menjaga kehormatan dan harga dirinya dengan agama atau perempuan yang menjajakan auratnya kemana-mana dan tak peduli agamanya bilang apa?”

“So…mana yang kamu pilih?  Cake atau pisang goreng?”, tanyaku berapi-api!

Mereka terdiam dibalut wajah cengengesan (tak) berdosa karena membuatku bicara dengan kecepatan sekian kilometer per jam, hehe….  Disulut api emosi euyyy, wkwkwk…^^

“Iya juga sih…”, tak punya ketetapan hati.

“Gitu ya?”, mungkin bingung dia mo menjawab apa.

“Sebenarnya sih aku maunya cake tapi karena sudah tahu dia terlalu mahal dan sulit didapatkan jadi aku mundur teratur saja!  Ngeliatnya aja udah minder, gimana mau ngedeketin?  Apalagi dah lapar gini, ada pisang goreng didepan mata…jadi ya itu aja yang diembat!  Haha…”, si tersangka pembuat kasus memberikan jawaban yang memuaskan teman-temannya.  Terbukti yang lain ikut tertawa dan mengiyakan!  Hedeh, dasar playboy!!!

“Baiklaaaah…kalo gitu selamat menikmati pisang gorengnya!  Tapi buat catatan kalian ya…si sholihat tentu berbeda dengan yang biasa.  Ia didapat bukan dengan peperangan antar cowok yang tertarik karena keindahan fisiknya yang diumbar kemana-mana.  Si sholihat didapat dengan sebuah perjuangan panjang, sebuah perjuangan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.  Simple kan?”

Begitulah…diskusi panas kami berakhir pada siang jumat yang juga sudah panas karena hari sudah semakin siang.  Aku pulang, mereka pun pulang.  Membawa sederet kesimpulan yang tak berujung sama.  Bagi mereka, itu bukan apa-apa.  Tapi bagiku, ini adalah duniaku.  AKu hidup dan memperjuangkan nilai-nilainya.

Bagi para sholihat, yakinlah…prayboy akan memperjuangkanmu!  Hehe….^^V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s